Sudah familiar dong dengan Foursquare.com? Belum? Daftar gih, siapa tahu situs social media itu jadi tren di 2010 ini
Situs ini sebenarnya mirip dengan buatan lokal Koprol.com. Bedanya fokus situs ini hanya pada check-in di lokasi. Semakin sering seseorang datang dan check-in di lokasi tu semakn tinggi pula poin yang ia dapatkan. Seperti Koprol, di situs Foursquare pengguna juga bisa melakukan ulasan tentang tempat yang mereka datangi.
Selama 3 hari kemarin berada di Axis java Jazz Festival dan mengaku diri sebagai seorang press, sehingga bisa bebas masuk menonton pertunjukan manapun, termasuk semua special show seperti John Legend, Babyface, Toni Braxton, dan Manhattan Transfer. Yang melelahkannya dibanding Java Jazz Festival tahun lalu adalah luasnya area JIExpo Kemayoran. Di satu sisi, kita nggak perlu berdesakan melewati kerumunan orang kalau mau berpindah dari panggung ke panggung (seperti terjadi tahun lalu). Di sisi lain, rentang lokasinya amat berjauhan, sehingga untuk berpindah dari acara di Ruang Lawu dan Semeru lantai 6 ke acara di Hall D cukup melelahkan.
Gaung Axis Java Jazz Festival 2010 sudah lama terdengar. Banyak radio sudah menyelenggarakan berbagai kuis yang membagikan berbagai hadiah tiket harian hingga tiket special show. Nggak berbeda dengan area social media. Seperti tahun lalu pula, gaungnya terasa keras. Kalau tahun lalu keramaian hanya terlihat di Plurk dan Facebook Groups. Mungkin karena sekarang Twitter jauh lebih populer daripada Plurk, kontes harian untuk Axs Java Jazz Festival 2010 pun berpindah ke Twitter dengan akun @AXISjavajazz.
Memang nggak ada data jumlah yang pasti, tapi yang pasti suara remaja di Twitter sangat banyak. Buktinya, suara-suara mereka sudah beberapa kali menggaung menjadikan suatu topik menjadi trending topic. Suara mereka sangat berbeda karakternya dengan suara pengguna Twitter dewasa (ya iyalah). Kalau yang dewasa, topik yang hangat dibicarakan cenderung serius, seperti #tolakRPMkonten yang masih hangat belakangan ini. Mereka yang remaja (kebanyakan SMU dan kuliah tingkat awal) cenderung membahas hal-hal yang sifatnya remeh (atau setidaknya remeh di mata kita yang dewasa).
Sudah baca Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Konten Multimedia (selanjutnya disingkat menjadi RPM)? Twitter ramai dengan hashtag #TolakRPMKonten. Nggak ada yang nggak menolak. Kalau kenapa harus ditolak, bisa dibaca tulisan Enda di Politikana dan tanggapan Pak Onno W. Purbo terkait dengan RPM Konten.
Kemarin Kompas cetak membahas utuh tentang bahayanya internet terhadap anak. Tambahan lagi, artikel Seputar Indonesia ini tentang penculikan anak akibat Facebook. Seperti teknologi lainnya, ada yang memanfaatkan internet dengan tujuan positif, ada pula yang memanfaatkannya dengan tujuan negatif. Meski saat ini porsi positif masih lebih kuat, bukan berarti kita harus mengabaikan kemungkinan negatif yang muncul dari penyalahgunaan teknologi internet. Apalagi generasi sekarang sudah jauh familiar dengannya dibanding orang tua mereka, yang kebanyakan masih gagap teknologi.
Sekitar 2 minggu lalu, ranah Twitter penuh dengan hashtag #2010newday tanpa orang tahu apa sih maksudnya. Ternyata hashtag ini untuk mempromosikan peluncuran portal LangitMusik.com di tanggal 20 Januari 2010 kemarin. Seperti namanya, acaranya ya acara konser musik, diadakan di SCBD Jakarta. Untuk bisa masuk ke acara ini, tim LangitMusik.com melakukan pengundian email pendaftar di Facebook Page 2010NewDay. Hebatnya, tidak ada sama sekali promo gaya tradisional seperti iklan radio atau poster di sini. Informasi murni didapat melalui Facebook dan Twitter.
Sudah lihat berita detikInet ini? Baca dulu deh. Setelah itu lalu buka Facebook Groups ini. Yang terjadi di sini adalah penipuan informasi yang mengatasnamakan brand Coca-Cola dan Sony. Loh, tahu dari mana ini penipuan?
Tanggal 30 Januari 2010 kemarin adalah perhelatan WordCamp Indonesia yang kedua, yang berlokasi di Universitas Gunadarma Depok. Penyelenggaranya masih sama, Mas Valent Mustamin. Kalau tahun lalu juragan WordPress sendiri, Matt Mullenweg, yang datang, di tahun ini salah satu lead developer-nya, Beau Lebens, yang berbagi cerita. Beau Lebens juga terlibat dalam pengembangan servis Intense Debate, aplikasi web yang dikembangkan oleh Automattic (seperti WordPress). Selain Beau, banyak pembicara lokal pula ikut berbagi cerita seputar WordPress, PHP, dan MySQL.
Pernah dengar Social Technographics? Intinya bagaimana kita bisa mengaktegorikan profil para pengguna internet dalam, dari yang tidak aktif sama sekali hingga yang aktif menyumbang konten. Isu tentang Social Technographics ini bisa dibaca di tulisan blog ini hampir 2 tahun lalu. Lebih lengkapnya lagi bisa dibaca di buku E-Narcism (yang bisa dibeli di toko-toko buku terdekat). Sumber penelitian Social Technographics ini bisa dibaca di blog milik Forresters.