Home » Online Living

Pengintil Web 2.0

9 June 2010 3,267 views 16 komentar

pengintilIngat nggak saat awal-awal kali kita mengenal internet, kita selalu was-was saat memasukkan nama pribadi kita saat registrasi di suatu situs? Bahkan, sempat ada kekhawatiran tersendiri saat memasukkan email, karena curiga email ini akan dimanfaatkan untuk spam. Boro-boro deh kalau diminta sampai memasukkan alamat rumah dan telepon. Pasti isinya ngawur semua.

Eh sebentar, tapi kan itu dulu ya? Sekarang kan beda, sudah zamannya keterbukaan. Zamannya Facebook, Twitter, YouTube, dan Foursquare. Zamannya berbagi dengan penghuni jagad internet lainnya. Saking sering sukanya berbagi, terkadang kita lupa sampai kebablasan. Kita pun lupa kalau yang dibagikan itu bisa jadi ada hak cipta orang lain di dalamnya. Seperti foto di tulisan ini yang merupakan karya orang lain yang dicomot dari Flickr. Eh, setidaknya foto yang dipakai di sini memang diizinkan pemilkinya dipakai asal mencantumkan kredit dan tidak dipergunakan secara komersial. Hmm, tapi berapa banyakkah yang sadar akan itu?

Kembali ke kebablasan. Sadarkah kita saat awal menjadi penghuni Foursquare, lokasi apa yang kita buat pertama kali? Pasti rumah sendiri kan? Ayo, ngaku! Saking ingin eksisnya, bisa jadi kita melengkapinya dengan alamat rumah kita. Hmm, adakah yang salah dengan ini? Nggak ada kok, beneran, kalau kita memang ingin keberadaan rumah kita diketahui dunia ya. Setiap sore atau malam kita checkin di rumah, dan informasi ini terbawa ke Twitter dan Facebook. Esok paginya kita checkin di mobil kita (ada loh yang membuat checkin di mobilnya). Sorenya lagi kita checkin di rumah.

Bila setiap hari kita melakukan itu, lama-lama akan terbentuk pola. Makanya, jangan terkejut kalau ada teman yang bisa menebak posisi kita di mana pada jam berapa. Untunglah itu teman. Kalau bukan teman, apakah kita lalu masih merasa nyaman? Eh, tapi kan kita nggak memilih sembarang teman ya? Tunggu dulu, cek deh siapa saja yang mem-follow kita di Twitter dan menjadi teman kita di Facebook. Berapa banyak dari ratusan orang itu yang memang kita kenal?

Mari kita sedikit simulasi menjadi pengintil di era Web 2.0. Ceritanya lagi cari teman baru yang wajahnya lucu-lucu nih di Facebook. Kebetulan nih, profil Facebook-nya terbuka untuk publik. Cek ah. Buka-buka galeri fotonya. Lihat-lihat status update-nya. Baca-baca infonya. Oh, ternyata dia punya blog dan Twitter. Cek blognya yang ternyata berisi curhat pribadi. Karena niatnya menjadi pengintil adalah mempelajari karakteristik orang, maka jurnal pribadi di blog ini pun dibaca hingga sebulan terakhir. Lalu melihat Twitter-nya dan mengamati percakapannya. Kita mulai mengenal gaya bicaranya.

Saat itu sudah malam hari, si dia curhat kesal di Twitter karena jalan menuju rumahnya macet. Kebiasaan orang terkena macet adalah menyibukkan diri dengan BlackBerry-nya. Sebentar-sebentar si dia checkin di Foursquare, demi membuang waktu bosan. Kita lalu bisa mengamati pergerakan jalan ke rumahnya, sampai terakhir si dia checkin di rumahnya. Iseng-iseng ah buka lokasinya di Foursquare. Wah, dapat posisi rumahnya jelas. Kalaupun nggak ada alamatnya, tapi karena kita kenal daerahnya, tidak menjadi masalah.

Buka-buka lagi deh foto-foto Facebooknya. Siapa tahu ada dia sedang berfoto-foto dengan keluarga di rumahnya. Ternyata ada dong si dia lagi berfoto depan rumah. Haha, langsung deh bisa dapat bayangan lokasinya. Tinggal diniatkan sedikit datang ke lokasi, tanya ibu-ibu penjaga warung, sampailah kita di depan rumahnya. Melihat polanya setiap hari, kita bisa mengecek kapan dia mulai berangkat ke kantor. Jadi kita bisa memprediksi waktu yang tepat bisa bertatap mata dengan si dia.

Haha, cerita di atas cuma gambaran kasar ya. Bisa jadi benar, bisa jadi tidak tepat (tapi pasti tidak salah). Nah, kalau memang niatnya jadi pengintil, sekarang lebih mudah kok. Nggak perlu menyewa ojek untuk mengintili mobil si dia. Cukup dengan tahu profil Facebook, Twitter, blog, dan Foursquare, kita bisa langsung mengenal karakteristik dan aktivitasnya. Tentu saja dengan asumsi, si dia adalah makhluk Web 2.0 sejati pula yang selalu kebablasan dalam berbagi di dunia maya. Jadi mau jadi si dia atau jadi si pengintil?

Kredit foto: Daquella Manera

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

16 komentar »

  • Kristian :

    Whatever you post on the Internet, will stay there forever. :D

  • mbakDos :

    nah iya nih.. soal foursquarer itu juga pernah selintas saya singgung sih, entah di twitter atau di facebook, saya juga lupa.

    agak riskan nggak sih kalo check in di rumah sendiri, apalagi kalo sampe ada alamat lengkapnya?

  • si Paijah :

    serem juga ya, ketika kita mulai terbuka pada dunia yang di sebut dunia maya

  • Alderina :

    Eh sori ya, aku ga pernah bikin loka rumah sendiri, cari mati…

    (kok tersinggung? :) )

  • Arham :

    Kalau pengintil saya jadi inget kasus lunmay ituh :) )

    Kalau jurnalisnya bukan pengintil pasti ngak nyadar, kan setaip tweet durasinya tajem banget

  • mawi wijna :

    silakan intil saya dan itu tanda bahwa anda orang yang sangat kurang kerjaan :D

  • k0bun the kodok bunc :

    :D makhluk web 2.0 sejati plus: youtubenya kumplit jg.

  • lukman :

    butuh menu pengaturan privasi yang komplit :| *masih kesel sama fb*

  • irawan :

    Privasi masih jadi masalah klise…

  • ikilobo :

    hoho nice post..

  • Ng :

    Sejak jamannya friendster saya udah jadi pengintil lho… (dih..bangga)

  • arieff :

    serem juga ya, ketika kita mulai terbuka pada dunia yang di sebut dunia maya

  • dudukBERSILA » Blog Archive » Penguntit di Sekeliling Kita :

    [...] Oom Pitra mengenai penguntit di media sosial kita juga patut [...]

  • sherry :

    Seperti film Enemy of The State, yang nonton kebanyakan bilang seru. Saya bilang itu menyeramkan, informasi bisa kemana2 lewat internet.

    Inilah dunia di mana kita bisa "playing God" hanya menggunakan Google dan media sosial lainnya itu.

  • elafiq :

    yes.. untung saya nggak eksis di Foursquare… :D

  • ghilbran :

    Bener banget nih. foursquare, facebook, twitter bisa mempermudah researcher untuk ngebuat "day in a life" seseorang dengan gampang.

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge