Home » Online Branding, Online Communities, Online Living

Ekosistem Saling Menguntungkan di Ranah Daring

7 July 2009 6,205 views 7 komentar

Meriahnya social media tak lepas dukungannya dari para pengguna yang semakin aktif memanfaatkannya. Tanpa pengguna yang menyumbang konten, situs social media tak akan ada apa-apanya. Selain sebagai penikmat video-video di YouTube, pengguna ikut pula mengirimkan karyanya, membuat mereka menjadi seorang prosumer. Mereka membaca blog, dan ikut pula menulis di blognya sendiri, terkadang menanggapi tulisan blogger lain, sehingga menciptakan percakapan yang menghidupkan situs-situs seperti Technorati dan Feedburner.

Aktivitas para prosumer terhadap beragam channel situs social media ini kita kenal dengan istilah E-Narcism, dimana setiap orang memberikan kontribusi konten positif melalui beragam situs jejaring sosial, berita, internet forum, berbagi foto, video, dll. Para pengguna terpuaskan melampiaskan hasrat narsismenya, sementara situs social media pun senang karena mereka mendapatkan traffic yang semakin tinggi.

Di sisi lain, ada pihak produsen suatu produk yang melihat potensi besar para pengguna internet ini. Para pemilik brand beserta agency yang mewakili mereka menyusun berbagai strategi untuk merangkul target pasar yang potensial ini. Sejak 2 tahun belakangan ini, semakin banyak brand Indonesia yang memasukkan ranah daring sebagai salah satu program terintegrasi kampanye iklan mereka. Mereka membangun microsite, melancarkan serangan melalui email, hingga membangun basis komunitas di Facebook. Para brand terus berusaha membangun E-Ngagement dengan para pengguna internet, memancing mereka untuk terus memberikan kontribusi, melalui serangkaian kuis, kompetisi blog, dll.

Situs social media tentunya ikut senang. Traffic kunjungan yang meninggi membuat mereka dilirik oleh para brand. Para situs ini lalu membuat serangkaian skema pemasangan iklan bagi brand. Muncullah yang namanya E-Advertising, dengan pengukuran-pengukuran barunya, seperti CPC (cost per click), CPM (cost per million impression), serta variasi media promonya (dengan beragam jenis banner dan advertorial).

Situs social media seperti Facebook, Twitter, YouTube tak membatasi bila ada yang brand yang mau berkampanye gerilya sendiri di dalamnya (tanpa dukungan dari pemilik situs). Hal ini memang dimungkinkan, sehingga ini menjadi salah satu solusi murah brand berkampanye di ranah digital. Namun, saat brand bekerja sama langsung dengan pemilik situs, eksposur brand di komunitas pengguna situs itu dipastikan akan lebih cepat, karena umumnya mereka menyedikan fitur-fitur tambahan yang tak dimungkinkan ada bila brand melakukannya sendirian, seperti: Facebook dengan Poll dan Event di sidebar Highlights-nya.

Baik para prosumer, channel, dan brand sebenarnya saling melengkapi dan memberi keuntungan satu sama lain. Bahkan tanpa salah satu elemen itu, aktivitas di ranah daring tak akan berlangsung lama. Sebuah situs tanpa ada pemasukan tak akan bisa hidup. Ia memang bisa menghidupi dirinya dari model berlangganan dari anggotanya, tapi saat anggotanya sudah sangat banyak, rasanya agak naif kalau situs itu tidak memanfaatkannya pula untuk memperbesar profit. Hal yang saat ini menjadi dilema bagi situs social media seperti Twitter, yang masih bingung menggali potensi revenue dari situ.

Ketergantungan inilah yang menciptakan E-Cosystem di ranah daring. Semuanya saling berpotensi memberikan keuntungan dan kerugian, namun saling melengkapi satu dengan lainnya. Lebih jelasnya tentang masing-masing proses ketergantungan ini akan dibahas dalam posting selanjutnya.

Kredit foto: slackware.
Kredit diagram: yang menulis blog.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

  • Afrie :

    Ditunggu lanjutannya, Mas.

  • Dita Firdiana :

    ditunggu buku barunya… :lol:

  • Arham Haryadi :

    ditunggu slide presentasinya Pit.. cocok buat presentasi nih :)

  • Riawan Tamin :

    makin serius aja nih pembahasannya :)..
    btw sekarang jadi keranjingan istilah2 pit :D..

  • Pitra :

    @Arham: bentar, bentar.. ini juga penjelasannya belum selesai..:D

    @Riawan: mencoba menyusun model saja, sekalian untuk bahan jualan + bahan buku berikutnya. Mengenai istilah, hihi, HK aja bisa, kenapa saya tidak? :D

  • muji :

    bahasa bisnis yang sepenuhnya belum bisa saya pahami.

  • gilar :

    hy,.,,..,.,.

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge