Home » Online Communities

Tentang Socio Graph

10 March 2008 2,529 views 6 komentar

Salah satu blog wajib baca adalah blognya Jeremiah Owyang. Ia banyak menganalisa perkembangan socio graph di US. Menurut Jeremiah, socio graph adalah representasi hubungan yang kita miliki. Di era kini, socio graph ini menjelaskan tentang pribadi kita, hubungannya dengan komunitas bisnis atau pergaulan melalui website jaringan sosial.

Coba cek materi presentasinya di forum Supernova yang bisa diunduh di tautan ini. Di materi itu, sedikit dijelaskan tingkat perilaku seseorang dalam beraktivitas online. Dari sekedar spectator (pengamat) yang sekedar membaca blog atau menyimak video, hingga menjadi seorang creator (pembuat) yang menulis blog, mengunggah video, musik, dan melakukan posting beragam artikel dimana-mana.

Socio Graph

Socio Graph

Hal menarik yang menjadi fokus presentasi ini adalah semakin sulitnya me-monetize sebuah website jaringan sosial. Kalau sering membaca blog Mashable, Anda bisa melihat betapa semakin banyaknya website jaringan sosial bermunculan dan hanya memiliki sedikit perbedaan dengan jaringan sosial yang sudah ada. Bahkan ada yang menyalin mentah-mentah dan berharap ikut menikmati keuntungan dari tren yang berjalan. Di presentasi ini juga diceritakan kalau ada pemasar yang berhenti memasang iklan di MySpace karena hanya menghasilkan 13 dari 10.000 response rate. (Nggak kebayang, kalau iklan di Detik itu response rate-nya berapa ya?)

Di presentasi itu juga dibahas sepintas cara-cara me-monetize situs jaringan sosial. Dari beberapa cara yang disebuatkan, memang tidak semuanya bisa diaplikasikan dengan kondisi Indonesia saat ini. Cara tradisional yang selalu dilakukan di Indonesia memang melalui iklan, dengan format banner.

Cara lain yang seharusnya bisa diterapkan adalah dengan menjadikan jaringan sosial (atau bahkan situs komunitas lain seperti forum atau multiblog) sebagai area riset pasar. Sebuah produk bisa memanfaatkan komunitas ini sebagai target survei atau untuk menggali insight dari produk yang sudah disebarkan di pasar.

Alternatif cara lainnya adalah dengan menyediakan servis tambahan yang spesifik untuk target niche tertentu. Misalnya, menyediakan white paper premium untuk situs komunitas bisnis. Atau seperti yang dilakukan Live Connector, menyediakan fasilitas chat khusus karena target situs ini adalah untuk para ABG.

Mumpung kejadian di Indonesia belum seekstrim yang terjadi di US, sekedar mengingatkan saja. Kalau ada yang berniat membangun situs komunitas (baik forum atau jaringan sosial), jangan sekedar me too ya. Kalau me too, bisa jadi pengunjung tertarik hanya pada registrasi awalnya, tapi nggak akan dijamin akan bertahan seterusnya di sana.

6 komentar »

  • Wong Jawa :

    Kayaknya orang-orang udah mulai jenuh ama social networking..
    Dulu punya akun Friendster adalah kewajiban sekarang itu suatu yang basi…

  • Hedi :

    Socio graph kayak di atas, mungkin susah terjadi di Indonesia karna karakter orang kita kebanyakan anget2 tahi ayam :D

  • f :

    hmm.. menurut mas, situs social networking yang ideal itu yang seperti apa?

  • Pitra (penulis) :

    #3:
    yg ideal ya yg sesuai dgn kebutuhan targetnya.. hehe, abstrak ya? ya memang begitu jawabnya. Social network ug ditargetkan utk kalangan abegeh jelas beda bila ditargetkan utk para pebisnis. Beda lagi kalo targetnya utk para ibu-ibu muda. Friendster ideal utk para abegeh n mahasiswa, tapi gak ideal utk para juragan eksekutif. MySpace ideal utk yg suka/bikin musik, tapi kurang ideal utk penggembar buku.

  • arrohwany :

    Peningat yang berharga :)

  • pinkparis :

    (doh) article above written on March 08 and I just read n know it now? amat sangat telat sekali ….
    eniwei, persentase di Indonesia mustinya beda krn itu yg terjadi di US kan?

Tinggalkan komentar Anda!