Home » Online Branding

Kalau Identitas Brand Dipalsukan di Dunia Online

4 August 2008 2,406 views 9 komentar

Identitas PalsuKalau di Indonesia, banyak brand yang masih ragu untuk berkomunikasi online melalui blog atau jejaring sosial, ternyata yang terjadi pada ExxonMobil di luar sana malah kebablasan. Setelah membaca cerita di blognya Jeremiah Owyang, komunitas Twitter tertipu oleh seseorang bernama “Janet” dengan akun Twitter palsunya yang menggunakan brand Exxon Mobil. Ia mengaku kalau dirinya adalah representatif ExxonMobil di Twitter, padahal apa yang dilakukan “Janet” ini adalah atas nama dirinya sendiri, dan bukan karena permintaan dari ExxonMobil.

Beruntunglah “Janet” ini seorang brand evangelist, ia tidak menjelek-jelekkan ExxonMobil sama sekali. Hebatnya lagi, sudah terjadi komunikasi aktif antara “Janet” dengan komunitas Twitter. Ini artinya, sebetulnya ada keingintahuan nyata dari komunitas online terhadap brand. Dialog yang terjadi pun bersifat positif. Sesuatu yang seharusnya dilakukan resmi oleh pemilik brand, tapi malah tidak dilakukan.

Lalu pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus ini?

  • Perusahaan harus senantiasa memonitor brand yang dipunyainya. Sesekali harus mengecek melalui search engine, dimana saja kata brand-nya muncul. Bila menemukan brand-nya dijelek-jelekkan di suatu blog atau jejaring sosial, atau ada orang yang memalsukan namanya sebagai perwakilan brand (seperti kejadian ExxonMobil) tentunya harus dengan cepat melakukan penyikapan.

  • Seharusnya ada perwakilan dalam perusahaan yang “hidup” di dunia online. Ia menjadi warga online sejati, yang aktif di berbagai situs. Namanya pun cukup dikenal, sehingga saat muncul cerita yang menjelekkan nama baik brand, orang tersebut bisa melakukan pendekatan yang lebih personal terhadap pelaku pencemaran.

  • Dari sisi warga online, tidak seharusnya mudah percaya akan suatu berita, mengingat identitas seseorang di dunia online bisa dipalsukan dengan mudah. Kebiasaan di kita adalah begitu mudahnya percaya akan sesuatu yang diucapkan/dituliskan peer leader, tanpa kita mau mengkonfirmasinya lebih lanjut.

  • Meski di Indonesia tahap komunikasi online yang dilakukan brand umumnya masih dalam taraf awal, bukan tidak mungkin hal ini terjadi. Bisa saja saat ini ada identitas brand Indonesia yang dipalsukan sebagai akun Friendster, Facebook, dsb. Contoh bodonya, lihat saja betapa banyaknya “Roy Suryo” membuat akun blog, padahal jelas-jelas bukan dia yang membuat. Kenapa nggak mungkin pula hal serupa terjadi pada brand di Indonesia?

Ternyata, selain ExxonMobil, sudah banyak brand yang dipalsukan identitasnya di dunia online. Cek blog ini untuk daftarnya.Cek ini pula untuk melihat indeks brand mana saja yang aktif menggunakan Twitter (meski belum tentu pula ini dimiliki oleh pemilik brand bersangkutan ya).

9 komentar »

  • rama :

    asalkan justru membantu pasti akan disupport atau malah disponsori oleh brand aslinya.

  • paank Fachrezi :

    he he he,… aq juga pernah kok Oom, cuma bukan merk produk tapi memposisikan diri sebagai Pengelola Fans Club Management seorang selebriti papan atas Indonesia. ^_^

    Jujur aja, emang menyenangkan kok melihat orang-orang yang kesasar, he he,…

    Eniwei, salam kenal dari saya OOm. Saya Newbie terbaru (baru banget soalnya,…. :D ).
    Mohon koreksi dan masukannya untuk blogku (http://paankbilang.blogspot.com).

    Salam,

    paank

  • Ivan :

    Seru juga nih. Memang buat perusahan yang konsumennya udah intelek, perlu punya online presence untuk monitor brandnya.

  • Ricky Nuriadi :

    Sepertinya sih memang belum banyak yang menyadari kekuatan membangun merk di dunia maya, terutama korporasi-korporasi yang eksekutor PR atau brand managernya belum bergerak dari teori-teori dan senjata-senjata lama media tradisional. Tapi kok rasanya ngga lama lagi deh ya… dah mulai banyak new-media consultants dan ad agency yang memperhitungkan strategi komunikasi berbasis web dalam “campaign”-nya, justru sekarang saatnya bagi yang sadar duluan untuk mulai… “jualan”

  • Catshade :

    Asalkan brand ambassador di dunia maya itu full-disclosure terhadap status dan fungsinya, saya rasa kita-kita juga akan merespon positif. Yang jadi masalah adalah kalau brand ambassador itu menyembunyikan identitas, seolah-olah dia berasal dari pihak konsumen yang netral dan memberikan testimoni jujur.

    Contoh yang saya ingat mengenai ini adalah kontroversi blog “All I want for Xmas is a PSP”-nya Sony.

  • ID Problogger Net :

    jadi kepengen mengikuti jejak orang itu, assik juga kalo suatu saat malah diangkat jadi PR perusahaan itu, dari pada dia nyari karyawan baru, mending yang udah ada dan terkenal bawa brand itu.

  • catur pw :

    Saatnya kita lebih memperhatikan sejauh mana pemahaman masyarakat awam terhadap brand image perush kita/diri kita di dunia maya, apakah positif? atau negatif?

    Pokoknya, kekuatan Socialmedia jangan dianggap enteng, hehe… ;)

    Kalo dalam kasus personal brand, kebetulan ada kasus menarik yg bisa kita pelajari dari Film Hancock.

    Ada juga bahasan mengenai Online ID Calculator, untuk mengukur personal brand kita di dunia maya, apakah masuk area, Digitally Dissed, Digitally Disastrous, Digitally Dabbling atau malah Digitally Distinct.

    piet, kayaknya “Dewa” juga butuh personal branding yg sip deh, jadi… sudah siapkah dikau membrandingkan “Pitra”.

  • snydez :

    wah kalo ada yang ‘asli’ Indonesia , lumayan :)

  • BLogicThink [dot] com :

    Mudah2an ada perusahaan yang membutuhkan perwakilan dalam perusahaan yang “hidup” di dunia online dan memilih saya :)

Tinggalkan komentar Anda!