Home » Online Branding

Mengkomersialkan Dotcom di Indonesia, Sampai Seberapa Jauh?

16 July 2008 2,280 views 17 komentar

Komersialisasi DotcomIni sebetulnya pertanyaan ya, dan bukan pemberitahuan. Namun, setidaknya tulisan awal di bawah ini mungkin bisa membantu memberi gambaran kondisi yang sudah ada. Yang jelas Indonesia bukan US atau Eropa yang punya banyak dermawan teknologi. Di negeri-negeri itu, para pengembang portal atau aplikasi web bisa lebih mudah mendapatkan pendanaan dari banyak yayasan. Di Indonesia, walah, bisa menemukan 1 orang saja sudah bersyukur…

Oleh karena itu model bisnis bangun web, kembangkan, dan jual, belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia. Meski suatu situs memiliki traffic yang tinggi, kalau tujuan dari awal membangun situs itu adalah untuk dijual lagi, pertanyaannya: mau dijual ke siapa?

Di era tahun 2000-an dulu, banyak orang euforia membangun portal dotcom untuk dijual kembali melalui IPO (initial public offering). Ekspektasi mereka terlalu tinggi. Model bisnis ‘mimpi’ seperti ini tidak ada yang berhasil. Nama-nama seperti kopitime.com, kitakita.com, yang sempat heboh bereksibisi dimana-mana sekarang tidak ada yang membekas. Beberapa portal seperti rileks.com dan kafegaul.com sempat mengecilkan skup situs, sambil merumuskan pola bisnis mereka berikutnya.

Sekarang, dengan semakin banyaknya CMS (content management system) yang open source semakin memudahkan seorang mahasiswa sekalipun membangun sebuah dotcom. Makanya, kalau dulu jumlah dotcom terbatas namun banyak yang kenal, kini jumlahnya sangat banyak, namun terbatas diketahui oleh segmennya masing-masing. Sekarang pun nggak sulit untuk membangun situs komunitas ala Friendster atau situs social bookmark ala del.ico.us. Pertanyaannya, setelah dibuat, lalu mau diapakan? Mungkin nggak dikomersialkan?

Situs Berbasis Konten

Iklan dengan revenue tinggi berbanding lurus dengan tingginya traffic di dalam situs. Untuk situs berbasis konten perlu celah yang jeli. Ingat, setiap orang kini bisa membuat situs dengan mudah. Konten situslah yang membedakan kualitasnya. Untuk membangun traffic yang tinggi perlu konten berkualitas, yang di-update secara rutin, yang akhirnya akan mempertinggi returning visitor.

Membuat konten bukan hal yang mudah, apalagi kalau bukan ahli di bidangnya. Biasanya, situs-situs portal seperti yang digarap Virtual selalu bekerja sama dengan pihak lain. Konten diserahkan kepada instansi/individu lain yang berharap bisa mendapatkan nama (eksistensi diri) dengan terpublikasinya artikel di portal itu. Pihak pengembang portal lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sistem, pemasaran, dan eksposur situs. Bisa jadi, pada saat nanti mendapatkan iklan, ada sharing revenue antara kedua belah pihak.

Untuk situs-situs dotcom berskala lebih kecil, seperti yang berbasis blog, memang belum ada pilihan lain selain mengandalkan pendapatan dari iklan kontekstual, seperti AdSense. Nilainya pun juga nggak besar. Blog ini saja rata-rata cuma dapat $30 per bulan, untuk 25.300 absolute unique visitor-nya. Jadi berhitung saja, kalau ingin dapat $1.000 per bulan, berapa target absolute unique visitor yang harus diraih. Tentu saja, saat bisa mendapatkan target tersebut, revenue dari AdSense menjadi minor bila dibandingkan dengan menjual spotnya ke brand ternama.

Situs Berbasis Aplikasi

Di luar sana, situs berbasis aplikasi sepert Twitter, Plurk, Widgetbox, dll mempunyai model bisnis yang sulit bisa dijumpai di Indonesia. Seperti disebutkan di atas, donator/dermawan teknologi yang mau investasi mengembangkan suatu aplikasi web sangat banyak. Di sini, pola bisnis seperti ini masih banyak memberi keraguan bagi penyandang dana.

Seandainya, ada seorang pengembang di Indonesia yang berhasil membuat aplikasi web canggih bak Plurk (dan yakin deh, pasti ada yang bisa), dari sisi komersialnya ia akan kebingungan. Bagaimana mendapatkan revenue dari situ? Adakah yang lebih elegan dari sekedar menyediakan spot iklan? Apakah cocok diterapkan model premium di Indonesia, dimana seorang yang membayar mendapatkan fitur lebih daripada yang menggunakannya gratis? Atau adakah cara-cara lainnya?

Situs Berjualan

Model bisnis seperti ini yang terlihat paling banyak di Indonesia, terutama dari rekan-rekan komunitas Tangan di Atas. Situs dijadikan sebagai showroom, sementara di balik layar, para pemilik situs pun sudah siap dengan stok fisik barangnya. Situs menjadi tools jualan, sementara transaksi yang terjadi sebenarnya dilakukan secara offline. Revenue yang didapat memang bukan dari situsnya langsung, tapi dari hasil penjualan barang akibat ‘dipamerkan’ di situs.

Lalu, apakah model komersialisasi seperti ini bisa terjadi pada produk maya (non fisik)? Misalnya, berjualan icon, template, ebook dan ringtone. Mungkin ada yang rekan-rekan yang bisa memberikan contoh model bisnis yang sudah berjalan untuk produk maya?

Salah satu kelemahan produk maya ini adalah dari sisi pembajakan. Situs-situs dewasa (dan agak dewasa) seperti Popular dan Nonamanis menyediakan fasilitas berbayar untuk melihat galeri foto di dalamnya. Namun, ujung-ujungnya, beberapa foto ini pun tersebar pula ke banyak blog dan dinikmati secara gratis, sehingga membuat anggota yang tadinya merasa mendapatkan privilege lebih menjadi kecewa.

Situs Komunitas

Sempat ngobrol dulu dengan pemilik LC. Si pemilik dulu hanya mengandalkan revenue dari Google AdSense. Penghasilannya lumayan besar, yang hanya bisa didapat bila traffic-nya tinggi. Situs LC ini pada bulan Juni kemarin memiliki 746.000 visitor dan 353.000 absolute unique visitor.

Sekarang setiaporang dengan mudah bisa membuat situs komunitas, baik itu berupa forum ataupun jejaring sosial. Yang sebetulnya susah adalah mengembangkan komunitasnya, hingga bisa menghidupi sendiri situsnya. Membuat para anggotanya lebih membutuhkan keberadaan situs daripada kebalikannya (yang punya situs butuh anggota), jelas bukan hal mudah.

Kumpul-kumpul komunitas di Indonesia identik dengan kopdar. Kalau nggak kopdar (rutin) berarti komunitasnya belum muncul. Makanya, beberapa situs yang berbasis komunitas mencoba menyelenggarakan kegiatan rutin offline setiap bulannya. Di awalnya, bisa jadi si pemilik situs yang ‘terpaksa’ mensponsori kegiatan.

Karena identik pula dengan kegiatan offline, bisa jadi bentuk komersialisasi dotcom-nya tidak melulu di dalam situs. Bisa jadi seperti pola yang dilakukan dagdigdug, dengan mengumpulkan ‘massa’ sebanyak mungkin. Lalu melakukan kegiatan offline berupa roadshow pelatihan blog di beberapa daerah. ‘Massa’ yang banyak ini yang lalu ditawarkan ke pengelola brand untuk lalu mensponsori kegiatan roadshow. Lagi-lagi pola seperti ini mirip dengan situs berjualan. Revenue langsungnya ada di kegiatan offline, dan bukan langsung pada situsnya.

Nah pertanyaannya:

  • Ada nggak komersialisasi dotcom yang murni mendapatkan revenue secara online (selain dalam bentuk banner atau iklan kontekstual, tentunya)?
  • Ada yang tahu bagaimana mengkomersialkan situs berbasis aplikasi, untuk pasar Indonesia?

Ada masukan?

17 komentar »

  • Okto Silaban :

    Karena memang sepertinya Indonesia belum siap.

    Saya rasa jika saja yang membuat YouTube pertama kali itu adalah orang Indonesia (dan tinggal di Indonesia), tetap tidak akan sesukses YouTube seperti sekarang.. Mungkin – mungkin malah bangkrut sebelum berkembang.

    Satu – satunya situs berbasis aplikasi dari Indonesia yang original saya rasa adalah Moodmill. Dan kita tahu sendiri nasibnya seperti apa.. :(

    Kalau mau yang menghasilkan, sepertinya sementara ini adalah yang modelnya berbentuk Portal seperti Detik, OkeZone, PortalHR, dll..

  • kucluk :

    haduh..
    berat pertanyaannya..

    la saya bikin web cuman buat seneng-seneng aja (nulis2 apa adanya), masih belum kepikiran untuk dikomersialkan.

    tapi ndak nutup kemungkinan nanti dikomersialkan…
    sambil belajar sini belajar sana..
    alon-alon asal kelakon

  • Hedi :

    Di Indonesia belum bisa atau mungkin saatnya belum datang, mas. Basis dot com adalah internet dan sambungan internet masih barang lux di negeri ini (dari sudut rumahan). Kalo internet bisa sama luasnya dengan pemakaian HP, mungkin dot com bakal berjaya.

  • fisto :

    iya emang indonesia belum siap…tapi kenapa?apa karena penetrasi internet ke penduduk masih kecil banget?…wah, kalo terus dipikir kayaknya kok masih jauh ya perjalanannya… :(

  • Andy OrangeMood :

    * Ada nggak komersialisasi dotcom yang murni mendapatkan revenue secara online (selain dalam bentuk banner atau iklan kontekstual, tentunya)?

    Ada donk pak, kalau skupnya di lokal paling kelihatan game online, diluar banyak modelnya, intinya charge the service…

    * Ada yang tahu bagaimana mengkomersialkan situs berbasis aplikasi, untuk pasar Indonesia?

    Ada pak, karena ini kerjaan freelance saya sebagai online business consultant, untuk client lokal sudah ada beberapa, tetapi nampaknya masih dalam progress yang saya belum tahu perkembangan selanjutnya atau eksekusinya, karena mereka hanya melibatkan saya pada tahap konsep saja (beli putus konsep).

    Ada satu client baru sedang dalam proses hitam diatas putihnya, dan itu melibatkan saya dalam developnya, jadi semoga akan segera kelihatan.

    Mau tahu? silahkan kontek saya, nanti saya charge. :)

    “Andy OrangeMood is Online Advertising & Business Consultant”

  • Dino :

    Indonesia memang gak banyak angel investor ataupun venture capital karena bisnis di Indonesia sangat berisiko (hukum gak jelas, pemerintah rapuh, dll). Maka para investor lebih suka berinvestasi di perusahaan kategori menengah. Menengah menurutku pendapatannya minimal 20Milyar per tahunnya. Itupun untuk bisnis yang berada di industri mature. Kalo bisnis teknologi mungkin investor minta lebih besar lagi karena teknologi lebih berisiko.

  • Rama - Think.Web :

    Mengenai online earning sebenernya ada temen-temen kita di sisi ‘lain’ yang somehow karena berbeda cara mencari uang dengan kita jadinya memang tidak terlalu terlihat (oleh kita).
    Ada mereka-mereka yang per bulannya punya pendapatan rutin $1500 s.d $3000 per bulan.

    # Ada nggak komersialisasi dotcom yang murni mendapatkan revenue secara online (selain dalam bentuk banner atau iklan kontekstual, tentunya)?
    Ini contoh aja, coba search google dengan keyword “Bali Villas”, top 10 ranking nya hampir semua dikuasai oleh orang Indonesia.
    Internet Marketing yang mereka pake adalah dengan cara SEM (Search Engine Marketing). Dan SEM yang terjadi pada hotel & Villa di Bali adalah salah satu hal yang membuat Bali bangkit dari bom 1 & 2. (bayangin… online media is one of the hero!!)

    # Ada yang tahu bagaimana mengkomersialkan situs berbasis aplikasi, untuk pasar Indonesia
    Website berbasis aplikasi yang kita pakai itu kan bisa jadi juga cuman pemanfaatan dari barang yang secara fungsi inti sudah terpakai.
    Jadi memang apa yang kita lihat itu hanyalah produk RnD nya. Sedangkan produk siap pakai & komersil nya adalah yang memang benar2 di perlakukan secara komersil.

  • Ivan :

    Problem online business di Indonesia, salah satunya adalah penetrasi yang belum banyak. Tapi, hal ini hanya berlaku bila anda bener2 mengandalkan pendapatan iklan saja, dan berbahasa Indonesia.

    Untuk menjawab pertanyaannya:

    #1 – Mendapatkan revenue secara online harus didukung dengan online payment system ala paypal donk. Kejadian nyata sekarang, pendapatan online umumnya berupa iklan, membership, dan penjualan barang. Nggak banyak koq macamnya.

    #2 – Ini proyek yang sedang saya kerjakan :) Jadi maaf kalau nggak bisa berbagi banyak. Coming in 2009 koq :) Sabar yah ….

  • Pitra (penulis) :

    #5
    1) Game online memang yg paling dominan saat ini (kelewat dibahas). Tapi sayangnya ini sifatnya hanya franchise, n bukan didevelop sendiri. Komersialisasi secara bisnis memang ok, namun dari sisi ekonomi kreatif gak bunyi, karena minim local creative talent yg terlibat dari Indonesia. Seperti Inspirit Arena dan Lilo yang gak jelas nasibnya, padahal Lilo sudah dibacking oleh Indosat, masih ndak jalan juga.
    2) hihi, gak punya duit utk bayar elo, Ndy.. :) tapi kalo projectnya udah launch, jangan lupa dishare pengalamannya.

    #6 jadi inget bacaan tentang peta biru ekonomi kreatif dari Mari Elka Pangestu. Apa yg disebut beliau rasanya masih jauh dari yg bisa dirasakan manfaatnya oleh kita yg pelaku ekonomi kreatif (terutama di bidang interaktif).

    #7
    1) ya betul, itu sisi lain komersialisasi dotcom yg di bawah radar. gak pernah ada publikasi, gak ada gaungnya, tapi di baliknya, pelaku SEM n SEO itu tajir2.
    2) nah, itu juga maksud gw. Apa mungkin mengkomersialkan yg sudah dibuat oleh Moodmill.com (misalnya) menjadi sesuatu yg ditargetkan utk corporate? Jadi premiumnya bukan ke user pribadi, tapi langsung skala enterprise.

    #8
    1) Gw heran kenapa BCA nggak masuk ke micropayment online ya? Padahal apa yang mereka sudah buat, sedikiiit lagi bisa diadaptasi jadi ala PayPal. Toh mayoritas orang yg bertransaksi online, punya account KlikBCA. Apalagi kalo bisa dinterasiin dengan Kartu Flazz mereka yg baru.
    2) sip, ditunggu.. jangan kelamaan..hehe..

  • jamez2789 :

    pertanyana cukup sulit juga ya..

    hmmm coba ane jwb d.
    1. untuk saat ini apabila mengandalkan revenue secara online sepertinya agak sulit karena setiap orang yang baut situs bahkan blog intinya adalah UUD( ujung ujungnya duit) jadi klo hy mengandalkan revenue scr online agak lama dibandingka menjual banner dlam websitenya..

    2. mungkin melalu iklan di tv atau banner di muka umum sepertinya begitu..

  • Anjar Priandoyo :

    Susah ya, teknologi kita kan sudah tertinggal jauh. Paling bisa kita bermain di content. Kalau service seperti email, youtube, social networking rasanya tidak mungkin.

    Pesimis sih memang, tapi untuk skala kecil asal bisa hidup sih banyak yang berhasil.

  • Kukuh TW :

    saya sebenarnya ingin komentar, tapi besok aja ya pitra, kalau meeting besok di plangi jadi, gw ceritain deh… the untold stories about dunia dotcom indonesia … hehehe..

  • Andra & my Backbone :

    Situs jodohlah.. :D

  • Andy OrangeMood :

    Mas Pitra…

    Beruntung doa saya terkabul kemarin, proses hitam diatas putih sudah selesai… project started… nanti pasti aku sharing2…

    Mas Kukuh…

    Boleh donk sharing2 juga… saya yakin suatu saat bisa jadi simbiosis mutualisme…

    “Andy OrangeMood is Online Advertising & Business Consultant”

  • Widi Asmoro :

    pembahasan yg menarik..

  • mfajrinet :

    Iya nih, awal2 munculnya internet di indonesia bejibun jg tuh web-web wara-wiri di internet. Ntah perusahan besar, kecil, lain2 berlomba2 menciptakan web dengan desain flash segala.. tapi sekarang mulai sepi tuh.. ;)

  • ambar indrasto :

    Topik menarik. Pembahasan mencerahkan. nDerek maos, nderek nyinau. Maturnuwun

Tinggalkan komentar Anda!