Pernah dengar Social Technographics? Intinya bagaimana kita bisa mengaktegorikan profil para pengguna internet dalam, dari yang tidak aktif sama sekali hingga yang aktif menyumbang konten. Isu tentang Social Technographics ini bisa dibaca di tulisan blog ini hampir 2 tahun lalu. Lebih lengkapnya lagi bisa dibaca di buku E-Narcism (yang bisa dibeli di toko-toko buku terdekat). Sumber penelitian Social Technographics ini bisa dibaca di blog milik Forresters.
Kemarin sempat diundang oleh IndoPacific Edelman yang baru saja merilis hasil riset terakhir mereka tentang Digital Brand Index (DBI). Riset DBI ini adalah riset lanjutan yang rutin dilakukan per 3 bulan sekali. Melalui aplikasi yang dikembangkan oleh Brandtology (demonya keren juga), pihak Edelman bisa mengetahui secara langsung rekap pembicaraan yang terjadi di beragam kanal social media.
Sebuah film membuat microsite untuk kampanye daring itu sudah biasa. Sudah sejak bertahun-tahun lalu, selalu muncul microsite yang menyertai film. Nggak berbeda, film thriller Rumah Dara pun memilikinya. Lalu kampanye disertai dengan percakapan di Facebook? Di tahun 2009, hampir semua kampanye daring menggunakan Facebook. Rumah Dara pun punya juga untuk membangun basis penggemarnya di sana. Lengkap dengan koleksi trailer, wallpaper, foto, hingga sketsa desain konsepnya.
Kumpul-kumpul Power Lunch di Markplus kemarin memang benar-benar “power.” Banyak figur terkenal hadir di sini. Sebut saja Pandji, Igor Saykoji, Syahrani, Olga Lydia, duet pembawa acara Apa Kabar Indonesia tvOne, Piyu, dan tokoh-tokoh kreatif Andi S Boediman, Shinta Bubu, Nukman Luthfie, Ivan Lanin, Enda Nasution, hingga petinggi-petinggi asosiasi dan pemilik merk, plus Pak Tifatul Sembiring. Ruangan jadi penuh sesak. Diskusi pun berjalan menarik, dengan Pak Hermawan Kartajaya sebagai pengarahnya.
Sudah beberapa kali pertanyaan melalui Facebook atau Yahoo! Messenger muncul perihal buku F-Marketing yang terbit setengah tahun lalu. Komentarnya hampir mirip, “bukunya bagus, berbeda dengan puluhan buku Facebook lainnya, tapi kok isinya kurang relevan ya?” Komentar itu nggak salah. Susahnya membuat buku dengan teknologi informasi sebagai latar belakangnya (Facebook, Twitter, apapun), meskipun yang dibahas bukan hal teksnispun, adalah cepatnya buku menjadi obsolete.
Sebenarnya gagasan proyek foto 365 hari ini sudah lama dilakukan oleh para blogger yang doyan fotografi di luar sana. Taylor McKnight mengawalinya pada tanggal 1 Januari 2004 dengan mendokumentasikan kegiatan harian yang menurutnya penting. Ia menceritakan bagaimana karir, hubungannya dengan teman, gaya fesyen, dll, yang membuatnya bisa merekoleksi hal-hal yang penting tentang dirinya selama setahun penuh.
Sekitar 2-3 tahun lalu, brand selalu membuat microsite untuk kampanye daring mereka. Mereka memusatkan kampanyenya melalui situs yang mereka kembangkan sendiri. Aktifitas kampanye dilakukan seluruhnya di dalam microsite. Sepanjang promosi gencar dilakukan di radio, televisi, dan portal ternama, traffic kunjungan ke microsite selalu tinggi. Sebaliknya pula, kalau promosi membangun awareness pas-pasan, traffic kunjungan pun tak seberapa tinggi pula.
Karena pengaruh @tikabanget di Twitter, akhirnya semakin lama semakin banyak yang mencoba situs social media baru ini. Namanya Formspring.me, situs tempat Anda menyediakan tempat bagi orang lain untuk bertanya tentang diri Anda. Situs besutan dari Formspring.com ini mengadaptasi aplikasi yang awalnya untuk kepentingan bisnis dan mengkonversinya menjadi ajang tanya jawab tentang seorang pribadi.
kut-ikutan memprediksi tahun 2010 ah. Tahun lalu sempat membuat prediksi dunia blog tahun 2009. Cek saja, dan lihat mana yang terjadi sesuai kejadian dan mana yang nggak. Nah karena blog hanya bagian kecil dari dunia social media yang begitu luasnya, maka prediksi tahun 2010 ini lebih mencakup gambaran social media secara umum (termasuk relevansinya dengan kampanye brand) di Indonesia. Biar nggak kepanjangan, prediksinya cukup 5 saja ya!
Sekitar 2 tahun lalu, para blogger (setidaknya yang populer dan punya massa) sangat senang ketika diundang oleh sebuah brand. Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang baru, yang sangat menarik untuk dijadikan bahan ulasan dalam blog. Namun semakin lama, undangan ke para blogger semakin sering. Isi acara dari satu brand ke brand lain hampir tak berbeda satu dengan lainnya. Sesuatu yang awalnya bersifat spesial lama kelamaan menjadi seperti rutinitas.