Hari ini adalah hari pertama perhelatan Echelon 2010 di Singapura. Acara yang dihadiri oleh banyak peserta dari beragam negara ini memang banyak dinantikan oleh para penggiat web di Asia, terutama mereka yang masih bersifat start-up (baru mulai). Acara ini diikuti oleh banyak eksibitor dari Indonesia, India, Singapura, Australia, dan beberapa negara lain. Yang ikut serta menjadi eksibitor dari Indonesia adalah Krazymarket.com, Tokopedia.com, Urbanesia.com, BukuQ.com, amn.co.id, Medresalabs.com. Seharusnya ada Koprol.com, tapi sejak diakuisisi Yahoo! Koprol sudah tidak dianggap start-up lagi.
Hari ini mungkin hari yang bersejarah di dunia web Indonesia, karena untuk pertama kalinya ada situs karya anak bangsa yang diakui memiliki potensi besar, sehingga raksasa seperti Yahoo! mengakuisinya. Proses menuju akuisisi ini ternyata bukan proses sebentar. Apalagi di antara 11 tim Koprol yang tahu hal ini hanya 3 pembesarnya saja, Fajar Budiprasetyo, Daniel Armanto, dan Satya Witoelar. Sisanya baru tahu kemarin malam. Koprol yang dulu di bawah bendera SkyEight kini menjadi bagian dari tim Yahoo! Asia (hehe, alias semuanya perlu berganti kartu nama sekarang).
Anda pasti punya akun Facebook. Kemungkinan besar kalau Anda membaca blog ini, Anda juga punya akun Twitter. Beberapa dari Anda punya blog atau situs sendiri. Kalau Anda tidak punya blog, setidaknya Anda pasti aktif di forum Kaskus. Saat Anda aktif di setiap social media tersebut, tanpa sadar Anda memindahkan sebagian jati diri Anda ke ranah daring.
Beberapa tulisan sebelumnya, suka dibahas kalau kampanye brand lokal di Twitter polanya selalu begitu-begitu saja. Dari membuat kuis tweet berhadiah dengan menempelkan hashtag di akhir tweet, hingga kontes banyak-banyakan RT (aduh yang ini, malas banget), apalagi kalau sampai mengganggu. Meski sebenarnya ada pula yang menarik seperti yang dilakukan @soyjoyID. Suatu prestasi tersendiri bagi @soyjoyID bisa membangun hype di Twitter selama hampir 3 bulan, dengan cara yang variatif dan tidak membosankan.
Setelah membaca tulisan ini, jadi terpikir untuk melakukan hal serupa. Kalau kita melakukan pencarian di Google, saat kita mengetikkan huruf per huruf, Google dengan cepat akan memberikan rekomendasi pencarian.
Film animasi 16 menit berjudul Logorama ini ditulis dan disutradarai oleh H5 ( François Alaux, Hervé de Crécy dan Ludovic Houplain), dan diproduseri oleh Autour de Minuit. Nuansa film animasi ini penuh dengan logo dan maskot banyak brand. Katanya sih jumlah total logo dan maskot yang muncul mencapai lebih dari 2.500 buah. Film animasi ini mendapat penghargaan Prix Kodak di Cannes Film Festival 2009 dan meraih penghargaan di Academy Award ke-82 untuk Best Animated Short Film.
Belakangan ini semakin banyak brand yang memanfaatkan pengguna Twitter untuk menyebarkan word of mouth, baik itu mereka yang terikat secara profesional maupun yang sukarela melakukannya. Beberapa brand melakukannya dengan cara yang elegan, seperti mengajak audiensnya untuk berkomunikasi. Namun, ada pula yang sepertinya tidak paham fungsi Twitter itu sebenarnya apa. Si brand hanya mementingkan namanya sendiri tanpa memikirkan kepedulian terhadap audiensnya.
Di rumah ini ada seorang keponakan yang usianya belum menginjak 3 tahun. Yang membuatnya berbeda dengan kita saat usia sama dulu kala, si keponakan sejak kecil sudah familiar dengan dunia digital. Awanya ia hobi menonton lagu-lagu anak di VCD. Yang membuatnya suka dengan VCD bukan lagunya, tapi interaksi yang bisa ia lakukan dengannya, seperti menekan tombol Play, Next, Previous. Sederhana sih, tapi mencoba-coba semua tombol di remote ternyata menyenangkan baginya.
Mestinya kurang pantas penulis blog ini bicara tentang hal ini, karena ia bukanlah orang yang populer d Twitter (hehe, setidaknya kalau dibandingkan dengan @ndorokakung ya). Namun berbulan-bulan di Twitter, ada banyak pelajaran yang bisa didapatkan kalau kita ingin menjadi seseorang yang populer di ranah mikroblog ini. Caranya bisa macam-macam dari positif hingga negatif.
Salah satu keunggulan Twitter, dari sudut pandang pengembang, adalah API-nya yang sangat terbuka. Banyak pengembang yang tak punya hubungan dengan Twitter.com memanfaatkan API ini dan membangun aplikasi baru di atasnya. Ada yang membangun aplikasi untuk men-tweet seperti Tweetdeck atau Tuitwit. Ada yang mencoba menginterpretasi setiap tweet, menyusun suatu formula, lalu menentukan tingkat popularitas seorang pengguna Twitter. Yang menyenangkannya, mereka yang membuat aplikasi ini pun membuka API mereka supaya bisa dimanfaatkan oleh pengembang lain.