Home » Online Branding

Beberapa Tips Pengiriman Viral

9 February 2006 30 views 2 komentar

Hasil penelitian Sharpe Partners menunjukkan kalau 89% pengguna internet di US menyebarkan konten e-mail yang diterimanya ke rekan-rekan dan keluarganya. Hampir 75% menyebarkannya hingga sampai ke 6 orang lainnya. Seperti diduga, konten humorlah yang paling banyak disebar, sejumlah 88%, disusul oleh konten berita sejumlah 56%. Masuknya unsur brand dalam viral ternyata hanya sedikit mengurangi kesempatan pengguna internet itu untuk meneruskannya ke orang lain. Hanya 5% yang menolak meneruskan saat ia melihat unsur brand di dalam konten. Lebih rinci tentang data ini bisa dibaca di artikel ini.

Terkait dengan pengiriman viral, tentunya pemasar brand ingin agar viral tersebar dalam jumlah sebanyak-banyaknya, dengan seminim mungkin muncul reaksi negatif. Tips-tips yang diambil dari tulisan “Tips for Optimizing Viral Marketing Campaigns” oleh Brady Brewer ini mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan.

1. Tawarkan insentif.

Pemasaran viral berjalan dengan baik kalau insentif nyata. Insentif ini yang akan mendorong seseorang untuk meneruskan pesan e-mail ini ke rekannya. Perlu diperhatikan bahwa pemberian insentif ini sebaiknya dibatasi hingga batasan kuantitas tertentu. Misal: diskon 20% pada pembelanjaan berikutnya setelah ia meneruskan pesan e-mail ke 10 rekannya.

Bila insentif tidak dibatasi bisa berakibat buruk terhadap program pemasaran berikutnya. Misal: pemberian insentif sejumlah $5 setiap ia meneruskan pesan e-mail ke 10 rekannya. Bila ia meneruskan e-mail ini hingga ke 500 orang, maka orang tersebut berhak mendapat $250. Akibatnya, orang itu hanya mengumpulkan insentif terus-menerus dan membelanjakannya. Promosi dalam bentuk seperti ini secara jangka panjang tentu akan merugikan pemasar brand.

2. Jangan berasumsi kalau orang yang direferensikan memilih opt-in.

Saat seseorang mereferensikan nama dan e-mail orang lain, jangan berasumsi kalau nama dan e-mail yang direferensikan itu adalah opt-in (diisi dengan sukarela oleh yang direferensikan). Data nama dan e-mail itu harus langsung dihapuskan dan tidak boleh dipakai dalam program pemasaran selanjutnya. Dalam setiap e-mail yang dikirimkan ke orang yang direferensikan, berikan pilihan opt-in ke orang tersebut untuk menerima e-mail berikutnya dari pemasar brand.

3. Personifikasikan e-mail referensi.

Tingkat respon e-mail referensi akan jauh lebih meningkat saat penerima melihat kalau e-mail itu dikirimkan oleh rekannya sendiri. Oleh karena itu, subyek e-mail merupakan elemen kunci dalam pemasaran viral, karena melalui subyek, seseorang segera tahu kalau e-mail itu adalah dari seseorang yang ia kenal. Misal: “Tiara Lestari merekomendasikan Anda untuk mendapat diskon 20%.”

4. Telusuri dan analisa hasilnya.

Seperti kampanye pemasaran lainnya, tingkat keberhasilan program perlu diukur. Beberapa pengukuran penting yang sering dipakai untuk mengevaluasi performa kampanye adalah: pass-along, click-through, dan conversion rates. Analisa click-through dan conversion rates harus dipisahkan antara individu yang mengirimkan e-mail asal, dan individu yang mendapat informasi melalui referensi rekan.

5. Terus-menerus promosikan secara halus.

Para pemasar brand yang ingin agar pesannya terus-menerus direferensikan, sebaiknya menerapkan pemasaran viral dalam setiap e-mail yang dikirimkan ke pelanggannya. Pemasaran viral bisa menjadi alat efektif untuk memperluas penyampaian pesan dalam jangka waktu panjang.

2 komentar »

  • Turk :

    bisnis menarik. tapi kalo sbg penerimanya sih gw sebel banget..

  • Lie :

    Ini namanya surat berantai (sesuatu yg dibenci masyarakat) digabung dengan iklan (hal lain yg juga dibenci masyarakat) hasilnya sebuah surat berantai berisi iklan yg langsung bakal dibuang ke spambox yg udah penuh oleh macem2

Tinggalkan komentar Anda!