Home » Online Branding

Saat Kampanye Brand di Twitter Mulai Terasa Mengganggu

2 May 2010 6,685 views 42 komentar

avatar sketch_tolongrtinsayaBelakangan ini semakin banyak brand yang memanfaatkan pengguna Twitter untuk menyebarkan word of mouth, baik itu mereka yang terikat secara profesional maupun yang sukarela melakukannya. Beberapa brand melakukannya dengan cara yang elegan, seperti mengajak audiensnya untuk berkomunikasi. Namun, ada pula yang sepertinya tidak paham fungsi Twitter itu sebenarnya apa. Si brand hanya mementingkan namanya sendiri tanpa memikirkan kepedulian terhadap audiensnya.

Beberapa brand memang melakukannya dengan sangat keren. @blitzmegaplex salah satunya. Akun twitter miliknya dipakai sebagai media penggali masukan dan kritikan. Si pemilik akunnya melakukannya dengan manusiawi. Setiap pertanyaan yang muncul selalu mendapat tanggapan. @blitzmegaplex bahkan sempat memberikan tips di salah satu tweet-nya kemarin, agar penonton film Iron Man 2 untuk menunggu hingga kredit film selesai, karena ada kejutan di belakangnya. Hari ini @blitzmegaplex mengikuti antusiasme pengguna Foursquare untuk ikut mengundang follower-nya datang menonton Iron Man 2 bersama-sama hari Senin, demi mendapatkan Super Swarm Badge.

Brand yang paling sangat tidak keren dalam melakukan kampanyenya di Twitter adalah @kapanlagi. Pemilik akun ini sangat egois. Twitter hanya menjadi medium promosi cuplikan berita dari portalnya. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah, karena sebagai pemilik akun, ia bebas men-tweet hal apapun. Yang menjadi masalah dan pusat keegoisan adalah saat ia kini menyelenggarakan kontes RT berhadiah iPad.

Melalui kontes ini, @kapanlagi mengajak follower-nya untuk meng-RT sebanyak-banyaknya tweetnya. @kapanlagi tidak peduli kalau aksinya ini akan merugikan reputasi para pengguna Twitter lainnya. Demi kontes ini, para follower @kapanlagi semakin sering melakukan RT. Para follower @kapanlagi sendiri tanpa sadar merusak reputasi yang dibangunnya sejak lama. Bukan nggak mungkin gara-gara kontes ini, para peserta kontes akan kehilangan follower-nya karena terganggu dengan RT yang mereka lakukan. Melalui kontes ini @kapanlagi hanya mengejar traffic kunjungan ke situsnya tanpa memperhatikan fungsi Twitter sesungguhnya, yakni untuk percakapan, seperti terbaca di aturan main kontes ini di bagian terakhir: “KapanLagi.comâ„¢ tidak melakukan komunikasi mengenai program ini melalui Twitter karena akan memenuhi Timeline kami.” Hmm, terasa salah nggak membaca aturan main ini?

Hal serupa juga sempat dilakukan oleh @hanyaoreo, meski tidak separah @kapanlagi. Seperti @blitzmegaplex, @hanyaoreo juga melakukan komunikasi dengan audiensnya, dan memang itu sesuatu yang menarik dan keren. Namun dahulu @hanyaoreo sempat membuat kontes unik-unikan menulis tweet dengan kata Oreo di dalamnya. Setiap peserta diminta berkreasi dengan menambahkan @hanyaoreo di BELAKANG tweet. Ini tak berbeda dengan kampanye hashtag. Pengguna Twitter “terpaksa” melihat aksi kontes yang dilakukan oleh pengguna yang mereka follow.

Akan lebih baik jika kontes seperti ini dilakukan dengan langsung me-reply @hanyaoreo (menempatkan @hanyaoreo di kata paling DEPAN), sehingga yang bisa melihat tweet ini hanyalah mereka yang juga mem-follow akun @hanyaoreo). Cara seperti ini dulu dilakukan @rumahdara saat promosi filmnya, sehingga bagi yang tidak tertarik tidak terbebani membaca tweet temannya yang tidak relevan.

Nah, menurut kalian, cara-cara kontes seperti apa yang baik dilakukan oleh brand, tapi tidak mengganggu kenyamanan follower yang sudah kalian raih dengan susah payah?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

42 komentar »

  • Oom Yahya :

    Bentar Pit, kalo saya follow kamu, trus kamu reply @hanyaoreo, meskipun @hanyaoreo nya di depan, saya tetap bisa baca twit itu dong?

  • Pitra :

    @oom yahya:

    Andaikan mas yahya follow @hanyaoreo, lalu nulis "@hanyaoreo saya mau dong"

    Lalu saya follow @yahyakurniawan.

    Kalau saya juga follow @hanyaoreo, maka tweet di atas akan muncul di timeline saya.

    Tapi kalau saya nggak follow @hanyaoreo, maka tweet di atas nggak akan muncul di timeline saya.

  • -goenrock- :

    @Pak Yahya: Maksud @pitra kalau reply twitnya @hanyaoreo langsung (ngeklik Reply) bukan sekedar hanya nulis username @hanyaoreo. Bukan begitu bukan?

    Oh iya, gara2 kuis banyak2an RT itu, saya langsung unfollow @kapanlagi. Sebel aja jadi banyak sampah di timeline. *lirik @nengbiker yg ngegawe disono*

  • Oom Yahya :

    Oh begitu, maaf selama ini gak memperhatikan :D

    Kalau seperti itu memang baik, tidak mengganggu yang tidak follow brand yang bersangkutan.

    Tapi tujuan brand tersebut tidak tercapai karena dia hanya berkomunikasi dengan followernya sendiri, padahal sebenarnya tujuannya khan meraup follower sebanyak2nya, di luar yang sudah ada.

    Kalau saya sih mengganggap itu sudah resiko kalau timeline saya dipenuhi berbagai macam iklan seperti itu.

    Saya tidak serta merta melakukan unfollow terhadap brand yang melakukan maupun unfollow terhada follower brand tersebut.

    Toh dalam beberapa hal, saya sendiri kadang "pasang iklan", misalnya cerita2 kalo buku terbaru saya terbit :D

  • maseko :

    seperti mas pitra tulis, baiknya sih lgs reply ke pembuat onar eh kuis, jadi kalo nggak berkenan cukup unfollow pembuat kuisnya aja.

    btw, kayaknya perlu juga ada fitur filtering hashtag di twitter

  • el afiq :

    @hanyaoreo sempat mengganggu tampilan timeline, meski pernah ikutan tapi kapok karena pasti mengganggu follower.

  • didut :

    eh ada gak sih fungsi filter di tweet? let say yg menggunakan fasilitas seperti hootsuite

  • Esge :

    Dulu kapanalgi lbh parah, setiap Brita yg artisnya Ada account Twitter nya misal @csugiono lgs dimention. KebYang ktika brita itu muncul dan di RT in sama followernya, bgita kesiannya christian sugiono kebanjiran mungkin ribuan mention. Bener2 spam yg mengganggu.

    Skr dah ga dimention lg. Krn diprotes

  • galeshka :

    termasuk ke yang ga ikut dan sangat terganggu dgn model promosi seperti ini. Walau bisa mengerti karena promosi di twitter rasanya memang masih baru dan perlu waktu utk bisa mendapatkan model promosi yang ideal bagi semua pihak.

    Tapi yg lebih menyebalkan lagi adalah respon dari bbrp orang yang ketika dikritik hanya bilang : ya tinggal unfollow aja, koq repot. Koq simplistik banget yah, dan terkesan gak menghargai followernya.

    But then again, yah i'm just a nobody, so …

  • -alle- :

    masalah @hanyaoreo untungnya temen2 yg saya folow dan rajin ikut quiz udah pada menang.

    kabarnya @GrandIndo juga bikin quiz buat RT abuser yah? :p

  • Widy :

    A very good post! :D Ini yang memang saya takutkan, terutama untuk online media/portal company.

    Di satu sisi, saya setuju karena sebagai user, "aduh..ini menuh2in timeline banget." Medesin mata lah, intinya.

    Tapi di sisi lain, so far memang keliatannya belum ada yang berinovasi untuk penggunaan twitter secara optimal bagi portal berita. Makanya, hanya itu yang mereka bisa lakukan.

    Pertanyaan bodoh, tapi saya rasa boleh saya share-kan sedikit

    1. Ada unfollow button. Saya rasa itu berbicara dengan sendirinya

    2. Apa memang (sesuai contoh) Anda membutuhkan berita @kapanlagi?

    3. Ada beberapa portal yg justru banyak di-RT dan di-RT lagi. Apakah konten juga berpengaruh?

    Saya rasa frekuensi content blasting lewat Twitter juga berpengaruh terhadap consumer insight, karena kalau terlalu berentet pun kurang enak dilihatnya.

    Thanks ;)

  • mbakDos :

    hehehe akhirnya Pitra nulis juga soal ini. kemaren sempet kepikiran juga pengen nulis tapi dibatalkeun, masih takut dimusuhi teman-teman saya :)

    tapi dirimu bisa menuliskannya dengan.. nggg apa ya?! acceptably good :)

  • Chic :

    ish membaca postingan ini berasa dejavu.. Balik ke hari sabtu kemaren di Starbucks GI setelah nonton Iron Man 2 :P

  • jarwadi :

    Mas Pitra, bagaimana dengan vaselinemen kemarin itu?

  • arya :

    eh gue setuju bgt sama galeshka *tos*

  • venus :

    iklan kan bukan hal baru sebenernya ya? dari jaman dulu juga udah ada. sekarang, di semua media, yg konvensional (printed materials) dan media2 online, iklan juga bertebaran dan caranya memang macem2. brand2 yang baru 'kenal' social media, katakanlah yang baru belajar gimana merangkul pasar, sebagian memang ganggu, tapi pada umumnya sih aku gak bermasalah dengan cara mereka beriklan. biarin aja lah. mau RT mau bikin kuis lucu2an, gpp. di pinggir jalan juga banyak banget iklan gak jelas. dari guru privat sampe iklan viagra ditempel di pohonan tapi ya gpp. namanya juga jualan. soal caranya, karena ini memang bener2 hal baru (belum setaunan kayaknya ya?), nanti kan pasti ada seleksi alam. yang gak mau belajar dari kesalahan, yg egois dan cuma mau promo tapi menghindari interaksi dengan customer (baca: follower), dengan sendirinya akan ditinggalin orang kok.

    my point is, nyante aja lagi :)

  • Gage Batubara :

    Menarik!

    Yang saya perhatikan dari perusahaan2 yang memanfaatkan akun twitter sebagai media baru untuk mengiklankan produknya adalah mereka tidak siap dengan black campaign di media ini. Inilah mengapa pemilik akun itu menghidari percakapan ataupun tidak menjawab black campaign tersebut.

    Oiya, mereka itu jualan di twitter bukan customer service :)

  • Dian Ara :

    Gampang banget solusinya. Bukan, bukan unfollow. Tapi List. Masukkan saja orang-orang yang sedang jadi peserta "promo" itu ke list (misalnya) "tukang sampah". LOL. Lalu login ke TweetDeck, munculkan kolom dari semua list kecuali "tukang sampah". Beres.

    Sekadar bercerita sedikit, Jumat kemarin saya tidak mendapat tiket Iron Man 2. Dan Twitter jelas jadi tempat "pamer" mereka yang sudah nonton duluan. Karena saya paling benci spoiler, apa yang saya lakukan? Login TweetDeck, buang kolom All Friends. Saya hanya pertahankan Mystic Knight (yang isinya gamer dan game news doang) serta Ninja (web developer, web designer, freelancer). Beres.

    Saya juga punya list Pilot, berisi orang2 yang saya kenal lewat Twitter. Tapi sebetulnya tidak signifikan untuk kerjaan. Jadi ketika butuh konsen kerja, kolom Pilot saya depak. Kelar kerja, pengen ngobrol lagi, ya tinggal dimunculkan lagi.

    O ya, in case ada yang bilang, "Lho kan nggak semua tweet orang yang layak dilabeli 'tukang sampah' itu promo. Kadang ada juga yang bagus," saya bisa counter dengan kalimat, "Emangnya kalau nggak follow dia untuk beberapa hari/minggu (sampe promo kelar), situ bakal mati? Kerjaan bakal ancur? Nggak lah. Dulu sebelom ada Twitter juga fine-fine aja." Hihihi…

    Soal promo itu bikin "sreg" atau nggak, perspektif orang beda-beda. Saya termasuk yang suka @hanyaoreo, buat saya seru. Malah nggak suka @blitzmegaplex. Hlah wong saya nggak punya smartphone, mana bisa ikut swarm check-in. LOL.

    Tapi kalo semua orang jadi Twitter police, Twitter nggak lagi menyenangkan. Saya sendiri nggak suka diatur-atur, tweet yang bagus/jelek seperti apa. Karena itu saya selalu diem kalo nggak sreg sama tweet/tweep tertentu. Dan List memang fitur surga buat saya. Tinggal hapus kolomnya pas dia nyebelin, dan munculin lagi pas kangen. Wakakakakkk…

  • Donny Kurnia :

    Yang punya twitter aja ga ngelarang-larang kok, kok ada aja yang merasa berhak jadi polisi twitter.

    Kalau mereply dengan RT memang sebagian besar sepakat itu mengganggu, karena RT memang bukan untuk reply.

    Kalo ga suka, ya tinggal unfollow.

  • Pitra :

    @widy:

    Yang saya sayangkan sebenarnya kontesnya @kapanlagi. Melalui kontes ini ia meng-encourage user untuk meng-abuse RT dan memenuhi timeline. Kalau isi tweet-nya sendiri sih sebetulnya terserah pemilik akun. Kalau memang ia hanya memfungsikannya untuk bikin cuplikan dari portal miliknya, itu haknya. Mengenai kuantitas tweet juga perlu dipertimbangkan. Dulu VivaNews mengirimkan semua link beritanya ke Twitter, dan malah membuat illfeel para followernya. Akhirnya, mereka hanya memilih berita unggulan hari itu saja (jadi 3-5 tweet per hari saja).

    @jarwadi:

    Vaselinemen kayaknya nggak terlalu heboh di twitter, semua kontesnya berlangsung di micrositenya. Twitter hanya jadi medium awal untuk memancing user untuk datang ke micrositenya. Berbeda dengan @kapanlagi dan @hanyaoreo yang memanfaatkan medium Twitter untuk kontes.

    @venus:

    Hihi tulisan ini kan tujuannya juga untuk itu, mbok. Semoga dibaca para pengelola account, plus sebagai reminder untuk saya sendiri, supaya di bulan-bulan mendatang, kampanye yang terjadi bisa dilakukan dengan lebih baik dan elegan.

    @gage:

    hihi, coba tanya @kapanlagi kalau begitu.. :D

    Si pengelola account harus belajar banyak dari @blitzmegaplex yang nggak takut diprotes dan dikritik di Twitter.

    @dian ara:

    Tuh, tips yang keren dari @dianarakeren :D Kalau brand yang berkampanye nggak belajar2 dari keberatannya penghuni Twitter, setidaknya tips filter yang dilakukan Dian bisa membantu.

    @donny:

    Pertanyaannya, bukan apa yang kita lakukan, tapi apa yang seharusnya dipelajari Brand saat berkampanye di Twitter. Brand harus tetap menjaga nama baiknya di Twitter, tapi kalau apa yang dilakukannya malah membuat illfeel para followernya, berarti brand harus memperbaiki cara komunikasinya di Twitter.

  • basibanget :

    yg ngeselin itu si @kapanlagi bukan diretweet tapi diquote. kalo retweet (resmi) kan enak. tinggal blok @kapanlagi aja. kalo quote, mau block berapa orang? xD

  • Maverick Indonesia | Keeping It Real–for clients, consultants, influencers and us. :

    [...] Of late, Tweeps seem to be getting more easily annoyed with Twitter campaigns/ competitions that r… They are also becoming more critical in spotting ”advertweetments”–poorly disguised advertisements tweeted by influential Twitter users/rainmakers. [...]

  • alfone :

    wow//ulasan yang mantabs!!

    semoga brand2 tersebut dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari para usernya, biar bisa saling untung menguntungkan..

    betul?

  • Arham Blogpreneur :

    JAdi inget detik forum sama Metro_TV mereka "Pemilik akun ini sangat egois. Twitter hanya menjadi medium promosi cuplikan berita dari portalnya." soal kontes "Tolong RT saya semoga ngak"

    Untuk yg sekarang ini berasa juga tuh #com*est2010.

    Bagaimana, rasanya kata kata mbak @Venus bisa dinikmati sementara ini. Yang pasti sih ngak berasa anek aja kalo seandainya tweet ditambahin kata kata #pesansponsor atau #sponsoredtweet …

    Ohia jangan lupa dengan paid review sejatinya ini sama aja kan.

  • hanny :

    sudah nge-link ke sini, menghasilkan tulisan yang kurang-lebih senada :) glad to know that there are ppl who share the same concern :)

  • erniernierni :

    “KapanLagi.com™ tidak melakukan komunikasi mengenai program ini melalui Twitter karena akan memenuhi Timeline kami.”

    salah banget nih, mau populer saja tapi nggak ngasih balikan

  • Lost in Marketing » Blog Archive » Bagaimana Menciptakan “Buzz” Dalam Hitungan Hari? :

    [...] yang cukup diangkat yaitu masalah RT meng RT. Sehari sebelum @nobarsimpati menjalankan programmnya @mediaide membuat sebuh tulisan yang sangat menarik tentang RT [...]

  • Antyo Rentjoko :

    Biasa, selalu ada euforia dengan segala eksesnya. Bagusnya adalah segera muncul kesadaran untuk menata diri dari para pengguna, termasuk pebisnis, agar kenyamanan bersama tak terkorbankan. Ujung-ujungnya, cara pemasaran di media sosial yang menggaggu kenyamanan bersama akan mendapatkan sanksi sosial. Kalau misalnya dicerca, tentu saja jadi kontraproduktif. Nama boleh menjulang (seaat) tapi citranya negatif.

  • Dewa Bantal :

    Setuju banget,

    Kapan hari aku juga ngomel2 dan menulis fenomena ini diblog. Kayaknya sebuah kreatifitas dan originalitas sudah nggak digubris lagi.

    The best spammers won the best prize. Persaingan yang tidak sehat >(

  • ulan :

    yup RT itu mengganggu, timeline jadi penuh

  • rusabawean :

    KAPANLAGI dari dulu reputasinya sudah hancur di mata blogger. gara2 kontes bannernya.

    kapanlagi emamng picik.

    Lucu ya, kontesx di twiiter koq gak ada perckapan di twitter.

    sangat aneh

  • acongsb :

    Yah itu namanya pintar kalau menurut gw, nah kalau mau ngak diganggu hal semacam gitu kita bikin aja jejaring yang ada aturan ngak ada jkampanye brand atau semisalnya heheheheheheheh

    tapi yang pasti tetep peace aja otre

  • Planet Orange :

    Brand terkadang gak ngerti perlu nya research dan insight, setelah melakukan kedua hal tersebut barulah conversation bisa dibina, jika pembinaan conversation ini bener jalannya, maka akan tercipta engagement antar brand dan fans/follower

    Bukannya langsung maen RT2an dan dengan cara seporadis bgitu,

    Sepertinya para pengelola brand juga harus lebih banyak mencari tahu apa itu sentiment analysis, biar gak selamanya merasa bener….

  • hera :

    makasi infonya ya mas pit,,

    padahal saya juga jarang nge-twit, hehe :D

    tapi saya minta maaf kalo pernah sempat ngeflood'in time-line orang,, :)

  • Iskandar Zulkarnaen :

    ulasan yang menarik. tapi saya pikir tidak mudah menemukan solusinya. karena obyektif utama pengiklan di twitter memang untuk memenuhi time line. semakin diatur, semakin sedikit fungsi viralnya bekerja, dan itu tidak diinginkan pengiklan. mungkin diperlukan survey kecil-kecilan, untuk mengetahui respon pengguna twitter terhadap model2 iklan seperti yang mas pitra paparkan. mana yang mengganggu, mana yang tidak, dan seberapa besar pengaruh negatifnya terhadap brand ybs.

  • adimaryanto :

    yang koment di atas saya ini pngguna twitter yg dah lama yak…. saya malah msh bingung pnggunaan "reply" dan RT (re-weet) bukannya Reply to…!

  • Hedi :

    Selalu akan ada "filter bersama" dan alami. Lambat laun akan tertata sendiri aturan main sekehendak kearifan publik. Salah satu pemicunya ya model post seperti ini (reminder).

  • Media Ide » Blog Archive » Kreativitas Kampanye di Twitter :

    [...] saja. Dari membuat kuis tweet berhadiah dengan menempelkan hashtag di akhir tweet, hingga kontes mengganggu. Meski sebenarnya ada pula yang menarik seperti yang dilakukan @soyjoyID. Suatu prestasi tersendiri [...]

  • Maverick Indonesia | Ohmygodwhathappened :

    [...] of using Twitter for social media marketing. Until recently, we use Twitter to gain followers and generate hashtags and/or RTs for our [...]

  • irawan :

    Gw setuju sm yang di atas.

  • HolyCow Steak - Memasarkan StartUp Lokal via Social Media | HadiGunawan.net :

    [...] Artikel tersebut sangat inspiratif namun saya menyayangkan judul artikel tersebut, “Tinggal “Tweet”, Keajaiban itu datang”. Sudah banyak merk lokal yang masuk ke Twitter dan melakukan tweet ratusan kalau bukan ribuan kali namun keajaiban tersebut tidak kunjung datang. Ada merk yang malah menuai kritik. [...]

  • Kreativitas Kampanye di Twitter | Marketeers :

    [...] akhir tweet, hingga kontes banyak-banyakan RT (aduh yang ini, malas banget), apalagi kalau sampai mengganggu. Meski sebenarnya ada pula yang menarik seperti yang dilakukan @soyjoyID. Suatu prestasi tersendiri [...]

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge