Beberapa bulan lalu hype Android sebagai Operating System (OS) banyak terdengar di ranah maya. OS besutan dari Google, berbasis open source, bisa dikembangkan oleh siapa saja secara gratis, menjadi pilihan menarik bagi beragam merk ponsel. Sebagai pancingan, Google mengeluarkan Nexus One, yang langsung menarik minat para pengembang aplikasi.
Bukan, ini bukan ngomongin film Social Network yang trailer-nya sudah tersebar dimana-mana itu. Yang mau dibicarakan adalah sebuah film pendek karya Casey Neistat di Vimeo yang bercerita tentang privacy policy Facebook. Hampir semua orang metropolitan membeli sebuah ponsel hanya karena ada Facebook-nya. Demi eksistensi mereka beli lalu mendaftar menjadi anggota Facebook.
Ternyata banyak juga teman-teman yang masih memproteksi account Twitter mereka. Padahal kalau dilihat, mereka bukanlah seorang selebriti, bukan juga seorang politisi terkenal, dan bahkan kalau dilihat, bukan seseorang yang berpenampilan menarik sehingga dikejar-kejar penggemar
. Lalu apa alasan mereka memproteksi account Twitter mereka? Padahal sudah bisa dipastikan mereka pun tidak kenal dengan sebagian besar follower-nya. Bahkan kalau ketemu di jalan pun, bisa jadi tidak saling tahu kalau ia mem-follow- nya.
Sejak dulu kita terbiasa membaca buku, majalah, dan koran dalam format fisik. Artinya buku/majalah/koran kita pegang di tangan kita, membuka lembarannya satu persatu, menikmatinya sambil tiduran di sofa sembari minum kopi di pagi hari. Aktivitas membaca biasa dilakukan dengan santai. Bisa jadi itulah alasan belum ada media digital yang benar-benar bisa menggantikannya.
Belum lama ini seorang teman dari studio ilustrasi Jotter sempat bercerita kalau studionya bersama studio temannya, ChiliJump sedang mengembangkan sebuah game berplatform Facebook. Nama gamenya Ambrosia. Gamenya menarik, tak akan menyangka kalau ada pengembang game web di Indonesia yang bisa membuat hal seperti ini.
Karena memang belum pernah ada hari social media, maka sekonyong-konyong entah bagaimana ceritanya, Mashable mengajak pencinta social media untuk merayakannya pada tanggal 30 Juni. Para warga digital tentunya nggak lepas dari social media dalam kehidupan sehari-harinya. Nggak lepas dari notebook, netbook, smart phone, hingga hape cupu, demi berkoneksi sosial dengan teman-teman virtualnya di Twitter, Facebook, Kaskus, dll. social media sudah menemani perjalanan setiap detik hidup kita, di rumah, kantor, bus, mobil, hingga di kamar mandi.
Seperti pernah dibahas di tulisan lama dulu (cari sendiri tautannya ya), brand selalu memanfaatkan kanal baru dalam bentuk apapun untuk kepentingan promosinya. Melalui kanal digital, brand membangun eksistensi program kampanyenya di banner, mobile, situsnya sendiri, hingga menjarah ke social media populer seperti Facebook, Twitter, Kaskus, atau Koprol. Kalau 2 tahun lalu, masa Friendster masih populer, brand cuma sekedar nampang bikin profil di sana. Aktivitas brand berpusat di situsnya sendiri.
Sore tadi IDS memberikan undangan terbatas kepada beberapa orang untuk berdiskusi tanya jawab dengan Bret Terrill (bekas juragannya Zynga, si pengembang Farmville itu) dan Mohan Belani (penyelenggara Echelon 2010 di Singapura kemarin). Bret banyak berbagi tips tentang pengembangan social games di Facebook, mengingat pengalamannya yang sangat banyak sebagai salah satu pionir social games di Facebook.
Sore tadi di Twitter sempat terjadi keramaian karena aktivitas daring brand Nissin Wafers di Facebook. Kalau asal-muasal ceritanya bisa disimak di blog Maverick (hihi, bisa ketahuan tuh siapa penyebar awalnya
). Tulisan ini bukan untuk membahas kesalahan brand tersebut, terlepas dari pilihan alasannya untuk meminta maaf. Tulisan ini lebih untuk menjadi pengingat kepada brand dan agency yang mewakilinya, kalau pengguna media sosial di negeri ini bisa sangat pedas dalam mengkritik bila menemukan seseorang yang dianggap berbuat salah.
Ingat nggak saat awal-awal kali kita mengenal internet, kita selalu was-was saat memasukkan nama pribadi kita saat registrasi di suatu situs? Bahkan, sempat ada kekhawatiran tersendiri saat memasukkan email, karena curiga email ini akan dimanfaatkan untuk spam. Boro-boro deh kalau diminta sampai memasukkan alamat rumah dan telepon. Pasti isinya ngawur semua.