Home » Online Living

Merekam Jejak Tweet

18 October 2011 2,657 views 10 komentar

Seringkali saat mengamati suatu kejadian menarik di social media, ada hasrat keinginan untuk menuliskannya di blog. Tujuannya baik, untuk mendokumentasikan peristiwa itu, sehingga bisa jadi pelajaran yang bisa diingat bersama. Apalagi rangkaian percakapan di Twitter akan cepat hilang dari pencarian, sehingga blog menjadi medium yang tepat untuk merekam rangkuman percakapan itu.

Ada yang melakukannya dengan mengambil tangkap gambar tweet, ada yang meng-copas tweet itu ke blog. Ada yang lebih elegan dengan menggunakan tools seperti Chirp Story, yang menyimpan ID status tweet yang diinginkan dan menampilkannya secara kronologis. Contohnya bisa dilihat di tulisan ini.

Sebenarnya tweet yang kita buat sejak bergabung pertama kali di Twitter, masih tersimpan di database Twitter. Hanya saja fitur Twitter Search membatasi hanya 1.500 tweet terakhir. Kalau kita tahu ID status tweet, kita sebetulnya bisa memanggilnya. Cara inilah yang dilakukan oleh Chirp Story. Cara ini lebih elegan karena menghormati pemilik tweet. Ketika pemilik tweet menghapus tweetnya, mem-protect akunnya, atau menghapus akunnya sehingga hilang juga dari database Twitter, maka data tweet ini pun ikut hilang dari Chirp Story.

Beberapa kali di Twitter muncul sebuah tweet yang saking kontroversinya membikin geger semua linimasa. Apalagi saat tweet ini direspon oleh beberapa individu yang sangat kritis. “Peperangan” dalam Twitter pun dimulai. Terkadang berakhir dengan si penyulut kontroversi merasa terpojokkan dan akhirnya menutup akun.

Sebagai blogger dan praktisi digital yang mengamati keramaian di social media, tentu ini menarik untuk disimak. Menarik untuk mempelajari penyebab itu semua. Inginnya sih bisa mendokumentasikan runutan cerita yang akhirnya menyebabkan “peperangan” terjadi.

Memang hingga saat ini tidak ada azas kepatutan atau etika yang membatasi seorang blogger apa yang boleh atau tidak boleh untuk ditulis. Terserah masing-masing blogger, toh ini medianya sendiri. Mau menulis semua runutan cerita di tweet itu satu persatu juga tidak ada larangannya. Lagi pula niatnya baik, untuk mendokumentasikan.

Bisa jadi pendapat ini berbeda dengan blogger lain, namun kalau di blog ini ada satu hal yang dipegang. Mencoba untuk mencontoh seperti yang dilakukan oleh Chirp Story, dengan mencoba menjaga agar tulisan di blog ini tidak melanggar hak orang lain.

Kalau ada kejadian “peperangan” seperti di atas, misalnya, maka blog ini lebih cenderung menuliskan peristiwa yang terjadi tanpa perlu menyebutkan nama. Apalagi kalau sampai terjadi, salah satu pelakunya sampai menutup akun karena merasa terpojokkan. Terlepas dari benar atau salah, saat individu itu akhirnya menutup akun atau menghapus tweet, sebaiknya tindakan itu bisa dihargai dengan tidak memperluasnya lagi.

Kalau cerita “peperangan” ini memang ingin didokumentasikan demi memberi masukan pengalaman ber-social media yang lebih baik, toh bisa diceritakan tanpa perlu menyebut jelas-jelas akun yang dimaksud. Ambil hikmahnya saja, misal: kenapa sebaiknya tak boleh menulis tweet ini, apa yang harus dilakukan kalau nanti kejadian serupa terjadi pada diri sendiri, dll.

Apa yang ditulis di atas ini bukan harga mati ya. Bisa saja ada blogger yang memaknainya berbeda. Seperti telah disebutkan di atas, belum ada etika yang mengaturnya. Jadi tidak (belum) ada aturan bakunya. Bisa saja Anda setuju dengan pendapat di atas, bisa saja tidak. Paling gampang sih, kembalikan saja ke suara hati Anda sendiri.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

10 komentar »

  • Kurnia Septa :

    tentang membatasi penyebutan nama yang gambalng perlu dikurangi, saya setuju.
    Ah.. tulisan ini sepertinya cocok sebagai komentar salah satu tulisan blogger A yang membahas peperangan antara seorang dengan penulis biografi di twitter. sampai menutup akunnya.
    Kurnia Septa baru saja menulis..Dolan ke Pantai Tambak Rejo

  • Rusa :

    ini pelajaran untuk SS kan Pit #eaaa
    Rusa baru saja menulis..Kenalan dengan Sanif Olek, Penerima Anugerah Teladan Bawean Singapura

  • Sriyono Smg :

    Dah lama nggak mainan tuit tuitan jugaaa… :D
    #sedangberusahatidakterlaluseriusdenganhidupini…

  • Aliyah :

    Setuju. Harus hati-hati nih bertuit. Salah2 ada yang tersinggung atau dirugikan.

  • agussupria :

    betul ada kalanya tulisan yang dibuat bisa menjadi bumerang buat diri sendiri dan ada juga yang bermanfaat buat orang lain…

  • Toko Baju Muslim :

    ummm,,, makasih yah info-infonya, keep to share GAN
    Toko Baju Muslim baru saja menulis..Tips Fashion Pria – Bagaimana Memakai Shorts

  • asti :

    untuk berkomunikasi di jejaring sosial tidak hanya dengan twiter, atau yang lainnya. Maka kita harus berhati-hati mengingat penggunanya sangat banyak. jangan sampai ada kata2 atau kalimat yang dapat menyinggung atau merugikan masing2 individu.
    asti baru saja menulis..Ayam Bumbu Andaliman

  • akatsuci :

    enak ya pakai twiter ?

  • snydez :

    sebenarnya untuk mendokumentasikan conversation cocoknya pakai exquisitetweets.com
    snydez baru saja menulis..icon 2.0

  • yurita viviyani :

    aku harap apa yang aku sampaikan dapat bermanfaat untuk semua orang

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge