Berkampanye Melalui Twitter
Dulu sempat menulis tentang banyaknya brand besar yang mencoba masuk ke ranah Twitter, dan sepertinya sejak tulisan itu, masih saja akan terus bertambah. Pengguna Twitter di Indonesia yang terus mengalami peningkatan, memang menjadi pasar yang menarik. Pertanyaannya, sudahkah ada brand yang menjalankan kampanyenya di Twitter dengan tepat?
Kalau 1-2 tahun lalu, saat brand masih tren berkampanye via microsite, yang jadi tolak ukur keberhasilan adalah jumlah pengunjung dan anggota. Kontes di dalam microsite pun kerap dilakukan untuk menjaga mereka yang sudah menjadi anggota untuk tetap datang ke microsite. Saat kampanye selesai, microsite pun ditinggalkan, dan pengunjung pun lupa akan kampanye itu. Mirip dengan melihat iklan suatu brand di televisi. Nggak lama setelah iklan itu tak lagi ditayangkan, audiens pun sudah nggak mengingat brand itu lagi.
Kampanye melalui social media seperti Twitter tidak bisa diperlakukan sama. Twitter akan selalu ada, dan penggunanya masih akan terus berada di sana sepanjang mereka menemukan hal bermanfaat dari Twitter, seperti pertemanan dan percakapan horisontal. Intinya adalah percakapan, yang terus berlangsung kontinu, kalau ingin tetap eksis di Twitter.
Kampanye gaya microsite tidak tepat dilakukan melalui Twitter. Seakan-akan keberhasilan sebuah brand melalui Twitter diukur melalui jumlah follower-nya. Saat dulu mengikuti kompetisi di microsite, brand bisa meminta data demografi dari anggotanya, dan data itu menetap terus menjadi milik microsite. Di Twitter, orang bisa datang dan pergi. Sesaat ia menjadi follower sebuah brand, dan sesaat kemudian ia bisa langsung meninggalkannya.
Hal ini yang terjadi pada aksi brand BNI46 di Twitter semalam. BNI46 membagikan hadiah secara acak kepada para pengguna Twitter yang mau menjadi follower-nya. Kalau sudah urusan hadiah, siapa sih yang nggak mau? Dengan cepat info tersebar, dan banyak orang menjadi follower BNI46. Hanya saja, setelah menjadi follower, lalu apa? Ternyata BNI46 tidak memanfaatkan momentum ini. Mereka tidak membangun brand awareness sama sekali melalui akun Twitter-nya. Fokusnya hanya untuk kepentingan lomba saja. Trigger yang dilakukan melalui kontes berhadiah ini tidak diikuti dengan sesuatu yang bermanfaat bagi brand dan follower-nya. Pengguna Twitter bisa dengan segera melakukan unfollow setelah kontes berakhir, dan memang itu yang dilakukan oleh beberapa follower-nya semalam sesaat setelah kontes berakhir. Bagi-bagi hadiah sih berhasil, tapi brand tidak mendapatkan apa-apa dari sini.
Akan lebih menarik bila aktivitas brand di Twitter diikuti pula dengan percakapan horisontal. Brand, diwakili seorang/beberapa individu memanfaatkan Twitter untuk bercakap-cakap dengan audiensnya langsung. Selain untuk promosi, Twitter bisa dipakai untuk menggali insight dari konsumen langsung. brand ikut pula merespon setiap percakapan yang membicarakannya. Hal ini yang dilakukan dengan baik oleh Blitz Megaplex dan Richeese. Di Twitter, untuk membangun brand awareness (bahkan brand loyalty ), yang lebih penting adalah memperhatikan kebutuhan konsumen dan menanggapinya dengan cepat. Yang diperlukan tidak melulu pembagian hadiah, tapi kemampuan humas menanggapi respon konsumennya.
Nah, menurut Anda sebagai konsumen dan pengguna Twitter, perilaku seperti apa yang Anda harapkan dari sebuah brand besar di Twitter? Apakah Anda akan terus mem-follow mereka?
Kredit foto: ~Ilse

brand besar harus punya respon yg bgs trhdp para pengguna twitter, tweetsnya informatif dan yg pntg jgn hard selling.. hehe..
[...] This post was mentioned on Twitter by Media Ide. Media Ide said: Sudah tepatkah cara brand Anda berkampanye di Twitter? http://bit.ly/z2DDT [...]
Cool! >:)
[...] Berkampanye Melalui Twitter Dulu sempat menulis tentang banyaknya brand besar yang mencoba masuk ke ranah Twitter, dan sepertinya sejak tulisan itu, masih saja akan terus bertambah. Pengguna Twitter di Indonesia yang terus mengalami peningkatan, memang menjadi pasar yang menarik. Pertanyaannya, sudahkah ada brand yang menjalankan kampanyenya di Twitter dengan tepat? Berkampanye Melalui Twitter ini adalah artikel dari: Media Ide — Sudah pernah membaca buku-buku berikut? [...]
Sepertinya Para Produsen di Indonesia memang belum bisa memaksimalkan fungsi Twitter sebagai media kampanye produk mereka. Dan mungkin juga kultur masyarakat Indonesia yang kurang tertarik dengan yang namanya iklan produk.
Tapi pastinya kalau cara berkampanye ini terus menerus dilakukan oleh para pemilik merk-merk besar di Indonesia, bisa saja kampanye produk melalui twitter bisa efektif. Tentunya diperlukan eksplorasi dan penelitian lebih dalam tentang bagaimana karakter masyarakat Indonesia -sebagai calon konsumen mereka- dalam berkomunikasi via twitter
Yang penting bukan dipakai untuk jualan, tapi untuk bangun informasi.
Klo harapan BNI46 agar brandnya terekam di blog, nampaknya usahanya berhasil. Paling nggak di blog ini. Jika dicek via google, mungkin terjadi peningkatan cukup signifikan di jumlah total terindex.
Harapan brand via twitter sih, .. mbok ngasih kaos ke 5 followers tiap hari drpd ngasih duit ke TV. Setahun udah 365×5 kaos. Dah kayak iklan TV tuh jml viewnya, hehe….
Keren emang makin hari si twitter itu… tapi kok kanglurik bingung makenya ya???
wkakakaka
mari kita hambur hamburkan benwit yang mahal ini hanya untuk ngetwiter
twitter…cool
strateginya tepat cuma ndak konsisten menjalankannya…
kirim jawaban via tarckback aja deh Pit.. buat idea posting tapi intinya sih.. brand masing meng-anggap mereka suatu corporate/brand yang berkomunikasi secr vertikal..
lebih kepada awareness dari brand itu sendiri, pit… dengan kepedulian mereka terhadap konsumen, itu juga membuktikan kepedulian mereka terhadap produk yang mereka pasarkan. *so’ tau banget aku yah*
Tuit tuiit tuiiit….
Biar rame jualannya…
Tapi, klo tuitnya datar datar or garing and tak ada sesuatu yang bikin kita bergairah untuk follow mereka, yah, ndak semangat dah following them,
Gimme something more
ude join twitter tp lom nemu manfaatnya :-p
nice info.. i must try this…thx
Twitter efektif klo pengikutnya banyak…
Urusan follow itu relatif, mau enaknya.
Kapan pun kita mau dan dianggap layak untuk kita follow, silakan aja.
Kalau memang tidak layak bagi kita, lebih baik tinggalkan saja siapa pun itu baik brand maupun twitterati yang biasa.
info nya sangat bermanfaat bagi perusahaan yang yang ingin membuat brand awarness, nah!!! bagi kalian pengusaha muda yang mau numpang promosi produk bisa di http://www.twitter.com/waytodeal atau di http://www.facebook.com/waytodeal and promosiin gratis produknya di http://www.waytodeal.com (cat:untuk skrg memang masih dalam pembenahan website guys, baru akan launch januari 2010)
Menurut sy jika sudah terbangun komunikasi antara publik dgn perusahaan itu pertanda ada keberhasilan dlm menjalin hubungan. Jd publik tidak hanya menjadi obyek iklan saja yg cuma pasif..
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.