Home » Online Living

Berinvestasi di Pasar Digital Indonesia – Sparx Up Awards 2010

6 November 2010 2,855 views 10 komentar

Tema itulah yang dibawakan dalam seminar di Kempinski Ballroom Grand Indonesia yang menjadi rangkaian kegiatan Sparx Up Awards 2010 kemarin. Pembicaranya sangat banyak, dengan keynote dari Mari Elka Pangestu (Menteri Perindustrian Indonesia), Armand Hartono (Direktur BCA), diikuti oleh pembicara Michael Smith Jr – Smitty (Director of Global Initiative Yahoo!), Sarah Lacy (editor dan penulis Techcrunch.com), dan Mike Kofi Okyere (Google Mobile Ads). Acara seminar diakhiri dengan panel diskusi antara Danny Wirianto (Kaskus), Rama Mamuaya (Dailysocial.net), Satya Witoelar (Koprol/Yahoo!), dan David Wayne (Lintasberita.com).

Dalam satu salindianya, Smitty sempat memberikan pandangan yang unik, mengenai ekspor talenta Indonesia. Bila talenta Indonesia punya pengetahuan dan pengalaman untuk bisa membangun skala sebuah aplikasi digital sehingga bisa digunakan seluruh Indonesia, bayangkan betapa bagusnya talenta itu kalau produk itu diimplementasikan serupa di negara lain yang karakter penduduknya mirip dengan Indonesia, atau punya populasi yang lebih sedikit dari Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya aplikasi itu berbasis sosial dan mobile, karena kini mayoritas pengguna internet memang seperti itu. Smitty juga menekankan pentingnya inovasi dalam ecommerce dan metode pembayaran di Indonesia. Karakter Indonesia memang berbeda dengan US. Namun kalau akhirnya Indonesia bisa menemukan solusi masalah ini, pengetahuan tentang ini bisa dipakai untuk negara lain yang punya kondisi serupa dengan Indonesia.

Dalam presentasinya, Sarah Lacy mengajak praktisi startup untuk tidak membandingkan kondisi Indonesia dengan Silicon Valley saat ini, yang ekosistem investasinya sudah berjalan. Seharusnya bandingkanlah dengan Silicon Valley 20-30 tahun lalu, saat masih sangat sedikit perusahaan yang melakukan IPO dan hampir tidak ada venture yang mau membantu. Kondisi saat para startup lebih fokus pada pengembangan produk yang bermanfaat dan menghasilkan revenue bagi dirinya, daripada mengandalkan produk itu dijual ke raksasa dotcom.

Sarah Lacy juga mengingatkan agar praktisi startup untuk selalu tetap terbuka. Sepertinya kini banyak yang terobsesi pada kerahasiaan, takut kalau ide mereka dicuri orang lain. Padahal dengan saling berbagi info dengan startup lainnya, ia bisa jadi malah akan mendapat insight bagus untuk pengembangan selanjutnya. Hal ini sebetulnya yang dikagumi Sarah dengan komunitas startup di Indonesia, karena semangat berbagi informasi ini masih ada. Semangat seperti ini yang sudah tidak terasa lagi di startup US.

Sarah juga berpesan untuk stop whiteboarding, start building. Aplikasi nggak akan jadi kalau cuma terus-menerus dalam tataran konsep. Mesk saat ini sedang bekerja untuk orang lain, manfaatkan akhir pekan untuk mencicil pengembangannya.

Hal penting yang kurang, yang dibutuhkan startup di Indonesia adalah mentoring, dimana para startup mendapat ilmu dan pengalaman dari para senior mereka. Mereka dipandu agar aplikasi yang mereka kerjakan selain bermanfaat untuk orang lain, juga bisa menghasilkan revenue di masa datang. Jangan melulu mengandalkan pendapatan dari advertising, karena kenyataannya revenue yang didapat tidaklah seberapa. Hal ini juga dialami di pasar yang sudah matang di US, bahkan dialami oleh Techrunch.com sendiri. Kembangkan layanan menarik dari aplikasi digital yang dikembangkan, karena layanan/servis memberikan potensi revenue yang sangat besar.

Diakui pula di era digital ini, kita sudah terbiasa mendapatkan segala sesuatunya secara gratis. Akibatnya saat menawarkan produk atau layanan daring, agak sulit mengkonversi pengunjung situs menjadi pembeli. Seharusnya kita perlu memberikan pembelajaran bagi pengguna internet bahwa ada uang yang dikeluarkan dalam setiap transaksi yang terjadi. Mulailah dari mengutip biaya yang sangat murah, mungkin cuma 5-10 sen USD, tapi yang penting para pengguna jadi terbiasa dulu dengan aktivitas ini.

Beberapa hal menarik yang menjadi bahasan diskusi panel di akhir acara seminar adalah sebagai berikut:

  • Menurut Rama, Model bisnis internet freemium, dimana pengguna bisa menggunakan fitur gratis, namun harus membayar saat ingin mendapatkan fitur spesial, belum populer di Indonesia, karena pengguna internet kita belum terbiasa dengan ini. Mereka cenderung akan selalu mencari yang gratis, meskipun fitur spesial itu berbiaya murah.
  • Meski seharusnya situs jangan mengandalkan advertising terus-menerus untuk revenue-nya, namun sayangnya belum ada model pembayaran lain yang bisa dijadikan referensi keberhasilan. Saat ini di Indonesia semua model revenue yang sukses masih dari advertising.
  • David bercerita, setidaknya revenue dari advertising bisa menjadi boost situs di awal-awal, dan membantu pembiayaan server, sebelum model revenue lainnya yang dikembangkan dari produk bisa menjadi sumber revenue berikutnya.
  • Satya bercerita, sebelum diakuisi Yahoo! dulu Koprol sempat ditawari oleh beragam investor. Sayangnya, para investor ini hanya berpikir untuk mendapatkan quick return. Investasi cepat, keuntungan yang diperoleh cepat. Mereka hanya menyuntik dana, namun tidak bisa membantu skalabilitas Koprol menjadi lebih besar. Itulah salah satu alasan kenapa akhirnya Koprol menerima Yahoo! karena Yahoo! bisa membantu memberikan pengalaman kepada tim Koprol untuk mengembangkan Koprol dengan skala yang luar biasa besar.
  • Hal serupa juga diungkapkan oleh Danny Kaskus. Saat ini Kaskus tidak butuh partner atau investor yang membantu dari segi dana, karena tanpa mereka pun, Kaskus sudah bisa berjalan dan sangat menguntungkan. Yang dibutuhkan adalah partner yang bisa mengembangkan Kaskus ke skala yang lebih besar.
  • Jika para investor tertarik mengembangkan sesuatu, investasilah pada tools yang dibutuhkan situs-situs lokal, supaya bisa maju bersama. Misalnya: investasi pada model sistem pembayaran. Meski sistem pembayaran lokal kita di ranah daring itu menyebalkan, namun kenyataannya tetap banyak orang yang bertransaksi daring. Sekedar info, Kaspay sejak diluncurkan 6 bulan lalu sudah menghasilkan 6 milyar transaksi. Sistem pembayaran ini seperti ini akan terus dibutuhkan, seiring pula dilakukan edukasi kepada pengunjung situsnya.
  • Terakhir Danny mengajak para investor untuk tidak takut berinvestasi di perusahaan skala kecil. Melihat perkembangan ranah daring Indonesia, hal ini masih akan terus tumbuh pesat. Kaskus sejak 2 tahun terakhir saja mengalami pertumbuhan page views sebanyak 600 persen. Pasar Indonesia sebetulnya sangat menarik untuk investasi.
Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

10 komentar »

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge