Kayaknya hampir semua orang di ranah social media tahu kalau Sabtu malam kemarin itu ada perhelatan BlackBerry Live & Rockin’ di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Yah, kalau nggak tahu berarti memang Anda kurang eksis di Twitter.
Ada sesuatu yang baru di event konser musik ini, yang mungkin bisa dikatakan sebaagai salah satu contoh sukses penyelenggaraan event yang berbasis device dan social media di Indonesia.
Saat konten disebar secara digital, memang menjadi sangat rawan untuk dibajak. Kita sudah tahu lah ya tentang lagu-lagu yang dibajak di ranah daring. Saat musisi mengeluarkan album barunya, nggak lama album dengan seluruh lagunya dalam format MP3 bisa ditemukan dengan mudah di jagad maya. Hal yang sangat mudah dilakukan oleh setiap orang yang sudah kenal dengan internet.
Seharusnya brand senang ya kalau ia ternyata punya banyak penggemar. Ada orang memang yang bersifat netral terhadap brand. Ada lagi yang hanya ingat akan brand kalau si brand sedang berbuat salah. Namun yang biasanya langka adalah menemukan orang yang cinta banget dengan si brand. Memang sih untuk brand besar seperti Harley Davidson, Bentley, Coca-Cola, bisa ditemukan banyak penggemar yang loyal. Namun kalau brand telekomunikasi lokal? Hmmm… belum tentu.
Sejak setahun belakangan ini, jelas terlihat semakin banyak brand Indonesia terjun ke ranah Twitter. Dari brand kelas besar dengan pengelolaan social media yang profesional, hingga brand kelas rumahan yang akunnya dikelola pribadi oleh pemiliknya. Sampai saat ini terhitung (bisa salah bisa benar ya), ada sekitar 100-an brand lokal aktif di Twitter. Sebenarnya apa saja sih yang mereka lakukan di Twitter?
Pastinya sudah sangat sering kita melihat beragam infografis (informasi/data yang disampaikan dengan grafis visual) untuk rekaman data social media di luar negeri. Beberapa contohnya bisa dilihat di blog ini atau di cuplikan blog Media Ide di tautan ini. Namun sangat jarang kita melihat versi yang khusus membahas Indonesia, padahal sumber data yang bisa dipakai untuk referensinya banyak yang bisa dicari.
Kemarin malam jam 20:00-22:00, akun Twitter English First mengajak berbincang penulis blog ini tentang social media. Skenarionya tak berbeda jauh dengan yang sudah pernah dibuat oleh Twitalk sebelumnya, hanya bedanya semua percakapan ini berlangsung dalam bahasa Inggris (lah ya, yang punya akunnya lembaga kursus bahasa Inggris soalnya). Rekaman percakapannya bisa dibaca berikut ini:
Masih teringat bulan Agustus 2008 lalu saat FreSh Jakarta pertama kali diselenggarakan. Lokasinya sempit-sempitan di sebuah rumah makan di jalan Barito. Beberapa orang berniat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tanpa imbalan komersial. Semua yang datang punya semangat yang sama, yakni untuk berbagi. Kala itu kegiatan berbagi seperti ini bisa dikatakan belum banyak ada. Yang saat itu baru muncul juga adalah Mobile Monday, kegiatan bulanan yang banyak membahas perkembangan dunia mobile. Beberapa komunitas blogger pernah mengadakan kegiatan berbagi serupa, meski tidak banyak yang melakukannya secara rutin.
Hidup di social media nggak melulu harus dibawa serius. Kadang boleh serius, demi pencitraan diri hihihi… Namun kalau semua dibawa serius, nggak asyik juga dong. Bahkan terkadang dengan guyon atau satir pun, pesan yang dibawakan bisa berhasil kok. Nah, ada banyak banget sebetulnya yang lucu dan nggak serius di dunia social media Indonesia, namun dipilih yang baru-baru saja ya.
Biarin, judulnya bombastis, biar dilirik oleh mesin pencari Google
Eh tapi beneran loh, semakin hype-nya Twitter, semakin banyaknya orang kreatif yang memanfaatkan hype ini dan mengubahnya menjadi peluang bisnis. Namun janganlah berpikir ini sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Apa yang kita lakukan di Twitter identik dengan kepercayaan. Banyak yang menjadi follower kita karena mereka percaya kalau kita bisa memberikan konten yang terbaik bagi mereka. Jadi perlu sangat berhati-hati agar kepercayaan mereka ini tidak disalahgunakan untuk kepentingan komersial semata. Kalau itu terjadi, yang rusak adalah reputasi kita sendiri.