<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Ide</title>
	<atom:link href="http://media-ide.bajingloncat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://media-ide.bajingloncat.com</link>
	<description>Where Indonesia's online branding, social media, and creativity is talked about</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Apr 2012 13:41:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Infografis: Google+ di Indonesia</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/15/infografis-google-di-indonesia/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/15/infografis-google-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 13:17:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[infographic]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4982</guid>
		<description><![CDATA[Masih terkait dalam rangkaian seri infografis di blog ini, kali ini yang ditampilkan adalah infografis keanggotaan Google+ dari Indonesia. Sumber data diambil dari <a href="http://www.findpeopleonplus.com " target="_blank">situs ini</a>, namun untuk jumlah <em>circle</em>-nya dicek ke profil masing-masing orang. Menariknya, tiga orang Indonesia yang di-<em>circle </em>oleh puluhan ribu orang semuanya adalah fotografer. Mereka memanfaatkan Google+ untuk berbagi (sekaligus promosi) keahlian fotografi mereka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/infographics-googleplus-indonesia.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Masih terkait dalam rangkaian seri infografis di blog ini, kali ini yang ditampilkan adalah infografis keanggotaan Google+ dari Indonesia. Sumber data diambil dari <a href="http://www.findpeopleonplus.com " target="_blank">situs ini</a>, namun untuk jumlah <em>circle</em>-nya dicek ke profil masing-masing orang. Menariknya, tiga orang Indonesia yang paling banyak di-<em>circle </em>oleh puluhan ribu orang semuanya adalah fotografer. Mereka memanfaatkan Google+ untuk berbagi (sekaligus promosi) keahlian fotografi mereka. Klik gambar untuk melihatlebih besar.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/infographics-googleplus-indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4983" title="infographics googleplus indonesia" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/infographics-googleplus-indonesia.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/15/infografis-google-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Infografis: Pinterest di Indonesia</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/14/infografis-pinterest-di-indonesia/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/14/infografis-pinterest-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 16:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[contest]]></category>
		<category><![CDATA[infographic]]></category>
		<category><![CDATA[pinterest]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4974</guid>
		<description><![CDATA[Sudah tahu tentang kontes Infografisme belum? Kalau belum silakan cek dulu infonya di <a href="http://infografisme.com/ " target="_blank">situs ini</a>. Anda bisa mengolah data-data apapun (lebih baik sih kalau terkait dengan Indonesia) menjadi tampilan visual yang menarik, enak dibaca, dan mudah dipahami. Lebih detilnya silakan cek saja aturan mainnya <a href="http://infografisme.com/Peraturan%20Kontes" target="_blank">di sini</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/infographics-pinterest-indonesia.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Sudah tahu tentang kontes Infografisme belum? Kalau belum silakan cek dulu infonya di <a href="http://infografisme.com/ " target="_blank">situs ini</a>. Anda bisa mengolah data-data apapun (lebih baik sih kalau terkait dengan Indonesia) menjadi tampilan visual yang menarik, enak dibaca, dan mudah dipahami. Lebih detilnya silakan cek saja aturan mainnya <a href="http://infografisme.com/Peraturan%20Kontes" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Karena yang menulis blog ini didaulat sebagai juri (ehem), kok rasanya nggak afdol kalau nggak bikin infografis juga. Ini cuma contoh ya. Anda pasti bisa membuat infografis yang jauh lebih baik daripada ini. Sekalian saja, mumpung belum ada yang membuat infografis tentang pengguna Pinterest di Indonesia, disusunlah informasi singkat berikut ini. Semua data ini bisa diambil di internet, dan sumbernya bisa dibaca di bagian bawah infografis. Klik gambar untuk melihat lebih besar.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/infographics-pinterest-indonesia.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4975" title="infographics pinterest indonesia" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/infographics-pinterest-indonesia.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/14/infografis-pinterest-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedekatan Sesama Pengguna Social Media</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/13/kedekatan-sesama-pengguna-social-media/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/13/kedekatan-sesama-pengguna-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2012 02:01:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4967</guid>
