<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Ide &#187; Online Branding</title>
	<atom:link href="http://media-ide.bajingloncat.com/category/onlinebranding/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://media-ide.bajingloncat.com</link>
	<description>Where Indonesia's online branding, social media, and creativity is talked about</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 14:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pinterest dan Brand</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/08/pinterest-dan-brand/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/08/pinterest-dan-brand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 14:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[amd]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[etsy]]></category>
		<category><![CDATA[gap]]></category>
		<category><![CDATA[pinterest]]></category>
		<category><![CDATA[travel channel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4910</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali ada aplikasi <em>social media </em>baru yang lagi menanjak popularitasnya, otak ini selalu memikirkan, apa ya yang bisa diadaptasi oleh <em>brand </em>di sini? Saat Instagram dulu mulai populer, yang dipikirkan adalah dengan cara apa nanti <em>brand </em>bisa masuk di dalamnya. Nah sekarang ada lagi yang mulai menanjak popularitasnya. Namanya Pinterest, sebuah aplikasi <em>visual bookmark</em>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/02/pinterest_thumb.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_thumb.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4913" title="pinterest_thumb" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_thumb-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Setiap kali ada aplikasi <em>social media </em>baru yang lagi menanjak popularitasnya, otak ini selalu memikirkan, apa ya yang bisa diadaptasi oleh <em>brand </em>di sini? Saat Instagram dulu mulai populer, yang dipikirkan adalah dengan cara apa nanti <em>brand </em>bisa masuk di dalamnya. Nah sekarang ada lagi yang mulai menanjak popularitasnya. Namanya Pinterest, sebuah aplikasi <em>visual bookmark</em>.</p>
<p>Kalau dilihat fungsinya, sebenarnya Pinterest nggak jauh berbeda dengan Tumblr. Kalau di Tumblr ada <em>reblog</em>, maka di Pinterest ada <em>repin</em>. Konsepnya pun serupa, melakukan <em>posting </em>ulang terhadap apa yang sudah di-<em>posting </em>sebelumnya oleh pengguna lain. Ada pula <em>like</em>, yang fungsinya tak berbeda dengan Tumblr atau Instagram. Kita bisa menyimpan <em>posting </em>orang lain yang kita suka.</p>
<p>Yang membedakan dengan Tumblr, di Pinterest kita bisa membuat kategori sendiri. Bebas. Istilahnya <em>board</em>. Kita bisa <em>follow </em>orang lain dan mengikuti semua <em>board</em>-nya, atau kita bisa <em>follow </em>hanya <em>board </em>yang kita sukai saja. Pinterest juga lebih kuat secara visual. Lebih tepat untuk mengumpulkan koleksi visual di sini daripada di Tumblr. Namun jangan jadikan Pinterest sebagai tempat menulis blog, karena memang fungsinya nggak cocok untuk itu.</p>
<p>Setiap situs layanan <em>social media </em>pasti punya aturan mainnya sendiri. Etika beraktivitas di Pinterest sendiri bisa dibaca <a href="http://pinterest.com/about/etiquette/ " target="_blank">di sini</a>. Yang menarik di sini adalah poin ini:</p>
<blockquote><p><em>Avoid Self Promotion</em></p>
<p><em>Pinterest is designed to curate and share things you love. If there is a photo or project you’re proud of, pin away! However, try not to use Pinterest purely as a tool for self-promotion.</em></p></blockquote>
<p>Ini yang membedakannya dengan Twitter atau Facebook, tempat <em>brand </em>dengan lantang berjualan tentang dirinya sendiri. Pinterest adalah tempat untuk mengkurasi koleksi visual yang memang kita suka. Seharusnya, kalau <em>brand </em>mau masuk ke Pinterest, maka yang perlu dilakukan bukanlah memamerkan koleksi TVC/<em>print ad</em>/kampanyenya, tapi cobalah mengkurasi gambar-gambar visual yang mencerminkan <em>lifestyle brand </em>tersebut. Bodoh-bodohannya begini, kalau sebuah <em>brand </em>punya hobi, maka apa sih hobinya? Nah coba tampilkan koleksi visual (dari manapun) yang bisa menunjukkan hobi si <em>brand</em>.</p>
<p>Jadi apa yang bisa dilakukan <em>brand </em>di Pinterest?</p>
<p><strong>Kontes</strong></p>
<p>Salah satu <em>brand fashion </em>luar, Land&#8217;s End Canvas, sempat membuat <a href="http://www.momblogmagazine.com/index/2011/12/lands-end-talks-working-with-pinterest/ " target="_blank">kontes pin</a>. Pengguna dipersilakan mengkurasi pin-pin berisikan gambar koleksi <em>brand </em>ini. Pengguna tinggal menjelajah situs Land&#8217;s End Canvas, lalu melakukan pin terhadap <em>item </em>yang disukai. Pemenang dipilih berdasarkan koleksi <em>item </em>yang paling keren dan <em>stylish</em>. Melalui kontes ini, <em>brand </em>diuntungkan karena koleksi produknya tersebar di Pinterest dengan cepat.</p>
<p><strong>Mengkurasi gambar sesuai karakteristik <em>brand</em></strong></p>
<p>Cek <a href="http://pinterest.com/amdunprocessed" target="_blank">AMD</a> di Pinterest deh. AMD nggak mungkin juga memamerkan <em>processor </em>komputer di sini, karena nggak ada keren-kerennya. Yang ditampilkan AMD di Pinterest adalah kurasi gambar-gambar yang identik dengan <em>geek </em>dan IT. Ada sih <em>board </em>AMD yang menampilkan notebook yang menggunakan <em>processor</em>-nya, namun selebihnya adalah <em>board </em>yang bersifat <em>fun</em>. AMD juga menggunakan Pinterest untuk menampilkan dokumentasi kegiatan pameran.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_amd.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4915" title="pinterest_amd" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_amd.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p><strong>Pamer, tapi dengan cara lebih halus</strong></p>
<p>Yang paling enak untuk pamer di Pinterest adalah <em>brand </em>yang berhubungan dengan <em>fashion</em>, makanan, dan <em>travel</em>. Cek <a href="http://pinterest.com/gap/ " target="_blank">GAP</a> deh, yang menampilkan koleksi <em>fashion</em>-nya. Salah satu <em>board </em>di akun ini mengkurasi foto-foto di banyak <em>fashion blog </em>yang menggunakan produk GAP. Ada pula sih <em>board </em>yang isinya murni “jualan” karena memamerkan koleksi terbaru dari situsnya.</p>
<p>Hal serupa dilakukan pula oleh <a href="http://pinterest.com/etsy/ " target="_blank">Etsy</a> yang mengkurasi <em>item </em>dari situsnya sendiri. Banyak koleksi <em>item </em>Etsy dipisah dalam beberapa <em>board </em>berdasarkan fungsinya (misal: untuk hadiah, untuk pernikahan, dll). Etsy bahkan nggak sungkan menuliskan harga di setiap pin-nya. Di Pinterest kalau kita menuliskan keterangan dengan tanda $, maka otomatis ini akan dianggap sebagai harga produk yang kita pin.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_gap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4912" title="pinterest_gap" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_gap.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_etsy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4911" title="pinterest_etsy" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_etsy.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p><strong>Promosi wisata</strong></p>
<p>Ini sudah dilakukan secara tidak langsung oleh <a href="http://pinterest.com/travelchannel/ " target="_blank">Travel Channel</a>. Akun ini mengkurasi atraksi wisata menarik dunia, dipisahkan berdasarkan pantai, kota, hewan, makanan, dll. Pinterest juga menjadi salah satu cara untuk cerita di balik layar kegiatan dokumentasi yang dilakukan Travel Channel.</p>
<p>Hmm, seharusnya kalau mau, kita bisa bikin hal serupa tapi untuk Indonesia nih. Pinterest memungkinkan satu akun dikurasi oleh banyak orang. Nah, seandainya saja teman-teman di Indonesia ini bisa mengkurasi foto-foto kekayaan alam Indonesia, tentu akan menarik. Sekalian menjadikan Pinterest sebagai ajang promosi wisata negeri ini.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_travelchannel.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4914" title="pinterest_travelchannel" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_travelchannel.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p>Referensi lain seputar Pinterest dan <em>brand</em> silakan cek tulisan <a href="http://www.dreamgrow.com/41-great-examples-of-pinterest-brand-pages/" target="_blank">ini</a> dan <a href="http://mashable.com/2012/01/19/pinterest-brands/" target="_blank">ini</a>.</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://pinterest.com/pin/283937951476351069/" target="_blank">Robin Redd</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/08/pinterest-dan-brand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa di Belakang Akun Brand?</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/04/siapa-di-belakang-akun-brand/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/04/siapa-di-belakang-akun-brand/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 10:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4902</guid>
		<description><![CDATA[Sudah ada ratusan akun <em>brand</em> lokal di Twitter. Pasti kalian sudah penah berinteraksi dengan salah satunya. Para akun <em>brand</em> ini menulis tweetnya dengan gaya yang sesuai dengan karakteristik <em>brand</em>-nya. Ada yang serius, ada yang <em>fun</em>, ada yang terlihat formal, namun ada pula yang terasa <em>playful</em>, tergantung <em>brand</em>-nya ditargetkan untuk siapa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/02/twitterakunadmin.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Sudah ada ratusan akun <em>brand</em> lokal di Twitter. Pasti kalian sudah penah berinteraksi dengan salah satunya. Para akun <em>brand</em> ini menulis tweetnya dengan gaya yang sesuai dengan karakteristik <em>brand</em>-nya. Ada yang serius, ada yang <em>fun</em>, ada yang terlihat formal, namun ada pula yang terasa <em>playful</em>, tergantung <em>brand</em>-nya ditargetkan untuk siapa.</p>
<p>Adakah yang suka bertanya-tanya, siapa sih sebenarnya yang berada di balik akun <em>brand</em> itu? Apakah satu orang admin yang setia memantau terus? Ataukah ada tim khusus yang bergantian memantau dan membalas setiap percakapan? Siapa sebenarnya di balik akun tersebut? Hihihi atau jangan-jangan malah bukan manusia&#8230;</p>
<p>Ingat nggak, kalau kita menelepon <em>customer service </em>manapun, pasti di ujung telepon sana akan langsung mengenalkan dirinya. Ia akan menyebut nama, dengan tujuan supaya pelanggan pun bisa merasa nyaman saat berbincang di telepon. Nah, pernah nggak kepikiran, kenapa di Twitter, para admin di balik akun <em>brand</em> itu tak pernah menyebutkan nama mereka ya?</p>
<p>Padahal saat awal <em>brand</em> masuk ke <em>social media</em>, <em>brand </em>katanya diminta untuk lebih humanis. Bersikap seperti orang pada umumnya. Ngobrol dengan <em>follower </em>seperti temannya sendiri. Tujuannya tentu tak beda dengan <em>customer service </em>di ujung telepon sana, supaya pelanggan atau pengguna produk <em>brand </em>bisa merasa nyaman. Lalu, kenapa hampir tidak ada akun <em>brand </em>di Twitter yang mau menyebutkan siapa individu di baliknya?</p>
<p>Hmm, mungkin tidak semua sih. Akun <a href="http://twitter.com/blitzmegaplex" target="_blank">@blitzmegaplex</a> misalnya. Di profilnya disebutkan siapa saja penanggung jawab akun tersebut. Jadi pelanggan pun tahu, dengan individu siapa yang ia hadapi. Akun ini bahkan menyebutkan ID twitter semua admin di profilnya. Akun <a href="http://twitter.com/fordindonesia" target="_blank">@fordindonesia</a> yang dikelola <em>inhouse</em> ini pun menyebutkan nama admin di baliknya (meski tidak menyebutkan ID twitternya).</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/twitterakunadmin.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4903" title="twitterakunadmin" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/twitterakunadmin.jpg" alt="" width="530" height="280" /></a></p>
<p>Dengan menyebutkan nama penanggung jawab akun tersebut, setidaknya kita tahu kita berbicara dengan siapa. Di sisi lain, admin akun <em>brand </em>pun jadi dituntunt untuk lebih bertanggung jawab menuliskan tweet. Karena sekalinya salah, maka seluruh dunia tahu siapa individu yang bertanggung jawab. Namun sebaliknya, kalau admin akun <em>brand </em>itu lalu bisa menjadi jembatan komunikator yang baik antara <em>brand </em>dan konsumen, niscaya namanya pun akan ikut melambung. Bisa jadi, nanti konsumen akan lebih senang behubungan dengan <em>brand </em>hanya kalau si admin <em>brand </em>ini yang berada di baliknya.</p>
<p>Tentu saja ini masih bisa diperdebatkan positif dan negatifnya. Ini hal masih baru di ranah <em>social media</em>. Kalau menurut Anda sendiri bagaimana? Apakah perlu <em>brand </em>menyebutkan siapa admin penanggung jawab di baliknya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/04/siapa-di-belakang-akun-brand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maunya sih Viral Video, tapi..</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/01/14/maunya-sih-viral-video-tapi/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/01/14/maunya-sih-viral-video-tapi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 01:09:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[coffin]]></category>
		<category><![CDATA[jakfm]]></category>
		<category><![CDATA[mini]]></category>
		<category><![CDATA[nokia]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>
		<category><![CDATA[viral]]></category>
		<category><![CDATA[youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4894</guid>
		<description><![CDATA[Selama seminggu kemarin ada 2 <em>brand </em>yang mencoba peruntungannya melalui penyebaran video melalui Twitter. Ide awalnya serupa, video disebar di Twitter, dengan harapan mem-viral, jadi bahan omongan, dan membangun <em>interest </em>audiens lebih lanjut. Pastinya nanti video ini akan diikuti dengan langkah lanjutan, berupa pengenalan produk <em>brand </em>secara halus melalui medium yang sama. Harapannya, audiens bisa ikut merasakan keterlibatan dengan <em>brand </em>dan ingat dengan pesan yang disampaikannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/01/brand-mini-getaway.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Selama seminggu kemarin ada 2 <em>brand </em>yang mencoba peruntungannya melalui penyebaran video melalui Twitter. Ide awalnya serupa, video disebar di Twitter, dengan harapan mem-viral, jadi bahan omongan, dan membangun <em>interest </em>audiens lebih lanjut. Pastinya nanti video ini akan diikuti dengan langkah lanjutan, berupa pengenalan produk <em>brand </em>secara halus melalui medium yang sama. Harapannya, audiens bisa ikut merasakan keterlibatan dengan <em>brand </em>dan ingat dengan pesan yang disampaikannya.</p>
<p>Namun itu teori. Kenyataannya, di dunia <em>social media </em>ini banyak hal tak terduga yang bisa memukul balik kampanye gerilya seperti itu. Walaupun demikian, sebenarnya kita sudah bisa memprediksi sih kampanye seperti apa yang akan menimbulkan publikasi negatif. Di Indonesia ini sudah cukup banyak contohnya.</p>
<p>Misalnya, tahun lalu seorang selebriti bernama <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2011/04/10/saat-selebriti-menghilang/" target="_blank">Carissa Putri dinyatakan hilang</a>. Infonya beredar di banyak info selebriti. Kalau kita cari berita tentang itu di Google, kita akan menemukan satu situs yang akan memberitahukan kapan Carissa Putri akan kembali. Meski kesan hilangnya Carissa Putri ini bernuansa negatif, setidaknya kita bisa tahu kalau ini trik promosi produk Nokia. Pada dasarnya kita toh nggak pernah menganggap serius semua berita di info gosip selebriti. Situs yang bisa kita buka pun secara tak langsung sudah membuat kita tahu kalau ini adalah situs Nokia, meski tak ada logo <em>brand </em>itu di situsnya. Tema tentang orang kehilangan memang tidak enak, namun dengan cepat kita bisa tahu kalau ini adalah trik promosi belaka, sehingga tidak membuat kita khawatir berlebihan.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2011/06/06/mengirim-peti-mati-demi-buzz/" target="_blank">Aksi pengiriman peti mati</a> ke sejumlah petinggi media tahun lalu juga sama buruknya. Jadi pembicaraan orang banyak sih, tapi sayangnya semuanya berbicara negatif. Simbol peti mati bukanlah simbol yang tepat untuk menyampaikan pesan komunikasi sebuah produk, apalagi kalau yang dikirimkan itu adalah peti mati berukuran anak kecil, dan diterima oleh orang yang punya anak kecil.</p>
<p>Nah, minggu lalu itu akun Twitter <a href="http://twitter.com/101Jakfm" target="_blank">@101Jakfm</a> menyebarkan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=BnnV2eNWnZs%20" target="_blank">video CCTV</a> di akun Twitternya, kalau salah satu stafnya kerampokan uang Rp. 25 juta. Berita ini terlihat serius, sehingga nggak sedikit yang meneruskannya ke akun <a href="http://twitter.com/TMCPoldaMetro%20" target="_blank">@TMCPoldaMetro</a>. Kenyataannya ini hanyalah promosi radio tersebut dalam rangka <a href="http://www.101jakfm.com/details/1003/-b-style-color-crimson-jak-hunters-b-berhasil-tangkap-buronan-jak-fm" target="_blank">ulang tahunnya yang ke-5</a>. Sebal? Jelas, karena banyak orang menganggap berita ini dengan sangat serius.</p>
<p><object width="530" height="389" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/BnnV2eNWnZs?version=3&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="530" height="389" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/BnnV2eNWnZs?version=3&amp;hl=en_US" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p>Lebih menyebalkan lagi adalah yang terjadi persis semalam. Salah satu aktivis Stand Up Comic Indonesia, <a href="http://twitter.com/ernestprakasa" target="_blank">Ernest Prakasa</a>, tiba-tiba mengirimkan serentetan tweet dengan video yang mengesankan kalau dia diculik. Banyak teman yang kenal dengannya, dan menganggap hal ini dengan sangat serius. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran teman-temannya. Apakah benar terjadi sesuatu dengannya? Berikut ini <a href="http://www.youtube.com/watch?v=gM48MS4PdEY" target="_blank">videonya</a>.</p>
<p><object width="530" height="389" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/gM48MS4PdEY?version=3&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="530" height="389" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/gM48MS4PdEY?version=3&amp;hl=en_US" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p>Meski tak lama kemudian, banyak yang berpikir kalau ini pastilah kampanye <em>brand </em>terselubung. Mana mungkin pula dengan koneksi internet <em>mobile </em>yang kacut marut di negeri ini, kita bisa mengirimkan video saat kita panik. Kalaupun kita bisa mentweet, akan lebih masuk akal kalau kita menulis tweet dengan mencantumkan geotag lokasi tweet kita. Itu jauh lebih membantu daripada mengirimkan video yang sangat minim kemungkinan keberhasilannya.</p>
<p>Teman-teman di Twitter pun mulai mengusut, dan langsung ketahuan karena Ernest mengunggah videonya ke akun YouTube yang baru dibuat 12 Januari 2012. Lebih parah lagi, ternyata video itu diunggah dengan tag “getaway,” “MINI,” dan “Countryman.” Langsung tahu dong kalau ini ternyata hanyalah aksi promosi MINI. Sialnya, ketahuannya ini bukan bagian dari rencana <em>brand</em>. Ketahuannya karena kecerobohan <em>brand</em> sendiri. Lucunya, si pengunggah video lalu menghapus <em>tag </em>ini dari YouTube.</p>
<p>Jadilah Twitter pun penuh dengan cacian, ungkapan kekesalan setelah tahu ini hanya promosi belaka. Lihat pula semua yang berkomentar di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=gM48MS4PdEY%20" target="_blank">YouTube</a>. Nggak ada komentar positif, dan lebih dari 90% menyatakan <em>dislikes</em>. Kreativitasnya di atas kertas memang keren, tapi tidak melulu yang keren di atas kertas berdampak positif saat diterapkan. Setuju sih dengan Mbak Alin yang menyatakan pendapatnya seperti ini:</p>
<blockquote class="twitter-tweet"><p>Org hilang, penculikan, pemerkosaan, penganiayaan gak boleh dijadikan topik campaign produk apapun. Gak etis!</p>
<p>&mdash; Angelina Rustandy (@dembul06) <a href="https://twitter.com/dembul06/status/157850468612177920" data-datetime="2012-01-13T15:44:19+00:00">January 13, 2012</a></p></blockquote>
<p><script src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Masih banyak kok cara menarik perhatian audiens di <em>social media </em>tanpa menyinggung hal-hal di atas. Ernest pun akhirnya menghapus tweet-tweetnya. Mungkin ia menyesal? Entahlah. Semoga saja. Hal seperti ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi individu yang diminta <em>brand </em>untuk mengkomunikasikan pesannya. Pesan yang berbau negatif bisa ikut menyeret individu untuk ikut terseret negatif juga. Seperti semalam, tidak banyak yang tahu kalau ini kampanye MINI. Yang jelek malah akhirnya nama Ernest sendiri, karena ia dianggap mengunggah video yang menipu <em>follower</em>-nya. <em>Brand </em>MINI sih selamat (karena toh memang belum terekspos lebih jauh), namun nama Ernest yang akhirnya dicap jelek.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/01/brand-mini-getaway.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4895" title="brand mini getaway" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/01/brand-mini-getaway.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p>Semoga saja <a href="http://www.campaignbriefasia.com/2012/01/post-16.html%20" target="_blank"><em>advertising agency </em></a>yang bertanggung jawab terhadap kampanye MINI ini pun memikirkan cara untuk ikut pula mengembalikan nama baik Ernest. Entahlah bagaimana caranya. Kita tunggu saja.</p>
<p>Contoh Nokia, peti mati, JAK FM, dan MINI seharusnya bisa memberi pelajaran agar tidak ada lagi yang melakukan hal serupa di masa datang. Hindari menggunakan pesan yang berbau kriminalitas yang sukar dibedakan antara nyata atau bohongan. Jangan sampai nanti saat benar terjadi kejadian kriminal, lalu ada yang mereportasinya di <em>social media</em>, malah membuat audiensnya menjadi apatis karena menganggapnya sebagai berita bohong.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/01/14/maunya-sih-viral-video-tapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi 2011: Tips Twitter untuk Pemilik Akun Brand</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/08/refleksi-2011-tips-twitter-untuk-pemilik-akun-brand/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/08/refleksi-2011-tips-twitter-untuk-pemilik-akun-brand/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 02:04:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[presentation]]></category>
		<category><![CDATA[privacy]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4795</guid>
		<description><![CDATA[Selama tahun 2011 kemarin banyak muncul kejadian lucu di beragam akun Twitter milik <em>brand</em>. Nggak semuanya sih sempat tercatat, tapi kalau sempat jadi bahan omongan, pasti tweetnya akan dibuat tangkap gambarnya (hihihi, sebelum yang punya akun sadar dan menghapus tweetnya). Nah, berikut ini adalah 6 tweet yang sempat ditangkat. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil ya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-self-control-your-account.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Selama tahun 2011 kemarin banyak muncul kejadian lucu di beragam akun Twitter milik <em>brand</em>. Nggak semuanya sih sempat tercatat, tapi kalau sempat jadi bahan omongan, pasti tweetnya akan dibuat tangkap gambarnya (hihihi, sebelum yang punya akun sadar dan menghapus tweetnya). Nah, berikut ini adalah 6 tweet yang sempat ditangkat. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa diambil ya.</p>
<p><strong>1. Jangan mengespam <em>follower </em>Anda sendiri</strong></p>
<p>Maksudnya sih memberitahu kalau ada promo khusus untuk gerai Starbucks di beberapa mal. Namun cara yang dilakukan tidak dengan menggunakan <em>reply</em>, tapi tweet umumnya. Per tweet pun dilakukan dalam rentang jarak yang sebentar. Akibatnya, untuk semua <em>follower </em>akun Starbucks, hal ini jadi terasa mengganggu, karena semua tweet Starbucks ini jadi membanjiri linimasa mereka.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-dont-spam-your-followers.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4799" title="twitter tips - don't spam your followers" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-dont-spam-your-followers.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>2. Jangan menyakiti basis konsumen yang sudah loyal kepada Anda</strong></p>
<p>Tweet yang disampaikan First Media ini memang kebijakan dari korporatnya. Sayangnya kebijakan itu mencederai pelanggan yang sudah loyal. Waktu itu seiring dengan berlakunya UU ITE, First Media secara sepihak (tanpa konfirmasi dengan pelanggannya), melakukan <em>block </em>terhadap Torrent. Tiba-tiba di hari itu, semua pengguna heran kenapa tidak ada yang bisa mengakses Torrent. Setelah ditanyakan ke akunnya, baru ada pemberitahuan resmi di tweet First Media mengenai pemberlakuan <em>block </em>ini. First Media berasumsi kalau Torrent digunakan oleh pelanggan untuk mengunduh bajakan.</p>
<p>Tindakan ini diikuti protes para <em>follower</em>-nya. Makian pun bermunculan dari mana-mana. Namun akhirnya keputusan First Media ini pun dibatalkan. Keesokan harinya akses Torrent sudah dibuka kembali.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-dont-hurt-your-customers.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4797" title="twitter tips - don't hurt your customers" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-dont-hurt-your-customers.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>3. Jangan membuat kelucuan tentang diri Anda sendiri</strong></p>
<p>Menteri yang satu ini memang suka bikin ulah. Ulah yang membuat dirinya jadi bahan lelucon banyak orang. Salah satunya adalah saat ia menulis tweet alay. Mungkin tujuannya supaya akrab dengan kebanyakan pengguna Twitter yang masih remaja. Akibat yang didapat adalah sebaliknya. Ia malah yang dijadikan bahan guyonan. Saking banyak yang mencelanya, tweet ini pun sempat muncul menjadi <em>trending topic </em>Indonesia.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-dont-make-fun-of-yourself.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4798" title="twitter tips - don't make fun of yourself" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-dont-make-fun-of-yourself.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>4. Tetaplah sesuai pada karakteristik <em>brand </em>Anda</strong></p>
<p>Yang jelas ini bukan admin yang salah mentweet karena tweet ini tidak dihapus sama sekali. Agak aneh saja sih melihat isi tweet ini, apakah memang ini pencitraan yang disajikan oleh <em>brand </em>Yaris? Memang sih, karakter Yaris di Twitter memang selalu agak <em>witty</em>, tapi mungkin perlu ada batasan kali ya. Entahlah apakah setelah ini, kalau orang mendengar kata kerokan dan bulu hidung, yang muncul di benaknya adalah Yaris?</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-stay-true-to-your-brand.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4801" title="twitter tips - stay true to your brand" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-stay-true-to-your-brand.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>5. Kendalikan manajemen akun Anda.</strong></p>
<p>Kalau kasus yang menimpa Burger King jelas masalah admin yang tidak benar. Bisa jadi si admin men-tweet di akun yang salah. Kejadian sekali salah tweet seperti ini mungkin masih dimaafkan, karena toh admin juga manusia. Namun kalau sampai terjadi dalam 2 hari berturut-turut itu namanya nggak belajar.</p>
<p>Sekedar tips, untuk para admin <em>brand</em>, untuk terhindar dari kecerobohan ini, sebaiknya Anda menggunakan aplikasi klien Twitter yang terpisah sama sekali dengan aplikasi yang dipakai untuk pribadi. Meski banyak aplikasi klien Twitter yang menyediakan fitur <em>multiple account</em>, tapi kecerobohan seperti ini pasti bisa terjadi. Pencegahan paling aman adalah dengan menggunakan aplikasi yang berbeda sama sekali.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-self-control-your-account.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4800" title="twitter tips - self control your account" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-self-control-your-account.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>6. Jangan ngomong jorok.</strong></p>
<p>Ini sih berlaku untuk semua ya, nggak hanya untuk akun <em>brand</em>. Namun kalau yang menulis tweet kata-kata jorok ini adalah <em>brand </em>seperti Metro TV, tentu sungguh malu luar biasa. Mungkin karena keteledoran admin ini (misal: membiarkan ponselnya tergeletak), membuat orang yang tak bertanggung jawab bisa mengakses akunnya. Kecerobohan yang ternyata berdampak fatal terhadap pencitraan Metro TV.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-avoid-bad-words.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4796" title="twitter tips - avoid bad words" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/twitter-tips-avoid-bad-words.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p>Seharusnya masih banyak sih ya kejadian lucu <em>brand </em>lainnya di Twitter, namun sayang tak terekam jejaknya. Semoga saja, 6 contoh di atas bisa membuat akun <em>brand </em>lebih refleksi diri dan berhati-hati lagi di tahun 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/08/refleksi-2011-tips-twitter-untuk-pemilik-akun-brand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Brand Journalism</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/05/tentang-brand-journalism/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/05/tentang-brand-journalism/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 04:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[fedex]]></category>
		<category><![CDATA[journalism]]></category>
		<category><![CDATA[nissan]]></category>
		<category><![CDATA[youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4784</guid>
		<description><![CDATA[Istilah <em>brand journalism</em> ini sebenarnya baru tahu tadi pagi. Beneran tadi pagi, gara-gara Ndoro Kakung bikin rangkaian tweet tentang ini. Berikut ini cuplikan<a href="http://chirpstory.com/li/3288" target="_blank"> tweetnya</a>:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/12/BrandJournalismTheRiseOfNonFiction.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Istilah <em>brand journalism</em> ini sebenarnya baru tahu tadi pagi. Beneran tadi pagi, gara-gara Ndoro Kakung bikin rangkaian tweet tentang ini. Berikut ini cuplikan<a href="http://chirpstory.com/li/3288" target="_blank"> tweetnya</a>:</p>
<p><script src="http://chirpstory.com/js/parts.js"></script><script>Togetter.ExtendWidget({id:'3288',url:'http://chirpstory.com/'});</script></p>
<p>Di Twitter-nya, Ndoro Kakung menjelaskan 2 contoh <em>brand journalism</em>. Salah satunya adalah video berikut ini yang menjelaskan tentang upaya “penyehatan” kembali penyu yang terkena limpahan bocoran oli.</p>
<p><object width="530" height="299" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/GMbdYXojteE?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="530" height="299" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/GMbdYXojteE?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p>Tebak, siapakah <em>brand</em> di balik pembuatan video ini? Ternyata adalah FedEx yang muncul hanya sekitaran 15 detik di dalam video, sebagai jasa kurir yang mengangkut telur-telur penyu. Promosi FedEx ini terjalin sangat <em>subtle</em> tanpa orang menyadarinya karena merupakan bagian dari cerita.</p>
<p>Contoh lain yang diutarakan Ndoro Kakung adalah yang dilakukan <a href="http://www.theglobeandmail.com/report-on-business/international-news/global-exchange/nissans-pr-mimics-the-newsroom/article2055178/%20" target="_blank">Nissan</a>. Carlos Ghosn, <em>chief executive </em>Nissan mengajak beberapa <em>cameramen</em> untuk melakukan kunjungan pabrik. Kru yang diajak ini bukanlah jurnalis, melainkan karyawannya sendiri yang merupakan bagian dari tim “<em>newsroom</em>” Nissan. Tim ini membuat konten yang berhubungan dengan <em>brand </em>Nissan dan industrinya dan mendistribusikannya ke beragam kanal komunikasi, salah satunya <em>website</em> Nissan sendiri dan YouTube.</p>
<p>Konten eksklusif ini dibuat sendiri oleh <em>brand </em>dan biasanya menampilkan elemen-elemen yang tak bisa dijumpai di tempat lain. Anggap saja ini sebagai pengganti <em>press release </em>tradisional. Kalau memang <em>brand </em>punya cerita keren dan menarik untuk disampaikan, ya kenapa tidak disebarluaskan? Kini semakin banyak portal otomotif bermunculan. Nissan menyediakan kontennya untuk diagregasi oleh portal otomotif itu.</p>
<p>Dengan cara yang dilakukan seperti Nissan, <em>brand </em>akan diuntungkan saat nanti meluncurkan seri produk mobil terbarunya. Misal, beragam <em>teaser </em>video bisa <em>brand </em>buat terlebih dahulu, dengan menampilkan cuplikan tentang mobil tersebut, lalu merilisnya <em>online</em>. <em>Hype </em>bisa dibangun terlebih dahulu, sebelum akhirnya <em>brand </em>merilis resmi mobilnya.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/BrandJournalismTheRiseOfNonFiction.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4785" title="BrandJournalismTheRiseOfNonFiction" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/12/BrandJournalismTheRiseOfNonFiction-300x236.jpg" alt="" width="300" height="236" /></a>Kalau kata Kyle Monson di <a href="http://www.briansolis.com/2011/07/dispelling-the-darkness-with-brand-journalism/%20" target="_blank">blognya Brian Solis</a>, <em>brand journalism </em>itu adalah kombinasi dari kejujuran, narasi cerita, dan partisipasi audiens. Targetnya adalah audiens yang paling <em>savvy </em>dan pintar, yakni para <em>influencer</em>. Katanya, mereka ini nggak mudah dibodohi, nggak suka konten yang jelek, dan mereka tidak peduli dengan <em>advertising </em>tradisional. Sangat sulit berhubungan dengan para <em>influencer</em>, tapi <em>brand </em>bisa melakukannya dengan bertindak nyata, tidak berpura-pura, menyampaikan informasi yang sesuai kebutuhan mereka, dan memang ada relevansi antara yang disampaikan <em>brand </em>di <em>online </em>dan di <em>offline</em>.</p>
<p><em>Brand </em>jelas butuh konten. Kalau nggak punya konten ya berarti nggak eksis. Nggak mungkin juga dong <em>website </em>perusahaan isinya itu itu melulu. Konten <em>brand </em>ini akan lebih baik jika tidak dipakai untuk sekedar menjual atau mengangkat reputasi <em>brand. </em>Akan lebih baik kalau <em>brand </em>bisa memberikan konten yang punya <em>value </em>berita. Kalau punya <em>value</em>, niscaya orang akan lebih lama memperbincangkannya. FedEx dan Nissan sudah mencontohkannya di atas. Nah, adakah yang hendak memulainya di Indonesia?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/05/tentang-brand-journalism/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampanye Perlawanan di Social Media</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/20/kampanye-perlawanan-di-social-media/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/20/kampanye-perlawanan-di-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 05:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[influencer]]></category>
		<category><![CDATA[smartfren]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4686</guid>
		<description><![CDATA[Setidaknya belakangan ini ada 2 kampanye yang berjalan di Twitter, yang langsung mendapat perlawanan langsung dari audiensnya. Sial banget memang 2 kampanye ini, karena reaksi pengguna social media benar-benar jujur (dan kejam).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/09/susu1.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Setidaknya belakangan ini ada 2 kampanye yang berjalan di Twitter, yang langsung mendapat perlawanan langsung dari audiensnya. Sial banget memang 2 kampanye ini, karena reaksi pengguna <em>social media</em> benar-benar jujur (dan kejam).</p>
<p>Yang pertama adalah kampanye bertagar #ihateslow yang diprakarsai oleh akun Twitter @i_hateslow. Bionya di Twitter: “Gue benci LAMA, LELET, LAMBAT LEMOT, PELAN, dan kawan-kawannya. Lo benci juga? Follow gue!” Kampanye ini juga dibantu oleh beberapa buzzer yang menginisiasi percakapan apapun yang berhubungan dengan ketidaksukaan akan lambat.</p>
<p>Akhirnya terbuka kalau kampanye ini adalah untuk promosi produk internet terbaru dari Smartfren. Situs <a href="http://www.ihateslow.com/">www.ihateslow.com</a> pun diluncurkan. Isinya mendapat reaksi positif (dan juga banyak yang negatif). Bisa dilihat dari komentar-komentar yang bermunculan. Di satu sisi, ada keberanian untuk <em>brand </em>Smartfren untuk berani berjanji, dan siap ditegur konsumen kalau janji-janji itu tidak terlaksana. Sekarang tinggal kemampuan <em>brand </em>itu sendiri untuk bisa <em>deliver</em>. Kalau nggak ya, siap-siap saja untuk menerima komentar negatif yang banyak, yang bisa berbahaya ke <em>brand </em>itu sendiri (atau alternatifnya, komentar yang muncul di situs disensor – meski nggak ok banget kalau begitu).</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/09/ihateslow1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4687" title="ihateslow1" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/09/ihateslow1.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p>Aksi perlawanan nyata lainnya adalah pertarungan taga #garagarasusu yang diusung akun @garagarasusu dan tagar #kibulansusu yang diusung oleh @erikarlebang. Belum tahu siapa yang melakukan kampanye @garagarasusu, meski kampanye ini sudah dilakukan secara <em>offline </em>hari Minggu kemarin di Senayan. Tagar #garagarasusu ini juga dibantu oleh beberapa <em>buzzer</em> yang membantu inisiasi percakapan di Twitter.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/09/susu1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4688" title="susu1" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/09/susu1.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/09/susu2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-4689" title="susu2" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/09/susu2.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p>Sialnya, tagar ini tiba-tiba mendapat perlawanan dari #kibulansusu, yang melihat perspektif lain dari susu itu sendiri. Berikut ini cuplikannya.</p>
<p><script src="http://chirpstory.com/js/parts.js"></script><script>Togetter.ExtendWidget({id:'2580',url:'http://chirpstory.com/'});</script></p>
<p>Kalau melihat perlawanan yang diberikan oleh #kibulansusu, ada baiknya siapapun yang memegang akun @garagarasusu bisa berbagi informasi yang ilmiah pula, yang nggak kalah dengan argumen #kibulansusu di atas. Selanjutnya, biarkan nanti publik yang menilai argumen mana yang dianggap benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/20/kampanye-perlawanan-di-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Word of Mouth Marketing (WOMM) di Social Media</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/05/word-of-mouth-marketing-womm-di-social-media/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/05/word-of-mouth-marketing-womm-di-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 10:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[influencer]]></category>
		<category><![CDATA[mailing list]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4669</guid>
		<description><![CDATA[Minggu lalu saat sahur bebeapa hari sebelum lebaran, Pak Subiakto (@subiakto) sempat berbagi ilmu tentang WOMM. Pak Subiakto banyak bicara tentang keputusan pembelian, yang sangat dipengaruhi oleh rekomendasi dari orang lain, terutama dari orang yang dikenal (keluarga, saudara, teman, dll). Iklan semata di televisi tidak akan menjamin konsumen akan melakukan transaksi. Ringkasannya bisa disimak di bawah ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/04/bee.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Minggu lalu saat sahur bebeapa hari sebelum lebaran, Pak Subiakto (@subiakto) sempat berbagi ilmu tentang WOMM. Pak Subiakto banyak bicara tentang keputusan pembelian, yang sangat dipengaruhi oleh rekomendasi dari orang lain, terutama dari orang yang dikenal (keluarga, saudara, teman, dll). Iklan semata di televisi tidak akan menjamin konsumen akan melakukan transaksi. Ringkasannya bisa disimak di bawah ini.</p>
<p><script src="http://chirpstory.com/js/parts.js"></script><script>Togetter.ExtendWidget({id:'2364',url:'http://chirpstory.com/'});</script></p>
<p>Pak Subiakto juga berbagi cerita bahwa produsen atau <em>brand </em>perlu jeli menemukan isu yang pas yang disesuaikan dengan karakteristik komunitas tempat biasa konsumen berkumpul. Cari dan temukan tokoh-tokoh kunci pada setiap komunitas untuk dibentuk menjadi <em>influencer</em> bagi produk <em>brand. Influencer </em>yang dipilih tentunya yang sesuai dengan kompetensinya, tidak asal pilih. Bila salah pilih, hasilnya bisa jadi malah akan <em>counter </em>produktif.</p>
<p>Menyambung dari cerita Pak Subiakto, kenyataannya tidak semua <em>brand </em>bermain di ranah <em>social media </em>mengikuti perilaku WOMM di atas. Kalau eksis di Twitter, kita pasti sudah sering melihat beberapa netizen yang terlihat terang-terangan ditunjuk oleh <em>brand </em>untuk menjadi <em>buzzer</em>. Mereka menyampaikan pesan iklan (dengan gaya bahasa mereka masing-masing), yang akhirnya merujuk pada suatu program kampanye sebuah <em>brand</em>. Meskipun dibahasakan dengan halus dan dilakukan dengan cara interaksi dengan netizen lain, tetap saja kita tahu kalau mereka ini adalah perpanjangan tangan <em>brand </em>di <em>social media</em>.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/04/bee.jpg"><img class="size-medium wp-image-4281 alignleft" title="buzzer" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/04/bee-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Saat ini beberapa <em>brand </em>umumnya memilih <em>buzzer </em>hanya berdasarkan <em>follower </em>yang dimiliki oleh netizen. Asal <em>follower</em>-nya besar dan memang terlihat aktif ngobrol di Twitter, maka netizen itu jadi pilihan. Kenyataannya, memang banyak dari netizen yang menjadi <em>buzzer </em>ini punya kemampuan interaksi yang baik. Info mereka sering di-<em>retweet</em> dan direspon <em>follower</em>-nya, dan si <em>buzzer </em>pun rajin membalas balik.</p>
<p>Meski bisa dibilang berhasil, sayang pemilihannya jarang melihat kompetensi dan loyalitas <em>buzzer </em>itu sendiri. Kalau jeli memperhatikan, ada loh beberapa <em>buzzer </em>yang menyampaikan pesan berpindah-pindah antara <em>brand </em>yang saling bersaing. Misalnya, si <em>buzzer</em> bulan lalu nge-<em>buzz </em>info tentang klien telekomunikasi A, bulan ini B, padahal ia sendiri malah bukan pengguna keduanya. Bahkan pernah ada <em>buzzer </em>yang jujur cerita kalau dia sebenarnya bukan pengguna kartu telepon A, tapi ia tertarik menyebarkan infonya. Agak aneh ya, mempromosikan sebuah produk yang ia sendiri sebenarnya tidak pakai?</p>
<p>Kenyataannya itu yang saat ini terjadi. <em>Influencer </em>di <em>social media </em>memang suatu hal yang baru. Netizen yang terlibat biasanya pun awam tentang etika periklanan seperti ini. Adalah tugas <em>agency </em>yang menjembataninya agar mereka pun paham tentang hal ini (meski ujung-ujungnya kembali ke netizen itu sendiri ya). Sayangnya umumnya netizen yang menjadi <em>buzzer </em>mau menerima apa saja, sepanjang tidak merusak citra dirinya (meski tidak berarti ia telah menggunakan produk <em>brand </em>itu sebelumnya ya). Akan lebih baik kalau para <em>buzzer </em>yang dipilih pun memang melihat bahwa <em>brand </em>itu punya nilai yang bermanfaat bagi dirinya, sehingga ia mau mengeksplorasi lebih lanjut tentang <em>brand </em>itu dan tidak sekedar jadi corong “jualan” <em>brand</em>.</p>
<p>Contoh yang menarik adalah saat beberapa bulan lalu WRP melalui akun Twitter-nya, @WRPdiet. WRP mengajak 2 orang netizen perempuan yang saat itu lagi gemar-gemarnya bersepeda. WRP melihat pula ada niatan dari 2 orang netizen ini untuk melakukan program diet sehat. WRP lalu ikut membantu memberikan arahan program sambil menyediakan stok susu WRP selama seminggu. Para netizen ini diminta untuk sebisa mungkin mengikuti program WRP, dan melaporkan hasilnya via Twitter. Yang terjadi adalah sebuah cerita perjalanan menarik tentang upaya dua netizen ini bersepeda rutin dan mengkonsumsi WRP pada waktu yang ditentukan. Hasilnya pun positif. Di akhir minggu, dua netizen ini melaporkan kalau berat badan mereka pun turun, karena berhasil mengikuti diet sehat WRP. Suatu aktivitas nyata, dengan dampak nyata, yang bermanfaat bagi WRP dan netizen. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.</p>
<p>Diakui memang, memilih seorang <em>influencer </em>yang sesuai dengan karakteristik <em>brand </em>memang sulit. Kalau ada yang sesuai, ternyata si netizen nggak punya banyak <em>follower </em>di Twitter, misalnya. Mencari netizen yang punya banyak <em>follower </em>itu nggak sulit, meski belum tentu netizen itu punya karakteristik kompetensi yang sesuai dengan program <em>brand</em>. Atau coba pertimbangkan media lain di luar Twitter. Ada loh netizen yang tidak populer di Twitter, tapi ia punya suara kuat di milis-milis komunitas, seperti Agus Hamonangan yang sering mewakili komunitas Android Indonesia, dan Gun HP yang mewakili komunitas iPhonesia. Mereka punya “<em>follower</em>”-nya sendiri di dunia maya, yang hampir tidak bersinggungan dengan Twitter.</p>
<p><em>Social media </em>tidak sesempit dunia Twitter atau Facebook. Tidak melulu netizen yang punya banyak <em>follower</em>, punya karakteristik yang sesuai dengan program <em>brand</em>. Tidak melulu juga netizen yang punya karakteristik kompetensi kuat meski punya sedikit <em>follower </em>di Twitter, tidak punya “<em>follower</em>” di media daring lain. <em>Brand</em> harus lebih jeli lagi melihat komunitas daring yang akan dituju, dan melihat pentolannya di komunitas itu. Ajak pentolan komunitas itu untuk bekerja sama. Niscaya asal satu bahasa, kerja sama antara <em>brand </em>dan <em>netizen </em>pun bisa memberikan keuntungan satu sama lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/05/word-of-mouth-marketing-womm-di-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cause Marketing di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/25/cause-marketing-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/25/cause-marketing-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 04:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[abc]]></category>
		<category><![CDATA[cause]]></category>
		<category><![CDATA[dove]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[gery]]></category>
		<category><![CDATA[lg]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[xl]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4640</guid>
		<description><![CDATA[Sudah banyak perusahaan dan <em>brand </em>yang menjalankan strategi kepedulian sosial. Biasanya kegiatan semacam ini memuncak di bulan Ramadhan. Istilahnya <em>cause marketing</em>, yakni kegiatan pemasaran yang menghubungkan nama perusahaan dan/atau <em>brand </em>dengan aktivitas non profit. Bentuknya beragam, dari program ajakan untuk peduli akan kesehatan diri, hingga ajakan untuk berdonasi bersama untuk mereka yang membutuhkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/08/donation2.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donation2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4642" title="donation2" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donation2-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Sudah banyak perusahaan dan <em>brand </em>yang menjalankan strategi kepedulian sosial. Biasanya kegiatan semacam ini memuncak di bulan Ramadhan. Istilahnya <em>cause marketing</em>, yakni kegiatan pemasaran yang menghubungkan nama perusahaan dan/atau <em>brand </em>dengan aktivitas non profit. Bentuknya beragam, dari program ajakan untuk peduli akan kesehatan diri, hingga ajakan untuk berdonasi bersama untuk mereka yang membutuhkan.</p>
<p>Beberapa <em>brand</em> di bulan ini menjalankan program donasi di <em>social media</em>, seperti yang sudah dibahas di <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/04/aksi-donasi-brand-di-social-media/%20" target="_blank">tulisan ini</a>. Ada Dove Indonesia dan LG yang melakukan konversi tweet dengan tagar tertentu menjadi donasi. Ada pula Gery Chocolatos dan ABC Dapur Peduli yang mengkonversi jumlah <em>followers </em>mereka menjadi donasi. Setiap program ini sudah jalan sejak awal Ramadhan, dan seperti aktivitas <em>brand </em>lainnya di <em>social media</em>, menuai banyak pujian dan kritikan.</p>
<p>Program yang dilakukan Gery Chocolatos misalnya. Ada kesan ketidaktulusan dari konversi <em>followers</em>. Kesannya, <em>brand </em>hanya mau menyumbang banyak, kalau <em>followers</em>-nya pun banyak. Apalagi nilai konversinya hanya Rp.1.000,00 per <em>followers</em>. Ada yang berpendapat, daripada <em>follow </em>akun <em>brand</em>, mendingan dia mendonasikan Rp.1.000,00 sendiri langsung ke mesjid. Setidaknya nilai yang ia sumbang tidak memberi keuntungan (meski virtual) bagi <em>brand</em>.</p>
<p>Konversi tagar #cupoffaith menjadi beras 250ml yang dilakukan LG tidak lepas pula dari kritikan. Meski program ini dinilai sangat positif, namun ada yang menantang kalau nilai 250ml mangkuk beras itu masih terlalu kecil. Ada yang menantang agar LG berani menyumbang 2,5kg beras per tagar.</p>
<p>Ada pula yang mempertanyakan pertanggungjawaban hasil donasi. Semua orang tahu kalau <em>brand </em>yang melakukan aktivitas promosi berbalut sosial ini tak ada yang menspesialisasikan diri dalam hal penyaluran sumbangan. Akan lebih baik bila <em>brand </em>bekerja sama dengan yayasan sosial yang memang punya keahlian di bidang ini. Hal ini yang dilakukan oleh Dove Indonesia dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa – HoPe untuk menyalurkan donasi ke anak-anak Indonesia yang membutuhkan.</p>
<p><em>Cause marketing </em>melalui media digital memang masih merupakan hal yang baru di negeri ini. Saat ini model yang dilakukan memang sangat jarang yang berupa donasi langsung konsumen via media di internet. Kebanyakan adalah donasi yang pasti akan dilakukan oleh <em>brand </em>(yang jumlahnya sebetulnya sudah pasti), dan konsumen hanya diajak terlibat melalui aktivitas <em>brand</em>.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/xl-wakaf-sms.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4641" title="xl wakaf sms" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/xl-wakaf-sms-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>Bentuk donasi yang dilakukan oleh pengguna langsung melalui media digital memang masih sulit dilakukan dalam bentuk penyaluran uang langsung (kecuali transfer ya). Alternatifnya paling menggunakan pulsa telepon, yang pastinya dimiliki oleh jutaan masyarakat Indonesia. Hal ini yang dilakukan XL dengan wakaf via SMS. Hasil sumbangan melalui pemotongan pulsa ini akan disalurkan melalui Yayasan Wakaf Center. Pengguna bisa menyumbang Rp.2.000,00 atau Rp.5.000,00, meski kenyataannya, yang terdonasi kurang dari itu, karena ada potongan pajak dan <em>overhead</em>.</p>
<p>Sekarang tinggal dikembalikan kepada Anda semua, para pengguna media digital. Apakah Anda tertarik terlibat dengan <em>cause marketing </em>seperti ini? Apakah Anda lebih tertarik memberikan donasi dalam bentuk dana langsung (misalnya: melalui pulsa atau transfer)? Ataukah Anda lebih tertarik melakukan donasi virtual seperti yang dilakukan 4 <em>brand </em>yang disebutkan di paling atas?</p>
<p>Untuk referensi, silakan juga cek <a href="https://adage.com/bookoftens2010/article?article_id=147634" target="_blank">tautan ini</a> untuk contoh <em>cause marketing </em>di negeri luar sana.</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/oneiroi/3828725732/" target="_blank">oneiroi</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/25/cause-marketing-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Pengalaman Berkendara Melalui Blog</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/22/menulis-pengalaman-berkendara-melalui-blog/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/22/menulis-pengalaman-berkendara-melalui-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 08:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[march]]></category>
		<category><![CDATA[nissan]]></category>
		<category><![CDATA[toyota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4645</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang setiap kali melihat kampanye <em>brand </em>di ranah daring, pasti kalau nggak dilakukan di Twitter ya di Facebook. Dahulu kala sebelum dua situs <em>social media </em>ini populer, beberapa <em>brand </em>melibatkan blogger dalam aktivasinya. Sekarang juga masih sih, cuma polanya standar. Para blogger diundang ke acara, entah sesuai entah nggak dengan karakteristik bloggernya, pokoknya diundang. Padahal nggak selalu acara itu menarik untuk didatangi. Artinya, nggak selalu acara itu bisa menjadi pengalaman menarik bagi blogger untuk lalu diulas di blognya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/08/7dayswithmarch.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Sekarang setiap kali melihat kampanye <em>brand </em>di ranah daring, pasti kalau nggak dilakukan di Twitter ya di Facebook. Dahulu kala sebelum dua situs <em>social media </em>ini populer, beberapa <em>brand </em>melibatkan blogger dalam aktivasinya. Sekarang juga masih sih, cuma polanya standar. Para blogger diundang ke acara, entah sesuai entah nggak dengan karakteristik bloggernya, pokoknya diundang. Padahal nggak selalu acara itu menarik untuk didatangi. Artinya, nggak selalu acara itu bisa menjadi pengalaman menarik bagi blogger untuk lalu diulas di blognya.</p>
<p>Salah satu hal yang menarik adalah keberanian Nissan Motor Indonesia ketika merilis seri March. Melalui situs promonya, Nissan mengundang 28 blogger untuk merasakan mobil ini selama <a href="http://www.nissan-zone.com/7dayswithmarch/rules.html%20" target="_blank">7 hari berturut-turut</a>. Nissan menyediakan 7 mobil Nissan March untuk 7 blogger setiap minggunya. Blogger bebas membawa mobil ini kemana-mana.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/7dayswithmarch.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-4646" title="7dayswithmarch" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/7dayswithmarch-1024x499.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p>Syaratnya? Si blogger diminta untuk menulis pengalamannya berkendara setiap hari di blognya. Total akan ada 7 tulisan terkait dengan pengalaman blogger ini di blognya. Isi tulisannya bebas. Mau kritikan, mau celaan, mau pujian, asalkan memang dilandasi pengalaman objektif si blogger dalam berkendara (asalkan tentunya bukan tulisan yang terkait SARA). Di akhir program, pihak Nissan akan menilai siapa di antara 28 blogger ini yang menang dan berhak berjalan-jalan ke Jepang gratis.</p>
<p>Langkah yang dilakukan Nissan memang lumayan berani. Hingga saat ini belum pernah ada mobil yang dipinjamkan kepada netizen dalam jumlah sebanyak ini. Dulu memang Toyota pernah melakukan hal serupa, namun waktu itu hanya 1 mobil yang diserahkan bergilir kepada blogger terpilih (yang kebanyakan berpendapatan menengah ke atas).</p>
<p>Hingga saat ini, dari tulisan-tulisan para blogger yang sudah berpartisipasi, memang belum ada yang mengarah pada sentimen negatif (entah kalau terlewat baca ya). Yang ada umumnya berupa usulan atau rekomendasi yang menuju perbaikan yang lebih positif. Testimoni pengguna memang penting, apalagi kalau itu dilandaskan pengalaman yang objektif. Tentunya tidak ada yang lebih objektif lagi selain penilaian para blogger di dalam blognya masing-masing. Selanjutnya, para calon konsumen yang membaca ini bisa menilai sendiri, sebelum memutuskan melakukan pembelian atau tidak.</p>
<p>Sebenarnya ingin ikutan juga sih aktivitas ini, namun karena males banget menyetir di Jakarta, jadi nggak tertarik untuk mendaftar. Seandainya Nissan menyediakan supir (gratis) juga, pasti mau deh kemarin daftar (maksa). Anda sudah bisa menyimak teman-teman blogger yang sudah merasakannya sendiri di <em>batch </em>pertama. Simak tulisan <a href="http://venus-to-mars.com/2011/08/20/farewell-marchy-good-bye/%20" target="_blank">Simbok Venus</a>, <a href="http://anggiemaya.net/?p=881" target="_blank">Anggie Sukarno</a>, <a href="http://the.karimuddin.com/2011/08/review-nissan-march-part-1-overview/%20" target="_blank">Amir Karimuddin</a>, dan <a href="http://www.cesarsidolisa.com/?p=803%20" target="_blank">Cesar Sidolisa</a> ini sebagai contohnya. Ingin tahu juga sih, seandainya ada nih satu blogger yang nggak puas saat mengendarai Nissan March, lalu menuliskannya ketidaksukaan itu di blognya, apa yang akan terjadi ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/22/menulis-pengalaman-berkendara-melalui-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Donasi Brand di Social Media</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/04/aksi-donasi-brand-di-social-media/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/04/aksi-donasi-brand-di-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 06:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[abc]]></category>
		<category><![CDATA[cause]]></category>
		<category><![CDATA[dove]]></category>
		<category><![CDATA[garudafood]]></category>
		<category><![CDATA[lg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4618</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap memasuki bulan Ramadhan, banyak <em>brand</em> menunjukkan kepeduliannya melalui program CSR mereka. Bedanya di tahun 2011 ini, ada beberapa <em>brand</em> yang mulai menjadikan kanal <em>social media</em> (Twitter dan Facebook) sebagai medium CSR mereka. Hingga saat ini (yang terdeteksi) sudah ada 4 <em>brand</em> lokal yang melakukan aktivitas CSR mereka dengan mekanisme yang berbeda-beda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/10/donation.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap memasuki bulan Ramadhan, banyak <em>brand</em> menunjukkan kepeduliannya melalui program CSR mereka. Bedanya di tahun 2011 ini, ada beberapa <em>brand</em> yang mulai menjadikan kanal <em>social media</em> (Twitter dan Facebook) sebagai medium CSR mereka. Hingga saat ini (yang terdeteksi) sudah ada 4 <em>brand</em> lokal yang melakukan aktivitas CSR mereka dengan mekanisme yang berbeda-beda.</p>
<p><strong><a href="http://twibbon.com/doverealcare" target="_blank">1. Dove Indonesia – Real Care</a></strong></p>
<p>Aksi Dove ini yang paling menonjol. Mereka mengajak pengguna Twitter untuk berdonasi melalui tagar #realcare. Setiap tweet dengan #realcare akan dikonversi menjadi donasi sebesar Rp.1.000,00. Dengan tanpa mengandalkan <em>buzzer </em>sama sekali, informasi ini menyebar dari tweet ke tweet. Dove juga akan menyumbangkan Rp.5.000,00 untuk setiap pengguna Twitter dan Facebook yang mau memasang <em>twibbon</em> Real Care di avatar mereka.</p>
<p>Sebagian besar isi tweet yang muncul memang sebagian tidak menunjukkan korelasi dengan makna #realcare yang dimaksud oleh <em>brand</em>. Meskipun demikian, tagar #realcare ini semalam sempat sejenak masuk menjadi salah satu <em>worldwide trending topic</em>. Hihihi, mudah-mudahan bujet donasi <em>brand </em>bisa menutupi ribuan tweet yang bermunculan dalam semalam.</p>
<p>Nantinya hasil sumbangan akan digunakan untuk membantu pendidikan anak-anak Indonesia, melalui Yayasan Cinta Anak Bangsa – HoPe program yang sudah dipilih oleh PT Unilever Indonesia, yang menjadi induk <em>brand </em>Dove.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-dove.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4621" title="donasi-dove" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-dove.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p><strong><a href="http://www.facebook.com/LGLovesIndonesia?sk=app_221374331237440%20" target="_blank">2. LG – Cup of Faith</a></strong></p>
<p>Sebelumnya LG pernah membuat program CSR <a href="http://www.facebook.com/LGLovesIndonesia?sk=app_223699007656929%20" target="_blank">Share The Joy</a> di Facebook. Melalui Facebook, setiap pengguna yang me-<em>like </em>LG akan terkonversi menjadi batu bata virtual. Setiap batu bata yang terkumpul ini akan dipakai untuk membangun tempat belajar bagi anak jalanan di Bekasi.</p>
<p><object width="530" height="331" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/mCOkexRzPqg?version=3&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="530" height="331" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/mCOkexRzPqg?version=3&amp;hl=en_US" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p>Lalu di bulan Ramadhan ini, LG kembali membuat program CSR mereka yang kedua, yakni <a href="http://www.facebook.com/LGLovesIndonesia?sk=app_221374331237440%20" target="_blank">Cup of Faith</a>. Kali ini setiap tweet dengan tagar #cupoffaith akan dikonversi oleh LG menjadi 1 mangkuk beras 250 ml. Setiap <em>fans </em>Facebook juga bisa melakukan kontribusi serupa dengan membuka aplikasi Cup of Faith dan menekan tombol donasi. Total mangkuk beras yang disumbangkan bisa dicek langsung di Facebook Page LG.</p>
<p><object width="530" height="331" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/NEXlR6Q4Jqc?version=3&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="530" height="331" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/NEXlR6Q4Jqc?version=3&amp;hl=en_US" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p><strong><a href="http://twitter.com/#!/gerychocolatos/status/98857163405017088" target="_blank">3. Gery Chocolatos</a></strong></p>
<p>Sejujurnya aksi kepedulian yang dilakukan <em>brand </em>ini agak aneh. Katanya setiap <em>follower </em>akun ini akan dikonversi menjadi Rp.500,00, yang nantinya akan disalurkan kepada ribuan anak jalanan. Dengan jumlah <em>follower </em>akun ini sekarang yang sebanyak 17.000, berarti minimal sumbangan yang akan diberikan adalah sekitar 8,5 juta.</p>
<p>Aksi serupa dahulu kala pernah dilakukan oleh <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2010/10/31/donasi-melalui-social-media/%20" target="_blank">@indonesiaberdoa</a>, yang kala itu mengkonversi setiap <em>follower</em>-nya dengan Rp.25,00.<em> </em>Kesan yang ditimbulkan dari aksi @indonesiaberdoa saat itu adalah adanya rasa pamrih saat melakukan sumbangan. Entahlah apakah kesan serupa ini muncul pula di aksi yang dilakukan oleh Gery Chocolatos. Menurut kalian bagaimana?</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-gery.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4622" title="donasi-gery" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-gery.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p><strong><a href="http://twitter.com/#!/abcdapurpeduli/status/98975626081484800" target="_blank">4. ABC Dapur Peduli</a></strong></p>
<p>Yang dilakukan oleh ABC Dapur Peduli mirip dengan Gery Chocolatos. Setiap 3 <em>follower </em>akan dikonvesi menjadi sumbangan makan untuk 1 kaum dhuafa. Berbeda dengan Gery Chocolatos, aksi yang dilakukan ABC Dapur Peduli ini terlihat jauh lebih nyata. Bentuk sumbangannya langsung jelas dalam bentuk makanan, dan itu pun langsung dilakukan sore setiap harinya. Aksi ini pun langsung diinformasikan melalui Twitter, lengkap dengan foto dokumentasinya.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-abc.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4619" title="donasi-abc" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-abc.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-abc2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4620" title="donasi-abc2" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/08/donasi-abc2.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p>Pilihan berdonasi di social media kini semakin banyak. Tinggal terserah nih mau mencoba yang mana. Yang jelas, bagi kita yang ingin berdonasi, sebaiknya kita pastikan dulu hasil donasi ini akan disumbangkan dalam bentuk apa dan kepada siapa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/08/04/aksi-donasi-brand-di-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

