Sedikitnya Iklan di Playboy Edisi Kedua
Sudah banyak tulisan yang membahas tentang pro dan kontra edisi perdana Playboy. Edisi kedua ini dijamin akan semakin meningkatkan pro dan kontra tersebut. Namun yang akan dibahas di sini bukanlah tentang pertikaian pendapat itu.
Majalah tidak akan bisa meraih untung hanya dari jumlah tiras yang terjual. Iklan selalu menjadi andalan pemasukan bagi majalah. Naasnya Playboy, karena mengusung brand yang sudah identik dengan industri porno, menjadikan edisi perdananya diprotes banyak pihak. Akibatnya, di edisi kedua ini, hampir tidak ada produk yang memasang iklan karena “ketakutan” pemasang iklan akan pihak-pihak tertentu. Saat brand Playboy diidentikkan dengan sesuatu yang amoral, para produk pemasang iklan bisa jadi khawatir kalau produk mereka nantinya diidentikkan dengan hal yang serupa.
Ternyata Playboy tidak mengganti halaman iklan yang tidak terisi dengan iklan atau konten lain. Mereka justru ikut bersimpati dengan sengaja mengosongkannya dan menuliskannya dengan “halaman kosong ini didedikasikan untuk klien-klien loyal kami yang diancam karena memasang iklan di majalah ini.” Terjemahan: halaman kosong ini seakan mengajak para pemasang iklan mereka sebelumnya untuk lebih berani, dan Playboy akan menerima mereka kembali dengan senang hati di edisi-edisi berikutnya.
Seiring dengan “ajakan” itu, konten majalah ini pun mulai berbenah. Tentunya, agar para klien mereka mau datang kembali ke “rumah yang sudah lebih tertata dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.” Akankah sikap persuasif Playboy ini berhasil? Mudah-mudahan saja bisa. Kalau tidak, bisa-bisa majalah ini keburu gulung tikar. Bukan karena didemo, tapi karena tidak ada pemasukan dari iklan.










Playboy (mungkin) ga butuh iklan juga, wong sudah tajir
Tapi iklan sepi juga bisa jadi majalahnya ga jelas. Merek dagang berkonotasi porno, tapi muatannya ga porno dan justru sama dengan Tempo atau Gatra, jadi pengiklan lebih suka masang di media yang lebih dulu ada.
Jika akhirnya Playboy Indonesia menjadi majalah yang berkategori majalah politik, mungkin untuk kedepannya kita akan melihat Playboy Indonesia yang berisi pengiklan mirip dengan Gatra atau Tempo.
Playboy tetap akan mengusung “keindahan”.
Jika instrumen itu dicabut perihal konotasi yg masih blur, mending buktikan saja bahwa ketajiran imperium mister Hefner tak lekang oleh lawan kapitalisnya.
eh, sekalian minta ijin blog Anda saya add ya?
hehehee….
Mungkin karena takut UU APP!!
*basi banget*
iyaaa gw juga dah liat playboy edisi 2, lebih segar sih dibanding yg edisi 1… yah ituuu kok banyak halaman kosong yah….@!#$%&*!!!
Yupz..gw udah liat jg d edisi keduanya PLAYBOY indonesia..pada kemana ya tuh iklan ???
gw gatau maksud semua itu, tapi gmn jg ya, kayakna KOSONG aja tuh majalah tanpa iklan…
gw stuju ama #2…besok bs jadi ada majalah GATRABOY or PLAY the TEMPO di Indonesia ^_^
camkan di diri kita peraturan untuk dilanggar wkwkwkwk bilang tu ama playboy magazine….wkwkwk…wew.. yuk langgar peraturan!!!!
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Facebook Friends
Ayo gabung!Login
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Komentar Terbanyak
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.