Karakter Fiktif dalam Social Media
Tulisan ini agak terlambat, tapi mudah-mudahan belum usang ya. Sudah tahu kan kalau Sarah Aprilia itu benar-benar karakter fiktif? Seperti disebutkan di situs resminya, Sarah Aprilia alias Raline Rahmat Shah merupakan brand ambassador produk Bask Cologne keluaran dari Mustika Ratu. Sayangnya kemunculan brand ini terlambat karena gaungnya di social media sudah berkurang. Karakter Sarah Aprilia adalah murni rekaan untuk membangun hype Bask di ranah maya. Hayo mengaku, siapa yang merasa tertipu?
Sepertinya aksi Sarah Aprilia ini mengilhami Daun Muda Award 2009, dimana diadakan kontes untuk membangun karakter fiktif di ranah maya. Para peserta menciptakan karakternya sendiri (tanpa harus ada relevansi dengan suatu brand) dan mengembangkannya melalui berbagai kanal social media. Beberapa karakter menuai kontroversi karena malah membangun kampanye bernada negatif, seperti seorang karakter yang menderita sakit kanker dan akhirnya meninggal. Sesuatu yang awalnya menuai rasa simpatik, namun malah mendapat cercaan karena ketahuan kalau karakter yang dibangun adalah palsu. Hal ini tentunya berbahaya kalau karakter tersebut merepresentasikan sebuah brand. Cerita lainnya tentang kampanye negatif yang berbalik arah menyerang brand adalah kisah Laura yang hilang, yang ternyata diculik dalam film Pocong.
Kalau diingat-ingat dulu saat pertama kali ngeblog, selalu ada pesan dari para blogger lain kalau ngeblog itu harus jujur, jangan dibuat-buat, karena pasti akan ketahuan oleh orang lain. Nggak tahu apakah pesan seperti ini masih berlaku saat brand semakin sering bereksperimen memanfaatkan alat-alat social media (blog, Facebook, Twitter, dll) untuk menyampaikan pesannya.
Bisa jadi kalaupun ada brand yang melakukannya, ia tidak akan dicerca (meski ketahuan kalau karakter itu adalah karakter palsu), asalkan ia bertindak tepat. Sesuatu yang sebenarnya sudah dilakukan beberapa novelis di luar sana. Mereka mengambil sudut pandang seorang tokoh rekaan kreasinya dan menulis kejadian yang dialami tokoh itu melalui blog. Si tokoh rekaan pun berinteraksi dengan pembacanya melalui komentar. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh tokoh rekaan dalam sebuah novel buku. Respon yang didapat dari para pembaca pun positif.
Lalu apa yang membuat sebuah karakter fiktif dalam social media disukai? Yang jelas bukan yang membuat audiensnya merasa kasihan atau direndahkan. Karakter yang justru bisa memberikan inspirasi positif, kesegaran karena lucu, atau membuat audiensnya menjadi terharu setelah membacanya. Untuk rujukan, contohlah blogger-blogger senior yang setiap tulisannya bisa mencerahkan audiensnya. Atau yang membangun kelucuan lewat karakter fiktif yang merepresentasikan dirinya sendiri.
Sepertinya sejak munculnya Sarah Aprilia dan Daun Muda Award, bisa-bisa tahun 2010 ini dunia social media akan dipenuhi oleh karakter fiktif. Nggak masalah sih. Siapapun karakter itu, asalkan eksistensinya bisa memberikan sumbangan positif di ranah social media tidak akan menjadi masalah.
Untuk para blogger yang ingin menjadi penulis, pernahkah kalian membuat blog dengan karakter fiksi di dalamnya? Siapa tahu loh, karakter yang kalian besarkan dan populerkan melalui blog dan kanal social media lainnya malah mendapat tempat yang tepat di hati brand di tahun 2010 (alias disponsori). Pernahkah berpikir seperti itu? Atau pernahkah pula brand dan agency-nya berpikir seperti itu?
Tulisan ini sekaligus untuk menambah contoh lokal kasus karakter yang terjadi pada brand, seperti yang telah dibahas sebelumnya di artikel New Wave Marketing ini.









[...] This post was mentioned on Twitter by anakcerdas, Media Ide. Media Ide said: new post: karakter fiktif dalam social media. http://bit.ly/8xNbtD [...]
Efek negatifnya : saya jadi susah percaya sama org baru yang menarik dan baik hati.
Efek positifnya : orang jadi berusaha sekreatif mungkin.
Tetap ya, blogger harus jujur. Kalau saya tahu siapa org di balik sebuah karakter, malah lebih mudah mendukung
Saya Ngeblog pake karakter asli aja belom beres..hehe
sudah gue duga, ayam oon yg satu itu memang fiktif! *LOL* (re:karakter fiktif yang merepresentasikan dirinya sendiri)
inget daun muda award jadi inget kmaren ikutn iseng partisipasi ama ayu, tapi pada akhirnya tugasnya DM dikerjakan secara tidak maksimal deh..hehehe…
err.. kalo alter ego termasuk karakter fiktif ga ya?
Alter Ego bisa fiktif bisa nggak.. Hihi, itu bukannya chickenstrip juga sebuah alter ego?
dari awal saya sudah tau kalo si Sarah itu fiktif
Hahaha
Seru juga kalau kita bisa merawat karakter fiktif. Rasanya seperti punya dua kehidupan.
Yang dikhawatirkan adalah jika karakter ini dipakai untuk berbuat kejahatan. Yah, ini memang sifat alami internet. Tapi yang jelas: Seru!
Nice post!
[...] Karakter Fiktif dalam Social Media – Pitra Satvika [...]
[...] mendaftarkan diri. Itu artinya semua yang mendaftarkan artikelnya akan mendapatkan tiket. Bahkan Pitra dapat dua, apakah itu berarti dia boleh bawa tas untuk mbungkus makanan disana? [...]
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Facebook Friends
Ayo gabung!Login
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.