<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Ide &#187; communication</title>
	<atom:link href="http://media-ide.bajingloncat.com/tag/communication/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://media-ide.bajingloncat.com</link>
	<description>Where Indonesia's online branding, social media, and creativity is talked about</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 14:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Berbicara Humanis dengan Konsumen</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/02/27/berbicara-humanis-dengan-konsumen/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/02/27/berbicara-humanis-dengan-konsumen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 15:04:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=2288</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua pakar pemasar baik di luar maupun Indonesia bilang kalau pemasaran vertikal sudah tidak cocok lagi di era internet ini. Bukan masanya lagi konsumen dicekokin pesan-pesan dari pemasar (<em>brand</em>). Yang ada, para konsumen mencoba cari tahu sendiri, menanyakan ke teman-temannya, apakah yang dikatakan si pemasar ini benar. Bahkan bisa jadi, pesan yang disampaikan oleh pemasar melalui televisi, radio, majalah, malah tidak sama dengan pesan yang ditangkap oleh konsumen melalui percakapannya dengan teman-temannya. Konsumen bisa jadi menyusun pesannya sendiri, mengungkapkan versinya sendiri tentang <em>brand </em>tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2009/02/man-01.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/02/man-01.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/02/man-01-150x150.jpg" alt="" title="man-01" width="250" height="250" class="alignleft size-thumbnail wp-image-2289" /></a>Hampir semua pakar pemasar baik di luar maupun Indonesia bilang kalau pemasaran vertikal sudah tidak cocok lagi di era internet ini. Bukan masanya lagi konsumen dicekokin pesan-pesan dari pemasar (<em>brand</em>). Yang ada, para konsumen mencoba cari tahu sendiri, menanyakan ke teman-temannya, apakah yang dikatakan si pemasar ini benar. Bahkan bisa jadi, pesan yang disampaikan oleh pemasar melalui televisi, radio, majalah, malah tidak sama dengan pesan yang ditangkap oleh konsumen melalui percakapannya dengan teman-temannya. Konsumen bisa jadi menyusun pesannya sendiri, mengungkapkan versinya sendiri tentang <em>brand </em>tersebut.</p>
<p>Percakapan horisontal antara teman menjadi lebih dipercaya daripada perkataan pemasar <em>brand </em>sendiri. <em>Social media</em> yang membikin kecanduan baru di kalangan pengguna internet di Indonesia menjadi medium efektif komunikasi antara teman. Facebook, Friendster, Kaskus, Plurk, Twitter, menjadi sarana andalan dalam penyebaran pesan antara teman.</p>
<p>Beberapa hal berikut perlu tertanam di benak pemasar <em>brand </em>saat berhubungan dengan konsumennya melalui <em>social media</em>.</p>
<p><strong>1. Pasar terdiri dari orang-orang dan bukan sekedar demografi belaka.</strong></p>
<p>Sebaiknya tidak menganggap mereka sebagai target pasar belaka. Bicara target, berarti bicara sasaran yang harus ditembak untuk kita dapat hasilnya. Pola ini sebaiknya diubah. Pemasar berhubungan dengan orang-orang dengan segala kepribadiannya. Dekatilah secara pribadi, bukan melihatnya berdasarkan segmen belaka.</p>
<p><strong>2. Percakapan bukan antara produk dan manusia, tapi antara manusia dan manusia.</strong></p>
<p>Pemasar sebaiknya menganggap konsumen produk sebagai teman. Anggaplah mereka seperti teman pemasar. Pertimbangkan apakah pemasar tega mencecer temannya sendiri dengan barang jualan? Bicaralah bukan atas nama produk, tapi bicaralah sebagai seorang pribadi yang mewakili karakteristik produk atau perusahaan.</p>
<p><strong>3. Dengarkan dan tanya, bukan mendikte.</strong></p>
<p>Komunikasi antara pemasar dan konsumen itu dua arah (<em>reciprocal</em>). Kalau dulu pemasar tidak terlalu peduli apa kata konsumen, kini sudah saatnya merubah pemikiran itu. Percakapan yang terjadi pun kini terjadi <em>real time</em>. Saat konsumen mengeluhkan sesuatu melalui tulisan di blog atau forum, segeralah memberikan tanggapan secara positif. Pemasar juga harus terbuka untuk menerima masukan apapun dari konsumen. Kalau perlu tanyakan ke konsumen keinginan mereka, dan kemungkinan menerapkan keinginan itu dalam produk yang dipasarkan.</p>
<p><strong>4. Hargailah mereka yang sudah berkontribusi.</strong></p>
<p>Manfaatkan tools seperti <a href="http://blogsearch.google.com/">Google Blogsearch</a>, <a href="http://technorati.com">Technorati</a>, atau <a href="http://search.twitter.com/">Twitter Search</a> untuk menangkap tulisan konsumen tentang <em>brand </em>di ranah blog dan <em>microblog</em>. Nggak jarang akan ditemukan tulisan yang memuji <em>brand </em>dan bahkan menjadi <em>evangelist </em>sejati. Mereka ini telah membantu pemasar mengangkat nama <em>brand </em>tanpa dibayar. Dekatilah mereka dan berikan kejutan penghargaan kepada mereka. Tunjukkan kalau keberadaan mereka itu penting dan <em>brand </em>akan mendukung mereka dalam segala kegiatannya.</p>
<p><strong>5. Raih komunitas yang sudah ada, tidak perlu membangun komunitas baru.</strong></p>
<p>Pemasar masih saja selalu ingin membuat komunitasnya sendiri. Komunitas yang nantinya akan bisa mereka atur dan komunikasikan pesan-pesan mereka. Percayalah, hal itu akan sulit berhasil. Akan lebih mudah bagi pemasar untuk masuk saja ke komunitas yang sudah ada. Pemasar tidak punya hak kepemilikan terhadap komunitas. Pemasar hanya berkontribusi dan berpartisipasi terhadap komunitas seperti anggota komunitas lainnya. </p>
<p><strong>6. Jujur dan tertawalah.</strong></p>
<p>Jangan menganggap segala sesuatunya secara serius. Jadilah pribadi yang jujur di hadapan konsumen.  Jangan bersikap defensif dan selalu menganggap dirinya benar. Menjadi seorang manusia artinya tidak lepas dari segala kesalahan. Akuilah kesalahan kalau memang ada. Kalau perlu, tertawakan diri sendiri, karena melakukan kesalahan tersebut.</p>
<p><strong>7. Cepat bukan segalanya.</strong></p>
<p>Wajar sekali bila pemasar ingin mendapatkan hasil yang cepat. Sayangnya pendekatan dalam<em> social media</em> membutuhkan waktu panjang. Membangun sebuah situs promo untuk kampanye 2 bulan, lalu ditinggal, tidaklah cukup. Menjadikan seseorang teman bukanlah untuk jangka waktu pendek, tapi untuk sepanjang masa. Komunikasi harus berjalan terus menerus tanpa henti. Saat komunikasi berhenti, saat itulah kegagalan dimulai.</p>
<p>Mungkin masih ada lain yang perlu menjadi pemikiran pemasar <em>brand </em>dalam berkomunikasi melalui <em>social media</em>. Namun intinya adalah horisontalisasi. Anggap konsumen sebagai teman, dan perlakukan mereka secara setara. Jika itu berhasil, niscaya pemasaran melalui <em>social media</em> pun bisa sukses.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/02/27/berbicara-humanis-dengan-konsumen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FreSh! 3.0: Berbagi Pengalaman Seputar Jurnalisme dan Komunikasi</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/03/fresh-30-berbagi-pengalaman-seputar-jurnalisme-dan-komunikasi/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/03/fresh-30-berbagi-pengalaman-seputar-jurnalisme-dan-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 02:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[FreSh]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[gathering]]></category>
		<category><![CDATA[journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[<p>Perhelatan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=33721913697" target="_blank">FreSh! 3.0</a> akhirnya berlangsung juga, dengan meminjam ruang rapat besar di <a href="http://www.detik.com/" target="_blank">Detik.com</a>. Acara berlangsung pada hari Jumat kemarin tanggal 31 Oktober 2008, dimulai dari jam 19.00 hingga selesai jam 22.00. Dengan senang pula, ternyata semua konsumsi makanan dan minuman pada kesempatan kali ini disponsori semua oleh pihak Detik.com, sehingga saweran untuk perhelatan kali ini ditiadakan. Acaranya sendiri berlangsung meriah dan ramai, dihadiri lebih dari 30 orang.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/logofresh3.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Perhelatan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=33721913697" target="_blank">FreSh! 3.0</a> akhirnya berlangsung juga, dengan meminjam ruang rapat besar di <a href="http://www.detik.com/" target="_blank">Detik.com</a>. Acara berlangsung pada hari Jumat kemarin tanggal 31 Oktober 2008, dimulai dari jam 19.00 hingga selesai jam 22.00. Dengan senang pula, ternyata semua konsumsi makanan dan minuman pada kesempatan kali ini disponsori semua oleh pihak Detik.com, sehingga saweran untuk perhelatan kali ini ditiadakan. Acaranya sendiri berlangsung meriah dan ramai, dihadiri lebih dari 30 orang.</p>
<p>Yang berbagi pada FreSh! 3.0 ini <a href="http://www.budiputra.com/" target="_blank">Budiputra</a>, yang berbicara tentang <em>proffesional blogger</em>, dilanjutkan oleh <a href="http://donnybu.blogdetik.com/" target="_blank">Donny BU</a> yang bercerita tentang pengalaman jurnalismenya di Detik. Lalu dilanjutkan oleh <a href="http://www.salsabeela.com/" target="_blank">Ollie</a> yang berbagi pengalaman tentang keaktifannya kini dalam menulis buku dan <a href="http://think.web.id/brain" target="_blank">Anantya</a> yang bercerita tentang dasar-dasar komunikasi. Presentasi ditutup oleh <a href="http://blog.neofreko.com/" target="_blank">Akhmad Fathonih</a> yang spontan bercerita tentang blog <a href="http://www.navinot.com/" target="_blank">NavinoT</a>-nya. Sayangnya <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/" target="_blank">Ivan Lanin</a> yang tadinya akan bercerita tentang Wikipedia Indonesia ternyata berhalangan hadir. Mudah-mudahan kesempatan presentasi ini bisa ia lakukan pada perhelatan FreSh! Selanjutnya.</p>
<p>Presentasi pertama dari Budiputra tidak menggunakan <em>slide</em>. Ia bercerita kalau menjadi seorang <em>professional blogger</em> itu bisa ada 3 model bisnis:</p>
<ol>
<li>Menjadi <em>publisher </em>blog, dengan mengelola blog sebaik mungkin, dan akhirnya mendapatkan <em>revenue </em>dari blog tersebut. Bisa jadi ia memiliki banyak blog untuk mendapatkan <em>revenue </em>yang semaksimal mungkin. </li>
<li>Menjadi <em>writer </em>atau <em>paid blogger</em>. Di sini, blogger menulis untuk blog lain dan ia dibayar untuk itu. Budiputra sendiri masuk dalam kategori ini. </li>
<li>Mengembangkan komunitas blog. </li>
</ol>
<p>Budiputra sendiri aktif menulis harian di berbagai blog luar dan dibayar untuk setiap <em>posting</em>-nya. Ia cerita kalau celah untuk ini masih sangat dibutuhkan. Di sini ia berpesan kalau menjadi seorang <em>paid blogger </em>harus bisa menulis, ngeblog, mengerti topik tertentu (misal: teknologi), dan pastinya harus bisa menulis dengan Bahasa Inggris. Coba saja daftarkan diri ke jaringan blog seperti Gawker Media, Weblogs Inc, dan pilih topik yang kita pahami. Atau, bisa juga mendaftar ke berbagai blog pribadi bertema teknologi yang besar-besar seperti Gizmodo dan Engadget. Mereka juga mencari blogger-blogger baru untuk menulis. </p>
<p><span id="more-473"></span></p>
<p>Budiputra juga bercerita kalau jaringan blog itu ternyata sangat butuh persepsi atau sudut pandang dari berbagai negara yang berbeda. Itulah makanya mereka tidak menutup diri hanya untuk blogger Amerika dan Eropa. Justru sudut pandang kita yang di Asia ini mereka butuhkan untuk memperkaya konten mereka.</p>
<p>Seperti jurnalis media pada umumnya, menulis blog untuk jaringan ini juga menuntut kecepatan. Semakin duluan menulis tentang peluncuran produk tertentu, semakin dianggap sebagai <em>breaking news</em>. Justru akan merupakan kesenangan sendiri, bila akhirnya tulisan <em>breaking news </em>ini direferensikan oleh jaringan blog lain. Tulisan <em>breaking news </em>ini juga biasanya dihargai lebih tinggi oleh jaringan blog.</p>
<p>Keahlian memahami suatu topik merupakan hal yang penting. Semakin paham akan topik tentu akan membuat tulisan menjadi menarik dan menarik <em>page view </em>yang tinggi. Hal ini akan menjadi penilaian bagi blogger yang bersangkutan terkait dengan kompetensinya. Kalau apa yang ia tulis ternyata tidak akurat, tentu akan diacuhkan pembaca, dan akan menurunkan <em>page view</em>-nya.</p>
<p>Hal penting lainnya dalam menjadi seorang <em>professional blogger </em>adalah kesanggupannya memenuhi persyaratan <em>posting</em>. Kalau ia sanggup untuk menulis 3 <em>posting </em>per hari, ya sebaiknya pertahankan itu, karena itu akan menjadi penilaian apakah si blogger ini serius atau nggak.</p>
<p>Sebagai catatan, Budiputra adalah bekas karyawan Tempo yang memutuskan untuk keluar dan menjadi <em>professional blogger </em>yang <em>full time</em>. Kini ia lebih merasa lega dan senang dan <em>enjoy </em>dalam bekerja, meski sebagai <em>professional blogger </em>menuntutnya harus menulis setiap hari dan tidak kenal libur. Namun, ia bisa mengerjakan semuanya di tempat yang ia suka, di rumah, kafe, dll.</p>
<p>Selanjutnya Donny BU bercerita tentang jurnalisme <em>online</em>. Materi <em>slide</em>-nya bisa dilihat di <a href="http://www.slideshare.net/donnybu/online-media-now-are-you-online-journalist-presentation/" target="_blank">sini</a>. Donny bercerita bahwa &ldquo;<em>to make things thinkable, we have to write with context</em>.&rdquo; Konteks itu bisa dibilang sebagai seni untuk melihat sesuatu, seni untuk membuatnya percaya akan sesuatu, seni untuk melakukan pembujukan. Lebih detilnya, bisa langsung dilihat materi presentasinya berikut. </p>
<div style="width:425px;text-align:left" id="__ss_708630"><object style="margin:0px" width="425" height="355"><param name="movie" value="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=donnybufresh30-1225450869281769-9&#038;stripped_title=online-media-now-are-you-online-journalist-presentation" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed src="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=donnybufresh30-1225450869281769-9&#038;stripped_title=online-media-now-are-you-online-journalist-presentation" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="355"></embed></object></div>
<p>Selanjutnya, Ollie pemilik <a href="http://www.kutukutubuku.com" target="_blank">Kutukutubuku.com</a> bercerita tentang pengalamannya menulis buku dan berhubungan dengan penerbit, tentunya dengan batasan <em>deadline</em>. Materi <em>slide</em>-nya bisa dilihat di <a href="http://www.slideshare.net/salsabeela/fresh-3-writing-on-deadline-presentation/" target="_blank">sini</a>. Melalui presentasi ini, ia bercerita kalau <em>deadline </em>itu penting dan menyampaikan tips-tips menulis yang dibatasi oleh <em>deadline</em>. </p>
<p>Ollie juga sempat membuat kuis, dimana peserta harus menyampaikan dalam 1 paragraf hal-hal apa yang paling membuat kita takut. Ollie mambagikan hadiah buku karya terbarunya kepada penulis yang terbaik. Ada pula hadiah undian yang hasilnya bisa dilihat di <a href="http://blog.kutukutubuku.com/" target="_blank">blog.kutukutubuku.com</a>.</p>
<div style="width:425px;text-align:left" id="__ss_711597"><object style="margin:0px" width="425" height="355"><param name="movie" value="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=fresh3-the-deadline-1225505899969075-9&#038;stripped_title=fresh-3-writing-on-deadline-presentation" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed src="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=fresh3-the-deadline-1225505899969075-9&#038;stripped_title=fresh-3-writing-on-deadline-presentation" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="355"></embed></object></div>
<p>Selanjutnya Anantya bercerita tentang bagaimana kita berkomunikasi. Dari masa ke masa cara kita bersosialisasi selalu berubah. Dimulai dengan telegram, lalu telepon, hingga sekarang telepon selular 3G yang memungkinkan kita bisa langsung berbicara sambil melihat wajahnya. Komunikasi yang dulu terbatas dengan <em>email</em>, kini dengan <em>messenger </em>yang bisa <em>chat</em> langsung tanpa menunggu balasan. Ekspresi yang dulu susah disampaikan kini bisa diwakilkan dengan <em>emoticon</em>. </p>
<p>Hal yang lucu terjadi kalau gaya berkomunikasi menggunaan <em>chat </em>atau <em>email</em> ini lalu terbawa ke dunia nyata. Ada kisah seorang <em>programmer </em>yang membangun hubungan romantis dengan seorang <em>programmer </em>lain melalui <em>email.</em> Lucunya, saat mereka bertemu gaya bicara mereka tak ubahnya seperti <em>email</em>. Yang satu menunggu lainnya selesai berbicara, ada jeda sejenak (seperti berpikir) lalu komunikasi dilanjutkan oleh pihak lainnya. Jangan-jangan, hal serupa terjadi pula pada kita?</p>
<p>Materi <em>slide </em>Anantya ini belum diunggah oleh beliau. Nanti kalau sudah diunggah, blog ini akan di-<em>update </em>segera.</p>
