Follow atau Tidak Follow?
Apa yang membuat Anda memutuskan untuk melakukan follow atau tidak mem-follow seseorang di Twitter? Apakah semua orang yang mem-follow Anda akan langsung Anda follow balik? Apakah Anda hanya mem-follow yang Anda kenal di dunia nyata saja?
Buat penulis pribadi, keputusan mem-follow seseorang bukan sepenuhnya karena ia teman atau bukan. Twitter berbeda dengan Facebook yang memang murni situs jejaring pertemanan. Keputusan mem-follow seseorang di Twitter lebih karena orang itu suka menulis tweet yang menarik, terlepas ia adalah teman kita di dunia nyata atau tidak. Namun tentunya ini bisa jadi berbeda dengan Anda.
Biasanya secara pribadi, yang dilakukan sebelum memutuskan untuk mem-follow seseorang adalah begini (mungkin Anda bisa jadi berbeda):
- Membaca profilnya. Apakah ia orang asing atau bukan. Biasanya kalau yang mem-follow adalah orang asing, kemungkinan besar dia bot. Kalau bukan bot, ia adalah pengguna biasa yang mem-follow acak berdasarkan keterangan yang kita sebutkan di profil kita. Misalnya: di profil kita menuliskan social media, maka orang asing yang mengaku-ngaku sebagai pakar social media akan mem-follow kita. Orang-orang seperti ini jelas tidak akan di-follow balik.
- Mengecek apakah pemilik akun Twitter itu punya URL, baik itu mengarah ke alamat blog, profil Facebook, LinkedIn, atau apapun. Intinya, bisa mengenal lebih jauh karakteristik orang itu di luar apa yang ia utarakan di Twitter. Agak malas sebetulnya mem-follow seseorang kalau tidak ada sisi lain hidupnya di luar Twitter yang bisa dijenguk.
- Melihat komposisi follower dan following-nya. Kalau sama rata, agak mengkhawatirkan. Entah kenapa mungkin saja orang itu hidupnya hanya di Twitter. Ini lebih ke sekedar perasaan yang nggak bisa diargumentasikan sih. Mungkin saja Anda punya opini berbeda.
- Tanggal ia membuat akun Twitter. Kalau masih baru, jelas tidak akan di-follow (jadi maafkan untuk Anda yang selalu minta follow back ya). Jumlah follower yang terlalu banyak padahal akunnya baru dibuat juga mencurigakan. Bisa jadi follower-nya bot juga.
- Gaya ia menuliskan tweet. Kalau sering banget ia melakukan reply dengan RT jelas bikin malas. Linimasa jadi tidak enak dibaca. Kultwit juga demikian. Kalau masih dalam batasan wajar, sekitar 10 tweet berturut-turut masih tidak masalah. Namun kalau sudah ratusan, duh, maaf deh.
- Faktor penting yang nan tak kalah penting adalah apakah avatarnya menarik atau tidak. Kalau perempuan, faktor wajah cantik akan memberikan pengaruh lebih besar untuk di-follow balik. Tentunya asal ia memenuhi syarat 1-5 di atas.
Nah, kalau Anda sendiri, apa yang membuat Anda memutuskan untuk mem-follow seseorang atau tidak?

[...] This post was mentioned on Twitter by wahyu27°, andhika awalludin, Retno Dwi Lestari, Inne Nathalia™, Amira Dewiningtias and others. Amira Dewiningtias said: RT @mediaide: new blog post: "Follow atau Tidak Follow?" http://bit.ly/eldAgA [...]
kalo gue, karena beberapa faktor berikut,
1. keterkaitan dan kepentingan dengan profesi
2. kedekatan atau rasa kenal atau tidak
3. jenis twit yang sering diucapkan
4. hubungan personal dengan pemilik akun
tapi ada satu prinsip yang cukup baku: kalo sering ngetwit dengan konteks RT abuser, mau itu brand atau personal, ujung2nya pasti bakal di-unfollow. kalo sesekali, ya masih dimengerti.
*serius*
Billy Koesoemadinata baru saja menulis..cokelat-addict
Kurang lebih sama dengan kakak Pitra
kalo Rusa, yg terpenting bagaiamana dia reply twit2 Rusa
follow doank gak pernah reply, jelas gak bakal difollback,
dan replynnya masih aja pake RT, maaf kamu masih amatiran! hehe
yg pasti twit2nya harus menarik dan nggak cuma berisi obrolan2 ga jelas bersama teman2nya.. n definitely not an RT abuser
kania baru saja menulis..HASIL Voting Jawara & Tersohor IMBlog Choice Awards 2011
Yang nomer 6 penting banget tuh, pit.
@HadiGunawan baru saja menulis..Tips Beli External Harddisk
Klo saya si biasanya follow back temen baik sama temen-dari temen yg tweetnya menarik dan gk RT abuser..
Klo sekedar temen deket si sangat bisa di tolerir masalah RT abuser hihihi
Jadi menurut mas pitra jumlah tweet wajar dalam kultwit itu berapa? 10? Klo terlalu banyak bikin bosen ya?
to follow or not to follow, that is the question
rara baru saja menulis..Sunset in Jakarta
sayangnya ada temen2 masih menganggap twitter bersifat personal. “kalo lo ngga follow, gw ngga mau temenan ama lo”. jadi terpaksa kita follow (kl yg kasian sih).
tp saya sering tidak memfollow jika si teman memang tidak punya bahasan yg menarik. cukup memasukkannya di list saja. jadi sekali2 kita tengok list sekedar liat update berita apa dr mereka.
Bung Iwan baru saja menulis..Desainer Grafis Mula-mula
mas ada kaos BLOGGER GO GREEN cuma 45 ribu saja kok
bahannya katun kombet 20s
minat mas? disini yaa
http://cahyanugraha.wordpress.com/2011/02/20/kaos-blogger-go-green-for-sale/
cahya nugraha baru saja menulis..KAOS BLOGGER GO GREEN FOR SALE
Saya akan follow back tapi kalo dlm 1 bulan gak aktif ngetweet saya unfollow. Thanks for following @kurniasepta
Sayangnya aku ndak suka ngetweet ama nge-fb
nice artikel…
uda join bang .. join balik ya..
4Presentation baru saja menulis..Blue Tecno
Mhmmm….
Koq saya seperti deja-vu baca “pakar social media”
*kalem*
hehe kalau ada yg minta, pasti aku folback..
dan tentu orang2 inspiratif yg pengen aku kenal. yg cakep juga siii
)
kw baru saja menulis..teman yang selalu menunda pulang
biasanya sih kalo aku follow orang-orang yg nge-tweetnya nyambung sama aku, dan yg pasti menarik juga. tapi kadang aku follow orang, klo orang itu minta di-follow, tapi klo aku kenal biasanya lgsg aku follow.
tapi aku lebih banyak following daripada followers, karena aku banyak follow orang-orang yg tweet-nya inspiratif.
please follow, @naritadamay
Oh bahas twiiter to.. saya salah perkiraan nih, kukira pada bahas NoFollow atau do follow nya blog atau link di dalam blog…. Lain kali bahas NoFollow dan DoFollow nya blog ya om….
[...] ini media-ide.com mengeluarkan blog yang berjudul “follow atau tidak follow ?â€. Blog ini berisi tentang apa yang membuat seseorang memutuskan untuk melakukan follow atau tidak [...]
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.