Kalau Ada yang Gratis, Kenapa Harus Beli?
Pertanyaan ini dimulai ketika seorang teman membahas hal ini untuk kepentingan thesisnya. Memang diakui, setiap orang suka gratisan, baik itu gratis yang legal ataupun bajakan. Fasilitas torrent dan situs penyedia jasa unduhan seperti 4Shared dan Rapidshare menjadi tujuan favorit sumber “gratisan.”
Seorang pembeli CD sebuah penyanyi terkenal me-rip-nya menjadi format MP3 dan mengunggahnya ke situs-situs tersebut, supaya orang lain bisa mengunduhnya suka-suka. Tentunya, meski di sini ada hak artis yang dilanggar, pengunduhnya tidak peduli. Bukan maksud melegalkan pembajakan, tapi kejadian seperti inilah yang terjadi setiap jam dan detik. Hal yang sangat mustahil untuk dicegah.
Model bisnis musik lama dengan sistem royalti ke musisi dan perusahaan label dalam ancaman. Kalau tetap mengikuti model bisnis ini, bisa jadi umur mereka tidak akan panjang. Semua orang sudah tahu ada penurunan pembelian CD dan kaset. Kini RBT (ring back tone) menjadi pilihan populer pendapatan royalti, karena materinya sulit digandakan. RBT memang berdampak positif, tapi apakah ada alternatif model bisnis lainnya?
Radiohead pernah melakukan hal yang sangat esktrim. Mereka membagikan lagunya secara gratis via internet. Hasilnya 2,3 juta unduhan dalam 3 minggu, dengan rekor 400.000 unduhan per hari. Mereka berpikir, daripada mengirim demo ke radio untuk diputar lalu bajakannya cepat tersebar di internet, kenapa nggak mereka yang memulai pembajakannya sendiri. Keuntungannya memang bukan dari sisi finansial (pada awalnya), tapi publikasi gratis yang luar biasa besar. Semakin banyak penggemar mereka yang menyukai lagu tersebut, semakin besar di antara mereka yang akan datang ke konser, membeli merchandize dan album mereka yang terbaru.
Hal serupa dilakukan pula oleh musisi indie di negeri ini. Salah satunya yang terkenal bergerilya melalui internet adalah Everybody Loves Irene (ELI). Mereka membangun komunitas penggemarnya melalui beragam jejaring sosial, dari Friendster, Facebook, Imeem, MySpace, Multiply, Last FM, dll. Melalui setiap jejaring itu, mereka bercerita tentang proses pembuatan album. Bahkan di situs Multiply-nya, ELI berbagi demo lagu yang sedang mereka buat. Mereka mengajak komunitas yang dibentuk itu untuk memberi masukan dan kritikan seputar lagu itu.
Apa yang dilakukan Radiohead dan ELI tentunya membuat perusahaan label semakin kebingungan. Dengan independesi yang dilakukan para grup musik ini, mereka hampir tidak meraih profit sama sekali. Lalu, model bisnis apa yang harus dilakukan para pemain perusahaan label di era gratisan ini? Apakah ini menjadi masa yang suram untuk mereka?
Di Indonesia, ternyata ada kanal media lain yang rupanya dilirik oleh perusahaan label, meski porsinya masih belum besar. Pernah bermain online game Idol Street atau Ayo Dance? Meski game ini buatan luar, ternyata publisher-nya di sini diizinkan untuk memodifikasi lagu-lagunya dengan ragam lagu populer di Indonesia. Sebutlah Ayo Dance yang sempat populer dengan lagu gubahan Melly “Let’s Dance Together.” Atau game Idol Street yang kini memiliki lebih dari 100 koleksi lagu lokal, termasuk di antaranya lagu-lagu dari Mulan, Melly dan Agnes Monica.
Alternatif lainnya, yang kini sudah berjalan juga adalah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan karaoke. Mereka berlangganan lisensi selama periode tertentu dan berhak memutar lagu-lagu keluaran dari label mereka untuk digunakan untuk karaoke.
