Home » Online Branding

Menggali E-Narcism Melalui Video

13 August 2009 1,824 views 4 komentar

Beberapa cerita tentang pemanfaatan video sudah cukup banyak dibahas di blog ini, baik itu bersifat positif maupun negatif. Namun yang jelas, buat apa kita susah-susah membuat video lalu menayangkannya di YouTube, lalu menaruhnya di blog, kalau dampak yang dihasilkan malah memperburuk citra kita sendiri?

Berikut ini beberapa tips konten menarik yang bisa kita buat untuk membangun e-narcism kita melalui video:

Berita

Video tak berbeda dengan blog. Bisa dimanfaatkan untuk kepentingan jurnalisme warga. Berita yang diambil bisa berupa cuplikan kejadian di sekitar kita. Budiputra dengan situsnya, i-teve, mencoba mengakomodir hal tersebut. Herman Saksono waktu November 2008 lalu pernah merekam kejadian puting beliung yang terjadi di kampusnya, UGM.

Feature

Sekarang mulai banyak blogger yang membuat video seperti seorang sutradara atau produser membuat program acara televisi. Kebanyakan topik yang diangkat masih seputar dunia IT (bisa jadi karena latar belakang blogger pembuatnya memang dari kalangan IT). Simak saja Daily Social dengan Buzz5 yang tayang (hampir) setiap minggunya. Lalu simak juga Webicara, Not So Geeky, dan MacIndos.TV.

Tutorial

Di Indonesia ini masih kurang (belum menemukan contohnya, tepatnya). Dengan memanfaatkan aplikasi lunak seperti Camtasia Studio, seseorang bisa merekam segala aktivitas yang terjadi di layar monitor. Dengan cara ini, video bisa dimanfaatkan untuk merekam tutorial apapun, baik itu tutorial mendesain dengan Photoshop, membuat animasi Flash, hingga hal yang lebih sederhana seperti tips-tips unik menggunakan Power Point.

Film

Bisa diakui, membuat film independen untuk sekedar penayangan dalam blog atau di social media apapun, membutuhkan usaha yang luar biasa. Namun hal ini ternyata bisa dilakukan oleh Sakti Parantean dengan teman-temannya di Fictionary Media Technology. Simak saja beberapa seri Balada Cilongok yang beredar di YouTube dan Facebook.

Pengalaman Pribadi

Konten video bisa jadi tak berbeda dengan curhat yang biasa dilakukan seseorang melalui blog. Perbedaannya hanyalah di sini, si pembuat video bercerita langsung di depan kamera. Ada baiknya kita menentukan batasan terlebih dahulu, sampai sejauh mana cerita pribadi yang akan kita sampaikan. Kita bisa bercerita tentang pengalaman menarik tentang keluarga, di kantor, dengan klien, shopping, dll. Namun perlu diingat, sebebas-bebasnya kita berekspresi, jangan sampai melanggar kebebasan dan kenyamanan orang lain. Simak contoh menarik yang dilakukan oleh Valentina (contoh kasus luar) dengan Val’s Art Diary-nya, dan hindari berekspresi kebablasan seperti yang pernah dilakukan Marshanda.

Musik

Banyak sekali pengguna yang memanfaatkan YouTube untuk melakukan unjuk diri keahlian musik mereka, dari tarik suara, bermain gitar, drum, piano, dll. Kakak beradik Audrey dan Gamaliel terlihat sukses dengan video-video unggahan mereka, yang menampilkan aksi nyanyi mereka berdua yang luar biasa. Di luar, ada seorang gitaris amatir dengan nickname FunTwo yang sukses di YouTube. Ia bahkan mendapat kesempatan untuk berduet bersama dengan Joe Satriani di acara YouTube Live.

Intinya, apapun yang kita sampaikan melalui video, akan membangun persepsi audiens akan diri kita. Bisa jadi karena video itu, kita dilihat sebagai seorang penyanyi bersuara indah, seorang pakar teknologi, seorang pembuat film berkualitas profesional, atau bahkan seorang yang sederhana namun memiliki cerita-cerita yang bisa menggugah perasaan audiensnya. Tidak menjadi masalah pula kalau kita mau berbuat sesuatu yang lucu, bahkan konyol, di video itu, kalau memang kita ingin dilihat sebagai seorang yang berbakat sebagai aktor/aktris komedi.

Nah, sekalian juga mengingatkan. Kontes E-Narcism akan berakhir 23 Agustus 2009. Kalau kalian punya cerita-cerita menarik tentang teman kalian yang memanfaatkan video untuk membangun e-narcism, silakan ceritakan di blog kalian. Hadiahnya lumayan loh, 6 iPod dari Bhinneka.com dan 24 t-shirt e-narcism dari GrinClothing.com!

Kredit foto: MyLifeStory

4 komentar »

  • dita.gigi :

    pitra kapan bikin vlog… ;) )

  • arham blogpreneur :

    Potensi Video memang besar yah… untuk menghndari kebosanan visitor terhadap durasi Video, mungkin setiap Vlog Pubs perlu, panduan dasar yang flexible selain itu, semakin bnyk Vlog juga bukan berarti sedang menanjak tapi justru sedang berusaha di campaign-kan kalau begitu saya kira butuh buzzing ataw mungkin akan di expose di PB09 nanti

  • ihsan :

    berbeda dengan tulisan, video meskipun lebih menarik akan tetapi masih dirasa susah membuatnya. jika menulis itu bisa dibaratkan menuangkan air dalam botol, tinggal dituang. kalo video ibarat minuman yang dibuat oleh seorang bartender. bikinnya tidak sembarangan, butuh keahlian khusus mengenai olah seni, olah rasa, disamping ide yang briliant.

    tapi dengan perkembangan teknologi, semua itu bisa semakin mudah dan murah, kamera harganya makin bersaring, software video editing makin banyak fiturnya.

  • NovanMediaResearch :

    He he he. Benar juga, bikin video itu kelewat canggih. Kalau nulis masih mending….

Tinggalkan komentar Anda!