Home » Online Branding

Twitter, Saluran Terhangat untuk Membicarakan Brand Teknologi

20 January 2010 3,567 views 11 komentar

dbi-0Kemarin sempat diundang oleh IndoPacific Edelman yang baru saja merilis hasil riset terakhir mereka tentang Digital Brand Index (DBI). Riset DBI ini adalah riset lanjutan yang rutin dilakukan per 3 bulan sekali. Melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Brandtology (demonya keren juga), pihak Edelman bisa mengetahui secara langsung rekap pembicaraan yang terjadi di beragam kanal social media.

Riset yang dilakukan Edelman malalui DBI ini hanya untuk memonitor brand yang erat hubungannya dengan teknologi, seperti: internet dan perangkat lunak, consumer electronic, telpon genggam dan telekomunikasi, bisnis dan jasa konsultasi. Kanal yang dicek adalah kanal-kanal populer, termasuk di dalamnya blog yang dianggap berpengaruh, forum, dan portal berita. Setelah itu pembicaraan diidentifikasi melalui riset kualitatif dan kuantitatif. Kerennya aplikasi ini, kita bisa melihat sentimen negatif dan positif dari setiap pembicaraan yang terjadi. Kita juga bisa melihat para pemengaruh (influencer) yang potensial di setiap kanal. Pemantauan sentimen ini dilakukan oleh tim social media yang menilainya secara kualitatif. Meski memungkinkan, tapi untuk kebutuhan riset DBI ini penilaian sentimen tidak dilakukan.

Informasi tentang analisa dan angka-angka riset ini bisa dilihat di blog IndoPacific Edelman. Yang menarik dari riset ini adalah Twitter sejak 3 bulan terakhir ini menjadi kanal yang paling ramai dipakai untuk membicarakan brand teknologi. Selanjutnya adalah forum-forum di Kaskus. Lebih lengkapnya bisa dilihat di tabel berikut.

dbi-indo-buzziest-channel-2

Sebagai sebuah brand, Twitter adalah terbanyak kedua dibicarakan di seluruh kanal, setelah brand Google. Di bawahnya mengikuti brand Facebook, Indosat, Nokia, dan Intel. Lebih lengkapnya bisa dilihat di tabel berikut ini.

dbi-indo-buzziest-brands

Lalu insight apa yang didapat dari riset DBI ini? Kalau menurut laporan yang mereka berikan, berikut ini adalah insight-nya.

  • Social media adalah platform yang dinamis. Popularitas sebuah kanal akan berubah dari waktu ke waktu. Untuk itu, brand harus muncul di setiap kanal social media, meski saat itu kanal tersebut belum populer. Kita nggak akan pernah tahu kalau tiba-tiba kanal tersebut tiba-tiba menjadi populer. Apalagi setiap kanal punya khalayaknya sendiri yang punya gayanya sendiri. Brand dituntut untuk paham akan mereka.
  • Diskusi tentang brand terhadi di banyak platform, seperti: forum, portal berita, blog, microblog, dan jejaring sosial. Pembicaraan tentang brand muncul dari bawah, dan suka luput dari perhatian pemilik brand. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah “mendengarkan.”
  • Khalayak di ranah daring aktif berbagi informasi, opini, dan pengalaman produk atau pengalaman. Opini menjadi konsumsi publik. Para pebisnis harus mengidentifikasi, mendengarkan, dan membina hubungan dengan para pemengaruh di dunia daring secara jujur dan terbuka terhadap setiap komentar negatif yang muncul.
  • Publik merespon aktivitas pemasaran tradisional melalui forum di ranah daring. Sayangnya, riset DBI menunjukkan kalau brand sendiri terlihat kurang terlibat langsung dalam percakapan yang terjadi. Brand perlu tahu dimana konsumen berkumpul, memahami mereka, dan ikut berpartisipasi dengan mereka sebagai pihak yang berdiri sejajar.

Kredit foto: Pistols Drawn

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

11 komentar »

  • Arham Blogpreneur :

    Lho bukannya ini dah pernah di publish yah ppit? tapi dimana yahhh.. umm berasa dejavu deh

  • Pitra :

    @Arham: yang pernah elo lihat itu pasti yang riset DBI yg pertama. Ini riset yg kedua, dengan output yang berbeda. Riset ini dilakukan per 3 bulan sekali.

  • Pandu Truhandito :

    Keren ya bagaimana media yang baru bisa langsung diadaptasikan ke dalam hidup sehari-hari sebagai cara yang mainstream untuk menyebarkan berita.

    Di mata saya, insight paling besar dari reportnya ada di kalimat ini:
    “…, we found out that there was a different composition in using channels for certain topics…”

    Komposisi untuk Twitter sangat menarik: Internet, mobile dan software. Ketiganya adalah topik-topik dengan aspek-aspek yang berkembang pesat akhir-akhir ini. Search engine competition, mobile gadget, mobile platform & device, facebook apps, web apps, dan sebagainya.

    Sepertinya convenience dan kemudahan yang ditawarkan oleh Twitter untuk menyebarkan informasi adalah faktor utama untuk menyebarkan berita-berita yang sering sekali berubah / berevolusi / update. Setelah baca berita yang baru langsung pasang ke Twitter dan klik share.

  • si gaptek :

    riset sebelumnya mana yah, mas Pit? kayaknya menarik

  • Muji :

    Saya juga lagi bergiat di Twitter nih.

  • Joko Susilo :

    Berarti bisa secara real time mengetahui pembicaraan yang ada di social media ya mas?

  • zulhaq :

    *menyimak pembicaraan di twitter*

    emang sih, lebih cepet dan lebih seru membicarakannya lewat media sosial

  • kerja sampingan :

    Twiter, itulah kemajuan ti yang luar biasa, apa yang terjadi 25, 50. 100 tahun kedepan ya, wah luar biasa

  • Yodhia @ Blog Strategi + Manajemen :

    Indo Pac Edelman….ini sebuah lembaga yang kiprahnya bagus juga ya….saya suka dengan survei-survei mereka….

    Tapi kenapa ya, kok mereka yang aktif melakukan hal semacam itu….kenapa lembaga lokal — seperti Virtual Consulting dan sejenisnya– ndak ada yang mau melakukannya.

  • Pitra :

    @Yodhia: ini surveynya Asia Pacific, Mas, dan menggunakan aplikasi yang memang sudah ada, yang dibuat oleh Brandtology. Yang bisa pakai tools buatan Brandtology ini di Asia Pacific hanya Edelman. Tools ini dipakai di banyak negara lainnya, tapi memang bisa customized untuk pencarian berdasarkan keyword tertentu. Anggaplah seperti Google Analytics. Kalau ada perusahaan lokal yang bisa mendevelopnya, dan fokusnya hanya untuk kebutuhan lokal, production costnya terlalu mahal. Kecuali ya, kalau riset yang dilakukan perusahaan lokal sifatnya kualitatif saja, jadi masih masuk akal untuk menutup production costnya.

  • indra :

    lam kenal, urutan pertama twitter kedua http://queenstar.co.cc” rel=”nofollow”> adsense ketiga Online Store keempat Affiliate dan Paid Surveys

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge