Belakangan ini, meski perkembangannya belum besar, banyak brand mulai melirik penggunaan game sebagai alat kampanye mereka. Saat ini, brand pun baru memanfaatkan game ini untuk kegiatan below the line mereka. Biasanya, pada setiap event yang erat dengan anak atau remaja, hampir selalu dijumpai game interaktif membawakan brand tertentu (selanjutnya disebut sebagai advergame).
Di event Bobo Fair beberapa bulan lalu misalnya, terlihat di stand Pepsodent dan Nutrilon, anak-anak bermain game. Biasanya, game ini menggunakan tema atau karakter yang relevan dengan brand tersebut. Memang, strategi menggunakan game menjadi alat efektif untuk mendekatkan brand dengan anak-anak.
Terlepas dari kegiatan below the line, game sebetulnya juga bisa menjadi alat advertising yang ampuh di dunia online. Sejak munculnya game Ragnarok Online 2 tahun lalu, kini makin banyak online game baru bermunculan. Kemunculan Ragnarok diikuti oleh banyak online game lain, seperti Xian, Gunbound, Pangya, Laghaim, Tantra, GetAmped, O2 Jam, hingga yang akan muncul di tahun depan seperti Lineage II, Seal Online dan Knight-Online.

Sayangnya, seluruh game yang disebutkan di atas adalah game lisensi dari luar. Jumlah pemain yang banyak itu sulit digapai oleh brand, karena kebijakan yang diambil dari pengembang game aslinya memang tidak memungkinkan untuk itu. Yang memungkinkan bagi brand untuk masuk biasanya hanya menjadi sekedar sponsor event kegiatan online game tersebut yang diselenggarakan offline (misal, kompetisi game di dalam suatu mal).
Untuk advertising online, kesempatan brand untuk muncul masih terbatas pada pemasangan banner, baik itu yang banner standar ataupun rich media. Umumnya, brand memasang banner di website yang memiliki pengunjung tertinggi, seperti Detik atau Kompas. Sejak Google dan Yahoo! menancapkan search engine mereka untuk Indonesia, banner brand lokal pun mulai terlihat di website jaringan mereka.
(lanjut?)