Pengguna social media di Indonesia memang luar biasa banyaknya. Lebih dari 20 juta pengguna Facebook dan lebih dari 5 juta pengguna Twitter. Belum lagi dihitung mereka yang aktif di forum lokal seperti Kaskus. Wajar kalau populasi yang luar biasa ini dilirik oleh para pengiklan. Nggak heran banyak brand yang lalu mencemplungkan dirinya ke dunia social media. Karena memang pasarnya terlihat menggiurkan.
Di era Web 2.0 ini, tak dipungkiri kalau kita punya kehidupan sosial pula di dunia maya. Bahasan di kategori ini akan bercerita seputar perilaku dan kebiasaan kita kala bersosialisasi melalui beragam jejaring sosial yang ada.
Kini semakin banyak brand melakukan pendekatan dengan konsumennya melalui pembuatan microsite, penyebaran viral, dan permainan online. Kategori ini akan membahas beragam kasus yang pernah ada.
Beraktivitas di dunia online sudah menjadi kehidupan sehari-hari. Aktivitas yang bermanfaat seperti chat, menulis blog, mengunggah foto dan video sudah menjadi hal yang lumrah. Kumpulan tulisan relevan dengan hal tersebut dibahas di kategori ini.
Pengguna social media di Indonesia memang luar biasa banyaknya. Lebih dari 20 juta pengguna Facebook dan lebih dari 5 juta pengguna Twitter. Belum lagi dihitung mereka yang aktif di forum lokal seperti Kaskus. Wajar kalau populasi yang luar biasa ini dilirik oleh para pengiklan. Nggak heran banyak brand yang lalu mencemplungkan dirinya ke dunia social media. Karena memang pasarnya terlihat menggiurkan.
Para pengembang dotcomer di ranah daring generasi sekarang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang memulai bisnis dotcomer di era 2000-an. Di era itu banyak yang terlalu optimis dan berpikir pendek bahwa hype bisnis dotcomer itu akan cepat menghasilkan uang melalui IPO. Kenyataannya, ekspektasi pasar berbeda. Saat itu penetrasi internet pun belum tinggi. Orang juga masih sangat khawatir akan keterbukaan identitasnya di ranah daring, apalagi kalau mereka diminta untuk bertransaksi di ranah daring.
Terus terang sangat jarang nonton TV nih, tapi bukan berarti lantas nggak perhatian dengan iklan-iklan TVC yang muncul, saat nggak sengaja lewat depan TV. Dua TVC ini memang sempat menjadi pembicaraan saat sahur tadi pagi di Twitter, iklan Djarum versi Ramadan dan iklan Mie Sedaap versi Papa Hidup Lagi. Simak dulu deh iklannya.
Episod Harmoni di SCTV pada tanggal 20 Agustus 2010 kemarin adalah episod yang terakhir. Yang menarik dari setiap episod penayangannya adalah percakapan yang terjadi bersamaan di ranah Twitter. Hampir semua orang membicarakan ini hingga selalu saja muncul topik-topik dalam barisan trending topic Twitter yang membahas acara Harmoni. Semua orang berkomentar, entah itu pujian, kritikan, guyonan. Acaranya di televisi, tapi lucunya, ramainya justru di ranah daring.
Tahun lalu saat dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia ke-64, banyak ucapan kemerdekaan mengalir di Facebook, Twitter, Plurk (masih bergaung saat itu), dan blog. Bersama-sama teman blogger lainnya, bahkan sepakat untuk bikin tulisan ucapan bersama tahun lalu, lengkap dengan video lipsynch Hari Merdeka. Hihi, duluan kita kan daripada Keong Racun?
Di tulisan terdahulu sempat diceritakan kalau dunia social media bukanlah ruang pribadi. Kita harus menjaga tutur kata dalam mengungkapkan pendapat. Kenyataannya, masih banyak yang melihat social media sebagai tempat pelarian, tempat pelampiasan kekesalan, yang ditujukan kepada teman, orang tua, guru. Pikirnya, toh siapapun yang ia umpat di social media tidak akan dibaca oleh yang bersangkutan. Padahal kenyataannya, umpatannya justru dibaca oleh lebih banyak orang lagi.
Membuat buku yang mengulas tentang Twitter itu sudah biasa. Ada puluhan buku tentang ini bisa ditemukan di banyak toko buku. Namun membuat sebuah buku yang isinya kolaborasi konten dari ratusan pengguna Twitter jelas sangat berbeda. Minggu lalu (duh, ini tulisan telat banget ya?) sebuah buku berjudul “Aku Padamu: Karena Cinta dapat Ditemukan dalam Kata” dirilis resmi untuk publik. Pengarangnya bukan 1 atau 2 orang, tapi sebuah akun Twitter kolaborasi @anjinggombal.
Siapa yang menyangka Sinta dan Jojo, dua orang mahasiswi yang awalnya biasa saja, kini mendadak menjadi selebriti dan diperbincangkan dimana-mana? Hanya demi ekspresi diri semata, video lipsynch mereka menjadi tontonan masyarakat dunia? Sesuatu yang tidak direncanakan ternyata berdampak nyata bagi mereka berdua. Terlepas dari argumentasi apakah keduanya bisa dibilang kreatif atau tidak, tindakan mereka membuktikan, kalau setiap orang kini berpeluang menjadi seseorang yang eksis, dengan hanya bermodalkan konsistensi di ranah social media.
Semua pasti sudah tahu lah ya tentang aksi duet Sinta Jojo di YouTube. Apalagi setelah ekspos media besar-besaran selama hampir seminggu kemarin. Mungkin media mainstream baru menghebohkannya minggu ini, tapi percaya atau nggak di ranah Twitter, aksi duet Sinta Jojo ini sudah dibicarakan hampir sebulan yang lalu. Media mainstream yang terlambat melangsirnya.
Karena halaman utama Kompas hari ini ngomongin Twitter, maka nggak salah juga kalau blog ini (lagi-lagi) ngomongin Twitter pula. Cuma daripada ngomongin ‘revolusi’ (yang sebenarnya tidak ada yang direvolusikan), lebih baik blog ini berbagi tentang beragam dunia yang muncul di dalam Twitter. Sejak mengikuti Twitter hampir 2 tahun lalu dan mengikuti perkembangannya di lokal, percakapan di Twitter semakin luas. Kalau dulu hanya bicara seputar obrolan antara teman yang itu-itu pula, sekarang setiap tweet merangkul hampir semua aspek dunia dalam kehidupan nyata kita.