		<description><![CDATA[Dulu orang malu dan takut berbagi cerita tentang dirinya. Sejak <em>social media </em>masuk jadi bagian dalam kehidupannya, batasan kemaluan dan ketakutan berkurang. Seakan-akan <em>social media</em> bisa menjadi tempat untuk berbagi semua cerita, baik terhadap teman lama maupun terhadap teman yang baru dikenal. Orang yang paham <em>social media </em>pasti sadar kalau dalam berbagi selalu ada batasannya. Yang cerdas adalah yang berbagi cerita hal-hal yang memang layak diceritakan ke publik maya. Yang cerdas pasti tak akan membeberkan informasi dan kegiatan yang bersifat sangat pribadi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/kedekatansocialmedia.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/kedekatansocialmedia.jpg"><img class="size-medium wp-image-4968 alignleft" title="kedekatansocialmedia" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/kedekatansocialmedia-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Dulu orang malu dan takut berbagi cerita tentang dirinya. Sejak <em>social media </em>masuk jadi bagian dalam kehidupannya, batasan kemaluan dan ketakutan berkurang. Seakan-akan <em>social media</em> bisa menjadi tempat untuk berbagi semua cerita, baik terhadap teman lama maupun terhadap teman yang baru dikenal. Orang yang paham <em>social media </em>pasti sadar kalau dalam berbagi selalu ada batasannya. Yang cerdas adalah yang berbagi cerita hal-hal yang memang layak diceritakan ke publik maya. Yang cerdas pasti tak akan membeberkan informasi dan kegiatan yang bersifat sangat pribadi.</p>
<p>Kebiasaan bercerita dan ngobrol dengan banyak orang di <em>social media</em>, secara nggak langsung akan membangun keterikatan. Bisa saja belum pernah ketemu, tapi dalam kesehariannya selalu rajin saling menanggapi di Twitter. Lama-lama perasaan kedekatan akan muncul dengan sendirinya. Bahkan saat ada yang sakit atau mengalami kecelakaan, teman-teman di Twitter akan langsung ikut men-<em>support</em>, padahal mungkin ketemu orangnya langsung aja belum pernah. Demikian sebaliknya, saat ada yang ulang tahun, ucapan selamat bermunculan dari mana-mana, termasuk dari orang yang belum pernah ditemui.</p>
<p>Kedekatan dalam <em>social media</em> terkadang membuat kita jadi ingin tahu lebih banyak tentang orang tersebut. Mungkin ada yang mencoba mempelajari karakter orang tersebut melalui setiap tweetnya. Padahal kenyataannya bisa saja karakteristik asli orang tersebut berbeda jauh dengan apa yang ia bangun di publik maya. <em>Social media </em>memungkinkan orang untuk membangun pencitraan. Yang cerdas biasanya adalah yang mampu menonjolkan persona positifnya di publik maya, sembari meredam kejelekannya. Buat apa para <em>follower </em>tahu kalau seorang motivator keren itu ternyata tidurnya ngorok, misalnya.</p>
<p>Keingintahuan tentang karakteristik orang memang memupuk sikap kepo (ingin tahu) dalam diri. Sebelum <em>social media</em>, agak sulit mengawasi kelakukan orang lain (kecuali kalau memang orang itu dibuntuti terus ya). Sekarang<em> social media</em> memudahkan orang yang kepo untuk menelurusi seseorang itu habis ngapain aja, dengan siapa, di mana, dll. Itulah makanya orang yang cerdas akan memilih bagian mana dalam kehidupannya yang akan ia bagi ceritanya di publik maya, karena ia pasti tahu kalau di Facebook dan Twitter sangat banyak orang yang kepo.</p>
<p>Facebook dan Twitter memang mengubah kebiasaan orang dalam berbagi. Sekarang tinggal pilih-pilih saja konten apa yang bisa kita bagi kepada publik maya. Kalau ingin membangun pencitraan, ya berbagilah konten yang mendukung pencitraan. Nggak ada juga kali motivator di Twitter yang berbagi betapa galaunya ia saat diputusin pacar. Nggak ada juga kali pengusaha di Twitter yang akan berbagi tips bagaimana menggelapkan pajak. Dan nggak ada juga kali ada seorang profesional yang berbagi cerita kalau dia habis dimarahin habis-habisan oleh kliennya.</p>
<p>Selain berbagi konten menarik, yang cerdas di <em>social media</em> pasti rajin berinteraksi dengan pengguna lainnya. Ngobrol. Diskusi. Tukar pikiran. Bercanda. Tertawa bareng. Semua dilakukan supaya kedekatan semakin terjalin. Semakin orang merasa dekat, semakin orang itu akan mengganggap lawan ngobrolnya di <em>social media </em>adalah temannya juga. Siapa sih yang nggak suka dalam mencari teman? Karena akhirnya cuma teman yang akan membantu dan memberi masukan kala menghadapi suatu masalah.</p>
<p>Nah, saat Anda berinteraksi di Twitter dan Facebook, apa sih yang Anda cari? Kedekatan dengan teman-teman baru Anda? Ataukah memang sengaja cari musuh di <em>social media</em>?</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/webranking-sem-images/4346403323/" target="_blank">WebRanking Pictures</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/13/kedekatan-sesama-pengguna-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Tentang Diri di Publik Maya</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/11/cerita-tentang-diri-di-publik-maya/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/11/cerita-tentang-diri-di-publik-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 15:43:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[aboutme]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[instagram]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[path]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[tumblr]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4961</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup kita selalu penuh dengan cerita. Kadang menarik, kadang membosankan, kadang butuh sesuatu untuk dikenang, kadang ada beberapa hal yang tak ingin lagi kita ingat. Pastinya di masa datang tetap akan datang momen dimana kita rindu mengingat peristiwa yang dialami di masa lalu. Kalau dulu kita merekoleksi ingatan melalui album foto cetak. Kini kita bisa mengingatnya melalui perjalanan kita di social media. Lebih mudah, gampang dicari, dan kita bisa mengingat setiap peristiwa dengan lebih detil.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/ceritadiri.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ceritadiri.jpg"><img class="size-medium wp-image-4962 alignleft" title="ceritadiri" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ceritadiri-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Perjalanan hidup kita selalu penuh dengan cerita. Kadang menarik, kadang membosankan, kadang butuh sesuatu untuk dikenang, kadang ada beberapa hal yang tak ingin lagi kita ingat. Pastinya di masa datang tetap akan datang momen dimana kita rindu mengingat peristiwa yang dialami di masa lalu. Kalau dulu kita merekoleksi ingatan melalui album foto cetak. Kini kita bisa mengingatnya melalui perjalanan kita di social media. Lebih mudah, gampang dicari, dan kita bisa mengingat setiap peristiwa dengan lebih detil.</p>
<p>Untuk penulis pribadi sih, lebih suka merekam kegiatan yang menyenangkan melalui tulisan di blog dan <em>ebook</em>. Beberapa perjalanan memori juga dilakukan melalui jepretan foto di Instagram. Setiap orang bisa melakukan dengan caranya masing-masing. Ada yang mengunggahnya jepretan fotonya di Flickr. Ada yang puas hanya dengan menulis <em>status update</em> hidupnya di Facebook atau Twitter.</p>
<p>Kalau diperhatikan ya, sepertinya salah satu tren <em>social media </em>belakangan ini adalah kesempatan lebih luas untuk bercerita tentang diri sendiri. Semakin banyak fitur yang disajikan dalam dunia <em>social media </em>yang memvisualkan cerita tentang kehidupan diri kita sendiri.</p>
<p>Yang paling terlihat adalah format <em>timeline</em> di Facebook. Kita bisa melihat profil seseorang di Facebook melalui runutan waktu. Sejak awal orang itu lahir, pertama kali bergabung di Facebook, hingga cerita tentang orang itu hingga saat ini. Semua <em>status update</em>, foto, video, aktivitas yang kita lakukan dengan aplikasi pihak ketiga (seperti Path, Instagram, Tumblr, dll) tersaji berurutan di <em>timeline</em>. Kita jadi bisa membaca perjalanan cerita orang dari waktu ke waktu.</p>
<p>Pernah coba About.me kan? Situs tempat kita membuat “kartu nama” berupa halaman pribadi di ranah daring. Kita bisa bercerita singkat/panjang tentang profil kita di sini. “Kartu nama” ini bisa kita tambahkan foto satu layar penuh supaya lebih merepresentasikan karakter kita. Masih kurang lengkap? Silakan tambahkan tautan ke blog, YouTube, LinkedIn, Twitter, Facebook, dll. Intinya, About.me adalah tempat kita bercerita singkat tentang karakter kita di publik maya.</p>
<p>Hidup kita tidak selalu di depan komputer, namun hampir setiap saat kita memegang <em>smartphone</em>. <em>Social media </em>semakin tak lepas dari jari kita. Kita pun akhirnya bisa bercerita tentang diri kita melalui <em>smartphone</em>. Salah satu yang tren sekarang adalah <a href="http://path.com " target="_blank">Path</a>, yang bisa dipakai di iOS dan Android. Di Path jumlah teman kita dibatasi. Tujuannya memang supaya yang bisa membaca kisah kita hanyalah teman-teman terdekat kita saja.</p>
<p>Aplikasi Path sebenarnya tak berbeda jauh dengan apa yang sudah ditawarkan oleh Facebook, namun orang suka menggunakan aplikasi ini karena <em>privacy</em>-nya lebih terjaga, selain memang karena tampilan antarmukanya yang memang menarik. Path menyajikan setiap tulisan/foto/video/dll dalam format <em>timeline</em>. Kita bahkan bisa “tidur” dan “bangun” di Path. Aplikasi ini menarik digunakan untuk kita yang ingin berbagi cerita diri namun hanya pada orang-orang tertentu saja.</p>
<p>Karena orang suka bercerita tentang dirinya sendiri, nggak salah ketika Intel membuat kampanye <a href="http://www.intel.com/museumofme/ " target="_blank">Museum of Me</a> langsung sukses. Dengan Facebook Connect, aplikasi di situs ini akan mengambil tulisan, foto, video yang terakhir kita unggah di Facebook. Semuanya disajikan dalam bentuk museum. Idenya sungguh menarik, karena setiap orang punya ceritanya masing-masing.</p>
<p>Yang paling menarik adalah kalau cerita tentang diri kita di publik maya itu akhirnya bisa dikompilasi. Apalagi dicetak, dijadikan buku, yang bisa kita buka sewaktu-waktu seperti yang dilakukan DHL dengan <a href="http://apps.facebook.com/mysocialmemories/ " target="_blank">Social Memories</a>-nya. Aplikasi ini akan merekam semua <em>status update </em>kita sejak tahun 2009. Kita bisa me-<em>layout</em> buku sesuai <em>template</em> yang disediakan. Hasil buku ini sendiri bisa kita tampilkan sebagai galeri di Facebook atau bisa kita pesan dengan membeli <em>gift voucher </em>terlebih dahulu.</p>
<p>Ada banyak cara untuk berbagi cerita di publik maya. Silakan pilih yang sesuai dengan kebutuhan kita sendiri.</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/agdemesa/5409363547/" target="_blank">Agdemesa</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/11/cerita-tentang-diri-di-publik-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook Page versi Timeline</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/03/facebook-page-versi-timeline/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/03/facebook-page-versi-timeline/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 03:42:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[infographic]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4953</guid>
		<description><![CDATA[Sejak sebulan lalu Facebook Page untuk <em>brand </em>sudah mengalami perubahan. Seharusnya sejak tanggal 30 Maret kemarin, semua Page otomatis berubah ke versi baru, yakni versi <em>timeline</em>. Jadi para admin <em>social media</em>, terima jadi saja perubahan yang terjadi di Facebook. Lagi pula ini bukan pertama kalinya Facebook Page berubah (kalau nggak salah ini sudah versi ketiga), dan bukan nggak mungkin akan berubah kembali di masa datang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/infographics_facebooktimeline.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Sejak sebulan lalu Facebook Page untuk <em>brand </em>sudah mengalami perubahan. Seharusnya sejak tanggal 30 Maret kemarin, semua Page otomatis berubah ke versi baru, yakni versi <em>timeline</em>. Jadi para admin <em>social media</em>, terima jadi saja perubahan yang terjadi di Facebook. Lagi pula ini bukan pertama kalinya Facebook Page berubah (kalau nggak salah ini sudah versi ketiga), dan bukan nggak mungkin akan berubah kembali di masa datang.</p>
<p>Sekarang tinggal bagaimana para <em>brand </em>mengadaptasi versi baru ini dengan lebih maksimal. Berikut ini beberapa tips untuk membuat tampilan Facebook Page lebih menarik:</p>
<ul>
<li>Perbanyak gambar. Desain <em>timeline </em>ini kuat secara visual. Semakin banyak visual yang melengkapi <em>status update</em>, tampilan Facebook Page akan semakin terlihat hidup. Sebaliknya, bila hanya mengandalkan teks saja, tampilan Facebook Page akan terlihat kosong.</li>
<li><em>Timeline</em> = sejarah. Manfaatkan <em>timeline </em>untuk menceritakan sejarah <em>brand </em>lebih dalam. Gunakan <em>milestone </em>untuk <em>posting </em>yang menjadi titik sejarah menarik dalam kehidupan <em>brand</em>. Misalnya: perubahan logo, keluarnya <em>packaging </em>baru, <em>event </em>raksasa, dll.</li>
<li>Taruh semua aplikasi di dalam <em>page tab</em>. Kalau dulu, banyak aplikasi yang tidak ditanam di dalam <em>page tab</em>, karena sempitnya lebar <em>canvas</em>. Kini, dengan <em>canvas </em>yang sangat lebar, seharusnya aplikasi bisa dengan nyaman ditaruh di sini. Ini juga akan memperpendek jumlah klik yang harus dilakukan pengguna sebelum sampai ke aplikasi yang diinginkan.</li>
<li>Dulu aplikasi di <em>page tab</em> bisa dijadikan <em>landing page</em>. Di versi <em>timeline</em>, hal ini tidak bisa lagi. Sebagai penggantinya, tulis <em>status update </em>yang menyajikan tautan ke <em>page tab</em>. Lalu <em>pin status update </em>itu, supaya muncul di paling atas kiri <em>timeline. Status update </em>yang di-<em>pin </em>ini akan bertahan selama 7 hari. Atau akali desain <em>cover page </em>dengan menambahkan tanda panah yang mengarah ke <em>thumbnail page tab </em>yang diinginkan.</li>
</ul>
<p>Untuk tahu lebih banyak apa saja perubahannya, mudah-mudahan infographic di bawah ini bisa membantu. Bahasannya pun sudah sangat lengkap.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/infographics_facebooktimeline.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4954" title="infographics_facebooktimeline" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/infographics_facebooktimeline.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/03/facebook-page-versi-timeline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Ikutan Kuis di Twitter tuh&#8230;</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/02/kalau-ikutan-kuis-di-twitter-tuh/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/02/kalau-ikutan-kuis-di-twitter-tuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2012 08:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[contest]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4947</guid>
		<description><![CDATA[Nggak ada yang melarang bikin kontes di Twitter. Semua boleh bikin aktivitas di Twitter dalam bentuk apapun, termasuk menyelenggarakan kuis berhadiah. Cuma ya Twitter itu kan tempat umum. Seperti tempat umum lainnya, kita bebas membuat kegiatan apapun, asalkan tidak membuat orang lain merasa terganggu. Nggak beda dengan Twitter. Di setiap tweet yang kita buat sebaiknya tidak membuat orang lain jadi merasa terganggu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/dennyja_world.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Nggak ada yang melarang bikin kontes di Twitter. Semua boleh bikin aktivitas di Twitter dalam bentuk apapun, termasuk menyelenggarakan kuis berhadiah. Cuma ya Twitter itu kan tempat umum. Seperti tempat umum lainnya, kita bebas membuat kegiatan apapun, asalkan tidak membuat orang lain merasa terganggu. Nggak beda dengan Twitter. Di setiap tweet yang kita buat sebaiknya tidak membuat orang lain jadi merasa terganggu.</p>
<p>Nah sayangnya perilaku para peserta kuis di Twitter kadang membuat warga Twitter lainnya berteriak gerah tidak nyaman. Ada banyak sebetulnya kuis di Twitter, namun yang paling mengganggu adalah kuis berhadiah yang diselenggarakan @DennyJA_WORLD. Melalui akunnya, setiap <em>follower</em>-nya diajak untuk mempromosikan akun @DennyJA_WORLD dengan iming-iming hadiah besar setiap bulannya.</p>
<p>Mekanisme promosi ini membuat pesertanya berlomba banyak-banyakan <em>mention </em>orang lain untuk mem-<em>follow </em>akun itu. Menyebalkan memang jadinya. Sudah entah berapa kali dapat <em>mention </em>seperti itu. Lebih menyebalkan lagi adalah mereka yang ikutan kuis itu nggak pernah berinteraksi sebelumnya dengan kita. Kalau dicek, bisa ditemukan banyak akun <em>dummy </em>yang dibuat untuk <em>mention </em>orang lain secara acak. Semua isi tweetnya sama persis. Memang kelihatan sengaja dibuat demi kepentingan pemenangan kuis.</p>
<p>Untuk kalian yang ikutan kuis akun itu (dan akun-akun yang punya mekanisme permainan serupa), sadarlah karena kemungkinan kalian untuk menang itu kecil sekali. Sudah tidak mungkin menang, yang ada kalian malah dibenci oleh warga Twitter lainnya. Nggak sedikit yang pastinya malah akan nge-<em>block </em>akun kalian (bahkan melaporkannya sebagai <em>spam</em>).</p>
<p>Untuk @DennyJA_WORLD dan akun-akun serupa lainnya, semoga kalian sadar kalau dunia Twitter bukan sekedar banyak-banyakan <em>follower</em>. Namun kalau kalian bersikukuh ingin mendapatkan sebanyak mungkin <em>follower</em>, ya itu sih terserah kalian. Hanya saja pikirkan mekanisme yang tidak membuat <a href="https://twitter.com/#!/search/realtime/%40dennyja_world" target="_blank">linimasa Twitter menjadi sampah</a> karena aktivitas kalian.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/dennyja_world.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4948" title="dennyja_world" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/dennyja_world.jpg" alt="" width="530" height="306" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/02/kalau-ikutan-kuis-di-twitter-tuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dentsu Digital dan Aplikasi iButterfly</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/01/dentsu-digital-dan-aplikasi-ibutterfly/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/01/dentsu-digital-dan-aplikasi-ibutterfly/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 05:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[android]]></category>
		<category><![CDATA[blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[dentsu]]></category>
		<category><![CDATA[Interview]]></category>
		<category><![CDATA[iphone]]></category>
		<category><![CDATA[mobile]]></category>
		<category><![CDATA[unilever]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4935</guid>
		<description><![CDATA[Sudah pernah mencoba aplikasi iButterfly Indonesia belum? Aplikasi <em>mobile </em>ini bisa diunduh oleh pengguna iOS dan Android. Permainannya berupa game menangkap dan mengoleksi kupu-kupu. Koleksi yang lengkap nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah tertentu. Yang membuatnya unik, aplikasi ini justru dikembangkan oleh <em>advertising agency</em>, dan bukan oleh <em>developer </em>independen. Kesempatan kali ini Media Ide mewawancara Mbak Paramitha Indri Hapsari (Mitha) dari Dentsu Digital yang bertanggung jawab tentang pelaksanaan program ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly0.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Sudah pernah mencoba aplikasi iButterfly Indonesia belum? Aplikasi <em>mobile </em>ini bisa diunduh oleh pengguna iOS dan Android. Permainannya berupa game menangkap dan mengoleksi kupu-kupu. Koleksi yang lengkap nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah tertentu. Yang membuatnya unik, aplikasi ini justru dikembangkan oleh <em>advertising agency</em>, dan bukan oleh <em>developer </em>independen. Kesempatan kali ini Media Ide mewawancara Mbak Paramitha Indri Hapsari (Mitha) dari Dentsu Digital yang bertanggung jawab tentang pelaksanaan program ini.</p>
<p>(Wawancara dituliskan apa adanya seperti aslinya, kecuali koreksi yang bersifat editorial)</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4936" title="ibutterfly1" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly1.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>Hai Mitha, apa sih sebenarnya aplikasi iButterfly?</strong></p>
<p>iButterfly adalah aplikasi 3 platform <em>smartphone</em>, yaitu Blackberry, Android, dan iPhone, menggunakan teknologi <em>augmented reality</em>. Kita dapat menangkap (<em>catch</em>), mengoleksi (<em>collect</em>), berbagi (<em>share</em>) dan <em>redeem</em>. Aplikasi ini dirancang untuk menjembatani produsen yang ingin mengaktivasi produknya dengan cara yang unik, dan bagi pengguna agar mulai mengeksplorasi <em>smartphone</em>-nya dengan cara yang berbeda dan memiliki <em>value</em>.</p>
<p><strong>Sebenarnya iButterfly ini kreasi dan milik siapakah?</strong></p>
<p>Inovasi iButterfly ini sebelumnya dikembangkan oleh Dentsu Inc. Tokyo dan telah diluncurkan di Jepang tahun 2010. Tapi kontennya tidak komersial, dan lebih digunakan untuk mempromosikan keunikan kultur di setiap provinsi di Jepang. Tahun 2011,  aplikasi dikembangkan oleh Dentsu Media Palette Hongkong bersama Cherrypicks sebagai <em>developer</em>-nya. Aplikasi ini kemudian dikembangkan lebih komersil untuk aktivasi <em>b</em><em>rand</em>. Dari situlah iButterfly kemudian dibawa ke Singapura, Malaysia, dan akhirnya sekarang di Indonesia.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4937" title="ibutterfly2" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly2.jpg" alt="" width="520" height="398" /></a></p>
<p><strong>Sudah berapa banyak <em>brand</em> yang terlibat dalam aktivasi iButterfly ini, dan apa sih yang membuat mereka tertarik ikutan?</strong></p>
<p><em>Brand</em> lokal yang sudah tertarik menggunakan aplikasi ini antara lain Unilever (Buavita, Dove dan akan hadir Cornetto), Gatsby, Telkomsel, dan beberapa <em>brand</em> lain sudah menunjukkan ketertarikan menggunakan platform ini. Yang menarik mungkin platform dan cara komunikasi yang baru, dikemas dalam paket yang lebih menyenangkan.</p>
<p><strong>Saat ini ada berapa banyak pengguna aktifnya? Terkait dengan <em>brand</em>, adakah KPI yang diminta <em>brand</em> terkait dengan aplikasi ini?</strong></p>
<p>Hingga akhir bulan lalu, total <em>download</em> mencapai 31,776. Pengguna yang tercatat sampai saat ini (i) iOS:  3,597 (ii) Android: 10,409 (iii) BlackBerry: 17,770. Untuk KPI mungkin bukan dlihat dari jumlah pengguna, tapi lebih kepada berapa banyak kupu-kupu yang ditangkap dan ditukarkan dengan promosi terkait dari <em>brand</em>.</p>
<p><strong>Kenapa menyasar pengguna iPhone, Android dan BlackBerry)? Bukankah pasar mereka lebih kecil daripada pengguna <em>featured phone</em>?</strong></p>
<p>Pada awalnya iButterfly memang hanya didesain untuk menyasar pengguna <em>smartphone</em> (Jepang dan Hongkong). Khusus di Indonesia, melihat besarnya pasar BlackBerry maka diputuskan untuk mengembangkan pula seri BlackBerry. Namun memang, <em>user experience </em>tidak sama seperti versi iOS dan Android karena keterbatasan teknologi <em>handset</em>. Ini juga berlaku untuk <em>featured phone</em> yang secara teknologi agak sulit untuk diutak-atik lagi.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4938" title="ibutterfly3" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/04/ibutterfly3.jpg" alt="" width="530" height="398" /></a></p>
<p><strong>Menurut Mitha, apa yang akhirnya membuat orang tertarik untuk men-<em>download</em> dan memainkan aplikasi tersebut?</strong></p>
<p>Sejauh ini sih kebanyakan orang tertarik karena unsur <em>gaming</em>-nya, karena masih jarang yang berbasis AR dan kontennya lokal. Selain itu juga karena promosi dari <em>brand</em> yang menjadi motivasi bagi pengguna untuk mengumpulkan kupu-kupu.</p>
<p><strong>Akankah ada pengembangan lanjutan dari aplikasi iButterfly ini?</strong></p>
<p>iButterfly masih dalam tahap perkembangan dan uji coba, tentunya ini akan terus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kapasitas <em>smartphone</em>. Misalnya saat ini sedang ditambahkan fitur Twitter Connect dan BlackBerry Connect. Di masa datang unsur <em>gaming</em> juga akan lebih ditonjolkan untuk memancing interaksi dengan user (sistem <em>achievement award</em>). Kami juga sedang dalam tahap diskusi dengan beberapa <em>partner</em> untuk pengembangan secara teknis.</p>
<p><strong>Terima kasih Mitha! Ditunggu pengembangan selanjutnya dari produk iButterfly ya!</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/04/01/dentsu-digital-dan-aplikasi-ibutterfly/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Film Durable Love</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/16/film-durable-love/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/16/film-durable-love/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 01:17:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[acer]]></category>
		<category><![CDATA[intel]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4928</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2008 Intel di Indonesia pernah membuat film pendek <em>action</em> <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/20/film-pendek-dari-intel-core-i7/ " target="_blank">Secret of the Box</a>, tapi kala itu <em>hype</em>-nya tak terlalu heboh. Mungkin karena waktu itu belum banyak juga pengguna internet Indonesia yang bisa mengakses YouTube dengan lancar, plus <em>social media </em>di Indonesia belum seheboh sekarang. Di tahun 2012 ini Intel (dan Acer) mensponsori pembuatan film independen. Kali ini genre yang diambil adalah romantis, dan disutradarai oleh Joko Anwar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/02/durablelove1.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Tahun 2008 Intel di Indonesia pernah membuat film pendek <em>action</em> <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/20/film-pendek-dari-intel-core-i7/ " target="_blank">Secret of the Box</a>, tapi kala itu <em>hype</em>-nya tak terlalu heboh. Mungkin karena waktu itu belum banyak juga pengguna internet Indonesia yang bisa mengakses YouTube dengan lancar, plus <em>social media </em>di Indonesia belum seheboh sekarang. Di tahun 2012 ini Intel (dan Acer) mensponsori pembuatan film independen. Kali ini genre yang diambil adalah romantis, dan disutradarai oleh Joko Anwar.</p>
<p>Film ini bisa diakses hanya di <a href="http://www.durablelovemovie.com/ " target="_blank">situsnya</a> mulai 14 Februari kemarin. Untuk bisa melihat film ini, kita harus “membeli” tiket terlebih dahulu, dengan mengisi nama dan email. Nanti kita akan mendapat <em>email </em>pemberitahuan dengan kode <em>referral</em>, yang bisa kita pakai untuk mengakses filmnya.</p>
<p>Kebetulan sempat menyaksikan film ini pertama kali di saat <em>press conference </em>tanggal 11 Februari kemarin. Menariknya, ternyata film ini dibuat tanpa naskah dan <em>props </em>tambahan. Joko hanya mengarahkan saja, namun dialog dan ekspresi pemain sepenuhnya adalah spontanitas para pemerannya.</p>
<p><em>Buzz </em>tentang film ini sudah berlangsung di Twitter sejak seminggu sebelumnya. Lucunya, hampir semua punya persepsi kalau kata “<em>durable</em>”<em> </em>dan “<em>love</em>” itu mengarah pada produk kondom. Nggak salah juga sih ya, apalagi <em>buzz </em>ini mendekati hari Valentine<em>. </em>Setelah menonton film ini, barulah paham apa yang dimaksud dengan “<em>durable</em>”<em> </em>dan “<em>love</em>” ini. Di film ini, setelah kita melihat adegan <em>notebook </em>terbaru Acer yang disiram air, dibanting, bahkan hingga digilas mobil, kita baru sadar kalau kata “<em>durable</em>”<em> </em>ini sebenarnya mewakili karakteristik produk Acer itu sendiri.</p>
<p>Filmnya sendiri? Bagus kok. Peletakan pesan <em>brand </em>dalam film terasa halus, dan tak mengganggu pesan yang ingin disampaikan Joko Anwar sendiri melalui filmnya. Tonton dulu deh, lalu silakan berkomentar di bawah ini.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/durablelove2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4930" title="durablelove2" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/durablelove2.jpg" alt="" width="530" height="455" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/16/film-durable-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tingkat Kepercayaan di Indonesia</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/14/tingkat-kepercayaan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/14/tingkat-kepercayaan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 01:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[edelman]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[infographic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4920</guid>
		<description><![CDATA[Semalam teman-teman di IndoPacific Edelman berbagi informasi menarik tentang tingkat kepercayaan di Indonesia, menggunakan metode pengukuran Edelman Trustbarometer (yang memang sudah sering mereka pakai sejak tahun-tahun sebelumnya). Isi presentasinya sendiri bisa dibaca saja salindianya berikut ini:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/02/2012EdelmanTrustBarometerIndonesiathumb.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Semalam teman-teman di IndoPacific Edelman berbagi informasi menarik tentang tingkat kepercayaan di Indonesia, menggunakan metode pengukuran Edelman Trustbarometer (yang memang sudah sering mereka pakai sejak tahun-tahun sebelumnya). Isi presentasinya sendiri bisa dibaca saja <a href="http://www.slideshare.net/indopacedelman/2012-edelman-trust-barometer-indonesian-findings" target="_blank">salindianya</a> berikut ini:</p>
<p><iframe src="http://www.slideshare.net/slideshow/embed_code/11440101" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" width="510" height="426"></iframe></p>
<p>Sudah dibaca? Banyak sih memang bahasannya. Ada pengukuran yang membandingkan tingkat kepercayaan Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Ada juga yang membahas tingkat kepercayaan audiens terhadap lembaga korporasi, industri, dan media, dibandingkan dengan rata-rata negara lain di dunia.</p>
<p>Hasil survei juga menunjukkan kalau audiens butuh 3-5 kali menerima informasi sebelum akhirnya percaya terhadap informasi tersebut. Dibandingkan tahun sebelumnya, audiens juga semakin percaya terhadap informasi yang disampaikan melalui media tradisional, media daring, dan hebatnya audiens pun semakin mempercayai informasi yang disampaikan via <em>social media</em>.</p>
<p>Kalau tahun sebelumnya, individu biasa (seperti kita) masih tidak bisa diandalkan sebagai sumber informasi, di tahun ini justru kepercayaan terhadap individu biasa seperti ini meningkat. Artinya, bisa jadi kita semakin lebih percaya apa kata teman, saudara, relasi kita daripada orang-orang yang berada jauh di lingkaran kita.</p>
<p>Kalau melihat data yang disampaikan Edelman ini, sebenarnya ada pertanyaan sih. Baiklah tingkat kepercayaan terhadap informasi di <em>social media </em>meningkat, apalagi kalau disampaikan oleh teman kita sendiri. Masalahnya, apakah benar informasi yang disampaikan itu berdasarkan fakta yang benar?</p>
<p>Ingat nggak, pengguna <em>social media </em>di Indonesia itu punya satu kebiasaan buruk terkait dengan ini. Kalau ada yang melempar info di Twitter, misalnya tentang seseorang meninggal, dengan santainya banyak yang melakukan <em>retweet</em> dan menyebarkan, tanpa terlebih dahulu melakukan konfirmasi apakah itu <em>hoax </em>atau fakta. Begitu di linimasa kita melihat beberapa tweet serupa, kita langsung saja ikut menyebarkan.</p>
<p>Nggak berbeda dengan penyebaran informasi yang disampaikan melalui BBM. Asalkan ada pengguna BBM yang membaca informasi dari temannya yang layak untuk disebarkan (karena ia menganggapnya penting), maka dengan gampangnya ia melakukan <em>broadcast message</em>. Padahal belum tentu juga informasi yang dibacanya benar.</p>
<p>Mudah-mudahan saja, seiring dengan terus meningkatnya tingkat kepercayaan di Indonesia ini, bisa diikuti dengan penyebaran informasi yang lebh bertanggung jawab pula. Semua tentunya kembali ke diri kita sendiri. Cek dahulu kebenaran sumber informasi sebelum kita menekan tombol <em>Send</em>.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/2012EdelmanTrustBarometerIndonesia-Infograph.png"><img class="aligncenter size-large wp-image-4921" title="2012 Edelman Trust Barometer Indonesia - Infograph" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/2012EdelmanTrustBarometerIndonesia-Infograph-465x1024.png" alt="" width="465" height="1024" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/14/tingkat-kepercayaan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pinterest dan Brand</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/08/pinterest-dan-brand/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/08/pinterest-dan-brand/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 14:49:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[amd]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[etsy]]></category>
		<category><![CDATA[gap]]></category>
		<category><![CDATA[pinterest]]></category>
		<category><![CDATA[travel channel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4910</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kali ada aplikasi <em>social media </em>baru yang lagi menanjak popularitasnya, otak ini selalu memikirkan, apa ya yang bisa diadaptasi oleh <em>brand </em>di sini? Saat Instagram dulu mulai populer, yang dipikirkan adalah dengan cara apa nanti <em>brand </em>bisa masuk di dalamnya. Nah sekarang ada lagi yang mulai menanjak popularitasnya. Namanya Pinterest, sebuah aplikasi <em>visual bookmark</em>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2012/02/pinterest_thumb.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_thumb.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4913" title="pinterest_thumb" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_thumb-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Setiap kali ada aplikasi <em>social media </em>baru yang lagi menanjak popularitasnya, otak ini selalu memikirkan, apa ya yang bisa diadaptasi oleh <em>brand </em>di sini? Saat Instagram dulu mulai populer, yang dipikirkan adalah dengan cara apa nanti <em>brand </em>bisa masuk di dalamnya. Nah sekarang ada lagi yang mulai menanjak popularitasnya. Namanya Pinterest, sebuah aplikasi <em>visual bookmark</em>.</p>
<p>Kalau dilihat fungsinya, sebenarnya Pinterest nggak jauh berbeda dengan Tumblr. Kalau di Tumblr ada <em>reblog</em>, maka di Pinterest ada <em>repin</em>. Konsepnya pun serupa, melakukan <em>posting </em>ulang terhadap apa yang sudah di-<em>posting </em>sebelumnya oleh pengguna lain. Ada pula <em>like</em>, yang fungsinya tak berbeda dengan Tumblr atau Instagram. Kita bisa menyimpan <em>posting </em>orang lain yang kita suka.</p>
<p>Yang membedakan dengan Tumblr, di Pinterest kita bisa membuat kategori sendiri. Bebas. Istilahnya <em>board</em>. Kita bisa <em>follow </em>orang lain dan mengikuti semua <em>board</em>-nya, atau kita bisa <em>follow </em>hanya <em>board </em>yang kita sukai saja. Pinterest juga lebih kuat secara visual. Lebih tepat untuk mengumpulkan koleksi visual di sini daripada di Tumblr. Namun jangan jadikan Pinterest sebagai tempat menulis blog, karena memang fungsinya nggak cocok untuk itu.</p>
<p>Setiap situs layanan <em>social media </em>pasti punya aturan mainnya sendiri. Etika beraktivitas di Pinterest sendiri bisa dibaca <a href="http://pinterest.com/about/etiquette/ " target="_blank">di sini</a>. Yang menarik di sini adalah poin ini:</p>
<blockquote><p><em>Avoid Self Promotion</em></p>
<p><em>Pinterest is designed to curate and share things you love. If there is a photo or project you’re proud of, pin away! However, try not to use Pinterest purely as a tool for self-promotion.</em></p></blockquote>
<p>Ini yang membedakannya dengan Twitter atau Facebook, tempat <em>brand </em>dengan lantang berjualan tentang dirinya sendiri. Pinterest adalah tempat untuk mengkurasi koleksi visual yang memang kita suka. Seharusnya, kalau <em>brand </em>mau masuk ke Pinterest, maka yang perlu dilakukan bukanlah memamerkan koleksi TVC/<em>print ad</em>/kampanyenya, tapi cobalah mengkurasi gambar-gambar visual yang mencerminkan <em>lifestyle brand </em>tersebut. Bodoh-bodohannya begini, kalau sebuah <em>brand </em>punya hobi, maka apa sih hobinya? Nah coba tampilkan koleksi visual (dari manapun) yang bisa menunjukkan hobi si <em>brand</em>.</p>
<p>Jadi apa yang bisa dilakukan <em>brand </em>di Pinterest?</p>
<p><strong>Kontes</strong></p>
<p>Salah satu <em>brand fashion </em>luar, Land&#8217;s End Canvas, sempat membuat <a href="http://www.momblogmagazine.com/index/2011/12/lands-end-talks-working-with-pinterest/ " target="_blank">kontes pin</a>. Pengguna dipersilakan mengkurasi pin-pin berisikan gambar koleksi <em>brand </em>ini. Pengguna tinggal menjelajah situs Land&#8217;s End Canvas, lalu melakukan pin terhadap <em>item </em>yang disukai. Pemenang dipilih berdasarkan koleksi <em>item </em>yang paling keren dan <em>stylish</em>. Melalui kontes ini, <em>brand </em>diuntungkan karena koleksi produknya tersebar di Pinterest dengan cepat.</p>
<p><strong>Mengkurasi gambar sesuai karakteristik <em>brand</em></strong></p>
<p>Cek <a href="http://pinterest.com/amdunprocessed" target="_blank">AMD</a> di Pinterest deh. AMD nggak mungkin juga memamerkan <em>processor </em>komputer di sini, karena nggak ada keren-kerennya. Yang ditampilkan AMD di Pinterest adalah kurasi gambar-gambar yang identik dengan <em>geek </em>dan IT. Ada sih <em>board </em>AMD yang menampilkan notebook yang menggunakan <em>processor</em>-nya, namun selebihnya adalah <em>board </em>yang bersifat <em>fun</em>. AMD juga menggunakan Pinterest untuk menampilkan dokumentasi kegiatan pameran.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_amd.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4915" title="pinterest_amd" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_amd.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p><strong>Pamer, tapi dengan cara lebih halus</strong></p>
<p>Yang paling enak untuk pamer di Pinterest adalah <em>brand </em>yang berhubungan dengan <em>fashion</em>, makanan, dan <em>travel</em>. Cek <a href="http://pinterest.com/gap/ " target="_blank">GAP</a> deh, yang menampilkan koleksi <em>fashion</em>-nya. Salah satu <em>board </em>di akun ini mengkurasi foto-foto di banyak <em>fashion blog </em>yang menggunakan produk GAP. Ada pula sih <em>board </em>yang isinya murni “jualan” karena memamerkan koleksi terbaru dari situsnya.</p>
<p>Hal serupa dilakukan pula oleh <a href="http://pinterest.com/etsy/ " target="_blank">Etsy</a> yang mengkurasi <em>item </em>dari situsnya sendiri. Banyak koleksi <em>item </em>Etsy dipisah dalam beberapa <em>board </em>berdasarkan fungsinya (misal: untuk hadiah, untuk pernikahan, dll). Etsy bahkan nggak sungkan menuliskan harga di setiap pin-nya. Di Pinterest kalau kita menuliskan keterangan dengan tanda $, maka otomatis ini akan dianggap sebagai harga produk yang kita pin.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_gap.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4912" title="pinterest_gap" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_gap.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_etsy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4911" title="pinterest_etsy" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_etsy.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p><strong>Promosi wisata</strong></p>
<p>Ini sudah dilakukan secara tidak langsung oleh <a href="http://pinterest.com/travelchannel/ " target="_blank">Travel Channel</a>. Akun ini mengkurasi atraksi wisata menarik dunia, dipisahkan berdasarkan pantai, kota, hewan, makanan, dll. Pinterest juga menjadi salah satu cara untuk cerita di balik layar kegiatan dokumentasi yang dilakukan Travel Channel.</p>
<p>Hmm, seharusnya kalau mau, kita bisa bikin hal serupa tapi untuk Indonesia nih. Pinterest memungkinkan satu akun dikurasi oleh banyak orang. Nah, seandainya saja teman-teman di Indonesia ini bisa mengkurasi foto-foto kekayaan alam Indonesia, tentu akan menarik. Sekalian menjadikan Pinterest sebagai ajang promosi wisata negeri ini.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_travelchannel.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4914" title="pinterest_travelchannel" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2012/02/pinterest_travelchannel.jpg" alt="" width="530" height="310" /></a></p>
<p>Referensi lain seputar Pinterest dan <em>brand</em> silakan cek tulisan <a href="http://www.dreamgrow.com/41-great-examples-of-pinterest-brand-pages/" target="_blank">ini</a> dan <a href="http://mashable.com/2012/01/19/pinterest-brands/" target="_blank">ini</a>.</p>
<p>Sumber gambar: <a href="http://pinterest.com/pin/283937951476351069/" target="_blank">Robin Redd</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2012/02/08/pinterest-dan-brand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

