S itu untuk Superman
S itu bukan Mbok Slamet, tapi Superman. Ini beda lagi. Ceritanya, kemarin saat mengunduh-unduh film, nggak sengaja menemukan klip iklan layanan masyarakat (public service ad - PSA) tahun 1970-an.
Ada 2 klip. Yang pertama menggunakan karakter Superman. Di PSA ini, Superman mengajarkan kata-kata berbahasa Inggris apa saja yang menggunakan huruf S. Di PSA kedua lebih lucu. Di sini, Batman dan Robin mengejar si penjahat Joker. Tapi karena Batman dan Robin patuh akan rambu lalu lintas, mereka tidak mau menyeberang jalan sembarangan. Yang celaka adalah Joker, yang menerima akibatnya. Akibat meleng, ia terjatuh ke dalam lubang selokan.
Animasi jadul memang lucu. Apalagi kalau mendengar dialognya. Perilaku superhero tahun 1970-an, yang jelas antara hitam dan putih, memang sangat jauh berbeda dengan pendekatan cerita tokoh komik zaman sekarang.
Silakan unduh PSA Superman di sini, dan PSA Batman di sini.











Haha. Emang dulu cenderung item-putih ya. Hanya ada si jahat beriblis dan si baik bermalaikat. Padahal pembela kebetulan, eh kebenaran, kan juga punya sisi gelap.
Hi
repot kalau yang dipakai jadi pengajarnya itu X-Men.
sebenarnya, benih2 berbaurnya hitam dan putih sudah ada waktu Stanley bikin komik-komiknya, X-Men, Spiderman. Dan tahun 70-an seingatku sudah ada komik2 seperti Ghostrider yang jagoannya juga blur antara hitam dan putih.
Sementara, Dennis ‘O Neal dan Neal Adam juga sudah mulai mempertanyakan perspektif putih di tahun 70-an melalui miniseri Green Lantern/ Green Arrow.
Sebetulnya, yg betul-betul ‘blur’ baik-jahat itu ya Hulk, rekaan Stan Lee dan Jack Kirby pada 1960-an. Hulk ini dicipta dr tradisi komik/cerita monster. Sebelumnya (dlm 1960-an juga), mereka berdua sudah meminjam tradisi kisah monster itu dalam Fantastic Four, lewat tokoh The Thing. Tp pada Hulk lah, keterbelahan si monster dan si baik (ala Dr Jekyll & Mr. Hyde, karya klasik Robert Louis Stevenson di abad ke-19) itu betul2 nyata dan digali.
Tp, pd 1950-an, komik2 dr penerbit EC, hasil olah pikir Harvey Kurtzman dan sebarisan komikus ‘jagoan’ zaman itu (spt Wally Wood, John Severin, dll) sudah melahirkan tokoh2 yg ambigu juga –walau bukan superhero. Orang bilang, mereka ini cikal bakal komik underground di Amerika yg lahir pada akhir 1960-an.
Tapi, jangan lupakan betapa abu-abunya penokohan semua tokoh dalam komik wayang. Entah itu dr RA. Kosasih, Oerip, atau (favorit saya) Ardiesoma, selalu memiliki kepribadian kompleks yg sangat canggih. Dan ini agaknya diteruskan oleh tradisi komik Medan pada 1960-an (dengan master-nya: Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn). Jejak penggarapan karakter kompleks begini berlanjut dalam komik2 silat kita pada 1970-an.
Kok, kayaknya yg “jadul”2 itu ya, yg lebih canggih?
wah s juga dipakai untuk slank
Tinggalkan komentar Anda!
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Kategori
Arsip
Artikel Terakhir
Artikel Acak
Komentar Terakhir
Komentar Terbanyak
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.