Di luar negeri, beberapa metode masih diuji coba dengan melakukan monetize pada video klip yang ditayangkan di situs-situs berbagi video. Pengunjung bisa melihat videonya secara gratis dengan konsekuensi harus melihat iklan yang ditayangkan di awal video atau iklan teks yang muncul di tengah-tengah video.
Selain model-model bisnis di atas, apakah ada ide lain yang mungkin bisa dilaksanakan?









Saya malah lebih tertarik sama bisnis iTunes & Myspace Music yg berkompetisi menyediakan music market yang lebih kompetitif, murah dan fair terhadap konsumen. Konsumen diperbolehkan stream lagunya dulu, kalo suka baru bisa beli lagunya perlagu dengan harga yang gak terlalu mahal (untuk ukuran $ maksudnya
).
Mungkin karena penetrasi internet di Indonesia masih gak sebagus di Amerika dan orang Indonesia sendiri belum terbiasa belanja lewat internet, tapi dimasa depan model penjualan lagu macam ini bisa dipake recording company di Indonesia karena selain potensi marketnya bagus (anak muda yg maunya langsung download, belinya pun tinggal klik aja pake credit card) sama besar risk to profit-nya sendiri gak terlalu besar, karena gak perlu banyak printing hard copy semacam CD+kaset yg kalo gak laku musti direturn, sementara klo jual di internet ya cuma modal maintain website+profile di MySpace/iTunes dan marketing.
Cuma ya sekali lagi orang kita harus lebih terbiasa dengan mengeluarkan uang di internet, recording company jg harus berani investasi, kalo gak ya gagal.
*just my 2 cents, gak papa kan berbagi
*
Jual lagu di internet kayaknya tetep gak cocok di Indonesia..
Lagian, bukannya selama ini musisi memang bukan hidup dari “jualan cd”? Mereka hidup dari bayaran manggung, merchandise, dan kerjasama dengan produk tertentu.
Eh iya, aku pernah nulis hal yang mirip sekitar setahun lalu :
http://okto.silaban.net/2007/10/music-guitar/saatnya-band-musisi-tidak-menjual-lagu/
klo di Indonesia… kayaknya perusahaan rekaman akan tetap berjaya deh… soalnya pentrasi internet di Indonesia masih belum cukup mantab buat bisa ngebangun komunitas yang kuat yang bisa menyokong si musisi
gak tau deh… ngasal ajah :p
kayaknya masih bisa deh peluangnya…inget berapa uang yang didapet musisi dari hanya ring back tones kan….cuma perlu kreatifitas lagi aja….
Last FM..
Jujur aja, menarik banget.
Tapi masalah fakir benwit di Indonesia itu lho..
yang jelas semakin ketat perundistrian musik saat ini…
Ide:
Menjual lagu ke produsen tertentu agar jadi lagu resmi dari produk tertentu. Seperti yg dilakukan oleh Britney Spears & Dewa.
Menjual lagu ke partai tertentu atau tokoh terkenal yg punya massa (misal Mario Teguh) dg hitungan royalti atau yg lain.
Menjual lagu ke pemerintah, atau pemerintah daerah.
Tentunya tema/isi lagunya harus disesuaikan dg sasaran. Tp jg penting utk tidak membuat perjanjian eksklusif agar lagu masih bisa disebarluaskan ke khalayak dg lirik yg lebih umum.
saya salut dengan sebuah radio di surabaya, namanya wijaya, di awal, tengah dan akhir lagu selalu memberi sweep (suara menindih lagu)
ini salah satu cara memprotect karya seni dan hak cipta, supaya tidak direkam pendengar.
luar biasa!
menarik banget..dan rasa2nya band-band lain juga perlu meniru cara Radiohead tersebut, lagian ampir otomatis kalo lagunya sudah banyak didenger pasti order untuk manggung akan meningkat
saya pernah denger Naif juga ambil langkah serupa ya?
ya, siapa yang paling banyak memberi dialah yg paling disenangi,, ya,, ngak?
bukan hanya di indonesia ternyata, di luar juga suka yang gratisan.
salut dengan ide kreatifnya radiohead!
Tinggalkan komentar Anda!
Media Ide Facebook Friends
Ayo gabung!Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Artikel Acak
Komentar Terakhir
Komentar Terbanyak
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.