Belajar dari Sims Social
Belakangan ini yang lagi gila dimainkan di Facebook adalah game franchise dari Electronic Arts, yakni Sims Social. Unsur permainan yang sudah adiktif di dalam game Sims diadaptasi dan dikembangkan dengan memanfaatkan unsur sosial. Jadinya ya, lebih adiktif lagi. Untuk rekan-rekan yang bergelut di bidang kreatif online, banyak elemen dari game Sims Social ini yang menarik untuk dipelajari. Tujuannya, supaya kita lebih paham mekanisme game dan bisa mewujudkan elemen-elemen ini dalam konsep kreatif online yang mungkin kita ajukan ke klien.
Sejak setahun ini cukup banyak kampanye brand yang memanfaatkan mekanisme game. Menarik sih, kalau kampanye brand itu menjadi adiktif bagi penggunanya, maka si pengguna akan terus-terusan bermain. Semakin sering bermain, pesan yang ditanamkan brand pun bisa semakin dalam. Dahulu di blog ini pernah dibahas beberapa contoh kampanye seperti ini. Silakan cek tulisan ini dan tulisan ini.
Lalu elemen menarik apa yang bisa dipelajari dari Sims Social?
1. Ada aktivitas dan tugas (quest)
Salah satu yang ditunggu-tunggu saat bermain ini adalah munculnya quest baru. Ini seakan-akan menjadi tujuan permainan, menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Meski pola permainan yang ditawarkan Sims Social repetitif, tetap saja hal ini menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Pernah suatu ketika, pemain kehabisan quest, menunggu pengembangnya mempublikasikan yang baru. Saat ini terjadi, rasanya tujuan permainan pun hilang.
2. Level
Yang unik di Sims Social ini ada banyak jenis level. Ada level utama yang ditentukan dari tingkat aktivitas bermain. Ada pula level-level skill (artistik, memasak, menulis, dan musik) yang bisa diselesaikan dengan melakukan aktivitas yang membuang energi.
3. Nilai
Selain quest, Sims Social menawarkan banyak “nilai” yang membuat permainan menjadi semakin kompetitif. Ada mata uang simoleon, social point, dan nilai bangunan. Simoleon didapat dengan melakukan setiap quest. Social point didapat dengan banyak berkunjung ke rumah tetangga (yang juga teman kita sendiri). Sementara nilai bangunan menentukan peringkat kita di antara teman-teman. Kita dipicu untuk membuat nilai bangunan kita lebih tinggi di atas teman kita. Adanya nilai membuat kita ingin berkompetisi, yang ujung-ujungnya akan membuat kita untuk terus bermain.
4. Limitasi permainan
Sims Social menjaga agar pemain terus berulang main dengan cara membatasi energi pemain. Setiap aktivitas di game ini akan membuang energi. Saat energi habis, pemain harus menunggu selama waktu tertentu sebelum energi terisi penuh kembali. Melalui limitasi ini, pengembang game mendapatkan penghasilannya. Pastinya banyak orang di dunia ini yang nggak sabar. Kalau mau, mereka bisa mengeluarkan sejumlah dollar untuk bisa melewati limitasi ini.
5. Shopping
Kalau sudah punya simoleon dan social point, lalu apa? Beberapa hal yang sering terlewat dalam game yang ditawarkan brand dalam kampanyenya adalah point yang dikumpulkan tidak bisa dipakai untuk apapun. Di Sims Social, simoleon dan social point bisa dipakai (dan harus dipakai) kalau ingin nilai bangunannya menjadi lebih tinggi. Bisa juga dipakai untuk membuat penampilan avatar menjadi lebih keren. Desain pakaian yang keren hanya bisa dibeli bila kita punya ribuan simoleon.
6. Aspek sosial
Elemen ini yang membuat Sims Social berbeda dengan seri game Sims pendahulunya. Seperti game Facebook lainnya, keberadaan teman sangat membantu penyelesaian quest di game. Kita bisa minta tolong teman untuk menyediakan barang yang kita butuhkan, tapi kita tidak punya. Game ini memang diciptakan agar orang bisa saling membantu, melalui platform yang disediakan oleh Facebook.


Wahahaha bikin ngiler……..
Dulu pernah nyoba sims life, tapi paling suka dengan sims city dengan kompleksitas sebuah kota
Kalau dalam sims city, dan kupikir pada sims social juga, ada banyak pelajaran yang bisa didapatkan
Paling tidak sadar bahwa satu elemen itu berkaitan dengan elemen yang lain yang akhirnya menentukan tindakan-tindakan kita. Games yang memudahkan bagi mereka yang ingin belajar berpikir sistem
Dulu aku mikirnya, para birokrat harus bermain sims city biar sadar apa dampak keputusan kecilnya pada keseluruhan kota
wah aku jadi inget waktu main sim jaman kuliah 9 tahun lalu… udah sejauh itu sekarang … hiks ketinggalaaaan.
game bagaikan kehiduppan oke
ibinmuksin baru saja menulis..Shorof Alquran : Islamic version of the corruption prevention
belum pernah nyoba main, perlu di try nih
hhaha .
mainanku dulu nih
d.hp ada , lepy ada , PS ada .
sayyang sekarang dah bosen .
hhaha
http://www.hajarabis.com
Sudah lama banget gak mainan games, sims yan dulu banget waktu kuliah lumayan sering main sih, sekarang mah sudah terlalu sibuk kejar setoran…
games nya mudah banget tuh he he he
[...] lagi tren dimainkan? Kalau misalnya, mereka sekarang lagi doyan main Sims Social, apa yang bisa dipelajari dari game ini, dan mungkinkah diadaptasi ke konsep yang akan kita buat? Kalau misalnya, mereka lagi suka [...]
belum pernah main dan ane coba main dulu
emm…. apa masih seperti dulu?
nur baru saja menulis..sewa elf
Yaaa saya jg sedang in banget dengan game ini. terutama aplikasi yang dari facebook. Beda sensasinya dengan game build in yg diinstall di software laptop dulu.
[...] sih jelas. Siapa sih yang nggak main Sims Social, Ambrosia, Farmville, Poker, dll di Facebook. Saking banyaknya pemain Indonesia, game publisher [...]
Tinggalkan komentar Anda!
Facebook Page
Books
Media Ide Friends
Kategori
Arsip
Tag
WP Cumulus Flash tag cloud by Roy Tanck and Luke Morton requires Flash Player 9 or better.
Artikel Terakhir
Komentar Terakhir
Setiap materi dalam blog ini boleh Anda kutip, sepanjang Anda mengikuti ketentuan Creative Common Attribution-NonCommercial-ShareAlike 2.0.
© 2005-2008 Media Ide. Didukung oleh PT Strategi Optima, menggunakan WordPress dengan theme modifikasi dari Arthemia.