Info dan artikel baru seputar advergame, animasi, komik, video, viral, dan website.
L.A. Lights Indie Fest
Kategori: Advergame, Website, Local Game — Pitra @ Friday, June 30, 2006, 6:07 am

Belakangan ini L.A. Lights baru saja memulai penyelenggaraan festival band indie, melalui event L.A. Lights Indie Fest. Website-nya selain memuat informasi seputar event, juga memuat hal-hal yang berkaitan dengan gaya anak indie, film-film indie, kuis berhadiah, advergame, dan gimmicks seperti wallpaper dan jingle.

Desain website kampanye ini juga menarik. Kesan indie muncul menjadi bagian dari grafis. Kuis yang dibuat juga “memaksa” pengunjung untuk mencari informasi lebih banyak seputar event ini di website. Jadi, kalau mau dapat hadiah, pengunjung harus rajin-rajin membaca informasi di website ini.

L.A. Lights Indie Fest   L.A. Lights Indie Fest

Website ini juga dilengkapi 2 advergame yang bertema indie. Ada applause-o-meter, dimana kita harus bertepuk tangan secepat mungkin, dengan menekan spacebar atau mengklik mouse. Di advergame ini, saat tepuk tangan pengunjung semakin keras, musik pun akan mengalir semakin kencang. Namun saat tepuk tangan pengunjung memelan, musik yang dimainkan band akan memelan pula dan berhenti.

Advergame lainnya adalah indie-o-meter, dimana pengunjung bisa mengkombinasikan gaya rambut, pakaian, sampai sepatu seorang pemain band. Gaya yang dipilih pengunjung akan menentukan apakah pemain band ini cool atau tidak.

Rejuvenasi Karakter
Kategori: Knowledge, Comic — Pitra @ Tuesday, June 27, 2006, 3:25 pm

Akhir minggu ini film layar lebar Superman kembali muncul. Sudah banyak yang membahas tentang film ini. Beberapa kritikus bahkan memuji film arahan Bryan Singer ini. Sutradara ini sebelumnya berhasil menerjemahkan karakter X-Men ke layar lebar dengan sentuhan menarik, tanpa menghilangkan karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Mudah-mudahan hal serupa terjadi pula di film Superman Returns ini.

SupermanPenokohan Superman sendiri, maupun asal-usulnya, sebetulnya sudah berulang kali diceritakan ulang, dengan berbagai versi. Versi komiknya sendiri pun berbeda-beda. Versi terakhirnya bisa dibaca di mini seri Superman: Birthright tahun 2004. Hampir setiap 20 tahun sekali, karakter Superman, dan karakter-karakter utama dari komik terbitan DC, seperti Batman, Wonder Woman, ini selalu direjuvenasi. Asal-usul, sifat, perilaku karakter berikut penceritaannya, diolah dan disesuaikan dengan karakteristik pembacanya. Hal ini dilakukan untuk menarik pembaca baru, yang dulunya masih bayi namun sekarang sudah memiliki uang saku dan melakukan pembelian.

Setiap rejuvenasi akan selalu dihadapkan dengan pro dan kontra. Bagaimana menyikapi tren pembaca baru yang masih muda, dan mempertahankan pembaca loyal yang sudah semakin dewasa. Menghidupkan karakter fiktif hingga membangun emosional pembaca memang tidak bisa dilakukan dengan mudah. Bercerita pada pembaca yang sudah sangat melek internet dan terbuka wawasannya tentu akan berbeda dengan bercerita pada pembaca 20 tahun lalu. Dahulu batas antara hitam dan putih, kejahatan dan kebaikan, bisa digamblangkan dengan jelas. Sekarang, membuat cerita seperti itu malah membuat pembaca bosan.

Bila ingat cerita-cerita komik pada tahun 1980-an, semua terasa sangat sederhana, dibandingkan cerita komik sekarang. Untuk para pembaca yang sudah terbiasa main online game dengan cerita yang rumit, para pembuat cerita komik juga harus bisa mengembangkan karakter dalam komiknya menjadi lebih kompleks (bahkan kadang membuat pusing kepala). Karakter Superman yang di tahun 1980-an lebih kuat super dibanding man-nya, kini dibalik. Unsur manusiawi sangat kuat dimasukkan. Tokoh Clark Kent dibuat lebih menarik daripada tokoh Superman itu sendiri. Kehidupan pribadi Clark Kent pun dibuat lebih menarik, dari hubungan dengan orang tuanya, hubungannya dengan Lois Lane hingga ke jenjang pernikahan, sampai pada dampak emosional yang dirasakan para karakter di sekeliling Superman saat ia meninggal hingga hidup kembali.

(lanjut?)

Advergame Date Movie dan Beer League
Kategori: Advergame — Pitra @ Thursday, June 22, 2006, 3:16 pm

Di Hollywood, membuat game untuk promosi film layar lebar sudah hal yang biasa. Setiap film-film besar selalu diikuti atau diawali dengan game sebagai bagian dari media promonya. Tapi tidak semua film bisa memiliki bujet yang besar untuk membuat game berkualitas tinggi. Alternatifnya, mereka membuat game kasual yang dengan mudah bisa dimainkan melalui website. Kadang game yang disajikan sederhana, namun menarik. Namun tidak sering juga game yang disajikan sungguh-sungguh buruk.

Date Movie   Beer League Ping Ball

Dua contoh advergame terbaru ini bisa menjadi contoh. Advergame Date Movie ini sama buruknya dengan film layar lebarnya. Adegan game mencoba mengambil scene saat intro film dimulai, yaitu saat si wanita gemuk mencoba menggoda para pemadam kebakaran. Di game ini, Anda memainkan pemadam kebakaran yang berusaha mengusir si wanita ini jauh-jauh. Idenya terlalu sederhana, dan kurang menggambarkan inti film. Kualitas grafiknya juga kurang menarik.

