Home » Online Branding

Kontes Berbasis Angka di Ranah Daring

15 March 2010 4,503 views 17 komentar

highscoreSalah satu yang biasanya (lebih baik) dihindari saat melakukan kampanye daring adalah kontes yang meminta kita untuk meraih suatu target yang berbasis angka. Bentuknya bisa bermacam-macam dari, sistem voting, polling, hingga kontes tinggi-tinggian score dalam sebuah game. Segala hal yang berhubungan dengan angka memang akan mempermudah kuantifikasi penilaian secara sistem. Namun yang sering dilupakan, segala hal yang berhubungan dengan angka akan mengundang tangan-tangan jahil untuk melakukan hacking. Mumpung isu ini lagi ramai dibahas di milis KopdarJakarta, sekalian saja dibuat posting-nya.

Pengalaman sudah membuktikan kasus ini berulang kali terjadi. Dahulu saat awal-awalnya Samsung membangun microsite dengan game di dalamnya, penentuan score-nya sempat di-hack. Pemain tak perlu repot main-main, karena nanti saat score dikirim ke database, saat itulah score bisa diubah. Hal ini ternyata berulang di salah satu situs kampanye brand untuk pria yang berhadiah tiket menonton Piala Dunia. Data yang dikirim ke database sangat mentah apa adanya, bahkan kita tak perlu memainkan game untuk sekedar memasukkan score ke database.

Kasus penentuan voting Pesta Blogger 2009 kemarin juga pula terjadi. Setiap orang bebas voting dengan menggunakan alamat email asal. Kasus ini baru saja berulang kembali di situs SoyJoy Healthylicious yang kini sedang berkampanye di social media. Sekarang sistem voting-nya sudah dikoreksi, karena pengirim vote harus melakukan aktivasi email terlebih dahulu sebelum angka vote bertambah. Sistem ini belum sempurna, karena masih ada cara lain untuk menembusnya, meski perlu upaya yang lebih tinggi. Lalu bagaimana nasib perhitungan kecurangan yang pernah terjadi sebelumnya? Bagaimana memisahkan antara voting yang adil dan voting yang curang?

Situs Resolusi 50 Persen milik Anlene mengalami kejadian yang serupa, meski tidak sama. Perhitungan score adalah berdasarkan pengguna Twitter yang telah registrasi di situs itu. Setiap thumbs up akan menaikkan score, dan setiap thumbs down akan menurunkan score. Anehnya, di sini, kita bisa men-thumbs up tweetnya sendiri dan dengan bebas bisa men-thumbs down orang lain. Kita bisa “mematikan” peserta lain dan menyempurnakan score kita sendiri. Ada batasan waktu beberapa jam sebelum kita bisa men-thumbs up tweet yang sudah kita thumbs up sebelumnya. Oh iya, kita bisa thumbs up ulang hanya dengan berganti alamat IP. Seorang progammer yang sudah terbiasa dengan Curl dan Cron bisa melakukan thumbs up otomatis untuk setiap tweetnya tanpa perlu susah payah.

Memang diakui sulit sih untuk menghindari hal itu terjadi, meski bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Bisa tapi lebih sulit. Solusi paling mahal adalah menggunakan SSL, sehingga situs berada di balik https. Data yang terkirim dari dan ke situs ini akan dikeluarkan dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti manusia. Kita akan sulit tahu URL apa yang dipanggil untuk mengirim score, dan variabel apa yang dikirimkannya.

Hal yang jauh lebih mudah adalah menghindari membuat program kampanye daring yang berbasis angka. Bolehlah ada voting, polling, atau game, tapi hasil yang dikeluarkannya bukan menentukan juara utama kontes tersebut. Untuk penentuan juara utama, gunakan metode yang lebih bersifat kualitatif, seperti berdasarkan penilaian juri dan aktivitas peserta di situs itu, misalnya.

Kredit foto: bk-robat

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

17 komentar »

  • tongki :

    nggak perlu jago hacking, buat yang berbasis aktivasi surel ada disposable e-mail :s

  • fairyteeth :

    well said pit :)

  • podelz :

    Tetep konsisten dengan yang di millist..

    kenapa gak pake SMS ya?

    *tetep jualan juga*, hahaha

  • didut :

    kl yg ngomong pakar koding koding-an ane percaya aja deh LOL

  • hanny :

    nice posting, pit! kupikir banyak yang pakai sistem vote karena ini dinilai cara paling cepat dan paling mudah untuk peserta yang bejibun jumlahnya (karena kalau menjuri kualitatif untuk jumlah peserta yang buanyak itu mungkin akan makan waktu lama sekali).

    selain itu bisa jadi, sistem voting menjadi sarana untuk bilang: "site kita dikunjungi 10ribu orang, lho…" –> didapat dari orang yang datang berulang kali ke site untuk nge-vote.

    nggak heran sampai saat ini voting, polling dan sistem scoring ini masih banyak digunakan, ibaratnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui (eh kok malah berperibahasa). tapi aku setuju sama pitra, bahwa memang sistem ini gampang dicurangi. (dapatkah kita mencontoh karma yang diterapkan plurk sebagai sistem penilaian pengganti voting2an?)

    di sisi lain, ini menjadi tantangan buat kita; mungkin kita harus lebih kreatif juga, ya, mencari cara kampanye online yang nggak semata mengandalkan voting; tetapi lebih menitikberatkan pada kualitas–walau tetap bisa populer juga di ranah daring.

  • Joko Susilo :

    Sebelumnya dengan format kuantitatif diharapkan bisa lebih fair dan lebih mudah dalam melakukan penilaian sebuah kontes. Tapi kalau ada "tangan jahil" yang mulai ikut bermain, aspek fairness langsung hilang.

    Mungkin bisa juga dengan menggabungkan penilaian kualitatif sekaligus kuantitatif seperti yang dilakukan kompas pada lomba blognya beberapa waktu lalu.

  • Pandu Truhandito :

    Keren! Berani buka blak-blakan nama-nama brand di sini

    @"(lebih baik) dihindari saat melakukan kampanye daring adalah kontes yang meminta kita untuk meraih suatu target yang berbasis angka"

    Betul memang rawan dicurangi. Tapi kalau dihindari secara total rasanya tidak benar juga; kok kayanya memberikan "excuse" untuk programmer untuk "angkat tangan"?

    Kalo menurut gue pribadi yang bener seharusnya planning campaign tersebut harus dibuat lebih benar lagi sehingga tersedia waktu yang banyak untuk testing dan debugging.

    Mustinya bagian QC (quality control) dari program/situs tersebut memiliki mental seperti profesor IT di universitas-universitas ternama: "I'll try my best to break your code"

    Kalau tidak diusahakan untuk menjadi lebih baik, programmer Indonesia ngga berkembang donk?

  • zam :

    memang membangun sistem poling/voting yg bersih agak sussah. ada baiknya kalo pengiriman nilai juga dienkripsi sehingga orang tidak bisa menebak-nebak alur.

  • Pitra :

    Maaf semua komentar masuk spam box. Sejak uninstall Intense Debate, by default semua komentar dianggap spam, dan nggak tahu nih cara ngebenerinnya

    @hanny: sistem karma plurk memang tob. Kita nggak tahu kapan karma kita naik atau turun. Kita nggak tahu cara penilaiannya, karena memang algoritmanya lebih kompleks. Lebih safe, tapi lebih susah. Nggak direkomendasikan untuk kampanye yang lead time productionnya pendek.

    @pandu: lebih tepatnya sih gabungan antara kuantitatif dan kualitatif. Jangan hanya kuantitatif saja. Kalau game flash, seperti yang disebutkan di atas, kami di Stratego sih sudah ada trik khusus untuk itu, jadi lebih susah diakali. Tapi kalau sudah bicara game flash (atau aplikasi lain yang berbasis client), sangat rawan untuk dihack. Bahkan yang score-nya sudah dibuat supaya "tidak terlihat" pun masih juga tembus (ini saya bicara dari pengalaman pribadi). Kalau mau benar2 safe, seperti saya bilang di atas, brand harus invest untuk pasang SSL, apalagi kalau itu menyangkut nama brand internasional. Dijamin, pasti safe, karena aliran request dan response data yang lewat tidak bisa dibaca oleh bahasa manusia.

  • Pandu Truhandito :

    @"kalau mau benar2 safe, seperti saya bilang di atas, brand harus invest untuk pasang SSL"

    Sounds like a plan di samping programming dan crises management yg lebih baik

    Btw di tempat gue lagi mau berurusan sama campaign yg pake scoring nih. Let's see if we make it to your wall of shame

    Lol

  • mawi wijna :

    musyawarah untuk mufakat kian sulit dilakukan di ranah maya…

  • nengratna :

    oom pitra, apakah mungkin suatu saat kita hanya dapat beraktivitas di dunia maya hanya berdasarkan satu akun yang disahkan dari negara? jadi daftarnya pakek KK atau KTP gitu. *capek deh enggak ya?*

  • lindaleenk :

    mending vote2 an itu untuk kategori lain..misal terfavorit ;)

    kalau ngomongin soal coding2 an aku nyerah deh T_T

    ndak mudeng

  • Erico Vanadis :

    Makasih mas atas informasinya, kenalan ya mas, saya erico vanadis, ini blog saya mas http://tutorial-ericovanadis.blogspot.com, Trim's

  • Arham blogpreneur :

    Wuihhh udah panjang ajah….

    Penggunaan gabungan Kual/kuantitatif kayaknya pas. atau mungkin pakai reputasi, misalnya kalau di kaskus yg menang adalah yg reputasinya kaskus addict dan jumlah potsnya pun harus di track ngak boleh ada junk seperti pertamax

  • ryan wijaya :

    wah hadiah2 nya pasti menarik ya..sampe banyak yang curang :D

  • foredi jakarta :

    Setelah membaca Info dan Artikel, pikiran saya jadi cemerlang.salam sukses

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge