Home » Online Branding

CPM vs Fixed Monthly Spot

2 August 2006 65 views 6 komentar

Bila diperhatikan beberapa bulan belakangan ini, website komunitas Friendster dipenuhi dengan iklan-iklan lokal. Mayoritas pemasang iklan adalah dari produk-produk Telkom dan Unilever. Telkom dengan iklan TelkomNet Instan dan Speedy-nya, sementara Unilever yang merajai dengan iklan-iklan CloseUp, Clear, dan Sunsilk. Iklan-iklan lain yang pernah terlihat muncul, meski tidak dominan adalah Samsung, Gery Biscuit dan Kapanlagi.com.

Iklan-iklan banner ini ditayangkan secara berotasi, dan pembiayaannya dihitung berdasarkan CPM (cost per mille) atau biaya yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan 1.000 impresi (impression atau page view). Iklan di Friendster dilakukan berotasi dan menempati spot banner yang sama. Bisa jadi, setiap kali Anda login, Anda akan selalu melihat iklan yang berbeda. Keuntungannya, desain website terlihat lebih bersih, dan ruang konten yang bisa dinikmati pengunjung lebih luas. Perhitungan biaya pemasangan iklannya dihitung berdasarkan jumlah impresi yang dilihat oleh pengunjung setiap bulannya.

Berbeda dengan strategi klasik pemasangan banner di Detik.com atau Kompas.com, dimana pemasang iklan membeli spot banner berukuran tertentu pada lokasi tertentu. Biasanya dikenal dengan istilah fixed monthly spot. Demi mengejar revenue, akhirnya desain halaman menjadi semakin terpenuhi oleh banner. Rasanya jadi seperti membaca tabloid atau majalah gratisan yang memang isinya iklan, dengan berita menjadi konten nomor duanya. Kenikmatan pengunjung membaca berita terganggu dengan berbagai jenis iklan, baik berupa banner diam, melayang (float), dan pop-up.

Teknik rotasi seperti yang dilakukan Friendster, Yahoo!, MSN, atau MySpace seharusnya bisa menjadi alternatif. Media online adalah media yang interaktif, dimana segala hal yang tidak mungkin dilakukan di teknik cetak, bisa diwujudkan di sini. Cara menempatkan iklan dengan berpikir seperti media cetak (yakni berdasarkan kolom atau cm pemakaian) sudah tidak relevan lagi di dunia online. Mungkin Detik.com dan Kompas.com perlu memikirkan strategi penempatan banner mereka berikutnya.

Friendster banner  Detik banner

6 komentar »

  • pandu :

    Great writting, Thanks !

  • Mazing Kaiser :

    Lalu gimana tuh strategi mereka mengatasi orang2 yg lebih suka browsing dgn nge-block pop-up,ad,banner ?

  • fahmi jelek :

    udah lama nggak pernah liat iklan2 tsb, terlanjur ditumpas adblock :D

  • frozenmind :

    Hmm, ad tracking systemnya bisa gak deteksi banner yg kena adblock? Jadi hitungan CPM bisa lebih akurat.

    Tp dengan mengurangi jumlah banner, para network admin gak usah repot2 blok image via transparent proxy/content filter (squid, mikrotik, etc). En Adblock jg gak perlu2 amet diaktifin bwat website itu.

    Friendster si kalo perlu diblok IP ha3x … :D Ngabis2in bandwidth aja hue3x …

  • GaLih :

    maap nie gwe mau belajar ngebajak firendster orang klo ada yg tau caranya atau ada yang tau kata2nya saya harap kirim ke email saya.. di hantu_tampan_cari_mangsa@yahoo.co.id..
    saya sangat berharap karena ini bukan untuk iseng melainkan untuk sekedar mencari ilmu dan pengetahuan

  • Aqli Syahbana :

    Bandung, hari ini: Sabtu, 20 Januari 2007

    Saya pakai AdBlock Plus 0.7.2.4 di Mozilla Firefox 1.5.0.9, subscribe filter saya pakai semua (EasyList, Cédrics Liste, dutchblock & Filter von Dr.Evil).

    Untuk blocking segala jenis iklan yang nongkrong di setiap situs milik http://www.detik.com, tinggal update saja filternya, silahkan Copy filter-filter di bawah ini:

    #*(class=navportal)
    #*(headlines_banner)
    #*(navigasiwpx)
    #div(allnews)
    #div(allnewscenter)
    #div(allnewsleft)
    #div(allnewsright)
    #div(banner2)
    #div(banner2b)
    #div(banner5a)
    #div(bannerA)
    #div(bannerA1)
    #div(bannerA2)
    #div(bannerB1)
    #div(bannerB1content)
    #div(bannerB2)
    #div(bannerB2content)
    #div(bannerB3)
    #div(bannerB4)
    #div(bannerC1)
    #div(bannerC1content)
    #div(bannerC2)
    #div(bannerC3)
    #div(bannerD1)
    #div(bannerD1content)
    #div(bannerD2)
    #div(bannerD2content)
    #div(bannerD3)
    #div(bannerD4)
    #div(floater)
    #div(framebannerA)
    #div(framebannercontent)
    #div(framebannerdown)
    #div(framecontentleft1)
    #div(framenavportalbottom)
    #div(framerunningtxtdalam)
    #div(headlineAd1)
    #div(headlineAd1a)
    #div(headlineAd2)
    #div(headlineAd2a)
    #div(headlineAd3)
    #div(headlineAd3a)
    #div(headlineAd4)
    #div(headlineAd4a)
    #div(headlineAd5)
    #div(headlineAd5a)
    #div(headlineAd6)
    #div(kolothp2)
    #div(kolothp2a)
    #div(kolothp4)
    #div(microsite1)
    #div(microsite1left)
    #div(microsite1right)
    #div(microsite2)
    #div(microsite2left)
    #div(microsite2leftlink)
    #div(microsite2right)
    #div(microsite2rightlink)
    #div(navbottom)
    #div(navmenu1)
    #div(navmenu2)
    #div(teksprod)
    http://ad.detik.com/*
    http://ad.sg.doubleclick.net/*
    http://adpointclick.detik.com/*
    http://adpointview.detik.com/*
    http://microsite.detik.com/frame*
    http://www.detik.com/adv/*
    http://www.google-analytics.com/urchin.js
    logo_agrakom.gif
    noklik.js.html

    Nah, setelah selesai Copy, silahkan Paste di AdBlock Plus Preferences, dengan klik kanan di bagian Add filter…, dan tentu saja Paste!

    Iklan? Itu kemarin!

Tinggalkan komentar Anda!