<p>Selanjutnya Akhmad Fathonih (yang telat datang karena menyasar) bercerita tentang proses pembuatan blog yang ia buat bersama rekannya, <a href="http://www.mangoaddict.com/" target="_blank">Ivan Sielegar</a> yang belum pernah ia tatap muka hingga sekarang. Materi <em>slide</em>-nya bisa dilihat di <a href="http://www.slideshare.net/neofreko/navinot-presentation/" target="_blank">sini</a>. <a href="http://www.navinot.com/" target="_blank">NavinoT</a> adalah blog seputar dunia IT, dan kini lebih fokus pada mengembangkan komunitas pembacanya. </p>
<div style="width:425px;text-align:left" id="__ss_711713"><object style="margin:0px" width="425" height="355"><param name="movie" value="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=navinot-1225511271545037-8&#038;stripped_title=navinot-presentation" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><embed src="http://static.slideshare.net/swf/ssplayer2.swf?doc=navinot-1225511271545037-8&#038;stripped_title=navinot-presentation" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="355"></embed></object></div>
<p>Video liputan kegiatan FreSh! 3.0 ini belum sempat diedit. Mudah-mudahan, begitu ada waktu kosong, bisa secepat mungkin diedit dan diunggah <em>online</em>.</p>
<p>Kegiatan FreSh! 4.0 mudah-mudahan bisa diadakan di bulan November ini. Tema berikutnya adalah tentang dunia <em>freelance</em>. Untuk waktu dan tempatnya, akan dikabari secepatnya di <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=33721913697" target="_blank"><em>groups</em>-nya Facebook</a>. Bagi siapa yang tertarik untuk berpartisipasi presentasi, siapkan saja materinya, dan sampaikan kesediaan Anda di <em>groups </em>tersebut.</p>
<p align="center"><img title="FreSh! 3.0" alt="FreSh! 3.0" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/fresh3foto.jpg" border="0" /></p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/salsabeela/" target="_blank">Ollie</a></p>
<p>Artikel lain seputar FreSh! 3.0:</p>
<ul>
<li><em><a href="http://donnybu.blogdetik.com/2008/11/01/lagi-slides/" target="_blank">Online Media Now! Are You Online Journalist?</a></em> </li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/salsabeela/sets/72157608550402693/" target="_blank">Galeri fotonya Ollie</a> </li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/03/fresh-30-berbagi-pengalaman-seputar-jurnalisme-dan-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjaga Kerahasiaan Pribadi di Ranah Maya</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/10/08/menjaga-kerahasiaan-pribadi-di-ranah-maya/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/10/08/menjaga-kerahasiaan-pribadi-di-ranah-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 14:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[privacy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2008/10/08/menjaga-kerahasiaan-pribadi-di-ranah-maya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Untuk Anda yang aktif ber-<em>online</em>-ria, misalnya sering ngeblog, aktif di Twitter, Plurk, hingga berjejaring sosial, ada baiknya Anda membatasi informasi data pribadi Anda. Apalagi kalau informasi yang Anda tuliskan itu tidak berada dalam ranah yang aman, kelihaian seseorang dalam memanfaatkan Google saja memungkinkannya untuk mendapatkan informasi tersebut.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/rahasiapribadi.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><img class="floatright" title="Kerahasiaan Pribadi" alt="Kerahasiaan Pribadi" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/rahasiapribadi.jpg" border="0" />Untuk Anda yang aktif ber-<em>online</em>-ria, misalnya sering ngeblog, aktif di Twitter, Plurk, hingga berjejaring sosial, ada baiknya Anda membatasi informasi data pribadi Anda. Apalagi kalau informasi yang Anda tuliskan itu tidak berada dalam ranah yang aman, kelihaian seseorang dalam memanfaatkan Google saja memungkinkannya untuk mendapatkan informasi tersebut.</p>
<p>Berikut beberapa tips yang perlu Anda perhatikan:</p>
<ul>
<li>
<p>Jangan pernah menuliskan nomor telepon dan alamat rumah di blog, <em>microblog</em>, hingga jejaring sosial. Meski Facebook dan Friendster bisa membatasi hanya teman Anda yang melihat profil Anda, Anda tidak akan pernah tahu apa yang mungkin terjadi. Lebih baik tidak menuliskannya sama sekali, daripada rugi di kemudian hari. Kalau Anda menemukan rekan Anda yang menuliskan nomor telepon dan alamat rumah di suatu halaman situs, mohon minta ia untuk segera menghapusnya. Hal ini bisa terjadi, misalnya, ada seseorang yang niatnya sebetulnya baik, dengan menuliskan data angkatan sekelasnya supaya teman lainnya bisa tahu. Masalahnya, ia tidak sadar kalau informasi itu sebetulnya juga bisa dibaca oleh orang-orang lain yang tidak berkepentingan.</p>
</li>
<li>
<p>Saat meregistrasi dalam suatu situs, hindarilah mengisi informasi yang sangat pribadi. Batasi informasi hanya pada <em>nickname</em>, <em>email</em>, dan mungkin hanya nama Anda. Kalau memang Anda harus meregistrasi lengkap dalam suatu situs, karena Anda akan melakukan pembelian melalui kartu kredit atau PayPal, pastikan tombol <em>secure </em>di <em>browser </em>Anda aktif. Biasanya akan muncul logo kunci di <em>browser </em>Anda, yang memastikan kalau situs itu aman.</p>
</li>
<li>
<p>Jangan menuliskan alamat email Anda di blog dalam format nama@yahoo.com, karena ini akan mengundang robot-robot tidak bertanggung jawab yang akan meng-<em>harvest </em>alamat email dan menjadikan alamat email Anda sasaran <em>spam</em>. Buatlah dengan variasi lain, seperti nama [at] yahoo [dot] com, atau nama AT yahoo DOT com, atau variasi lainnya.</p>
</li>
<li>
