Dilbert dan Social Media
Salah satu hal yang menarik dibaca di koran Kompas adalah serial komik Dilbert. Komik yang bercerita tentang kehidupan tipikal kantor ini menarik karena penuh sindiran. Beberapa hari lalu, tumben-tumbennya Scott Adams, kreator komik Dilbert ini menyinggung social media di dalam komiknya. Cek dulu komiknya ya.
Si Bos memperkenalkan seorang social media manager bernama Beth. Lucunya, dengan jabatan itu, si Beth tetap tidak boleh menggunakan Facebook atau Twitter karena secara resmi memang tidak diizinkan oleh kantor. Beth tidak pula boleh ngeblog tentang suasana kantornya. Sesuatu yang miris yang sebenarnya terjadi pula di kita. Brand manager, product manager, marketing manager terpengaruh akan hype social media, tapi mereka sendiri tidak pernah merasakan terjun di dalamnya. Kalau pribadi saja tidak pernah merasakan, bagaimana ia bisa memanfaatkan social media untuk skup kegiatan yang lebih besar?
Satu lagi sindiran, kalau kesannya social media itu hanyalah Facebook dan Twitter. Sebenarnya tergantung dari karakteristik produknya sendiri. Tidak semua produk cocok dikenalkan melalui Facebook atau Twitter. Masih banyak situs niche lainnya yang bisa jadi cocok untuk produk yang niche serupa.
Bagi kita yang terbiasa hidup di social media, sepertinya live tweet aktivitas sudah menjadi kebiasaan. Saat berkumpul bersama teman, kita suka men-tweet-kan kejadian lucu yang menjadi obrolan saat itu. Tentunya tidak semua aktivitas harus kita live tweet-kan. Kegiatan kantor yang seharusnya hanya menjadi rahasia kantor tidak sepantasnya dipublikasikan umum di Twitter. Biarlah yang menjadi masalah internal, diselesaikan secara internal pula.
Sayangnya nih baru 3 komik Dilbert yang membahas social media. Mudah-mudahan Scott Adams akan menyindir dunia social media di kehidupan kantor lagi di komik-komik selanjutnya.




Kurnia.septa@gmail.com
Dilematis memang :O
ada sesuatu yg dibatasi dlm bersosialisasi krn tak memungkiri ia bisa lupa, dan berpengaruh pada tempatnya ia berkerja.
mari kita tunggu versi komik selanjutnya
saya malah sering melewatkan dilbert. kadang saya ngga ngerti apa yang dibahas, atau apa yg jadi jokes. mending di sebelahnya, ada spiderman
Hidup memang harus ada aturanya, karena kita tidak sendiri, agar tidak merugikan orang lain. Aturlah……mana yang perlu di publish mana yang gak…
cool…^^
owalah saya selalu gak perhatikan komik ini
Mungkin ada sebagian orang yang masih berpikir kalau fb or twitter hanya main-main saja. Padahal manfaat dari situ banyak lho. Menguntungkan pekerjaan juga. Fb juga bisa menjadi media promosi dalam pekerjaan.
Social Media acapkali menjadi pedang bermata dua.. alih-alih salah strategi bisa membinasakan reputasi dan sebagainya.. penerapan strategi komunikasi bagi korporasi melalui web 2.0 memang perlu SOP yagn baku dan konsisten.. namun demikian pendekatan strategi komunikasi secara tradisional masih banyak dipegang teguh bagi banyak organisasi termasuk itu kalangan militer dan sebangsanya.
Tweet what is necessary and share over facebook what may be worth use towards others.. if otherwise, garbage in then garbage out.. and perhaps more garbage that stings more coming right back at you
Confidence and (self) credibility are the main currencies at this kind of nature
[...] tentang kuliner maka ada istilah ingredient sementara akan berbeda jika pengunjung saya adalah social media savvy yg bergelut di social media marketing yang pahamnya Google Dance, keyword stuffing, atau user [...]
hehehe
lucu dan menghibur
wah, komik dilbert tu emang menggelitik,, banyak fenomena dalam kehidupan yg disinggung dengan apik olehnya.
Gayanya Modern dan sangat Menghibur…Wajib dibaca Guys
kok aku kurang paham tentang postingnya? manager social media tidak boleh fb atau tweeter, bukannya itu merupakan social media selain memang banyak lagi ada?????? aku setuju soal masalah perusahaan jangan sampai di publish……
Terima kasih untuk tipsnya, saya mau coba semoga juga.
foredi purbalingga baru saja menulis..Foredi Gel
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.