Perkembangan online advertising di tahun 2007 juga menarik. Kini lebih banyak lagi brand besar di Indonesia yang mulai tertarik berkampanye online. Para produsen ini sudah mulai kenal dengan kenal dengan blog, Friendster, Facebook, istilah-istilah seperti viral, microsite, community website, click-throgh rate (CTR), dll.
Produsen raksasa seperti Unilever Indonesia hampir selalu menganggarkan rutin bujet kampanye online untuk produk-produk mereka yang ditargetkan untuk 18-34 tahun. Juga dengan Samsung Indonesia yang dituntut oleh kantor pusat mereka untuk selalu membuat kampanye online bila ada launch produk baru. Produsen lainnya yang gemar melakukan kampanye online adalah Nokia, grup Sampoerna, dan Djarum Super. Yang juga menarik, meski tidak seheboh lainnya, adalah kampanye yang dilakukan oleh XL, Toyota, dan Nutrifood. Ini belum termasuk mereka yang hanya mengandalkan pasang banner advertisement dan website statis semata di Detik, KCM, dan Okezone.
Beberapa pola lama masih berlanjut. Kebanyakan dari kampanye online tersebut berharap akan muncul komunitas yang loyal akan brand. Mereka ini lalu selalu menempelken embel-embel komunitas sebagai bagian dari kampanyenya, membentuk forum atau website pertemanan ala Friendster, dan berharap para anggotanya aktif di dalamnya. Seperti kampanye-kampanye lainnya, website lalu hanya ramai saat ada iming-iming hadiah dari brand. Selanjutnya, pengunjung website akan menurun drastis, dan para pengunjung tadi kembali lagi ke komunitas lama mereka. Tidak ada yang loyal.
Salah satu website komunitas brand yang bisa dibilang berhasil adalah L.A. Lights Indie Fest. Hal ini mungkin disebabkan karena aktivitas program brand ini yang jangka panjang (tidak hanya 3 bulan seperti kampanye online lainnya) dan melibatkan aktivitas offline pula yang juga berlangsung jangka panjang. Kegiatan online dan offline terintegrasi sehingga apa yang tidak tersampaikan melalui event yang berlangsung offline, para peserta event tersebut bisa langsung menanyakannya online.
Mudah-mudahan pola membentuk komunitas baru ini sudah mulai dihindarkan di tahun 2008. Setiap individu pasti sudah punya komunitasnya masing-masing. Mereka tahu dimana mereka bisa curhat, chat, cari info, bahkan cari pacar. Mungkin pendekatannya perlu terbalik. Daripada capai membentuk komunitas sendiri, kenapa tidak si brand saja yang datang ke komunitas yang sudah ada dan established?
Media promo aktivitas online yang kini masih dominan adalah banner advertisement. Untuk para brand yang punya bujet media berlebih, nggak akan ragu untuk memasang iklannya di Friendster atau di Yahoo! Messenger. Hal yang masih menjadi misteri adalah kenapa Detik (di mata para pemasar online sudah gatal melihatnya) masih laku untuk pemasangan iklan ya, meski penuh dengan tumpukan banner di mana-mana yang saling “teriak” satu sama lain. Bukankah semakin banyak banner berarti probabilitas terkliknya semakin kecil? Ataukah pasang iklan di Detik sekedar untuk awareness saja, seperti kita pasang iklan di koran?
Media lain yang sudah cukup sering dilakukan para produsen, meski tidak terlalu kelihatan, adalah viral dan direct marketing. Umumnya cara ini dilakukan oleh mereka yang sudah punya database konsumen. Materi yang dikirimkan dari sekedar newsletter, presentasi lucu Power Point, hingga aplikasi interaktif dengan Flash. Umumnya viral ini dikirim sebagai teaser kampanye besar yang akan dilakukan produsen dalam waktu dekat.
Seperti telah disebutkan di posting sebelumnya, media blog pun mulai dilirik sebagai alternatif kampanye brand. Entah itu hanya sekedar pasang banner atau tautan teks, hingga ajakan untuk mengulas topik tertentu di blognya. Namun ini masih tahapan awal, karena karakteristik blog yang bersifat pribadi cukup menyulitkan pendekatan ke setiap blog tersebut. Mungkin di tahun 2008 nanti akan ada ide-ide baru untuk memanfaatkan media blog ini lebih jauh.


















Interesting, dua posts ini…
Saya sendiri juga kurang mengerti kenapa situs web seperti Kompas dan Detik masih laku untuk memasang iklan banner. Tarifnya sangat mahal, kemungkinan untuk menerima klik-klik yang berguna sangat kecil.
Pitra, any idea tentang laporan statistik dari situs tersebut yang dikirim kepada pemasang iklan? Bagaimana pemasang iklan banner akan mengkalkulasi ROI sebuah banner campaign? Saya harap komunitas online advertising dan publishing Indonesia akan ganti approach pada tahun 2008, dari kwantitas ke kwalitas, dari clicks dan impressions ke ROI, dari banner branding ke iklan yang lebih relevan.
Iya sih, blog merupakan media outlet alternatif untuk memasang iklan.., tetapi jangan-jangan blogger dan perusahaan Indonesia akan ketemu online melalui sponsored posts..?!
Di http://forum.chip.co.id/ ada cukup banyak distributor hardware komputer yang menggunakan sub forum khusus yang digunakan untuk menyampaikan berbagai informasi produk & salahsatu sarana layanan purnajual.
Pemilik forum diuntungkan dengan biaya registrasi yang dibebankan kepada distributor, pihak distributor diuntungkan dengan kesempatan beriklan langsung kepada konsumen potensial & mempermudah layanan purnajual, konsumen (dalam hal ini anggota forum) diuntungkan dengan kemudahan informasi produk, pengurusan garansi/RMA dll.