Apakah Era Iklan Televisi Tradisional akan Berakhir?
Beberapa saat lalu Joseph Jaffe melalui buku terbarunya, “Life After The 30-second Spot,” menyatakan kalau industri advertising mulai mengalami kejatuhan karena hanya berpikir sempit pada pemanfaatan iklan televisi dan majalah semata untuk membangun sebuah brand. Dikatakan, sebaiknya advertising agency mulai mengembalikan posisinya sebagai penggagas ide kreatif dan memikirkan alternatif media lain yang bisa membangun brand dengan dampak yang sama.
Komentar ini diperkuat lagi melalui laporan penelitian kerja sama antara Forrester Research dan ANA (Association of National Advertisers) yang menyatakan kalau 78% pengiklan merasakan kalau iklan televisi sudah semakin tidak efektif sejak dua tahun terakhir. Riset juga menyatakan kalau kini pemasar mulai mengeksplorasi perkembangan teknologi terbaru untuk menghabiskan bujet iklan televisinya.
Meskipun jaringan televisi US banyak menunjukkan data-data betapa masih ampuhnya beriklan di televisi, ternyata pengiklan tetap mencari alternatif media lain di luar iklan televisi tradisional 30 detik. Sebanyak 61% tertarik untuk mengalokasikan bujetnya di program hiburan yang ber-branding, 55% tertarik untuk mensponsori program acara televisi, 48% tertarik untuk membuat interactive advertising di tengah berlangsungnya program, 45% tertarik untuk beriklan di internet video, dan 44% tertarik untuk mengalokasikannya melalui penempatan produk (product placement) sebagai bagian dari program.
Hal lain yang menarik adalah semakin berkembangnya internet video streaming. Perkembangan internet broadband akan merevolusi cara kita melihat televisi. Yahoo!, Google, dan Microsoft terus menyiapkan platform yang kuat untuk mencari dan menikmati internet video. Setiap klip video dari HGTVKitchenDesign.com, misalnya, selalu diawali dengan iklan dari produsen ternama seperti P&G dan Kohler. Beberapa website bahkan “memaksa” pengunjungnya untuk melihat iklan ESPN.com sebelum mereka bisa mengakses konten gratisnya.
Pengiklan juga perlu memperhatikan cara pengukuran baru. Pengukuran keberhasilan iklan melalui sistem rating perlu diubah, karena tidak lagi bisa mengakomodir kompleksitas media penayangan. Saat penayangan video dikawinkan dengan internet, akuntabilitas dan interaktifitas bisa didapat lebih nyata. Pengukuran berdasarkan impresi, kunjungan, click through hanyalah sebagian cara saja. Interaktifitas akan membantu konsumen untuk lebih aktif membangun hubungan dengan brand, sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan melalui iklan televisi tradisional.
Meski jatuhnya industri advertising juga terasa dampaknya sampai ke Indonesia, sepertinya televisi di Indonesia dalam jangka waktu beberapa tahun mendatang masih akan menjadi primadona. Luasnya Indonesia dan tersebarnya audiens di berbagai pulau, diikuti dengan taraf ekonomi yang masih rendah, membuat televisi dan radio sebagai media yang masih memberikan ketertarikan. Percaya atau tidak, ternyata hampir 90% penduduk Indonesia memiliki televisi, sementara internet broadband masih menjadi barang langka, karena mahalnya harga bandwidth. Mungkin itu sebabnya mengapa produk-produk konsumsi yang target SES-nya umum, tetap akan menyasar televisi sebagai media andalannya.
Lain halnya jika produk tersebut harus bersaing di kota-kota besar, apalagi jika ditargetkan untuk SES A dan B. Mereka sehari-hari sudah menikmati internet di kantor dan rumah mereka. Jumlahnya memang belum banyak, tapi tetap merupakan pasar potensial. APJII memprediksi pemakai internet pada akhir tahun 2005 kemarin sebanyak 16 juta, dengan 1,5 jutanya adalah pelanggan utama. Mereka yang sibuk bekerja ini jarang menonton televisi. Kalau informasi atau hiburan itu bisa didapat dari internet, maka mereka akan lebih memilih mencarinya di internet.