<p>Menggunakan nama lengkap juga sebaiknya harus berhati-hati. Untuk Anda yang memang hanya sekedar bergaul, dan tidak peduli akan <em>personal branding </em>Anda di dunia maya, jangan tulis nama Anda dengan lengkap. Kalau nama Anda generik (misal: Andi Setiawan atau Budiono) mungkin tidak apa-apa, namun untuk nama-nama yang unik, hindari menuliskan nama lengkap. Kalau perlu, dalam setiap eksistensi Anda di dunia maya, gunakan nama panggilan Anda saja. </p>
</li>
<li>
<p>Untuk Anda yang aktif berjejaring sosial, jangan ragu untuk menolak ajakan pertemanan dari orang-orang yang tidak Anda kenal. Saat Anda menambahkannya sebagai teman, ia akan bisa melihat informasi yang Anda sajikan dalam profil Anda. Ia bisa &ldquo;mengenal&rdquo; Anda melalui testimoni atau komentar yang diberikan teman Anda kepada Anda. Keaktifan Anda di jejaring sosial, akan memungkinkannya melakukan profilisasi diri Anda. Semakin ia &ldquo;kenal&rdquo; dengan Anda, semakin Anda dalam ancaman bahaya. </p>
</li>
<li>
<p>Hindari <em>chat </em>dengan orang yang tidak Anda kenal di YM atau mIRC, apalagi bila ia secara obsesif meminta Anda menampilkan foto Anda. Nggak usah khawatir soal etika. Kalau dirasakan orang yang mengajak Anda <em>chat </em>mulai terasa ambisius, putuskan saja hubungan dengannya, dan hindari berkomunikasi lagi dengannya.</p>
</li>
</ul>
<p>Mudah-mudahan sedikit tips ini bisa bermanfaat bagi Anda. Komunikasikan tips-tips ini kepada rekan dan saudara Anda, terutama mereka yang masih ABG, yang ingin eksis di dunia maya tanpa sadar bahaya yang mengancamnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/10/08/menjaga-kerahasiaan-pribadi-di-ranah-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkomunikasi dengan Microblogging</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/09/16/berkomunikasi-dengan-microblogging/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/09/16/berkomunikasi-dengan-microblogging/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 16:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[microblog]]></category>
		<category><![CDATA[plurk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2008/09/16/berkomunikasi-dengan-microblogging/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mengenai apa itu <em>microblogging </em>silakan dibaca dahulu di tulisan sebelumnya. Berbagai aplikasi <em>microblogging</em> dari yang terkenal pertama kali, <a href="http://www.twitter.com/" target="_blank">Twitter</a>, hingga yang populer kali ini, <a href="http://plurk.com/redeemByURL?from_uid=1051650&#038;check=721012698&#038;s=1" target="_blank">Plurk</a>, sampai yang buatan negeri sendiri, <a href="http://www.kronologger.com/" target="_blank">Kronologger</a>, semuanya punya format serupa: berupa tulisan singkat selayaknya SMS, dikirim dengan mudah via halaman internetnya atau melalui telepon genggam, dan bisa diberikan komentar yang bisa dibaca semua temannya.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/plurk3.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Mengenai apa itu <em>microblogging </em>silakan dibaca dahulu di tulisan sebelumnya. Berbagai aplikasi <em>microblogging</em> dari yang terkenal pertama kali, <a href="http://www.twitter.com/" target="_blank">Twitter</a>, hingga yang populer kali ini, <a href="http://plurk.com/redeemByURL?from_uid=1051650&#038;check=721012698&#038;s=1" target="_blank">Plurk</a>, sampai yang buatan negeri sendiri, <a href="http://www.kronologger.com/" target="_blank">Kronologger</a>, semuanya punya format serupa: berupa tulisan singkat selayaknya SMS, dikirim dengan mudah via halaman internetnya atau melalui telepon genggam, dan bisa diberikan komentar yang bisa dibaca semua temannya.</p>
<p>Sejak bergabung dengan Plurk dari bulan Juni 2008, ada pola-pola rutin yang selalu muncul dari tulisan teman-teman. Mungkin kalau bisa direkapitulasi, tipe tulisan yang muncul adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Aktivitas yang sedang/akan/baru saja dilakukan penulisnya, bisa relevan dengan aktivitas kerja, keluarga, hobi, hingga pacaran. </li>
<li>Cerita atau gosip seputar teman-teman Plurk itu sendiri. </li>
<li>Pernyataan yang dipicu dari pemikiran si penulis, yang biasanya pemikiran itu didasarkan pada aktivitasnya sehari-hari. </li>
<li>Pertanyaan/pernyataan terbatas yang sifatnya hanya dipahami oleh teman-teman kelompok atau keluarganya. </li>
<li>Info tentang kejadian akhir yang muncul di koran atau portal berita. </li>
<li>Kegiatan yang sifatnya ritual harian, misalnya: ucapan selamat pagi, apa yang dimakan untuk sarapan, kegiatan buka puasa. </li>
<li>Seputar berita dan teknis penggunaan Plurk. </li>
<li><em>(ada yang mau menambahkan?)</em> </li>
</ol>
<p align="center"><img title="Plurk" alt="Plurk" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/plurk3.jpg" border="0" /></p>
<p>Suatu waktu nanti, sepertinya perlu dibuat riset kecil-kecilan dengan mengambil data acak dari 100 pengguna Plurk di Indonesia tentang aktivitas nge-plurk-nya selama 30 hari penuh. Agar kita bisa dapat data lebih lengkap perilaku pengguna Plurk di negeri ini. Namun berdasarkan pengamatan sepintas selama dua bulan ini, tipe tulisan nomor satulah yang paling mendominan, serta tipe tulisan nomor 5 dan 7 yang paling minor.</p>
<p>Dengan pola-pola tulisan yang ada seperti di atas, mungkinkah sebuah <em>brand </em>bisa masuk dan mencoba berkomunikasi dengan tetap memanfaatkan isu di atas? </p>
<p>Saat ini di Plurk ada Mas Radityo Djadjoeri dengan <em>username </em><a href="http://www.plurk.com/user/bangomania" target="_blank">bangomania</a>, yang mengatasnamakan komunitas pencinta Kecap Bango mencoba menggali <em>insight </em>tentang kebiasaan para penghuni Plurk makan di bulan puasa ini. Ia memang tidak langsung disponsori oleh Kecap Bango, dan apa yang dilakukannya adalah inisiatif dirinya sendiri. Kalau dilihat dari respon yang muncul sejak ia bergabung, ternyata ragam pertanyaannya mengundang jawaban positif dari para pengguna Plurk, terutama dari mereka yang doyan makan.</p>
<p>Nah, bukankah hal ini mungkin pula dilakukan oleh <em>brand </em>lainnya? Apakah mereka berani dan siap?</p>
<p>Artikel lalu yang relevan:</p>
<ul>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2008/08/04/kalau-identitas-brand-dipalsukan-di-dunia-online/" target="_self">Kalau Identitas <em>Brand</em> Dipalsukan di Dunia <em>Online</em></a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2008/07/28/plurk-mania-mulai-mewabah-di-negeri-ini/" target="_self">Plurk Mania Mulai Mewabah di Negeri Ini</a> </li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/09/16/berkomunikasi-dengan-microblogging/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setiap Situs Komunitas ada Segmennya</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/25/setiap-situs-komunitas-ada-segmennya/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/25/setiap-situs-komunitas-ada-segmennya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 08:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[markplus]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/25/setiap-situs-komunitas-ada-segmennya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Selamat masuk kantor kembali semuanya!!! Kalau mau baca cerita ringan-ringan&#160;tentang liburan, silakan mampir ke <a href="http://pitra.dagdigdug.com/2008/03/23/liburan-pendek-di-yogya" target="_blank">sini</a>.&#160;Namun kalau lebih tertarik untuk membaca yang sedikit lebih 'berat,' monggo lanjutkan membaca tulisan berikut.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/socialnetwork.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Selamat masuk kantor kembali semuanya!!! Kalau mau baca cerita ringan-ringan&nbsp;tentang liburan, silakan mampir ke <a href="http://pitra.dagdigdug.com/2008/03/23/liburan-pendek-di-yogya" target="_blank">sini</a>.&nbsp;Namun kalau lebih tertarik untuk membaca yang sedikit lebih &#8216;berat,&#8217; monggo lanjutkan membaca tulisan berikut.</p>
<p>Nah, kali ini mau cerita tentang situs komunitas nih. Nggak mungkin kali ya kalau kita belum pernah dengar Friendster atau Facebook. Keduanya situs jaringan sosial populer untuk segala umat. Semua segmen usia (tentunya yang familiar dengan internet) pasti tahu kedua situs itu. Bahkan acara-acara di radio populer pun pasti punya akun Friendster dan Facebook supaya pendengarnya bisa ikutan meng-<em>add as friend</em>.</p>
<p><img class="floatleft" title="Live Connector" alt="Live Connector" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/comm-liveconnector.jpg" border="0" />Kepopuleran Friendster yang hampir menjangkau semua umat itu menarik banyak <em>brand </em>beriklan di sana. Namun pertanyaannya, apakah benar beriklan di Friendster adalah pilihan tepat untuk setiap jenis <em>brand</em>? Apakah tidak ada alternatif di luar Friendster yang jauh lebih <em>segmented</em>, lebih murah, dibuat oleh bangsa sendiri, yang bisa jadi memberikan ROI yang lebih tinggi daripada memasang iklan di Friendster? </p>
<p>Jawabannya, bisa jadi ada, asal si pengiklan jeli dan telaten mantengin setiap situs di Indonesia. Menggali <em>insight </em>langsung dari target pasar juga bisa menjadi masukan. Contohnya, adakah di antara kalian yang tahu apa itu <a href="http://www.liveconnector.com/" target="_blank">Live Connector</a>? Kalau kalian pekerja kantoran atau mahasiswa, atau bahkan profesional di dunia <em>online</em> sekalipun, dijamin belum tentu kalian pernah mendengarnya. Tapi coba kalian tanya ke saudara-saudara kalian yang masih SMP. Junior-junior ABG yang doyan <em>chatting </em>pasti kenal apa itu LC (istilah populer Live Connector). Mereka bisa 20-30 menit nongkrongin situs itu, untuk <em>chatting </em>sampai membangun jejaring sosial.</p>
<p>Itu contoh segmentasi berdasar usia. Ada lagi segmentasi berdasar profesi atau hobi. Adakah di antara kalian yang tahu apa itu <a href="http://www.ayofoto.com/" target="_blank">Ayo Foto</a> atau <a href="http://www.fotografer.net/" target="_blank">Fotografer.net</a>? Semua yang doyan fotografi pasti tahu kedua situs itu. Para anggotanya sudah terbiasa berbagi galeri foto dan me-<em>review </em>foto di situ. Atau untuk para ibu-ibu, ada yang sudah familiar dengan situs <a href="http://www.ibudananak.com/" target="_blank">Ibu dan Anak</a>. Situs ini memang dikhususkan untuk para ibu-ibu muda dengan anak-anak mereka yang masih kecil.</p>
<p align="center"><img title="Fotografer.net" alt="Fotografer.net" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/comm-fotografer.jpg" border="0" />&nbsp;<img title="Ibu dan Anak" alt="Ibu dan Anak" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/comm-ibudananak.jpg" border="0" /></p>
<p><img class="floatright" title="It's My Life" alt="It's My Life" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/comm-itsmylife.jpg" border="0" />Ada lagi yang lebih ekstrim. Sudah ada yang bergabung ke <a href="http://www.itsmylifeclub.com/" target="_blank">It&#8217;s My Life</a>? Kalau berniat bergabung, hati-hatilah membaca syarat dan kondisinya. Jangan dilewatkan seperti biasanya kalau kalian bergabung dengan situs-situs komunitas lainnya. Situs komunitas ini memang spesifik untuk para pria yang &#8216;sejenis.&#8217; Situs ini merupakan bagian dari upaya edukasi AIDS dan HIV yang disponsori oleh LSM FHI. Promo situs ini bisa ditemukan bisa kalian <em>search </em>di Google berdasarkan <em>keyword </em>tertentu. Intinya, diharapkan yang tahu situs ini hanyalah mereka yang memang targetnya.</p>
