Rich Media didefinisikan oleh eMarketer.com sebagai media advertising yang memanfaatkan motion (animasi/video), suara dan/atau interaktifitas yang melibatkan audiens. Keterlibatan ini bisa ditujukan untuk memantapkan persepsi brand di benak konsumen.
Dengan rich media, penyajian bisa lebih kreatif. Media ini bisa memberikan pengalaman online yang menarik bagi para surfer, sembari mereka tetap menerima pesan-pesan brand. Bayangkan, kalau banner yang muncul bisa berinteraktif dengan surfer. Misalnya, penggunaan game sederhana yang mewakili pesan brand dalam banner tersebut.
Namun, kreatif pun ada batasnya. Jangan sampai malah menjadi sangat intrusif, misalnya: iklan yang melayang (float) di atas halaman website atau video yang menghabiskan bandwidth saat kita membuka halaman website. Surfer akan malas membuka halaman itu lagi. Dampaknya, citra brand pun akan ikut terbawa buruk.
White paper berjudul “Rich Media: At the Tipping Point” dari eMarketer.com bisa menjadi rujukan perbandingan betapa besar revenue yang dihasilkan dari media ini di US.


















[…] Untuk advertising online, kesempatan brand untuk muncul masih terbatas pada pemasangan banner, baik itu yang banner standar ataupun rich media. Umumnya, brand memasang banner di website yang memiliki pengunjung tertinggi, seperti Detik atau Kompas. Sejak Google dan Yahoo! menancapkan search engine mereka untuk Indonesia, banner brand lokal pun mulai terlihat di website jaringan mereka. […]