Arsip Artikel dengan Kategori Experiential
Experiential »
Sudah lama nggak ke Surabaya. Saat mendarat, disuguhi dengan bandar udara internasional Juanda yang baru, yang masih resik dan sekilas bersuasana seperti bandar udara Changi di Singapura. Seperti biasa, fasilitas komuter baru pun nggak akan bisa lepas dari iklan. Jualan medianya terasa ada dimana-mana, meski sebagian tampak ditampilkan dengan cara yang tidak biasa. Yang paling unik adalah 2 media berikut: kereta troli dan garbarata.
Experiential »
Snack Megumi Minori dari Calbee (di Indonesia dipegang oleh Unilever Indonesia), mengusung tema Jepang (negeri asal muasal snack ini) dalam event J-Topia yang diselenggarakan hari Minggu kemarin. Sekitar hampir 2 bulan lalu, promo event ini dimulai dengan penyebaran viral berupa animasi lucu Megumi dan Minori. Selanjutnya, promo dilanjutkan lebih gencar melalui iklan-iklan radio.
Experiential »
Sudah pernah lewat halte Busway Tosari? Di sana ada billboard Asuransi Garda Oto yang menampilkan nenek sihir menabrak jembatan Busway. Jarang memang ada billboard tidak biasa seperti ini, yang memanfaatkan model/patung 3 dimensi sebagai elemen komunikasi billboard.
Experiential »
Apa yang dilakukan Pak Gatot dengan jualan Es Gorengnya memang agak berbeda dengan penjual-penjual es potong lainnya. Setiap harinya, ia berjualan di alun-alun utara Yogyakarta, dan cara menjualnya yang menarik, katanya, sempat diliput oleh Harian Bernas Yogyakarta. Lalu, apa yang aneh dengan jualannya?
Experiential »
Ada yang memperhatikan Mal Ambassador sejak minggu lalu? Di depan kaca gedung mal ini ditempeli stiker-stiker raksasa Trenz. Stiker bergambarkan orang yang lagi memanjat ini ditempelkan di kaca gedung, seakan ingin menangkap stiker raksasa bergambarkan produk Trenz yang ditempel di kaca bagian atas. Asyik juga ya kalau setiap saat kita bisa melihat ada brand beriklan di ruang luar secara tidak biasa. Bukan sekedar billboard melulu!
Experiential »
Outdoor advertising, such as billboards, has been known for years. Different kind and size of billboards have populated our environment, filling every intersection of our cities. While billboards give significant benefits to local government and sponsored brands, the excessive location often cluttered our landscape and points of view. Alternative outdoor advertising aside of billboards need to be considered if we want to please involved stakeholders. Local government needs the tax revenue, advertising agency needs the placement fee, the institution needs to have their brand exposed to gain people’s awareness, and the public needs their clear-of-sight environment.
Experiential »
Kapan penempatan suatu iklan menjadi terasa keterlaluan? Jawabnya, saat ditempatkan sebagai bagian dari tubuh kita atau pakaian yang kita kenakan. Sebuah klub di US pernah menyajikan kampanye Booty Call, dengan menempelkan pesan kampanye tersebut di celana dalam model pria dan wanita. Selanjutnya, para model itu memamerkan celana dalamnya ke pengunjung yang lalu lalang di jalan. Hal serupa pernah dilakukan Kodak melalui SPG-nya yang berpakaian rok mini, yang berpura-pura mengambil barang jatuh, dan secara “tidak sengaja” memamerkan celana dalam beriklan Kodak di balik rok mini tersebut.
Experiential »
Saat semakin clutter-nya media iklan, kebutuhan produk untuk tampil tidak lagi cukup hanya sekedar beriklan di televisi, radio, atau koran. Banyaknya iklan yang diputar di setiap acara ber-rating tinggi malah membuat iklan tersebut tidak mau dilihat penonton. Dengan gampang, penonton tinggal berganti saluran, menunggu beberapa saat, lalu menekan kembali saluran sebelumnya berharap iklan sudah berlalu. Brand akan membuang biaya placement yang percuma saat iklannya tampil di tengah-tengah deretan iklan, tanpa ada yang menyaksikannya.



