Gempa dan Social Media
Sekitar jam 14:55 tadi terjadi gempa, yang diikuti dengan gempa susulan 2 kali dengan skala lebih kecil, di selatan Laut Jawa. Dampaknya terasa di pesisir selatan Jawa hingga pusat kota Jakarta (yang nulis ini sedang berada di lantai 26 saat terjadi gempa). Seperti biasa, sesuatu yang memiliki dampak besar akan ramai dibicarakan di ranah social media, tak terkecuali di Facebook, Twitter, dan Plurk.
Inilah sebagian percakapan yang bisa disimak di Facebook Search.

Berikut ini adalah tren percakapan yang terjadi sehubungan dengan gempa, diambil dari Trendistic. Jam 15:30 menunjukkan puncak terjadinya pembicaraan seputar gempa.

Kalau ini diambil dari TweetStats. Kata “gempa,” “earthquake,” “jakarta, “tasikmalaya,” dan “indonesia” terlihat mendominasi tren selama 3 jam sejak pukul 15:00.

Dan terakhir berikut ini adalah tren percakapan yang terjadi di Plurk.

Titik gempa terakhir bisa dilihat di widget berikut ini:
Percakapan yang terjadi sebagian besar serius. Namun ada yang bercanda yang menganggap gempa sudah menjadi klaim negara tetangga. Sayangnya tidak semua media pintar menyortir mana yang serius dan mana yang guyon. Cek saja kebodohan Kompas yang mengira gempa ini diklaim oleh Malaysia. Bisa jadi sih maksudnya bercanda, tapi rasanya peristiwa gempa bukanlah hal yang pantas dijadikan sebagai bahan gurauan, apalagi untuk media sekelas Kompas.

Lha? Artikel Kompas nya ndak dibaca, mas?
Artikelnya bersifat tongue-in-cheek, dan diawali dengan “pengguna internet dari Indonesia ternyata masih jengah dengan tingkah Malaysia”
Sepertinya Anda nih yang kurang teliti dalam membaca.
Jadi… salah siapaaaa hayoooo…
Lagi enak-enak ngobrol, ada gempa
ya pada cepet-cepet keluar menyelamatkan diri
@pepoluan
saya kira judulnya itu yang provokatif, walau isinya informatif, rasanya tidak cocok jadi judul sebuah berita, IMO
hiiii, gempa kemarin bikin sensasi di media daring karena warga Jakarta juga merasakan. Coba kalau gempanya di Mentawai sana, pasti ndak seheboh kemarin.
Gempat itu UJIAN,COBAAN, MUSIBAH hanya yang mengalami yang bisa mengambil hikmah dan pelajarannya…
social media paling mudah dijangkau, dan jadi wadah sharing informasi tercepat
mudah2an ada filter penyaringan informasinya ya, biar gak ada kesalahan info, atau mungkin propaganda.
seharusnya kita (pengguna social media) pun tidak menggunakan guyonan (apalagi yg cynical) dalam situasi seperti ini
utk artikel kompas, menurutku kompas ndak bisa disalahkan dan dianggap membuat lelucon. salahkan juga dong para pengguna sosial media yang meneruskan “lelucon” ini sehingga seolah-olah jadi “berita beneran”. dan kalo baca di Kompas, kompas juga sudah menjelaskan bahwa apa yg ada di social media itu hanya “candaan” dan bermaksud mengklarifikasinya.
lagi ngtrend pit… lagi ngetren…
Yah…ampun Pit, lo sempet sempetnya cari data begini.. saloute
…
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.