Home » Online Branding

Aksi Donasi Brand di Social Media

4 August 2011 3,589 views 10 komentar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap memasuki bulan Ramadhan, banyak brand menunjukkan kepeduliannya melalui program CSR mereka. Bedanya di tahun 2011 ini, ada beberapa brand yang mulai menjadikan kanal social media (Twitter dan Facebook) sebagai medium CSR mereka. Hingga saat ini (yang terdeteksi) sudah ada 4 brand lokal yang melakukan aktivitas CSR mereka dengan mekanisme yang berbeda-beda.

1. Dove Indonesia – Real Care

Aksi Dove ini yang paling menonjol. Mereka mengajak pengguna Twitter untuk berdonasi melalui tagar #realcare. Setiap tweet dengan #realcare akan dikonversi menjadi donasi sebesar Rp.1.000,00. Dengan tanpa mengandalkan buzzer sama sekali, informasi ini menyebar dari tweet ke tweet. Dove juga akan menyumbangkan Rp.5.000,00 untuk setiap pengguna Twitter dan Facebook yang mau memasang twibbon Real Care di avatar mereka.

Sebagian besar isi tweet yang muncul memang sebagian tidak menunjukkan korelasi dengan makna #realcare yang dimaksud oleh brand. Meskipun demikian, tagar #realcare ini semalam sempat sejenak masuk menjadi salah satu worldwide trending topic. Hihihi, mudah-mudahan bujet donasi brand bisa menutupi ribuan tweet yang bermunculan dalam semalam.

Nantinya hasil sumbangan akan digunakan untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia, melalui Yayasan Cinta Anak Bangsa – HoPe program yang sudah dipilih oleh PT Unilever Indonesia, yang menjadi induk brand Dove.

2. LG – Cup of Faith

Sebelumnya LG pernah membuat program CSR Share The Joy di Facebook. Melalui Facebook, setiap pengguna yang me-like LG akan terkonversi menjadi batu bata virtual. Setiap batu bata yang terkumpul ini akan dipakai untuk membangun tempat belajar bagi anak jalanan di Bekasi.

Lalu di bulan Ramadhan ini, LG kembali membuat program CSR mereka yang kedua, yakni Cup of Faith. Kali ini setiap tweet dengan tagar #cupoffaith akan dikonversi oleh LG menjadi 1 mangkuk beras 250 ml. Setiap fans Facebook juga bisa melakukan kontribusi serupa dengan membuka aplikasi Cup of Faith dan menekan tombol donasi. Total mangkuk beras yang disumbangkan bisa dicek langsung di Facebook Page LG.

3. Gery Chocolatos

Sejujurnya aksi kepedulian yang dilakukan brand ini agak aneh. Katanya setiap follower akun ini akan dikonversi menjadi Rp.500,00, yang nantinya akan disalurkan kepada ribuan anak jalanan. Dengan jumlah follower akun ini sekarang yang sebanyak 17.000, berarti minimal sumbangan yang akan diberikan adalah sekitar 8,5 juta.

Aksi serupa dahulu kala pernah dilakukan oleh @indonesiaberdoa, yang kala itu mengkonversi setiap follower-nya dengan Rp.25,00. Kesan yang ditimbulkan dari aksi @indonesiaberdoa saat itu adalah adanya rasa pamrih saat melakukan sumbangan. Entahlah apakah kesan serupa ini muncul pula di aksi yang dilakukan oleh Gery Chocolatos. Menurut kalian bagaimana?

4. ABC Dapur Peduli

Yang dilakukan oleh ABC Dapur Peduli mirip dengan Gery Chocolatos. Setiap 3 follower akan dikonvesi menjadi sumbangan makan untuk 1 kaum dhuafa. Berbeda dengan Gery Chocolatos, aksi yang dilakukan ABC Dapur Peduli ini terlihat jauh lebih nyata. Bentuk sumbangannya langsung jelas dalam bentuk makanan, dan itu pun langsung dilakukan sore setiap harinya. Aksi ini pun langsung diinformasikan melalui Twitter, lengkap dengan foto dokumentasinya.

Pilihan berdonasi di social media kini semakin banyak. Tinggal terserah nih mau mencoba yang mana. Yang jelas, bagi kita yang ingin berdonasi, sebaiknya kita pastikan dulu hasil donasi ini akan disumbangkan dalam bentuk apa dan kepada siapa.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

10 komentar »

  • sibair :

    saya lebih suka cara abc ketimbang gerychocolatos… walaupun sama-sama di hitung dari banyaknya follower tapi abc bisa kasih bukti langsungnya :D

  • Koen :

    Tapi user dihargai terlalu murah jika sumbangan dihitung per follow. Satu follow (dengan potensi gangguan dll) dihargai 25, 500, atau sepertiga piring? Pasti lebih menarik untuk sumbangan yang dihitung per tweet. Kita bisa tweeting beberapa kali, kan?
    Menurut loe gimana, Pit?