Sejak kini ada baiknya para pengiklan mulai mempertimbangkan pula kondisi ini. Iklan pertelevisian sudah tidak seperti dulu lagi. Media alternatif seperti internet akan terus berkembang, dengan prospek penggunanya yang akan terus membesar. Jadi hati-hatilah kini saat mengalokasikan bujet iklan. Belum tentu semua yang dihabiskan melalu iklan televisi tradisional bisa mencapai ROI yang ditargetkan.

iklan video tidak akan hilang, mungkin tinggal teknologi targetingnya aja yang berganti.
di masa depan, kita cuma bakal liat iklan tv yg relevan sama kita sendiri
kedua medianya yg mkn berganti. ga lagi di tv di ruang keluarga, tapi lebih personalized, seperti gadget.
mungkin
Tapi menurut informasi dari teman2ku yg kerja di unilever+danone, masyarakat indonesia masih berbelanja karena iklan.
Sebelum iklan keluar barang gak laku-laku, begitu dibom iklan tivi langsung produksi kewalahan.
iklan TV akan menemukan sendiri jalannya untuk tetap bisa “berulah’ ditabung TV menarik penonton untuk paling tidak melihat produknya pas ke toko atau supermarket. sampai sekarang masih sering saya denger orang2 ngorolin iklan TV yang menurut mereka menarik, lucu, konyol atao apalah yang pasti bukan iklannya mas Basuki yang terlalu keras berkoar nggak mutu.iklan U mild,yupiter…masih aSIK2 aja dinikmati.ditambah lagi kemunculan TV lokal, saya pikir masih ada jalan untuk iklan TV untuk berkembang disamping iklan BTL..wah kepanjangan nih komentnya…ntar jadi ngiler omongannya..hehehe…thanks
Ini persoalan menarik sekaligus sbg tantangan yg perlu disikapi bersama. Klo disebut industri advertising di US mulai menampakkan kejatuhan, yah itu logis sebab teknologi informasi udah lekat dlm kehidupan msyarakatnya. Serbuan iklan tak membawa efek optimal, masyarakatnya kritis dan pengambilan keputusan lebih rasional, berdasar need. Iklan2 yg bersifat personalized menjadi semakin efektif krn sesuai dg karakter khalayaknya.
Di Indonesia, utk smentara iklan TV masih dominan dlm mempengaruhi khalayak utk membeli barang, krn masyarakatnya banyak yg un-conscious dlm mengambil keputusan. Faktor imitatif yg dilandasi emosional kuat telah menjadikan iklan di medium TV menjadi andalan.
Hanya saja persoalannya, jumlah stasiun TV di negeri ini yg tumbuh pesat/ tak sebanding dg kue iklan yg ada, maka bukan tidak mungkin akan terjadi perebutan kue iklan yg tdk sehat. Pada suatu ketikanya (kira2 10 thn lagi) maka industri advertising pun akan berguguran, seiring dgn runtuhnya stasiun2 TV yg tak mampu lagi membiayai kelangsungannya. Ini berdasarkan asumsi bahwa iklan di TV tumbuh pesat karena jumlah stasiun TV-nya yg semakin bertambah. Bukan sebaliknya. Namun kita pun hanya bisa berkata: wait and see..!
aku punya ide untuk bikin iklan tentang produk pengharum pakaian atau sabun cuci, idenya berhubungan dengan world cup 2006, yaitu habis pertandingan mesti para pemainnya pasti akan bertukar pakaian.
Ada benarnya seperti dikatakan bung Joko Martono bahwa iklan di media televisi sampai saat sekarang memang masih berjaya, khususnya di Indonesia. Karena masyarakat di negeri ini masih menjadikan TV sebagai media yg paling handal, bahkan dekat secara psikografik. TV masih menjadikan baby sitter sehingga iklan-iklan yg disiarkan melalui media audio-visual tersebut masih berpengaruh utk membujuk pemirsa dlm keputusan membeli barang yg ditawarkan.
Tetapi bukan tidak mungkin mengingat akselerasi teknologi informasi-komunikasi dg seperangkat alat2 canggihnya, secara lambat laun akan menggeser media TV sehingga para pengiklan (industri advertising) layak berpikir ke depan. Contoh di Amerika Serikat (USA) merupakan sebuah fenomena yg bisa diantisipasi, sehingga dunia industri periklanan mengalami kebangkrutan/terpuruk. Untuk itu para pengiklan hendaknya jangan berpikiran sempit, jika perlu mencari terobosan baru dlm rangka mempersiapkan diri agar usaha advertising di negeri ini tidak terlalu parah mengalami “bencana” yg dapat merugikan perusahaan maupun tenaga kerja.
[...] Iklan TVC sudah semakin jarang diperhatikan penonton. Kecenderungan orang untuk mengganti saluran saat iklan berlangsung sudah menjadi hal lumrah. Tulisan tentang hal ini pernah dibahas sebelumnya di blog ini. Oleh karena itu, pengiklan mulai mencari ide-ide baru untuk “memaksa” penonton menyaksikan pesan iklan. Beberapa bulan lalu, KFC menayangkan TVC Buffalo Snacker, dimana ada sekian frame dalam keseluruhan durasi iklan, menampilkan kode rahasia. Kode ini lalu dimasukkan dalam website KFC untuk kemungkinan memenangkan hadiah langsung dari KFC. [...]
ketika internet muncul banyak yang mengatakan bahwa koran akan mati, ternyata sampai sekarang masih terus eksis. begitu juga ketika televisi muncul dan kemudian merajalela orang mengatakan radio akan mati, ternyata terus mengudara. artinya setiap media tidak mensubstitusi media yang lain tetapi bersifat komplementer..artinya sekarang pengiklan mempunyai banyak pilihan untuk menyampaikan pesannya..
Kemampuan menampilkan pesan secara audio visual, membuat iklan TV lebih unggul dibandingkan dengan iklan-iklan media lain (majalah, koran, tabloid, radio, media luar ruang dan lain-lain). Tapi kecenderungan pemirsa TV untuk memindah saluran ketika commercial break, sangat tinggi (mungkin sudah ada hasil surveynya). Persoalannya iklan-iklan yang ditayangkan di media TV kita, menurut saya 99% tidak ada menarik-menariknya. Semua klise. Seperti iklan shampoo, semua pasti bicara soal ketombe, yang penyampaiannya monoton. iklan mobil dan motor, juga cuma gitu-gitu thok, bikin orang cepet bosen. Jadi ya…pantas kalau setiap jeda iklan pemirsa pada kabur.
Manusia diciptakan ke dunia ini tidak ada yang sama, ada perbedaan sekalipun dia kembar mereka akan mempunyai selera yang berbeda…tapi dari semua ada kecendrungan yang sama ketika semua dipojokkan pada satu kondisi yang berkesinambungan…jadi semua media pun mempunyai kecendrungan berbeda untuk membidik audiencenya tergantung bagaimana kreatifitas si produsen untuk membuat media plan yang bisa menarik perhatian konsumen…jadi dunia broadcast ga mungkin surut tinggal bagaimana cara broadcaster membuat sesuatu yang bisa menghibur tidak cuma dari satu sisi..
“Hal lain yang menarik adalah semakin berkembangnya internet video streaming. Perkembangan internet broadband akan merevolusi cara kita melihat televisi. Yahoo!, Google, dan Microsoft terus menyiapkan platform yang kuat untuk mencari dan menikmati internet video” Saya setuju dengan tulisan ini diatas.
iklan…. kalo ngga ada iklan kita akan jadi “buta” kali ya
Ada yang tau ga istilah sama tahapan membuat iklan TV.. pada komentar doang kalo ga bisa bikin percuma juga komentar.. makanya gw ga komentar.. gw mao belajar, hidup atau matinya broadcasting dan advrtsng audio visual itu dari anak muda bukan “orang tua” mulu yang selalu dapetin jatah.. WOI PEMUDA PEMUDI INDONESIA KREATIF DDOOONNNKKK…kalo ada yang tau kasih tau gw yaw.. gw mao bikin iklan.. HIDUP PERIKLANAN TELEVISI… Kirim ke YM gw kalo ada yang tau.. cara buatnya sama istilahnya aja.. ga usah research nya.. kirim ke studio_jiwa@yahoo.com ya.. THnks b4 nya yah
iklan tv tradisional tidak akan berakhir,selama harga tv makin murah…hahaha hik
iklan tv tidak akan berakhir mengingat banyak media tv yang berkembang seperti di gedung-gedung, mall, bahkan di dalam bus (www.otomedia.co.id)
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.