Info dan artikel baru seputar advergame, animasi, komik, video, viral, dan website.
Avatar Your Voice, Game Teriak-teriaknya Soundrenaline
Kategori: Advergame, Event, Local Game — Pitra @ Wednesday, August 22, 2007, 12:44 pm

(Sumbangan artikel dari Bullitt Sesariza, punggawa A-Box)

Bagi para penggemar musik, apalagi musik rock, bulan Juli-Agustus kemarin terdapat event musik raksasa: A-Mild Soundrenaline yang digelar di 5 kota: Padang, Palembang, Bandung, Surabaya, dan Denpasar.

Avatar Your VoiceEvent yang hingar-bingar ini sangat sukses mengumpulkan crowd massa, namun karena acaranya berlangsung dari pagi sampai jauh malam, maka diperlukan aktivitas lain agar massa tersebut tidak bosan dan pulang di tengah acara. Agar para pengunjung betah, oleh penyelenggara disiapkan beberapa games di sekitar venue baik yang low-tech maupun high-tech.

Beberapa game yang ada juga disesuaikan dengan tema Soundrenaline: Sounds of Change. Salah satunya adalah Avatar Your Voice, game dimana pemain merubah karakter Avatar dengan menggunakan suaranya.

Avatar Your VoicePara pemain dipersilahkan masuk ke dalam kotak berukuran 2 x 1.5 meter yang di dalamnya terdapat layar LCD dan mic. Lalu pemain diminta berteriak, dan karakter di layar ter-upgrade mendengar teriakan itu. Dari yang sekedar memakai baju dalam hingga memakai celana, baju, aksesoris, dll. Semakin keras dan panjang teriakan, maka tampilan karakter akan menjadi semakin keren. Di akhir game, para pemain mendapat kenang-kenangan berupa VCD tampilan layar dan expresi mereka.

Orang yang berminat memainkan game ini sangat banyak, sehingga antrian sampai berkelok-kelok. Namun yang seru adalah di luar kotak terdapat LCD yang menampilkan ekspresi orang yang sedang berteriak di dalamnya, sehingga menjadi hiburan tersendiri bagi calon pemain yang sedang antri.

Ada yang berteriak sampai mukanya merah, serak, batuk-batuk, ala rocker, dan macam-macam ekspresi lucu lainnya. Game ini juga bisa dimainkan laki-laki atau perempuan, dan bisa dimainkan sampai 4 orang bersama-sama.

Avatar Your Voice

Artikel lalu yang relevan:

Sudah Ada yang Mencoba Lilo?
Kategori: Advergame, Local Game — Pitra @ Monday, August 6, 2007, 1:12 am

Membuat game itu susah, apalagi kalau yang dibuat itu berupa multi player online. Kompleksitasnya tinggi. Tapi bukan berarti nggak bisa dibuat. Beberapa tahun lalu, tim Altermyth Studio sempat mengembangkan game multi player online berjudul Inspirit Arena. Meski kini sudah dipublikasikan di bawah Boleh.com, game ini belum juga diluncurkan secara resmi.

Yang susah dari pembuatan game multi player online, pekerjaan pengembangan game belum selesai setelah game diluncurkan. Pengembang harus memelihara dan menjaga agar game bisa berlangsung dengan lancar 24 jam. Belum lagi tuntutan desain elemen baru, dari item, quest, hingga setting baru, supaya pemain bisa terus-menerus bermain tanpa bosan, karean ia selalu menemukan hal baru.

Mungkin karena kendala bujet pula, akhirnya game Inspirit Arena ini keduluan oleh game multi player online terbaru yang berjudul Lilo. Berbeda dengan Inspirit Arena yang berbau fantasi, game Lilo ini justru bertemakan keseharian. Dunia yang dilewati para pemainnya pun adalah kompleks perumahan yang kurang lebih tidak berbeda dengan kompleks perumahan di Jakarta. Konsepnya menarik, dan membuka peluang masuk banyak sponsor di dalamnya. Tentu harapannya, dengan adanya dukungan sponsor akan membuat game multi player online ini dapat terjaga kontennya dengan baik.

Sayangnya, game Lilo ini kayaknya kurang dari sisi menjaga keberlangsungan pemain. Promonya sudah gencar dimana-mana, bahkan sudah mendapat dukungan kuat dari Indosat IM3. Gaungnya sudah terdengar dimana-mana. Iklannya di media cetak, hingga promo Indosat di pameran-pameran juga mengangkat nama game Lilo ini. Selain Indosat IM3, game Lilo ini juga didiukung oleh media majalah Gadis, radio Prambors, hingga grup Slank. Hal ini bisa dilihat pula dari toko-toko dan banner yang didesain apik di dalam game-nya.

IM3

Slank

(lanjut?)

Game sebagai Bagian dari Brand Activation
Kategori: Advergame, Event, Local Game, Advertorial — Pitra @ Monday, May 14, 2007, 5:46 pm

Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak brand yang melakukan aktivasi melalui kegiatan-kegiatan yang langsung berhubungan dengan konsumen. Dari sebatas sampling hingga terlibat dalam beragam event di sekolah, pertokoan, mal, hingga roadshow keliling daerah. Dengan kegiatan aktivasi ini, brand ingin semakin dekat dengan konsumennya dengan cara mengajak mereka terlibat langsung dalam acara dan fasilitas yang disediakan oleh brand. Keinginannya, agar para konsumen bisa merasakan langsung pengalaman yang diberikan oleh brand.

Salah satu cara agar konsumen merasakan pengalaman langsung bisa dilakukan menggunakan game. Berbeda dengan game yang dimainkan melalui internet atau CD-ROM, game di event membutuhkan perlakuan yang sedikit berbeda. Biasanya agar lebih menarik, para pemain diajak untuk sedikit menggunakan fisiknya dalam melakukan interaksi game. Dari yang sederhana menggunakan touch screen, hingga yang “memaksa” pemain untuk meloncat-loncat dalam memainkan game-nya.

Sebagai contoh, hari Minggu kemarin di 2 tempat yang berbeda, dan oleh 2 brand yang berbeda, disajikan game menarik yang mengajak pemain berinteraksi fisik. Di Senayan, di event Walk the World, salah satu sponsor utamanya, TNT, menyediakan arena khusus bermain untuk anak-anak. Salah satu atraksinya adalah game racing TNT. Melalui game ini, pemain diminta mengumpulkan paket-paket TNT yang tersebar di sepanjang jalan. Dibuat ala arcade game, pemain menggunakan setir dan pedal gas untuk mengendalikan mobil paket TNT. Selama waktu tertentu, pemain harus mengumpulkan paket sebanyak mungkin.

Di salah satu mal di Depok, brand Leo dari Garudafood juga menayangkan arcade game ala Dance Dance Revolution. Pemain diajak untuk mengikuti gerakan tari karakter Leo melalui injakan-injakan di atas papan neon box penuh lampu. Saking menariknya game ini, sempat menyebabkan terjadinya antrian.

Kedua game ini hanya sebagian dari koleksi game produksi A-Box, yang mengajukan solusi murah untuk pembuatan game 3D berkualitas. Para pemilik brand bisa mengkustomisasi koleksi game A-Box agar sesuai dengan citra dan representatif brand tersebut. Tidak perlu khawatir untuk mendesain model jenis permainan baru, karena seluruh model game produksi A-Box sudah dites cocok dan layak dimainkan untuk anak dan remaja.

Bagi pihak brand dan agency yang tertarik mengadaptasi koleksi game A-Box di beragam kegiatan event yang akan diikutinya, silakan mengontak email ini. Nanti kita bisa ngobrol-ngobrol lebih jauh lagi soal ini.

Mr. Maaggochi, Aplikasi Interaktif dari Promag
Kategori: Advergame, Local Game — Pitra @ Friday, April 27, 2007, 4:29 pm

Kemarin saat ke Menara Jamsostek, ada stand Maag Center di lobi. Stand yang merupakan bagian dari aktivasi brand Promag ini, menampilkan aplikasi interaktif yang mengkombinasikan interaksi antara monitor layar sentuh (touch screen) dan 3 layar TV yang menampilkan video.

Pengunjung stand bisa mencoba-coba monitor layar sentuh yang isinya menampilkan beberapa jenis makanan dan minuman yang cocok dan tidak cocok bagi lambung yang sakit. Di sebelah kiri stand, berjejer tiga tumpukan layar TV. Layar TV teratas menampilkan video wajah Mr. Maaggochi. Layar TV kedua dari atas menampilkan lambung Mr. Maaggochi, dan layar TV terbawah menampilkan kaki Mr. Maaggochi.

Saat pengunjung stand memilih makanan (misalnya: ikan lele) di monitor layar sentuh, di layar TV teratas pengunjung bisa melihat Mr. Maaggochi makan ikan lele tersebut. Selanjutnya, di layar TV kedua dari atas terlihat ikan lele itu masuk ke lambung. Warna lambung pun berubah dari merah menjadi merah sekali (tergantung jenis makanan atau minuman yang disantap).

Mr. Maaggochi

Untuk penggunaan aplikasi dan medianya memang terlihat inovatif, dan belum pernah ada yang mencoba model seperti ini sebelumnya. Sayangnya, jenis-jenis makanan dan minuman yang bisa diklik tidak terlalu banyak, sehingga hanya butuh kurang dari 5 menit untuk selesai mencoba-coba. Desain antarmuka (user interface) dari aplikasi ini juga agak membingungkan, padahal interaksinya sebetulnya sederhana. Tapi bravo deh, ada brand farmasi yang berani bereksperimen seperti ini.

Catatan, yang mau lihat bisa coba mampir ke Plaza Bapindo, tanggal 30 April s/d 4 Mei 2007 dan Wisma Kyoei Prince, tanggal 7-11 Mei 2007.

Kumpul-kumpul Game Developer (1)
Kategori: Event, Local Game — Pitra @ Thursday, April 26, 2007, 4:12 pm

Game Developer Gathering

Hari minggu tanggal 22 April kemarin (maaf, tulisannya telat) AdIns berinisiatif untuk menyelenggarakan kumpul-kumpul para pengembang game di Indonesia. Nggak menyangka juga, ternyata yang datang luar biasa banyaknya, sampai banyak yang berdiri atau jongkok di belakang. Yang datang memang nggak seluruhnya dari para pengembang. Dari media ternyata juga banyak yang tertarik untuk hadir. Bagus deh, biar gaungnya semakin besar.

Acara dibuka oleh Pak Guntur Gozali dari AdIns. Petinggi AdIns (sekaligus bos-nya tim Max Studio) ini bercerita tentang perlunya kumpul-kumpul dan saling berbagi antara komunitas konten (terutama pengembang game). Siapa tahu bisa dapat info-info baru, dan bahkan ada proyek outsourcing yang bisa dibagi antara sesama pengembang. Memang kalau di negeri ini, kalau mau maju, ya harus bergerak sendiri. Jangan terlalu berharap pemerintah Indonesia bisa mengakomodasi pengembangan konten (dan game), seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah Singapura dan India. Itulah, kebutuhan untuk memperkuat diri sebagai komunitas menjadi hal yang penting.

Pak Guntur juga mengakui bahwa secara teknis para pengembang game di Indonesia pasti bisa mengejar ketinggalan. Hanya saja, agak sulit bagi kita untuk mengejar sisi kreativitas dan inovasi dalam pembuatan sebuah game. Itulah makanya, seharusnya minimal pengembang game Indonesia sudah sanggup mengerjakan proyek outsourcing dari luar.

Berikutnya, Pak Risman Adnan dari Microsoft Indonesia yang bicara. Meski cuma 2 slide, isinya berbobot. Beliau sedikit mengutip buku World is Flat, dimana kini jarak sudah tidak lagi menjadi hambatan antar-negara. Beliau juga berkisah tentang karakter orang Indonesia yang sebetulnya punya etos kerja kuat (asalkan dibayar USD tapi tetap bekerja di Indonesia). Analoginya, kalau kita kerja di Indonesia namun digaji USD 2.000 sebulan, pasti kita akan memaksa diri kita dari yang tadinya tidak bisa hingga menjadi bisa, meski itu menuntut kita untuk terus menerus lembur dan tidak tidur. Berbeda dengan orang Amerika, dengan gaji yang sama, mereka tidak akan mau kerja lebih dari 8 jam sehari. Memang, kenyataannya salah satu kelebihan bangsa Indonesia ini saat ini adalah dari sisi komparasi biaya hidup. Seharusnya ini bisa menjadi peluang untuk maju.

(lanjut?)

ragam sponsor
Join the GMI panel and get paid for your opinions! Floor FX A-BOX Rank My Wall Eye Pleasure
komentar terakhir
  • JonruPak, BelajarMenulis.com juga sedang mengadakan lomba blog, dengan konsep yang agak beda. Info selengkapnya di...
  • Widi Asmoromas pitra.. ini bagus nih :D thanks for sharing! sharing is not stealing
  • santiwow. gini dech, klo jadi kapitalis yang mukanya tebel. bilangnya cari duit buat kemanusiaan, tapi cari profit...
  • tungdeblang pool resto & loungedi kos2an temen saya,daerah pengadegan ada stiker kayak gitu…hehe… di...
  • simple_lifech4mL3yQHUMzZ,,LOwWw gUyZzz…gW Lgi biNgUn9 b4n93tzz nieEE..? 4d4 y6 m4w b4ntUin gw g4k???gw l4gy ad4...
  • wibigimana sih cara liat story board tvc . . . gw butuh bgt story boardnya baygon yang versi demam...
  • ulung prabowoDear Bajing Loncat, saya ulung dari Initiative media-saya sedang mengumpulkan data tentang perkembangan...
  • harryd.renaissance = keren!
ragam tautan
dari blog lain

dunia yang gatal

  • Tunggu...

eye pleasure

  • Tunggu...

RSSKQF