Aplikasi Web 2.0 yang Bikin Geleng-geleng Kepala
Tentu banyak yang sudah familiar dengan istilah Web 2.0, jadi nggak akan dibahas lagi di sini. Intinya adalah, sebuah website yang menyediakan sarana untuk orang berhubungan, berkolaborasi, hingga saling berbagi. Yang kini sudah familiar adalah jaringan sosial, seperti Friendster, MySpace, atau Facebook (yang makin populer). Atau versi Indonesia-nya, Fupei dan Aku Cinta Sekolah. Bahkan ada website yang namanya Ning yang memfasilitasi Anda untuk membuat jaringan sosial sendiri. Jadi, seperti Friendster dalam Friendster.
Sebenarnya, Web 2.0 lebih luas daripada sekedar jaringan sosial. Masih ada aplikasi berbagi gambar, video, hingga slide presentasi, seperti YouTube, Metacafe, Flickr, Photobucket, atau SlideShare. Belum lagi aplikasi yang memungkinkan setiap anggotanya berbagi bookmark dan memberikannya peringkat, seperti Digg atau del.ico.us.
Dalam daftar berikut, tertulis beberapa aplikasi Web 2.0 yang baik dari segi konsep hingga eksekusinya, bikin geleng-geleng kepala (karena nggak kebayang kok bisa ya buat hal seperti ini). Daftar ini mungkin tidak lengkap, karena sebegitu banyaknya aplikasi Web 2.0 di luar sana. Tapi siapa tahu bisa jadi ide untuk mengembangkan konsep serupa di Indonesia.
The Broth memberikan aspek yang lebih luas daripada sekedar jaringan sosial. Di sini, setiap anggota bisa membuat gambarnya sendiri secara online, bahkan kalau perlu berkolaborasi dengan para anggota lainnya. Mirip dengan IMVironment Yahoo! Messenger yang berjudul Doodle, hanya dalam konteks yang lebih besar. Setiap anggota bisa membuat room-nya sendiri-sendiri dimana sembari chat mereka bisa menggambar bersama. Kini The Broth punya fitur baru, dimana anggota bisa menyusun kepingan-kepingan puzzle kecil menjadi sebuah gambar. Hal ini bisa dilakukan pula secara kolaborasi dengan anggota lainnya. Jika Anda ingin tahu bagaimana karya itu dibuat, Anda bisa melihat video rekamannya saat anggota tersebut menggambar. Anda bahkan juga bisa melihat secara live aktivitas menggambar yang sekarang sedang dilakukan oleh anggota lain.

Nggak bisa gambar kartun, tapi ingin buat komik? Coba datang ke ToonDoo dimana setiap anggota bisa membuat komiknya sendiri. Gambar bisa diambil dari koleksi ToonDoo atau Anda unggah dan atur peletakannya di sana. Setiap karya komik bisa langsung Anda embed di blog atau website Anda.

Di era Web 1.0 dulu kala, kalau mau membuat website gratis, pasti larinya ke Geocities. Itu pun orang harus paham apa itu HTML sehingga agak sulit bagi orang awam untuk memiliki website sendiri. Sekarang, ada beberapa penyedia jasa layanan desain website dengan mudah, tanpa harus mengerti teknis sama sekali. Salah satunya yang menonjol adalah Wetpaint. Aplikasi yang berbasis wiki ini memungkinkan anggotanya mendesain website dengan mudah. Setiap website yang tergabung dalam Wetpaint bisa terdiri dari banyak kontributor konten. Website serupa lainnya seperti ini adalah FreeWebs dan Spruz.
Bila Anda mendapatkan aplikasi Yahoo! Messenger atau MSN Anda diblok oleh kantor, namun Anda masih bisa menjelajah online secara leluasa, maka Anda tetap masih bisa melakukan chat dengan rekan di Yahoo! Messenger atau MSN Anda. Gunakan Meebo. Melalui website ini, Anda bahkan bisa saling berhubungan dengan 4 messenger yang berbeda platform: Yahoo! Messenger, MSN, AIM, dan Google Talk. Kini Meebo juga sudah menyediakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya.
Ingin punya aplikasi operating system sendiri namun dalam versi web? Meski tidak secanggih Windows atau Mac, ternyata dengan Schmedley, Anda bisa mengumpulkan hampir segala kebutuhan desktop Anda dalam satu halaman. Anda bisa mencari gambar di Flickr, bisa mencari jadwal film terakhir berdasarkan kode pos tertentu, bisa menampilkan data RSS, bisa melihat kondisi cuaca, hingga bahkan meninggalkan catatan kecil ala post-it. Aplikasi serupa seperti ini bisa dilihat pula di Jooce dan MyGoya.

Semua orang juga pasti sudah kenal dengan Google Maps dan sudah banyak yang memanfaatkannya (meski sayang di Indonesia, yang ada baru peta bumi, belum sampai peta jalan raya). Tapi yang mungkin orang belum familiar adalah API (application programming interface) yang terbuka dari Google Maps. Artinya, setiap orang bebas mengembangkan aplikasi baru dengan memanfaatkan fitur Google Maps. Banyak contohnya, seperti: permainan Real World Racer, Brewster Jennings, Virtual Video Map, atau Frappr.
Kalau sekedar berbagi video tentu banyak yang sudah familiar dengan YouTube. Tapi, bila video itu ingin Anda mix dengan video, musik, atau gambar, ternyata hal ini bisa pula dilakukan secara online melalui Eyespot. Selanjutnya, seperti YouTube, hasil video bisa anda pamerkan di blog atau website Anda. Hal serupa lainnya juga bisa Anda temukan di MuveeMix.
Ingin membuat ikon avatar yang berbeda dengan yang lain? Bagaimana kalau dibuat dalam versi 3D? Coba saja Meez. Di website ini, Anda bisa mendesain karakter 3D. Anda bisa memilih koleksi rambut, pakaian, aksesoris, animasi, hingga latar belakang. Hasil desain karakter ini bisa Anda pakai untuk profil MySpace Anda. Untuk bisa memasuki website ini, terlebih dahulu Anda harus menginstalasi Java pada browser Anda terlebih dahulu. Hal serupa juga Anda bisa temukan di website Frenzoo.
Bahkan ada pula yang menyediakan website Web 2.0 khusus untuk konten pornografi. Untuk Anda yang suka menjelajah situs-situs dewasa, hal yang pasti membuat Anda sebal antara lain: iklan popup, tautan yang tiba-tiba masuk ke website lain yang nggak ada hubungannya, atau gambar berkualitas rendah. Emergency Porn bertujuan untuk mengeliminasi itu. Di website ini Anda bisa mem-filter gambar berdasarkan headshot, bodyshot, atau apapun.
Sebenarnya, masih banyak lagi yang bisa disebutkan. Mungkin untuk tulisan mendatang, akan diulas lebih banyak lagi website Web 2.0 yang tambah bikin geleng-geleng kepala, dan menantang dari sisi desain konsep dan desain aplikasinya.
Artikel lalu yang relevan:









Bikin geleng2, berarti sampeyan golongan anak dugem bukan metal hehehe
Sekedar menambahkan saja sih, Web 2.0 itu sebenarnya isunya di ‘content’, lebih tepatnya adalah ‘user generated content’ dimana ‘content’ adalah dari dan untuk pengguna.
‘User generated content’ ini sebenarnya tema utamanya dan tentunya ‘content’ tersebut dapat dipakai untuk berbagi, berkolaborasi, berkomunikasi dan lain-lainnya.
wah-wah wah… bikin betah di depan layar
paradoksnya adalah: kita semakin terasing dari lingkungan terdekat rumah kita.
OK, Emergency Porn caught my attention
*Ctrl+Click*
Kalo aku skrg lagi demen Scribd.com, tempat sharingnya file2 dokumen
Tambah satu lagi pak, produk indonesia Sharing Foto
kereen …. bisa g ya garut punya yang begitu
Tinggalkan komentar Anda!
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Kategori
Arsip
Artikel Terakhir
Artikel Acak
Komentar Terakhir
Komentar Terbanyak
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.