  • memeth :

    bagaimana kita bisa tahu, bhw ‘janji’ ato klaim mrk beneran tersalurkan scr tepat ke mereka yg jd sasaran csr?

    soal cara donasi abc, astaga itu murah / sedikit sekali kl diliat/diitung sbg csr company segede abc. 3 follower utk kasi makan satu dhuafa!
    seporsi makan utk dhuafa paling mahal brp sih, 20rb katakanlah.

    tapi sekali lg, tersadar. csr bukan community development. dia cuma PR dibungkus aksi sosial. jd kl tujuan sosialnya ga begitu dpt *dr segi seberapa luas dampak dan keberlangsungannya* ya jelas bukan prioritas dibanding dampak PR dan branding.

    bukan begitu kakak pitra?

  • Pitra Satvika (penulis) :

    @koen:
    kalau memang niatnya donasi dalam jumlah yang gak tanggung, ya seharusnya berani pake hashtag ya. Kalau jumlah follower kan sangat bisa diprediksi. Seperti ABC dan Gery, sudah bisa diprediksi jadinya batas atas donasi yang akan diberikan.

    @memeth:
    CSR = corporate social responsibility –> kewajiban perusahaan untuk peduli terhadap sosial. Umumnya memang benar, aksi PR yang dibungkus misi sosial. Namun perlu diingat juga, hal seperti ini masih baru di ranah socmed. Kita lihat saja, berapa besar sentimen positif dan negatif akibat kampanye ini. Kalau positifnya tinggi, ya berarti berhasil. :)

    Untuk janji akan disampaikan ke yang tepat itu juga masalah lain. Paling aman, ya seperti yang dilakukan Dove di atas, menyerahkan sepenuhnya ke yayasan yang memang dianggap credible untuk hal itu.

  • blontankpoer :

    saya bingung. kerja public relations tereduksi dari tujuan idealnya. repotnya, mungkin perusahaan tak punya orang cakap dalam hal komunikasi, sementara agency-nya terlalu memandang follower sebagai follower. matematikanya sangat sederhana, tak sebanding dengan misi ‘mulia’ yang seharusnya dijalankannya.

    media sosial, mungkin sudah diasumsikan seperti halnya ruang iklan media cetak atau waktu siar pada media elektronik, sementara follower(seperti halnya pembaca/penonton/pendengar) diperlakukan sebagai makhluk penurut, asal embat informasi, mengabaikan faktor inner mereka yang sejatinya sebagai penyimak timeline yang aktif memilah dan memilih pesan.

    selebihnya, saya bingung sendiri. gumun… tapi salut dengan postingan di atas.

  • All Unique Things :

    Ha3… mantaps dah… ternyata Brand kita juga nggak mau menyianyiakan kesempatan ini…

  • bukik :

    Aku lebih memilih caranya #Realcare. Pertama, memungkinkan jumlah donasi terkumpul yang besar. Kedua, tidak sekedar karikatif, seperti memberi makan. Dan kupikir untuk brand besar, sudah tidak pantas melakukan CSR hanya dengan pemberian bantuan yang karikatif.
    Aku menulis di posting Ramalam 2011, kerja sama brand dengan gerakan sosial akan semakin banyak. Tantangannya adalah mencari bentuk yang memuaskan baik bagi brand, gerakan sosial maupun masyarakat sasaran.
    Semoga bertambah kreatif

  • Printing :

    mantab tw,,, :)

  • kado unik :

    keren …

    saya suka aksi dove :)

  • Dimas :

    entah kenapa gue melihat bola di konsumen. Brand terkadang bingung mencari cara memuaskan opini masyarakat media social. mereka menyasar persebaran berita setelah kampanye dilaksanakan. mereka ingin mengupayakan keterlibatan. selain menghitung jumlah follower serta menghitung tagar dan di kali lipatkan dengan nominal tertentu ya mereka belum menemukan cara mengkaitkan kampanye dengan bola salju respon dari konsumen. kalau ngga mendeteksi follower atau jumlah tweet di hashtag, mereka ngerasa cuma nyebarin berita aja mungkin.

    ah bingunglah gue..

    gue ikutan aja deh, mungkin satu. minimal bikin tuh duit nyampe ke orang lain. ada yang berbahagia juga..
    Dimas baru saja menulis..Satu Langkah Besar dari Sang Kakak

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge