Aplikasi Instagram hingga saat ini hanya untuk iOS. Yang mau pakai ini harus punya iPhone, iPod, atau iPad 2. Melalui aplikasi ini, pengguna bisa menjepretkan gambar dan memberinya efek filter yang lucu-lucu. Foto yang awalnya biasa-biasa saja jadi naik peringkatnya menjadi keren gara-gara efek filter ini. Herannya, untuk sebuah aplikasi yang hanya berjalan di iOS, penggunanya sangat banyak. Sejak diluncurkan tujuh bulan lalu, penggunanya sudah mencapai lebih dari 4,2 juta orang.Â
Masih ngomongin Android, belakangan ini semakin menikmati kembali penggunaannya, terutama sejak memegang sebuah tablet Acer Iconia yang ber-OS Honeycomb. Haha, rasanya beda banget lah, karena berbeda dengan OS Eclair, Froyo, atau Gingerbread, OS Honeycomb ini memang didesain untuk ukuran tablet 10 inci. Salah satu aplikasi keren yang tertanam langsung saat pegang Acer Iconia adalah Google Music. Anggaplah ini semacam Media Player-nya Honeycomb, dengan tampilan yang menarik.
Tahu nggak waktu hari ini membuka Android Market, salah satu aplikasi gratis yang dijadikan featured new app hari ini adalah MyQuran Indonesia. Sudah cukup banyak memang aplikasi lokal yang bermunculan di Android Market. Ada yang sangat menonjol seperti MyQuran Indonesia ini yang dikembangkan oleh Wali Studio, dan Makan di Mana yang dikembangkan oleh Agranet. Ada juga yang masih sekedar coba-coba tes ke pasar.
Yang dimaksud dengan akun anonim di sini adalah akun-akun Twitter yang bukan atas nama pribadinya sendiri. Konten tweetnya bisa berupa kompilasi dari pengguna Twitter lain, bisa pula memang dibuat sendiri. Meski anonim, biasanya (dengan sedikit usaha) kita bisa tahu siapa admin di balik akun tersebut.
Di dunia daring ini menyebalkan ya. Ketinggalan beberapa jam saja sudah terasa basi. Termasuk berita ini nih. Baru bisa menulis sore hari, padahal berita hangatnya sudah berlalu tadi siang. Sejak tadi pagi ramai banget di Twitter, karena beberapa orang di kantornya menerima bingkisan peti mati. Awalnya dikira lelucon, tapi ketika semakin banyak yang melaporkan menerima, ternyata memang ada seseorang yang serius melakukannya.
Untuk yang aktif di Twitter, mungkin sudah familiar dengan situs Klout. Situs ini, dengan algoritmanya sendiri, mencoba mengecek karakteristik seseorang berdasarkan aktivitas hariannya di Twitter, Facebook, dan LinkedIn. Klout akan mengkategorikan seseorang masuk karakteristik tertentu berdasarkan tingkat partisipasi aktif, seringnya berbagi info, konsistensi, dan fokus/melebar dalam membahas sesuatu (tapi jangan tanya ya bagaimana mereka menganalisa itu semua).
Seorang Howard Rheingold pernah menuliskan dalam bukunya Virtual Communities (1993)  tentang keberadaan orang-orang yang terhubung melalui jaringan maya. Definisinya saat itu adalah “when people carry on public discussions long enough, with sufficient human feeling, to form webs of personal relationships,†yang konteksnya sebenarnya masih relevan hingga saat ini.
Satu hal yang kurang di ranah social media Indonesia adalah kemampuan melacak kejadian yang terjadi saat ini di ranah digital Indonesia. Sangat beruntung memang, ketika dulu akhirnya Twitter meluncurkan trending topic versi kota Jakarta dan Bandung. Kita bisa dapat bayangan apa sih yang ramai dibicarakan di Twitter saat itu secara bersamaan. Sayangnya yang bisa diambil datanya hanya sebatas tren saat itu. Tidak ada API Twitter yang memungkinkan pengembang untuk mengelaborasi data tren itu lebih jauh.
Untuk menjadi trending topic dunia, Indonesia sudah sering melakukannya. Setiap kali ada kejadian yang membangkitkan nasionalisme, nggak jarang percakapan tweet Indonesia menjadi trending topic dunia. Saat dulu Thomas Cup, lalu AFF Suzuki Cup, hingga peringatan proklamasi, Indonesia menjadi penguasa percakapannya. Kejadian eksternal di luar ranah daring menjadi pemicu ramainya percakapan di Twitter.