Advergame lainnya (dan kebetulan dibuat oleh pengembang game yang sama) adalah Beer League Ping Ball. Meski konten game kurang relevan dengan filmnya, setidaknya game ini lebih menarik. Artistiknya bagus, secara teknis game ini juga memiliki perhitungan physics yang rumit (untuk ukuran aplikasi flash). Lebih jelasnya, bisa langsung membaca tulisan di blog si pengembang.

Esia Bilang, Bertelepon itu (seharusnya) Murah
Kategori: Print — Pitra @ Sunday, June 18, 2006, 9:23 am

Ada yang memperhatikan isi koran Kompas pada hari Rabu – Jumat (14-16 Juni 2006) kemarin? Pada hari Rabu dan Kamis, esia menampilkan iklan dengan gaya komunikasi yang kritis. Total ada 4 iklan cetak yang kontennya mewakili 4 pribadi di Indonesia yang terhambat untuk berkomunikasi karena mahalnya biaya.

Yang membedakannya dengan iklan-iklan umum lainnya yang mengatakan “kita paling murah,” esia melengkapinya dengan data biaya berkomunikasi di negara Korea Selatan, Singapura, Thailand, India, dan Amerika Serikat, dan membandingkannya dengan Indonesia. Data ini menunjukkan kalau biaya percakapan telepon di Indonesia bila dibandingkan negara-negara tersebut sangat mahal.

 Esia  esia  esia  esia

Di iklan tersebut juga, esia mencoba berempati dengan menuliskan teks “di esia, seringkali kami bertanya-tanya, harus beginikah nasib orang Indonesia?” Seakan-akan esia ingin menjadi solusi komunikasi murah di Indonesia. Gaya komunikasi seperti ini (terlepas dari benar tidaknya pribadi yang diwakili dalam iklan) pasti akan sangat menusuk hati Telkom, yang karena monopolinya menjadi salah satu penyebab biaya tinggi.

Pada Kompas edisi Jumat, seluruh pertanyaan itu dijawab oleh esia. Hampir seluruh halaman Kompas pada hari itu dipenuhi dengan iklan esia dalam berbagai ukuran. Mungkin tidak banyak yang sadar, karena tampilan beberapa iklannya pun memang tidak menonjol. Di antara iklan-iklan tersebut, 4 iklan cetak utama menceritakan pribadi-pribadi (yang muncul di iklan hari-hari sebelumnya) yang berbahagia karena telah menemukan solusinya lewat esia. Sekitar 15 iklan lainnya ditulis dengan gaya beragam, dari tulisan di kartu pos, surat cinta, surat bisnis, secarik kertas lecek, SMS, e-mail, dll. Semua seakan-akan adalah testimonial dari para pengguna esia. Isi testimonialnya tidak jauh berbeda dengan 4 iklan cetak utamanya.

 esia  esia  esia  esia

Untuk membangun penyadaran dalam diri konsumen akan mahalnya bertelepon di Indonesia, bisa dikatakan penyampaian seperti ini berhasil. Tapi, saat esia menawarkan sebagai solusinya, konsumen belum tentu mau percaya. Memang sejak penyedia layanan CDMA muncul, selalu saja terjadi masalah. Masalah yang sebenarnya bukan hanya dihadapi oleh esia, tapi juga oleh flexi, fren, dan starone (tidak jauh berbeda dengan masalah yang dihadapi GSM saat pertama kali muncul). Namun kalau obralan solusi esia ini bisa diikuti dengan infrastruktur yang mendukung dan layanan yang memuaskan, bisa jadi esia akan unggul di masa depan. Yah, kita tunggu saja. Yang jelas, sepanjang ada yang murah dan berkualitas baik, yang untung kan kita juga sebagai konsumen.

esia  esia  esia  esia

esia  esia

Main Piano Yuk!
Kategori: Website — Pitra @ Saturday, June 17, 2006, 11:46 am

Jangan salah, ini bukan bermain piano seperti biasanya. Sundown, brand tabir surya dari Portugis, menyajikan aplikasi interaktif lucu di website promonya. Ada 8 wanita berpakaian bikini tanpa tabir surya terbaring di atas pantai. Anda bisa memainkan nada-nada do re mi di atas mereka. Jadi, nggak perlu piano untuk belajar musik kan?

Sundown

ragam sponsor
Join the GMI panel and get paid for your opinions! Floor FX A-BOX Rank My Wall Eye Pleasure
komentar terakhir
  • DaifieMenurut w gay tu sbnr ny cm slah pmikiran ja,. N di sebab kn faktor sikologis,. Krna gk mgkn ada asap klo gk da...
  • mumuwaa… ada gw… aseeek…
  • Ratih AprilianiWahhh!!!! ……. Kalau dah jelek ms hrs lbh jelek lg!!!! Tapi blh deh dicoba,...
  • fenderakapan neh ada u wilayah palembang? padahal banyak loh band indie palembang yang kreatiffffff band gue musti...
  • jedwhoaalaaaahhhhhhhhh
  • StrinefoxSuperhero..?? tiap orang pasti pengen jadi superhero lah pastinya….tapi apa siap nanggung...
  • Antonius SetiawanGw tuch suuuukaaa banget dech ama ristynya…..Oke….Gi le….dech pokoknye.
  • OllieSaya pernah nyasar beneran dan ‘melakukannya’ beneran di toilet cowok T_T Tolong pengelola gedung...
ragam tautan
dari blog lain

dunia yang gatal

  • Tunggu...

eye pleasure

  • Tunggu...

RSSKQF