<p>Masih banyak lagi situs-situs serupa yang sangat <em>segmented</em>. Untuk beberapa <em>brand</em>, bisa jadi lebih efisien beriklan di situs-situs yang sudah jelas targetnya, daripada &#8216;nembak&#8217; ke situs umum. Untuk para pengembang situs komunitas, pertimbangkan pula membuat situs-situs dengan target yang <em>niche</em>, supaya tidak bersaing langsung dengan situs-situs populer seperti Friendster atau Facebook.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/25/setiap-situs-komunitas-ada-segmennya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wow TV, Sudah Saatnyakah Televisi Seperti ini di Indonesia?</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/04/wow-tv-sudah-saatnyakah-televisi-seperti-ini-di-indonesia/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/04/wow-tv-sudah-saatnyakah-televisi-seperti-ini-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 07:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Creative Works]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/04/wow-tv-sudah-saatnyakah-televisi-seperti-ini-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sudah ada yang menjenguk <a href="http://www.wowtv.co.id/" target="_blank">Wow TV</a>? Terus terang sejak melihat Wow TV, agak bingung dengan pola bisnisnya. Benarkah pemirsa Indonesia suka dengan model penyiaran televisi seperti ini? Televisi ini memang tidak ditayangkan melalui media <em>broadcast </em>pada umumnya. Wow TV menggunakan internet kecepatan tinggi untuk media penyiarannya. Jadi, pemirsa bisa menyaksikan acara yang ia sukai pada saat kapanpun dan dimanapun (tentunya sepanjang koneksi internet <em>broadbad</em> ada ya).</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/wowtv.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Sudah ada yang menjenguk <a href="http://www.wowtv.co.id/" target="_blank">Wow TV</a>? Terus terang sejak melihat Wow TV, agak bingung dengan pola bisnisnya. Benarkah pemirsa Indonesia suka dengan model penyiaran televisi seperti ini? Televisi ini memang tidak ditayangkan melalui media <em>broadcast </em>pada umumnya. Wow TV menggunakan internet kecepatan tinggi untuk media penyiarannya. Jadi, pemirsa bisa menyaksikan acara yang ia sukai pada saat kapanpun dan dimanapun (tentunya sepanjang koneksi internet <em>broadbad</em> ada ya).</p>
<p>Hanya saja pertanyaannya, seberapa besar penikmat internet <em>broadband </em>di Indonesia? Setelah dites dengan koneksi Fastnet 768 pun, siaran <em>streaming </em>acara dari Wow TV masih terputus-putus. Kalau memang harus mengandalkan kecepatan yang jauh lebih tinggi lagi, siapa yang akan jadi target konsumennya? Orang-orang perkantoran pada jam kerja kah? Hehe, rasanya kok nggak mungkin ya. Meski bisa jadi mereka yang bekerja di segitiga emas Jakarta memiliki koneksi internet cepat, untuk apa mereka membuang <em>bandwidth </em>untuk keperluan yang tidak produktif. Ataukah targetnya segelintir penghuni apartemen pemilik internet kecepatan tinggi yang tinggal di tengah kota Jakarta? Bukankah di apartemen mereka juga sudah disuguhi ratusan <em>channel </em>yang jelas-jelas lebih menarik daripada Wow TV?</p>
<p align="center"><img title="Wow TV" alt="Wow TV" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/wowtv.jpg" border="0" /></p>
<p>Wow TV mungkin berpikir kalau mereka tidak memiliki pesaing di dunia internet, karena televisi-televisi Indonesia lainnya belum melakukan hal serupa. Jangan salah dulu, Wow TV memang nggak akan berhadapan dengan mereka. Kompetitor mereka adalah konsumen sendiri. Konsumen pemilik internet <em>broadband </em>besar kemungkinannya adalah orang yang sangat melek internet. Buat apa mereka membayar untuk menonton di Wow TV, kalau koneksi internet itu bisa ia pakai untuk mengunduh film-film seri yang bertebaran di ranah internet? Cari tautannya di forum-forum, punya akun premium di <a href="http://www.rapidshare.com/" target="_blank">Rapidshare</a> atau <a href="http://www.megaupload.com/" target="_blank">Megaupload</a> (yang tidak sampai Rp. 200.000 per 3 bulan), dan ia bisa mengunduh film dan menonton sepuasnya. Apa yang diputar di luar negeri, bisa ia tonton tidak sampai seminggu berikutnya. Daftar film yang beredar di internet pun nggak akan ada habisnya kalau si pemirsa mau melototin monitor terus sampai 5 tahun.</p>
<p>Dari sisi acara, apa yang membuat Wow TV berbeda dengan <em>channel </em>TV kabel lainnya? Nggak ada. Kalau dilihat dari daftar filmnya, nggak jauh berbeda. Kecuali kalau Wow TV mau membuat program <em>nyeleneh</em> yang tidak disiarkan televisi lain (seperti <a href="http://www.nakednews.com/" target="_blank">Naked News</a>, misalnya.. Hehehe..) bisa jadi akan sedikit konsumen yang tertarik untuk meliriknya. Buat apa langganan <em>channel </em>televisi baru, dengan cara yang lebih rumit (baca: tidak biasa), kalau acara yang didapat pun nggak jauh berbeda. </p>
<p>Nggak tau deh. Mungkin dari kalian ada tanggapan yang berbeda tentang Wow TV ini? Atau orang Wow TV sendiri?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/04/wow-tv-sudah-saatnyakah-televisi-seperti-ini-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fupei dan Aku Cinta Sekolah</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/05/05/fupei-dan-aku-cinta-sekolah/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/05/05/fupei-dan-aku-cinta-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2007 06:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2007/05/05/fupei-dan-aku-cinta-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[Membangun komunitas <em>online </em>berbasis <em>social network </em>itu sulit. Bahkan, mungkin lebih sulit daripada membangun sebuah forum. Selain aplikasinya lebih kompleks, pengelola komunitas harus bisa memberikan lebih dari sekedar <em>posting </em>tulisan. Pengelola komunitas juga harus bisa menjamin kerahasiaan data anggotanya, mengingat dalam <em>social network</em>, anggota lebih terbuka dalam menuliskan data pribadinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/fupei.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><img class="floatright" title="Fupei" alt="Fupei" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/fupei.jpg" border="0" />Membangun komunitas <em>online </em>berbasis <em>social network </em>itu sulit. Bahkan, mungkin lebih sulit daripada membangun sebuah forum. Selain aplikasinya lebih kompleks, pengelola komunitas harus bisa memberikan lebih dari sekedar <em>posting </em>tulisan. Pengelola komunitas juga harus bisa menjamin kerahasiaan data anggotanya, mengingat dalam <em>social network</em>, anggota lebih terbuka dalam menuliskan data pribadinya.</p>
<p>Di Indonesia, sepertinya baru <a href="http://www.fupei.com/" target="_blank">Fupei</a> yang gencar mengembangkan fitur <em>social network</em>-nya. Modelnya memang meniru Friendster dan MySpace. Selain pertemanan, di Fupei, para anggotanya bisa berdiskusi musik, mengunggah foto dan video. Anggota juga bisa <em>chat </em>satu sama lain dan bertanding kompetisi <em>mini flash game</em>. Fasilitas terbarunya, anggota kini bisa mengunduh <em>toolbar </em>untuk <em>browser </em>IE dan Firefox. <em>Toolbar </em>ini dipakai sebagai cara pintas untuk mengakses fasilitas Fupei.</p>
<p><img class="floatleft" title="Aku Cinta Sekolah" alt="Aku Cinta Sekolah" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/acs.jpg" border="0" />Kalau Friendster sudah ditiru, baru-baru ini giliran <em>social network </em>model Facebook yang diadaptasi. <em>Website </em><a href="http://www.akucintasekolah.com/" target="_blank">Aku Cinta Sekolah</a> ini adalah jaringan pertemanan yang menghubungkan antara siswa dan alumni SMU. <em>Database</em> sekolahnya sangat lengkap (dan sepertinya sebagian besar masih diisi sendiri oleh pengelola <em>website</em>-nya). Meski masih baru, sepertinya model ini cukup menarik banyak siswa SMU untuk registrasi. Tinggal tunggu nih, apakah akan muncul fitur-fitur baru yang bisa membuat para anggotanya semakin loyal kepada <em>website </em>ini. </p>
<p>Meski meniru dan mengadaptasi, bukan berarti <em>website </em>Fupei dan Aku Cinta Sekolah ini jelek loh. Toh, semua orang ingin bergabung dengan komunitas sendiri-sendiri. Kalau dirasakan <em>website </em>ini cocok bagi dirinya untuk beraktualisasi, ya mengapa tidak. Tinggal tugas dari pengelola <em>website</em>-nya nih, untuk terus menjaga keloyalan setiap anggotanya. Jangan sampai mereka cuma sekedar registrasi ikut-ikutan saja, tanpa ikut aktif di dalamnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/05/05/fupei-dan-aku-cinta-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Membuat Pria dan Wanita Tertarik dengan Internet?</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/01/11/apa-yang-membuat-pria-dan-wanita-tertarik-dengan-internet/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/01/11/apa-yang-membuat-pria-dan-wanita-tertarik-dengan-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2006 07:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[communication]]></category>
		<category><![CDATA[man]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>
		<category><![CDATA[woman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2006/01/11/apa-yang-membuat-pria-dan-wanita-tertarik-dengan-internet/</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan laporan terakhir dari <a href="http://www.pewinternet.org/PPF/r/171/report_display.asp" target="_blank">PEWInternet</a> yang ditulis oleh <font color="#ff6600">Deborah Fallows</font>, menunjukkan kalau kebanyakan pria tertarik menggunakan internet untuk mendapatkan berbagai pengalaman (<em>experience</em>) baru dengan teknologi terakhir, sementara wanita lebih tertarik menggunakan internet untuk memperdalam hubungan dengan rekan lainnya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/priawanita.gif" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><img alt="" class="floatleft" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/priawanita.gif"/>Berdasarkan laporan terakhir dari <a href="http://www.pewinternet.org/PPF/r/171/report_display.asp" target="_blank">PEWInternet</a> yang ditulis oleh <font color="#ff6600">Deborah Fallows</font>, menunjukkan kalau kebanyakan pria tertarik menggunakan internet untuk mendapatkan berbagai pengalaman (<em>experience</em>) baru dengan teknologi terakhir, sementara wanita lebih tertarik menggunakan internet untuk memperdalam hubungan dengan rekan lainnya. </p>
<p>Dari penelitian ini, juga diketahui kalau lebih banyak pria dibanding wanita yang menggunakan internet untuk melakukan transaksi <em>online</em>, membeli konten digital, mencari informasi yang sangat bervariasi, dan juga untuk hiburan.Yang sangat membedakan adalah kalau pria mencari topik lebih luas tapi tidak dalam, sementara wanita secara spesifik khusus mendalami topik tertentu yang lebih mereka sukai. </p>
<p>Kenderungan ini sepertinya juga terjadi sama di Indonesia. Memang belum ada data penelitian yang membahas hal ini. Namun sepintas terlihat kalau banyak wanita Indonesia (khususnya remaja) yang lebih tertarik untuk menggunakan internet untuk menjalin hubungan dengan rekan lainnya baik via forum, <em>website</em>, maupun <em>chat</em>. Sementara para prianya tertarik dengan topik yang lebih luas, dari mulai berita, <em>game</em>, hingga teknologi internet itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/01/11/apa-yang-membuat-pria-dan-wanita-tertarik-dengan-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

