Mengajak Blogger Berpartisipasi dalam Acara Brand
Makin lama makin banyak brand dan perusahaan yang diwakilinya mengadakan acara yang khusus untuk para blogger. Rupanya blogger, dengan segala “ketenaran”-nya menjadi lirikan baru para brand untuk melakukan program aktivasinya. Para pemilik brand tentu sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi perilaku para media, termasuk dalam menyelenggarakan konferensi pers. Para pemilik brand juga sudah berpengalaman berhadapan langsung dengan para konsumennya langsung melalui beragam program aktivasi brand di beragam event.
Saat ini mereka berhadapan dengan makhluk genre baru, yakni para pelaku social media, dari para blogger, aktivis Facebook, admin forum, hingga admin mailing list. Mereka berhadapan dengan para individu yang mempunyai media pribadinya sendiri dan mempunyai “umat”-nya sendiri. Ada beberapa hal yang perlu menjadi pemikiran para pemilik brand sebelum mereka berhubungan dengan para pelaku social media ini.
Jangan samakan blogger dengan media.
Jangan membuat acara konferensi pers untuk para blogger. Meski mereka punya media pribadi (dan populer dibaca orang), bukan berarti blogger sama dengan jurnalis. Blogger menulis karena keinginan pribadi hatinya, dan bukan karena itu adalah pekerjaan utamanya. Blogger datang ke suatu acara kalau itu menarik minatnya, dan bukan karena tuntutan profesi yang membuatnya harus datang.
Di dalam penyelenggaraan event itu, sebaiknya jangan membuat acara yang berfokus pada promosi brand sendiri. Sekali lagi, blogger bukan media. Saat mereka datang ke suatu acara, mereka berharap mendapatkan pengalaman positif bagi dirinya. Bayangkan, betapa malasnya mereka kalau sudah repot-repot datang ke suatu acara, tiba-tiba isi acara hanya promosi si brand itu sendiri. Sebaiknya, buatlah program acara yang melibatkan aktif para audiens blogger sebagai bagian di dalamnya. Kurangi unsur “jualan” dan manfaatkan acara ini untuk melakukan pendekatan personal terhadap para blogger.
Blogger bukanlah korporasi.
Memang banyak blogger suka berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Namun perkumpulan ini tak berbeda dengan teman-teman sehobi yang berkumpul bersama. Beberapa kegiatan para blogger yang tergabung dalam komunitas memang banyak yang menghasilkan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, komunitas ini bukanlah organisasi yang jelas ketua, wakil, sekretariat, bendahara, hingga sie-sie lainnya. Kalau memang ada brand yang berminat untuk mengajak blogger bekerja sama, dekatilah masing-masing individu. Mendekati mereka pun susah-susah gampang. Lebih mudah memang kalau yang mengajak mereka pun adalah seorang blogger juga. Jadi, pastikan pemilik brand merasakan pernah menulis blog dulu sebelum mengajak mereka kerja sama lebih jauh.
Setiap blogger adalah individu unik.
Kenal dan dalamilah tulisan setiap blogger sebelum memutuskan mengontak mereka. Baca terlebih dahulu kalau karakteristik tulisan mereka serta topik blognya memang relevan dengan pesan komunikasi yang hendak brand sampaikan. Lebih bagus sih kalau para pemilik/perwakilan brand sering berkomentar di blog-blog yang memang relevan dengan brand miliknya. Membangun kedekatan personal terlebih dahulu, sebelum akhirnya memutuskan untuk bekerja sama lebih lanjut dengan setiap individu blogger.
Bila brand menyelenggarakan sebuah acara yang mengundang para blogger, pastikan bahwa blogger yang diundang adalah blogger yang tepat. Jangan mengundang blogger yang doyan menulis tentang desain grafis ke acara otomotif. Jangan pula mengundang blogger yang banyak membahas tentang dunia perempuan ke acara IT, apalagi kalau sampai membahas hal teknis. Program acara event pun harus disesuaikan dengan audiens blogger yang diundang.
Blogger tidak butuh editorial.
Hal terlucu adalah saat seorang blogger diminta menuliskan sesuatu oleh sebuah brand, lalu memintanya untuk mengirimkan draft-nya terlebih dahulu untuk proses editorial. Sekali lagi, blogger bukanlah media dan apa yang ditulis di blognya bukanlah press release. Jadi bebaskanlah si blogger untuk menuliskan pendapat pribadinya tentang sebuah brand.
Mungkin masih banyak lagi sih, tapi sementara ini, baru ini yang terpikirkan. Semoga para perwakilan brand, yang sudah pernah mengundang para blogger atau meminta blogger untuk membuat ulasan di blognya, bisa melakukan evaluasi diri sebelum melakukan program interaksi dengan blogger kembali di masa datang. Hihi, ini termasuk di antaranya Kaspersky, FGDexpo2009, Nokia, HBO, Pond’s, dll. Kalian banyak-banyak belajarlah dari contoh cukup bagus yang pernah dilakukan oleh Yahoo! Developer Network, Axis Java Jazz, dan Toyota Yaris.









yang penting jangan salah aja. blogger politik,diundang acara women and beauty
Thanks Pitra
Sebenernya sih kuncinya gampang. Self experience akan selalu memberikan insight yang baik dalam menyusun strategy.
Ingin menggunakan blogger? ya jadi blogger dulu. At least selami dunia itu dulu.
Kalo nggak ya hire Social Media Strategist kaya kita ya Pit (laaahhh jualan) hahahaha.
eh tapi kalau sistemnya “paid posting” lain lagi kali…
Ouch! Eat that brand owners!
We are all learning. Thanks, Pitra!
tapi kalo jadinya win-win kan gak masalah, pit? mereka dapet promosi gratis kalo si blogger merasa punya kewajiban moral lantas mereview dan nulis tentang event mereka, dan blogger dapet (setidaknya) goodie bag
Lagi sensi ya Pit kekekeke….
hehe.. serius loh ada brand yang minta blogger ngirim draft?
wartawan yang jelas jelas kerja untuk menulis dan digaji bulanan ajah bakal mencak-mencak kalo digituin, apalagi blogger.
nice posting pitra
saya pribadi pernah datang ke acara sebuah brand yang “katanya” mengundang blogger (judulnya blogger gathering). Rupanya acara yang ada semacam launching produk dan tanya jawab seputar produk n stuff.
ya jadinya bingung mau ngapain
dan ya, merasa seperti ada yang tidak tepat di acara itu, dan om pitra memaparkan dengan bagus di sini
Gw masih menyimpan harapan buat kaspersky. Semoga kesalahan ini dijadikan pelajaran bagi marketingnya. Gak papa salah, soalnya yang tersisa tinggal salah minus satu:d. Emang kalo mau rada aman harus konsultasi ma online strategist ato paling tidak baca blog kita2 ini :p. Ya nggak?
tapi bagaimana kalo korporat dan mendia itu sendiri ngeblog… posisi blog mereka akan seperti apa ya?
@Amri:
)
Membayangkan para penulis di Politikana diundang ke acaranya Lux atau Dove.
@Ollie:
Berharap Ollie bisa cerita pengalamannya pula, karena Ollie pun sering diundang ke acara serupa.
@Ramya:
Wahaha, bagian “jualan” nya gw setuju banget Ram..:D
@Benny:
Meski paid posting, tetap saja sih, seharusnya sih sebebas-bebasnya si blogger untuk menulis. Nggak kayak kita ya Ben, yang tiba-tiba disuruh mengirimkan draftnya dulu.
@Ivan:
Intinya, bagaimana membuat para blogger mendapatkan pengalaman pribadi yang menarik dan menyentuh hatinya. Haha, teori gampang, tapi praktiknya membingungkan juga.
@Venus:
Memang awalnya serasa menjadi kewajiban moral. Hihi, waktu saya datang ke event serupa saat pertama, kedua, ketiga kali, masih ada perasaan seperti itu. Saat semakin sering diundang, akhirnya saya pun memilih-milih. Kalau memang itu menjadi pengalaman positif, tentu saya bahas. Kalau tidak, ya malas juga. Namun, kembali lagi ini sih ke hati masing-masing blogger yang datang ke event.
@Tamacrea:
Lagi bosan tepatnya.
@Sica:
Nah tuh, berarti setuju kan?
@Lukman:
Penggunaan kata “blogger gathering” seakan-akan menjadi barang jualan brand untuk mengumpulkan para blogger, meski kenyataannya isi acaranya bisa jadi malah tidak berfokus sama sekali ke para blogger (atau kalau ada, hanya sedikit dan masih terasa berat untuk kepentingan brand).
@Toni:
Tadinya saya sangat berharap acara semalam sudah merupakan perbaikan dari gathering pertama Kaspersky beberapa minggu lalu. Namun, ternyata dugaan saya salah. Isinya masih sama, mengelu-elukan kalau blogger itu penting demi brand, namun acaranya sendiri masih sangat berfokus pada brand itu sendiri.
@Muntaha:
Wah, kalau itu topik bahasan yang berbeda. Yang saya maksud di sini adalah blog yang dimiliki personal/pribadi. Kalau mau melihat bagaimana blog korporat mengkritisi brand, coba baca blog virtual.co.id/blog dan http://www.maverick.co.id
saya suka tulisan ini, pemilik brand suka salah kaprah sama keberadaan bloggers mungkin pikiran mereka sebatas blogger sebagai strategi pemasaran baru, hehhehe
ha ada blogger yang diminta ngirim draft?? OMG…
kan blogger itu suka-suka (dengan tetap menjujung etika). Dan memang aneh klo blogger disamakan dengan media lain yang melakukan press conf, karena dengan press conf mereka tidak dapet experiece dari brand tersebut. Kebanyakan blog yang tak bacanya, mereka menulis berdasarkan pengalaman…
Serius itu pake kirim draft sebelon post di blog masing-masing? *facepalm*
Nice article,bro!
Ddn
setuju pit, kadang2 brand masih memperlakukan blogger sama dengan media. padahal, mereka itu jauh banget..
gue berasa tuh, setiap kali dateng ke sebuah acara atas nama blogger, dan juga jurnalis.
perlakuannya sama. padahal, harusnya ga.
setubuh … eh setujuuuhh, hehehehe …
Uhuuuyyy… You rock om pitraa…
Lha kalo emang topik ndak sesuai dan ndak asik… Lebih baik kopdar sama makan enak aja yg dinikmati… *elus2 perut yg kekenyangan* XD
serius diminta ngirim draft ?
iyah.. saya khan nulis di blog soal curhatan, bukan soal brand tertentu…
fiuh..
*elap keringet*
hem….
gak cuma kasus brand dan blogger juga sih… menurutku apapun/seseorang/korporat/komunitas/kelompok atau apapun penyebutannya jika ingin berusaha masuk di lingkup lain dalam hal jualan, promo, survery, studi banding, kunjungan dimana salah satu diuntungkan atau saling menguntungkan ya…. harus bisa memposisikan diri dengan tepat sebelum masuk ke lingkup yang lain ini….
rasakanlah jadi seorang blogger dulu, jadi seniman dulu, jadi komikus dulu, jadi penikmat film indie dulu, jadi animator dulu, jadi bencong dulu, jadi pengemis dulu, jadi PSK dulu (loh?!)…
biar bisa tahu lawan bicara kita karakteristiknya kayak apa, gimana penetrasinya, gimana mempengaruhi, gimana nanti jualannya dll
)
bah…. inget jaman kuliah wae
Kalau saya ngehadiri event tetep milih2. Lha wong event yang menarik hati buat dihadiri aja kadang ndak sempet kok.
Harus nyerahin draft dulu ke mereka sebelum saya post di blog? Boleeeh, tak kasihin kaset videonya ntar mereka aja yang ngedit dan saya tinggal ngepost ya?
eh emang ada ya yang minta blogger ngirim draft dulu baru bisa diposting…?
ter-la-luh!!
hihihihihi
Terakhir kali ada yang minta sebelum di-post, saya diminta mengirimkan tulisan draftnya terlebih dahulu. Saya tetap kirimkan, namun dengan catatan: terserah kalau mau diedit, tapi hasil editannya tetap akan saya abaikan. Editan hanya saya bolehkan kalau itu menyangkut fakta berupa angka atau kejadian yang bisa saja saya salah menangkapnya.
Saya kira, blog juga media. Kita memaknainya sebagai sarana. Jadi, tergantung pada pertanyaan: untuk apa blog itu.
Contoh: Alamat blognya “DepokPos.Blogspot.Com” (Ini ngarang loh). Nah, bisa jadi isinya berita (meski tidak selalu begitu). Menunya, bisa berita (news), artikel, agenda, dan sebagainya. Jadi, editorial juga ada. Makna editorial di sini kan “curhat”-nya media.
Namun, lepas dari itu, bisa juga “DepokPos” tadi malah diisi tentang cerita dirinya, dan bukan kota he he he. Kalau untuk konferensi pers, ah jangan lah….
Boleh jg hire Social Media Strategist kaya Pitra ni..(jualan) (komisi) hahahaha.
blogger ikut MLM = blogger tersesat?
@Pitra, IMHO, kalau ‘paid posting’ gak bisa juga sih “sebebas-bebasnya” tapi memang instruksi ngirim draft itu agak berlebihan. He he he…
) Tapi rasanya advertorial di media cetak juga gak bisa “sebebas-bebas” yg nulis.
Yang keterlaluan itu kalau berharap ditulis gratisan tapi ngasih instruksi macam-macam. Semoga gak ada pihak brand yg kayak gitu deh.
Di satu sisi juga ada kecenderungan perusahaan menghindari blogger atau komunitas online, terutama saat ada kasus model RS. Omni itu.
Time change almost everything, begitu pula begitu pula perilaku sebuah masyarakat or komunitas, yang makin lama makin pintar, dan tak bisa didikte. Jika pelaku branding, tidak bisa menyelaraskan dengan perilaku baru mereka, siap-siap saja kalau mereka tergeser oleh generasi kreatif dan yang lebih mengerti perilaku komunitas sekarang ini.
@Pitra
lebih mirip tulisan ndoro di dag dig dug yah? atau ter-inpirasi dari sana ya Pit
@NovanMediaResearch:
Blog memang media, namun media yang saya maksud di tulisan atas adalah media cetak/elektronik (mainstream).
@Hedi:
Kalau perusahaan dalam posisi yang terjepit, hihi, iya juga, mereka malah menghindar dari komunitas daring. Meski hal itu malah bisa memperburuk citra mereka.
@Esmeralda:
Betul, masalahnya mereka sendiri belum tahu cara meng-engage generasi kreatif (terutama di area daring) ini dengan benar.
@Arham:
Pertama, karena saya dan Ndoro datang di acaranya Pak Nukman, makanya ada poin serupa. Sebagai tambahan, saya sebulan kemarin mendapat brief paid review dari salah satu brand yang meminta editorial. Ketiga, karena saya datang di acara Kaspersky kemarin dan melihat ada yang aneh di acara blogger gathering yang mereka lakukan. Akumulasinya ya tulisan ini.
Sebenarnya tempo hari ada layanan yang bagus buat brand untuk paid review lokal melalui http://www.reviewmu.com. Layanan ini sejatinya sangat bagus buat para brand untuk pasang review dan build link ke web-nya.
Sebagai pemilik bisnis, saya sudah mencoba layanan itu dan hasilnya sangat bagus.
Namun sayang, layanan itu sekarang mati suri. Kayaknya belum banyak brand yang sadar dengan kekuatan layanan semacam itu. Atau bahkan ndak tahu eksistensinya.
Saya pribadi (sebagai pemasang iklan) sangat berharap layanan dari Cosa itu bisa hidup kemnbali.
mateb nih, brarti blogger sebagai produsen dan konsumen y kan?
salam kenal
Wuah..mantap..
nambah ilmu gue..salam kenal bro…
rupanya masih ada yang salah paham dan menyamaratakan antara jurnalis, narablog, dan calo…hahahaha… i lap yu pullll …
mas Pitra, wah bagus bangets articlenya dan jadi input niy buat kita-kita kalo ngadain acara blogger lagi. Makasih ya…
Wah blogger memang makhluk unik ya…
Terima kasih ilmunya.
Dapat ilmu baru lagi, sekali lagi terima kasih.
Suatu hari, saya ketemu seorang Bapak yang nanya :
“Mbak Tika, saya dikenalin dong sama Ketua Blogger Indonesia..”
Jawab : “Ngng.. Pak.. Emang blogger punya ketua ya..?”
Orang awam ndak gitu ngeh kalo blogger itu individu. Bukan lembaga atau organisasi. Haha..
Lho..disuruh ngirim draft om pit?…bukannya blogger ntu jurnalis independent…kalau kayak gitu sisi obyektifnya jadi nggak komplit donk..T_T
coba kayak jurnalist yah pake acara pas pulang dititipin amplop … he he he blogger di undang dititipin amplop berharga nggak?
@tikabanget:
Ndoro Kakung bukan ketuanya? Dan Paman Tyo sebagai penasehat utamanya.
@blackgerry:
Untungnya sampai saat ini nggak pernah ada kejadian seperti itu. Dulu sempat diskusi dengan klien saya tentang hal ini. Saya sempat bilang ke mereka janganlah dikasih amplop. Kalau mau memberi sesuatu, berilah dalam bentuk goodie bag. Apapun itu isinya, asal bermanfaat, tapi yang jelas bukan duit.
Wah wah acara Yaris loesebut, pasti karena pose-pose cewek cewek yang ikutan kontes mirip artis kan????? Hahahahahaha ngaku loe Pit
Blogger
adalah
semau gue
tapi tetep bertanggung jawab
.
Ndak tahan untuk ndak ngomen…
Sayah pernah dititipin pesan sama perusahaan lokal, mirip dengan yang situh posting inih, “tulis yang baek-baek yah…?”
Lhah…???
TOYOTA yang segede itu ajah mau sayah cela, mosok perusahaan lokal malah wanti-wanti kayak gituh…
**Sayah pun muntah darah, dan akhirnya ndak mau nulis sama sekali…**
agak seru juga kali kalo blogger yang ddiundang, malahan nulis hal yg negatif dari acara tersebut
[...] tulisan Pitra tentang brand dan blogger, berikut ini adalah versi saya tentang blogger dan brand. Bagaimana brand harus mendekati blogger? [...]
nice article. blogger bisa bebas melakukan review dan menulis namun tulisan/ reviewnya harus sesuai dengan fakta yang ada.
widih, berasa udah jadi jurnalis
hehehe
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Facebook Friends
Ayo gabung!Login
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.