<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Ide &#187; new wave marketing</title>
	<atom:link href="http://media-ide.bajingloncat.com/tag/new-wave-marketing/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://media-ide.bajingloncat.com</link>
	<description>Where Indonesia's online branding, social media, and creativity is talked about</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 14:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memutuskan Menjadi Seorang Buzzer</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/04/04/memutuskan-menjadi-seorang-buzzer/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/04/04/memutuskan-menjadi-seorang-buzzer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 14:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[influencer]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=4280</guid>
		<description><![CDATA[Dulu masa blog masuk masa popularitas, bisa terhitung dengan jari siapa saja yang terlihat sebagai <em>influencer </em>utamanya. Waktu itu <em>brand </em>meminta bantuan para blogger untuk menuliskan artikel dengan memuat informasi <em>brand </em>sebagai bagian dari tulisannya. Sekarang di eranya Twitter merajalela, peran individu yang menjadi <em>influencer/buzzer/rainmaker/catalyst/</em>apapun namanya melebar. Bisa dibilang, banyak kesempatan menjadi seorang <em>buzzer </em>di ranah Twitter. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2011/04/bee.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/04/bee.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4281" title="buzzer" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2011/04/bee-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Dulu masa blog masuk masa popularitas, bisa terhitung dengan jari siapa saja yang terlihat sebagai <em>influencer </em>utamanya. Waktu itu <em>brand </em>meminta bantuan para blogger untuk menuliskan artikel dengan memuat informasi <em>brand </em>sebagai bagian dari tulisannya. Sekarang di eranya Twitter merajalela, peran individu yang menjadi <em>influencer/buzzer/rainmaker/catalyst/</em>apapun namanya melebar. Bisa dibilang, banyak kesempatan menjadi seorang <em>buzzer </em>di ranah Twitter. Tidak harus menjadi selebriti yang punya puluhan ribu hingga jutaan <em>follower</em>, seorang individu yang tidak kita kenal sebelumnya asalkan punya karakteristik tweet yang khas dan punya <em>follower </em>yang loyal, bisa menjadi seorang <em>buzzer</em>.</p>
<p>Tidak ada rumus pasti bagaimana menjadi seorang <em>buzzer </em>yang baik. Tidak ada sekolahnya, tidak ada kuliahnya, dan yang jelas tidak ada aturan main bakunya. Namun saat seorang <em>buzzer </em>terikat kontrak kerja sama dengan sebuah <em>brand</em>, maka tentu ada kewajiban yang harus ia lakukan. Menginformasikan program kampanye sebuah <em>brand </em>tanpa si <em>buzzer </em>harus kehilangan karakter aslinya di ranah Twitter.  Antara susah dan mudah. Antara memberikan benefit bagi diri sendiri dan tidak kehilangan <em>follower </em>yang susah payah diraihnya.</p>
<p>Mungkin beberapa pertimbangan berikut perlu dipikirkan sebelum seorang pengguna Twitter sebelum memutuskan menjadi seorang <em>buzzer</em>:</p>
<ul>
<li>Tidak semua 	<em>brand </em>cocok dengan diri kita. Bisa jadi ada <em>brand </em>yang 	mendekati kita karena kita punya jumlah <em>follower </em>yang luar 	biasa banyak. Cek dulu, karakteristik <em>follower </em>kita seperti 	apa sih. Biasanya kita menulis tweet seperti apa yang sering di-RT 	oleh mereka? Lalu apa sih yang biasa kita tweet sehari-hari? Kalau 	biasanya kita menulis tweet tentang sesuatu yang <em>fun </em>di mata 	remaja, pastinya kurang nyambung dong kalau akhirnya kita menjadi 	<em>buzzer </em>sebuah <em>brand </em>sabun cuci.</li>
<li>Kemaslah tweet 	dalam bahasa yang sesuai karakter kita. Jangan hilangkan itu agar 	<em>follower </em>kita pun tetap menikmati tweet yang kita buat, meski 	itu bersifat <em>soft selling </em>terhadap sebuah <em>brand</em>. Kalau 	kita pandai meramu kata-kata setiap harinya atau pandai menggombal, 	misalnya, maka susunlah pesan yang ingin disampaikan <em>brand</em> dalam kata-kata tersebut.</li>
<li>Jangan terima 	<em>brief </em>apa adanya dari <em>brand </em>atau <em>agency </em>yang 	mewakilinya. Kita lebih mengenal karakter <em>follower </em>kita 	daripada mereka. Beranikan diri untuk mengajukan usulan penyampaikan 	pesan tweet yang kita anggap lebih elegan dan lebih mudah diterima 	oleh <em>follower </em>kita.</li>
<li>Terkadang ada 	<em>brand </em>yang meminta kita menuliskan tweet pada jam tertentu 	dengan jumlah 3 tweet per hari, misalnya. Kesepakatan dengan <em>brand </em>memang hanya mewajibkan kita menulis 3 tweet per hari, tapi coba 	kita tanyakan ke diri sendiri, apakah hanya dengan 3 tweet per hari, 	suatu pesan yang bersifat <em>soft selling</em> bisa tertanam di benak 	<em>follower </em>kita? Sebagai <em>buzzer</em> kita punya andil 	menyukseskan kampanye <em>brand</em>. Kalau menurut kita, kesuksesan 	pesan lebih bisa dicapai kalau tweet harus disampaikan dalam jumlah 	lebih banyak, namun dengan cara yang sangat halus, ya kenapa tidak 	kita tawarkan solusi itu ke <em>brand</em>?</li>
<li>Saat menjadi 	seorang <em>buzzer</em>, kita membangun percakapan dengan <em>follower </em>kita. Kita membangun <em>teaser</em>, cerita, dan puncak 	penyampaian pesan, yang menjadi kesatuan utuh.<em> </em>Pesan sebuah 	<em>brand </em>tidak bisa disamakan dengan iklan baris sebuah situs 	berita, yang sekedar menyelipkan tweet sponsor di antara setiap 	tweet percakapan kita.</li>
<li>Sebagai 	seorang <em>buzzer</em>, kita juga menjadi semacam <em>brand 	ambassador</em>. Artinya, kita perlu kenal dengan produk <em>brand </em>itu. Kita pernah merasakannya, atau ingin sekali mencobanya. 	Kalau kita pernah mencobanya, tentu akan mudah kita membagikan 	pengalaman ini kepada orang lain. Kita bisa berbagi cerita mengapa 	produk <em>brand </em>ini bisa bermanfaat bagi <em>follower </em>kita. 	Kalau memang produk <em>brand </em>ini belum pernah kita coba, 	setidaknya kita bisa mengajak <em>follower </em>kita untuk sama-sama 	berbagi imajinasi seandainya produk itu kita pegang.</li>
<li>Inti menjadi 	seorang <em>buzzer </em>adalah menjadi pencerita. Jangan bercerita 	dengan subjek diri kita sendiri. Jangan pamer foto kita mencoba 	sebuah produk dengan kita yang menjadi fokus utamanya. Kita tentu 	ingin <em>follower </em>kita merasakan apa yang kita rasakan. Jadi, 	berikanlah sebuah cerita yang memang menarik untuk orang lain.</li>
<li>Seorang <em>buzzer </em>yang sukses pasti sering kebanjiran pesanan dari banyak <em>brand</em>. 	Kita perlu membatasi diri juga, jangan sampai separuh dari isi tweet 	kita adalah pesan produk. <em>Follower </em>pun lama-lama akan muak. 	Aturlah kemampuan diri sendiri (dan lihat kadar kemuakan <em>follower</em>)<em> </em>dan berani berkata tidak, kalau memang itu akan membuat karakter 	diri kita hilang karenanya.</li>
</ul>
<p>Pengalaman diri sebagai seorang <em>buzzer </em>memang belum banyak sih, namun mudah-mudahan ini bisa menjadi masukan untuk rekan-rekan kalau seandainya nanti ada pihak <em>brand </em>atau <em>agency </em>yang mewakilinya mendekati Anda.</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/wheatfields/116809985/" target="_blank">net_efekt</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2011/04/04/memutuskan-menjadi-seorang-buzzer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setiap Netizen Punya Karakternya Masing-masing</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/13/setiap-netizen-punya-karakternya-masing-masing/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/13/setiap-netizen-punya-karakternya-masing-masing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Nov 2010 15:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[character]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3798</guid>
		<description><![CDATA[Di <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/10/saat-obama-memberi-%e2%80%9ckuliah%e2%80%9d-di-universitas-indonesia/ " target="_blank">tulisan terdahulu</a>, sempat diceritakan kalau Barack Obama punya karakteristik tertentu. Karakter yang khas, yang akhirnya membentuk dirinya sebagai sebuah <em>brand</em>. Sebenarnya tidak harus menjadi seorang Obama untuk bisa punya karakteristik kuat. Sebagai seseorang yang aktif di ranah daring, apa yang kita lakukan sehari-hari sebetulnya secara tidak langsung membentuk karakteristik kita. Setiap tulisan blog kita, setiap <em>status update</em> kita, setiap cuap kita di Twitter membentuk persepsi tentang diri kita di mata orang lain. Kita membentuk <em>brand </em>diri kita sendiri melalui setiap aktivitas kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/11/karakter2.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/11/karakter2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-3799" title="karakter netizen" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/11/karakter2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Di <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/10/saat-obama-memberi-%e2%80%9ckuliah%e2%80%9d-di-universitas-indonesia/ " target="_blank">tulisan terdahulu</a>, sempat diceritakan kalau Barack Obama punya karakteristik tertentu. Karakter yang khas, yang akhirnya membentuk dirinya sebagai sebuah <em>brand</em>. Sebenarnya tidak harus menjadi seorang Obama untuk bisa punya karakteristik kuat. Sebagai seseorang yang aktif di ranah daring, apa yang kita lakukan sehari-hari sebetulnya secara tidak langsung membentuk karakteristik kita. Setiap tulisan blog kita, setiap <em>status update</em> kita, setiap cuap kita di Twitter membentuk persepsi tentang diri kita di mata orang lain. Kita membentuk <em>brand </em>diri kita sendiri melalui setiap aktivitas kita.</p>
<p>Pertimbangkanlah untuk mengelola <em>brand </em>kita sendiri. Tentukan <em>personal brand </em>apa yang hendak kita ciptakan untuk diri kita. Serius, <em>fun</em>, suka bercanda, suka horor, romantis, dll. Tentunya jangan lari terlalu jauh dari karakteristik diri kita sebenarnya ya. Kalau memang aslinya bukan seorang yang romantis, jangan lalu memaksakan diri menjadi seorang romantis juga di ranah daring. Yang seharusnya dikelola adalah jati diri kita sebenarnya. Jangan membohongi diri dengan karakter palsu, karena lama-lama akan ketahuan oleh teman-teman virtual kita.</p>
<p>Lalu bagaimana kita tahu, karakter kita ini seperti apa? Lalu apakah karakter itu tepat dengan yang jati diri kita sebenarnya? Paling gampangnya begini. Sampiri beberapa teman di ranah daring yang belum pernah kita jumpai secara fisik, lalu ajukan pertanyaan berikut:</p>
<ul>
<li>Apa 	sih yang Anda ingat pertama kali saat melihat <em>nickname </em>saya muncul di <em>timeline </em> Twitter Anda?</li>
<li>Menurut Anda, 	setelah membaca blog saya, bisakah Anda menduga sifat dan keahlian 	saya?</li>
<li>Setelah lihat 	beragam aktivitas saya di Facebook, apa persepsi Anda tentang saya?</li>
</ul>
<p>Pertanyaan-pertanyaan di atas cuma contoh. Bisa saja divariasikan dengan pertanyaan lain. Intinya, menggali karakteristik diri kita di mata orang asing yang hanya â€œkenalâ€ dengan kita melalui Twitter, Facebook, blog, dll. Mereka akan menyebutkan beberapa hal. Bisa jadi sebagian karakteristik tepat dengan ekspektasi kita. Bersyukurlah kalau begitu, berarti kita sudah melakukan aktivitas daring dengan tepat. Tinggal dilanjutkan.</p>
<p>Namun bisa jadi meleset dari perkiraan kita. Kalau sudah begini, berarti saatnya kita evaluasi diri. Misalnya: bila di Twitter kita ingin dipersepsikan sebagai seorang kritikus politik sejati, tapi yang ditangkap oleh para <em>follower </em>kita di Twitter ternyata adalah seorang pecinta makanan, berarti ada yang salah dengan komposisi <em>tweet </em>kita. Mungkin kita terlalu banyak cerita tentang jalan-jalan cari makan, daripada berdiskusi aktif tentang tren politik yang lagi seru.</p>
<p>Membangun <em>personal brand</em> di ranah daring tidak bisa dalam sekejab. Kita harus menjadi netizen yang eksis, yang akhirnya dikenal oleh banyak orang, dan itu butuh waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan. Konsistenlah pula dalam suatu tema sehingga lama-kelamaan orang akan mudah mengasosiasikan tema tersebut dengan diri kita.</p>
<p>Contoh: kalau ada orang bertanya siapa sih blogger <em>fashion </em>yang muda dan menarik? Maka asosiasi yang terpikir pertama kali adalah <a href="http://dianarikasai.blogspot.com" target="_blank">Diana Rikasari</a>. Diana berhasil membangun persepsi di kalangan netizen (terutama blogger) kalau blognya adalah rujukan fashion. Hal ini disebabkan karena Diana konsisten menulis tentang <em>fashion </em>di blognya sejak 3 tahun lalu. Ia juga aktif mengajak <em>brand fashion </em>lokal untuk dipamerkan di blognya. Aslinya, Diana memang seorang penggila <em>fashion</em>. Blog ini menjadi salah satu bentuk ekspresi dirinya.</p>
<p>Contoh lain: siapa ya blogger yang aktif menulis tentang perkembangan teknologi dan dunia <em>startup </em>lokal? Maka pilihan <em>top of mind </em>langsung lari ke <a href="http://dailysocial.net" target="_blank">Dailysocial.net</a>, yang sudah 2 tahun konsisten membahas tema yang sama. Untuk memperkuat karakteristik <em>brand</em>-nya, Dailysocial.net juga menyelenggarakan beberapa kali <em>event </em>kopdar dan diskusi. Pemiliknya, Rama Mamuaya, memang seorang yang punya ambisi agar <em>startup </em>lokal dikenal oleh dunia. Ambisi yang mendorongnya untuk terus menulis dan membangun jaringan dengan blog-blog serupa di luar negeri.</p>
<p>Contoh lain lagi: siapa di ranah Twitter yang akrab dengan dunia musik Indonesia? Pilihan yang pertama kali muncul adalah Adib Hidayat (<a href="http://twitter.com/adibhidayat" target="_blank">@adibhidayat</a>). Adib, juragan Rolling Stones Indonesia merangkap penulis biografi Gigi ini terkenal di kalangan musisi. Profesinya sehari-hari ikut dibawa ke Twitter untuk memperkuat <em>personal brand</em>-nya di ranah daring.</p>
<p>Kalau ingin punya karakter kuat seperti 3 contoh di atas, kuncinya hanya satu kok: konsistenlah menulis dalam tema yang sesuai dengan jati diri kita. Secara perlahan, karakter diri kita di ranah daring lama-lama akan terbentuk dengan sendirinya.</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/magnoid/3075199087/" target="_blank">magnoid</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/13/setiap-netizen-punya-karakternya-masing-masing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbagai Tipe Netizen</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/11/berbagai-tipe-netizen/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/11/berbagai-tipe-netizen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 16:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3791</guid>
		<description><![CDATA[Hal paling menarik saat dulu datang diundang ke acara Netizen-nya Markplus adalah saat Pak Hermawan menceritakan <a href="http://blog.the-marketeers.com/archives/2575" target="_blank">hasil riset</a> terakhir timnya. Â Melalui serangkaian survei dan FGD, akhirnya keluarlah model tipe pengguna internet di Indonesia. Terbagi menjadi 9 kelompok, yang diukur berdasarkan tingkat aktivitas perilaku dan psikografi penggunanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/11/worldmap.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Hal paling menarik saat dulu datang diundang ke acara Netizen-nya Markplus adalah saat Pak Hermawan menceritakan <a href="http://blog.the-marketeers.com/archives/2575" target="_blank">hasil riset</a> terakhir timnya. Â Melalui serangkaian survei dan FGD, akhirnya keluarlah model tipe pengguna internet di Indonesia. Terbagi menjadi 9 kelompok, yang diukur berdasarkan tingkat aktivitas perilaku dan psikografi penggunanya.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/11/9typesofindonesianinternetusers.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3793" title="9typesofindonesianinternetusers" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/11/9typesofindonesianinternetusers.jpg" alt="" width="530"  /></a></p>
<p>Kalau dilihat dari model di atas, semakin ke kiri adalah mereka yang punya niatan buruk di ranah daring, sementara semakin ke kanan adalah mereka yang punya niatan positif dalam beraktivitas di ranah daring. Sementara itu, mereka yang berada di atas adalah mereka yang sangat aktif berinteraksi di internet, dan mereka yang berada di bawah adalah yang cenderung pasif atau bahkan abai berinteraksi sama sekali.</p>
<p>Paling gampangnya adalah, yang di pojok kiri atas itu adalah para <em>hacker</em>, penyebar <em>hoax</em>, <em>virus</em>, dan beragam kerusakan lainnya di ranah daring. Lalu yang di pojok kiri bawah adalah mereka yang skeptis akan internet. Mereka hanya menggunakan internet karena dipaksa atau sekedar penasaran ingin mencoba saja.</p>
<p>Lalu yang di pojok kanan bawah itu adalah mereka yang masih awal mengenal internet, belum punya pengalaman banyak, tapi punya aspirasi untuk membangun karakter dirinya di ranah daring. Sementara yang di pojok kanan atas itu adalah para pahlawan di ranah daring. Mereka percaya kebebasan berbicara, keterbukaan, keseteraan, dan memanfaatkan internet untuk kebaikan komunitas atau masyarakat.</p>
<p>Yang komposisinya paling banyak tentunya adalah mereka yang berada di tengah-tengah. Yang menggunakan internet untuk aktivitas sehari-hari, seperti Facebook, Twitter, jual beli di Kaskus, menjalin relasi di LinkedIn, dll. Pengguna yang memanfaatkan internet seperti ia makan dan minum saja. Tidak lebih.</p>
<p>Nah kalau kalian sendiri, masuk dalam tipe yang mana?</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/peterito/3054501076/sizes/l/ " target="_blank">Peter Ito</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/11/berbagai-tipe-netizen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Obama Memberi â€œKuliahâ€ di Universitas Indonesia</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/10/saat-obama-memberi-%e2%80%9ckuliah%e2%80%9d-di-universitas-indonesia/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/10/saat-obama-memberi-%e2%80%9ckuliah%e2%80%9d-di-universitas-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 14:26:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Experiential]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[obama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3781</guid>
		<description><![CDATA[Jadi ceritanya penulis blog ini dapat undangan tiket menyaksikan kuliah umum yang disampaikan POTUS (<em>President of the United States</em>) Barack Obama di Balairung Universitas Indonesia. Syaratnya, harus bangun pagi-pagi sekali, karena paling telat pukul 5:15 harus sudah berada di Parkir Timur Senayan, untuk bersama-sama dengan belasan bus besar menuju Depok. Baiklah, untuk yang satu hal ini, bolehlah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/11/DSC_2014.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/11/DSC_2014.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/11/DSC_2014-685x1024.jpg" alt="" title="barack obama" width="300"  class="alignleft size-large wp-image-3782" /></a>Jadi ceritanya penulis blog ini dapat undangan tiket menyaksikan kuliah umum yang disampaikan POTUS (<em>President of the United States</em>) Barack Obama di Balairung Universitas Indonesia. Syaratnya, harus bangun pagi-pagi sekali, karena paling telat pukul 5:15 harus sudah berada di Parkir Timur Senayan, untuk bersama-sama dengan belasan bus besar menuju Depok. Baiklah, untuk yang satu hal ini, bolehlah.</p>
<p>Sembari menahan lapar dan haus (karena belum sarapan), rombongan sampai di Depok, dan menjalankan pemeriksaan beruntut. Diawali dengan pengecekan pertama saat bus lewat di antara mobil merangkap mesin pemindai raksasa. Dilanjutkan dengan antrian masuk ke balairung dan pengecekan per individu. Rombongan yang tergabung dalam undangan dari Kedutaan Amerika Serikat ini yang pertama kali mengisi balairung. Menunggu hampir 2 jam sampai akhirnya balairung penuh terisi oleh para pejabat, alumni pejabat, tokoh budaya, pebisnis, sukarelawan, dosen, mahasiswa, dll. Hingga akhirnya Obama menyampaikan kuliah umumnya. Sebenarnya tidak murni kuliah sih. Lebih tepat kalau disebut dengan pidato bercerita.</p>
<p>Mengenai konten pidatonya nggak akan dibahas di sini. Silakan baca saja ulasan yang sudah banyak tertoreh di <a href="http://internasional.kompas.com/read/2010/11/10/20260268/Pidato.Obama.Mendapat.Apresiasi.Positif-3" target="_blank">Kompas</a>,Â <a href="http://www.guardian.co.uk/world/2010/nov/10/obama-indonesia-speech-muslim-world" target="_blank">Guardian</a>, blognya <a href="http://ndorokakung.com/2010/11/10/obama-pecas-ndahe-3 " target="_blank">Ndoro Kakung</a>, hingga transkrip pidatonya bisa dibaca pula <a href="http://www.rollingstone.co.id/read/2010/11/10/915/8/2/Transkrip-Pidato-Presiden-Barack-Obama-di-Universitas-Indonesia" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Yang lebih akan dibahas di sini adalah figur Obama yang sangat terasa karismatik saat berpidato. Intisari konten pidato yang berhubungan dengan tema edukasi, ekonomi, budaya, politik sebetulnya tidak terlalu spesial. Nggak berbeda dengan konten pidato politisi pada umumnya. Namun di sini, Obama bisa membawakannya dengan luar biasa. Mengaitkannya dengan latar belakang masa lalunya di Indonesia, sedikit-sedikit berbahasa Indonesia, mengaitkannya dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sehingga menciptakan konteks yang membumi, yang bisa dipahami dan diterima oleh pendengarnya. Pidato serupa bila dibacakan oleh seorang George Bush misalnya, tidak akan memberikan efek serupa. Yang mungkin ada, nanti malah ada salah satu pengunjung yang melempar sepatu ke George Bush <img src='http://media-ide.bajingloncat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Obama juga orator yang unggul. Melalui permainan intonasi, jeda saat pengunjung bertepuk tangan, hingga tetap tersenyum selama berpidato. Mungkin tidak banyak yang tahu, sebetulnya ada dua <em>teleprompter </em>di depan panggungnya. Bagusnya, ia tidak terlalu banyak menunjukkan gestur tubuh membaca <em>teleprompter</em> tersebut. Artinya, Obama benar-benar menguasai topik yang ia ungkapkan.</p>
<p>Kalau kata orang pemasaran sih, Obama ini sudah menjadi sebuah <em>brand</em>. Ia punya karakter spesifik. Bila mendengarnya berorasi, orang akan langsung ingat dengan Obama. Ia bisa menyampaikan harapan bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Ia bisa membuat orang lain untuk percaya akan dirinya. Ia bahkan bisa membuat masyarakat Indonesia, yang notabene bukan rakyatnya sendiri, percaya bahwa masih ada harapan akan demokrasi yang lebih baik di negeri ini. Hal-hal seperti ini yang luput dari karakteristik pemimpin kita, membangun karakteristik pemimpin sebagai sebuah <em>brand </em>yang disukai, diingat, dan didukung oleh rakyatnya.</p>
<p>Namun perlu diingat orasi tidaklah sama dengan eksekusi. Orasi hebat tanpa eksekusi nyata sama saja dengan memberi janji tanpa bukti. Apa yang diutarakan Obama di dalam â€œkuliahâ€-nya tadi adalah janji, yang masih perlu dilihat aksi nyatanya. Orasi dan membangun kepercayaan memang penting, karena orang akan punya harapan. Namun tentunya orang akan lebih senang kalau harapannya bisa berbuah menjadi nyata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/11/10/saat-obama-memberi-%e2%80%9ckuliah%e2%80%9d-di-universitas-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Axis International Java Jazz Festival 2010</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/03/04/axis-international-java-jazz-festival-2010/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/03/04/axis-international-java-jazz-festival-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 01:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[axis]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[java jazz]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[plurk]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3263</guid>
		<description><![CDATA[Gaung Axis Java Jazz Festival 2010 sudah lama terdengar. Banyak radio sudah menyelenggarakan berbagai kuis yang membagikan berbagai hadiah tiket harian hingga tiket <em>special show</em>. Nggak berbeda dengan area <em>social media</em>. Seperti <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/03/08/axis-international-java-jazz-festival-2009/" target="_blank">tahun lalu</a> pula, gaungnya terasa keras. Kalau tahun lalu keramaian hanya terlihat di Plurk dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=50829684862" target="_blank">Facebook Groups</a>. Mungkin karena sekarang Twitter jauh lebih populer daripada Plurk, kontes harian untuk Axs Java Jazz Festival 2010 pun berpindah ke Twitter dengan akun <a href="http://twitter.com/axisjavajazz" target="_blank">@AXISjavajazz</a>. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/03/javajazz0.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Gaung Axis Java Jazz Festival 2010 sudah lama terdengar. Banyak radio sudah menyelenggarakan berbagai kuis yang membagikan berbagai hadiah tiket harian hingga tiket <em>special show</em>. Nggak berbeda dengan area <em>social media</em>. Seperti <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/03/08/axis-international-java-jazz-festival-2009/" target="_blank">tahun lalu</a> pula, gaungnya terasa keras. Kalau tahun lalu keramaian hanya terlihat di Plurk dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=50829684862" target="_blank">Facebook Groups</a>. Mungkin karena sekarang Twitter jauh lebih populer daripada Plurk, kontes harian untuk Axs Java Jazz Festival 2010 pun berpindah ke Twitter dengan akun <a href="http://twitter.com/axisjavajazz" target="_blank">@AXISjavajazz</a>. </p>
<p>Acara Axis Java Jazz yang akan berlangsung mulai besok Jumat hingga Minggu ini pastinya akan mengundang keramaian. Kalau tahun lalu saja, <em>timeline</em> Plurk bertebaran dengan para penggunanya yang asyik menonton, bisa dipastikan mulai besok hingga Minggu malam, kejadian serupa akan berulang di Twitter, dengan skala yang jauh lebih besar. </p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/03/javajazz1.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/03/javajazz1.jpg" alt="javajazz1" title="javajazz1" width="530" height="229" class="alignnone size-full wp-image-3264" /></a></p>
<p><em>Hashtag</em>-nya saja, <a href="http://search.twitter.com/search?q=%23axisjjf" target="_blank">#axisjjf</a> sudah muncul sejak hampir seminggu kemarin melalui serangkaian lomba di Facebook dan Twitter. Seperti tahun lalu pula, kompetisi seperti lomba blog, lomba foto, dan lomba video tetap ada. Selain tiket, para pemenang yang beruntung akan mendapatkan kesempatan untuk tatap muka langsung dengan bintang utama Axis Java Jazz tahun ini, John Legend. </p>
<p>Yang berbeda di tahun ini adalah aksi semi <em>reality show</em> berupa <em>ticket hunt</em>. Pernah dengar dong di radio dimana para penyiar mengumumkan serangkaian petunjuk agar pemirsanya secepat-cepatnya sampai di tempat yang dimaksud? Nah, pola seperti ini dilakukan pula di <em>social media</em>. Bedanya, pengumumannya dilakukan melalui serangkaian petunjuk di Facebook dan Twitter. Dimulai dari area lokasi hingga akhirnya merujuk detil ke sebuah restoran misalnya. Lihat saja dokumentasi <a href="http://www.facebook.com/video/video.php?v=332246196133&#038;oid=50829684862" target="_blank">videonya</a> di Facebook ini. </p>
<p>Nah, masih ada kesempatan hari ini untuk ikutan berpartisipasi dalam beragam kontes ini. Jadi, kalau mau nonton Axis Java Jazz (gratis) ya silakan ikutan. Sekali-sekali <em>magabut</em> nggak apa-apa kok demi mengejar gratisan <img src='http://media-ide.bajingloncat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/03/04/axis-international-java-jazz-festival-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran Sebagai Seorang Netizen</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/01/12/peran-sebagai-seorang-netizen/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/01/12/peran-sebagai-seorang-netizen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 01:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[rainmaker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3180</guid>
		<description><![CDATA[Kumpul-kumpul Power Lunch di Markplus kemarin memang benar-benar â€œ<em>power</em>.â€ Banyak figur terkenal hadir di sini. Sebut saja Pandji, Igor Saykoji, Syahrani, Olga Lydia, duet pembawa acara Apa Kabar Indonesia tvOne, Piyu, dan tokoh-tokoh kreatif Andi S Boediman, Shinta Bubu, Nukman Luthfie, Ivan Lanin, Enda Nasution, hingga petinggi-petinggi asosiasi dan pemilik merk, plus Pak Tifatul Sembiring. Ruangan jadi penuh sesak. Diskusi pun berjalan menarik, dengan Pak Hermawan Kartajaya sebagai pengarahnya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/01/powerlunch01.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Kumpul-kumpul Power Lunch di Markplus kemarin memang benar-benar â€œ<em>power</em>.â€ Banyak figur terkenal hadir di sini. Sebut saja Pandji, Igor Saykoji, Syahrani, Olga Lydia, duet pembawa acara Apa Kabar Indonesia tvOne, Piyu, dan tokoh-tokoh kreatif Andi S Boediman, Shinta Bubu, Nukman Luthfie, Ivan Lanin, Enda Nasution, hingga petinggi-petinggi asosiasi dan pemilik merk, plus Pak Tifatul Sembiring. Ruangan jadi penuh sesak. Diskusi pun berjalan menarik, dengan Pak Hermawan Kartajaya sebagai pengarahnya. </p>
<p>Inti dari diskusi ini berfokus pada 3 elemen New Wave:</p>
<ul>
<li><em>Youth: leading the mind</em>.</li>
<li><em>Women: managing the market</em>.</li>
<li><em>Netizen: organizing the heart</em>.</li>
</ul>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/01/powerlunch01.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/01/powerlunch01.jpg" alt="powerlunch01" title="powerlunch01" width="520" height="348" class="alignnone size-full wp-image-3181" /></a></p>
<p>Berikut ini sekedar tulisan bebas yang (bisa jadi) tidak lengkap, berdasarkan <em>insight</em> dari banyaknya peserta di sana. Kerangka pemikiran ini mungkin (bisa jadi) tidak persis sama dengan diskusi kemarin. Pengamatan setiap <em>insight</em> ini lebih dilihat dari kacamata diri sebagai seorang <em>netizen</em> (bukan <em>youth</em> atau <em>women</em>) yang juga pengamat <em>social media</em>.</p>
<p>Kalau diperhatikan kini semakin banyak pengguna internet di Indonesia yang berusia muda. Mereka masih dalam tahap mengenal internet. Belum terlalu kenal etika berperilaku di internet. Mereka juga tidak tahu bahaya yang menanti mereka di internet. Mereka dengan gampang mem-<em>blast</em> pesan melalui BBM, YM, Facebook, milis, tanpa mengkonfirmasi keaslian sumber berita. Hal-hal seperti ini yang juga dikhawatirkan para ibu dengan anak mereka. Si Ibu sendiri mungkin tidak terlalu paham akan dunia internet, apalagi bila si Ibu adalah seorang perempuan aktif yang bekerja pula, sehingga agak sulit mengawasi aktivitas si anak dengan internet. </p>
<p>Generasi muda ini memang punya semangat menggebu-gebu. Yang penting maju dulu, resiko itu nomor kedua. Mereka juga tidak melihat lagi perbedaan suku, ras, agama. Saat mereka terkoneksi di ranah daring, hal-hal seperti itu sudah tidak lagi penting. Mereka erat bersosialisasi. Saat ada isu tertentu, mereka spontan menyatakan pendapatnya. Ingat kasus Rana, seorang ABG di Twitter yang bilang kalau pengguna BlackBerry itu alay? Betapa cepatnya isu itu menjadi <em>trending topic</em> di Twitter, karena begitu banyaknya anak muda yang keberatan dengan hal itu, dan jumlah mereka sangat besar.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/01/powerlunch02.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/01/powerlunch02.jpg" alt="powerlunch02" title="powerlunch02" width="520" height="348" class="alignnone size-full wp-image-3182" /></a></p>
<p>Di ranah daring, ada beberapa orang yang dianggap sebagai panutan. Mereka menjadi pemengaruh (<em>influencer/rainmaker/whizzer/catalyst/</em>apapunlah namanya). Nggak jarang perkataan orang-orang ini diamini oleh <em>netizen</em> lainnya. Apa kata tulisan mereka di blog, pembacanya mudah setuju. Apa kata tweet mereka, para <em>follower</em>-nya mengiyakan dan melakukan ReTweet. Apa katanya di Kaskus, semua orang memberinya cendol.</p>
<p>Para pemengaruh ini dituntut memiliki tanggung jawab moral lebih, karena apapun perkataannya, sebagian besar orang akan mengikutinya. Tulisan atau perkataannya sudah menjadi â€œmediaâ€ tersendiri. Para pemengaruh ini tentu saja punya â€œkekuatanâ€ untuk menyetir opini. Hal ini yang sempat dikhawatikan HK dan tim tvOne. Contohnya, bagaimana seorang Susno Duadji yang sebelumnya dicemoohkan orang-orang kini malah didukung kesaksiannya di pengadilan. Ini satu contoh saja. Bukan tidak mungkin besok-besok ada seorang <em>ugly marketer</em> (pemasar yang njijiki, istilah dari HK) yang berhubungan dengan para pemengaruh ini untuk ikut menyetir opini negatif produk kompetitor di ranah daring.</p>
<p>Bayangkan saat para pemengaruh ini berucap opini, dan para <em>netizen</em> lainnya yang umumnya muda-muda dan baru kenal dengan internet langsung saja mengamininya, lalu menyebarkannya ke berbagai platform <em>social media</em>: Twitter, Facebook, Kaskus, blog, dll. Apalagi kecenderungan mereka yang mengikuti ini tidak pernah mengkonfirmasinya terlebih dahulu. Mereka cenderung untuk mengikuti kemana arus pembicaraan berlangsung, dan (bisa jadi) sekedar ikut-ikutan setuju saja dengan opini yang ramai bermunculan, tanpa punya alasan pribadi yang kuat. </p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/01/powerlunch03.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/01/powerlunch03.jpg" alt="powerlunch03" title="powerlunch03" width="520" height="348" class="alignnone size-full wp-image-3183" /></a></p>
<p>Meski bukan tidak mungkin hal seperti <em>ugly marketer</em> itu terjadi, tapi di ranah daring itu selalu ada yang namanya kearifan khalayak (<em>wisdom of crowd</em>). Saat seseorang beropini dan ada fakta salah di baliknya, sesama <em>netizen</em> (yang jejak di ranah daringnya kurang lebih sama) akan mengingatkan. Semakin banyak orang yang mengingatkan, semakin jelas bahwa benar ada kesalahan dalam opini tersebut, dan si pemengaruh bisa segera merevisi perkataannya. Namun sebaliknya, saat kearifan khalayak mengamini apa kata si pemengaruh, sudah dipastikan opini pemengaruh itu pun akan bergulir dengan hebatnya di kalangan <em>netizen</em> lainnya.</p>
<p>Yang juga jadi masukan untuk Pak Tifatul Sembiring terkait dengan ranah daring adalah ranah daring Indonesia ini sudah berjalan dengan dinamis tanpa munculnya peraturan hukum. Kalau memang perlu ada peraturan terkait hal-hal ini, sebaiknya Pemerintah berfokus pada hal yang makro dan luas (yang fleksibel hingga 2-3 tahun mendatang meski teknologinya berganti). Peraturan yang justru membesarkan pasar di internet, apalagi kini semakin banyak transaksi daring terjadi di Indonesia. Bukan peraturan yang membuat <em>netizen</em> takut di-Prita-kan.</p>
<p>Sebenarnya cakupan bahasan kemarin di Power Lunch jauh lebih luas daripada ini. Namun biarlah teman-teman lainnya ikut melengkapi dengan versi pemikirannya masing-masing. Harapannya sih, acara seperti ini, dengan menghadirkan figur-figur serupa bisa lebih sering diadakan oleh Markplus, dengan durasi waktu yang lebih panjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/01/12/peran-sebagai-seorang-netizen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brand dan Blogger</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/21/brand-dan-blogger/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/21/brand-dan-blogger/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 15:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[gathering]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3124</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 2 tahun lalu, para blogger (setidaknya yang populer dan punya massa) sangat senang ketika diundang oleh sebuah <em>brand</em>. Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang baru, yang sangat menarik untuk dijadikan bahan ulasan dalam blog. Namun semakin lama, undangan ke para blogger semakin sering. Isi acara dari satu <em>brand</em> ke <em>brand</em> lain hampir tak berbeda satu dengan lainnya. Sesuatu yang awalnya bersifat spesial lama kelamaan menjadi seperti rutinitas. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2009/12/blogger.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/blogger.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/blogger-300x201.jpg" alt="blogger" title="blogger" width="300" height="201" class="alignleft size-medium wp-image-3125" /></a>Sekitar 2 tahun lalu, para blogger (setidaknya yang populer dan punya massa) sangat senang ketika diundang oleh sebuah <em>brand</em>. Mereka melihat ini sebagai sesuatu yang baru, yang sangat menarik untuk dijadikan bahan ulasan dalam blog. Namun semakin lama, undangan ke para blogger semakin sering. Isi acara dari satu <em>brand</em> ke <em>brand</em> lain hampir tak berbeda satu dengan lainnya. Sesuatu yang awalnya bersifat spesial lama kelamaan menjadi seperti rutinitas. </p>
<p>Jangan salah, blogger tetap senang datang ke acara-acara seperti ini. Loh, namanya gratisan, dan hitung-hitung kopdar, siapa sih yang nggak suka? Perbedaannya, karena sudah hampir bersifat rutin, tak ada lagi acara yang memberikan kesan mendalam bagi para blogger. Tak ada lagi yang menarik untuk diceritakan. Contohnya, acara peluncuran Windows 7 di Plaza Indonesia beberapa bulan lalu sukses mengundang lebih dari 50 blogger. Acaranya menyenangkan. Ada makan gratis, kontes berhadiah, musik, dll. Namun coba cek beberapa hari setelah itu. Adakah yang menuliskan ceritanya di blog? Tidak ada sama sekali!</p>
<p>Haha, memang para blogger sungguh menyebalkan!! <em>(lirik diri sendiri)</em>. <img src='http://media-ide.bajingloncat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mengundang blogger memang sangat bergantung pada kesesuaian selera si blogger dengan acara. Bisa saja acara diskusi santai (tapi berbobot) antara blogger pemerhati dunia pemasaran dengan seorang <em>brand manager</em> menjadi sesuatu yang inspiratif untuk dijadikan tulisan. Namun bisa pula acara hura-hura pesta sebuah <em>brand cologne</em> tak membekas sama sekali di benak seorang blogger yang lebih suka memperhatikan lingkungan. </p>
<p>Yang sulit kalau acaranya bersifat umum, dan bisa berlaku untuk semua blogger, seperti acara yang diadakan oleh <em>brand</em> makanan atau <em>gadget</em>. Kecuali di dalam acara itu ada kejutan tak terduga yang luar biasa, sudah dipastikan tak akan ada blogger yang akan menuliskannya. Perlu ada suatu peristiwa unik yang membuat para blogger terkesan. Yang membuatnya berpikir, wah, ini bisa jadi bahan tulisan keren!</p>
<p>Sekedar pengingat, blogger bukanlah jurnalis atau wartawan atau reporter <em>infotainment</em>. Blogger datang ke acara dengan suka rela, tanpa paksaan dan tanpa beban. Suka-suka dia nanti mau menuliskannya atau nggak. Makanya brand perlu menunjukkan sesuatu yang berbeda dibandingkan yang pernah si blogger rasakan sebelumnya. </p>
<p>Dasar, blogger ini kok ya sukanya macam-macam saja!! <em>(lirik lagi ke diri sendiri)</em>. <img src='http://media-ide.bajingloncat.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Padahal (katanya Hermawan Kartajaya) di era <em>social media</em> ini, blogger merupakan salah satu kunci mendekati konsumen. Suara blogger katanya dipercaya oleh pembacanya. Pembaca yang loyal membaca sebuah tulisan blog, akan lebih mudah percaya pada perkataan si blogger itu daripada perkataan <em>brand</em>. </p>
<p>Kalau seorang blogger populer berkata ia sebal akan seorang pakar telematika, maka bisa dipastikan hampir semua pembaca setianya akan ikut sebal pada pakar tersebut. Kalau ia mengkritik sebuah produk, pembacanya akan cenderung ikut setuju membenci produk tersebut. Sebaliknya, seorang blogger populer pecandu BlackBerry misalnya, akan dengan senang hati mempromosikan BlackBerry ke semua teman-temannya (termasuk â€œmeracuniâ€ pembaca blognya) untuk ikut membeli.  </p>
<p>Nah, yang pastinya sulit adalah menemukan blogger yang mau benar-benar peduli dengan <em>brand</em>.  Pendekatan mengundang blogger ke suatu acara masih tetap perlu, tapi setidaknya undangan tidak perlu terbuka lebar. Fokus pada beberapa blogger yang berpotensi peduli akan <em>brand</em> itu. Sesuaikan format acara dengan hal-hal yang bisa membuat blogger mendapatkan inspirasi. Seperti disebutkan di atas, nggak melulu format acara berupa kegiatan yang mewah. Bisa jadi hanya bermodal temu muka dan diskusi bisa membangun inspirasi penulisan. </p>
<p>Saat <em>brand</em> sudah menjalin hubungan erat dengan si blogger, promosi akan berjalan dengan sendirinya. Baik itu melalui tulisan atau percakapan, blogger akan menjadi <em>word of mouth</em> <em>brand</em> di <em>social media</em> dan di lingkungan pergaulannya.</p>
<p>Mungkin Anda bisa menebak, blogger mana saja yang kini punya hubungan dekat dengan <em>brand</em> BlackBerry, Acer, Richeese, atau mungkin <em>brand</em> lainnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/21/brand-dan-blogger/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Linda: Mahasiswi yang Berbisnis Butik Batik di Facebook</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/10/linda-mahasiswi-yang-berbisnis-butik-batik-di-facebook/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/10/linda-mahasiswi-yang-berbisnis-butik-batik-di-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 16:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interview]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[online store]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3099</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kemarin sempat dibahas tentang <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/05/facebook-untuk-pemasaran/">pemasaran di Facebook</a>, alangkah lebih baiknya kalau sekarang Anda bisa menyimak pula salah satu contoh praktik nyatanya. Berikut ini wawancara Media Ide dengan perempuan cantik bernama <a href="http://www.facebook.com/lindaleenk">Linda Leenk</a>, <a href="http://lindastorypage.blogspot.com/">seorang</a> <a href="http://leenksite.blogspot.com/">blogger</a> berdomisili di Jogja yang merangkap sebagai pemilik butik online Leenkshop.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2009/12/leenkshop0.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Kalau kemarin sempat dibahas tentang <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/05/facebook-untuk-pemasaran/" target="_blank">pemasaran di Facebook</a>, alangkah lebih baiknya kalau sekarang Anda bisa menyimak pula salah satu contoh praktik nyatanya. Berikut ini wawancara Media Ide dengan perempuan cantik bernama <a href="http://www.facebook.com/lindaleenk" target="_blank">Linda Leenk</a>, <a href="http://lindastorypage.blogspot.com/" target="_blank">seorang</a> <a href="http://leenksite.blogspot.com/" target="_blank">blogger</a> berdomisili di Jogja yang merangkap sebagai pemilik butik online Leenkshop.</p>
<p>(Wawancara dituliskan apa adanya seperti aslinya, kecuali koreksi yang bersifat editorial)</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop0.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop0-300x241.jpg" alt="leenkshop0" title="leenkshop0" width="250" class="alignleft size-medium wp-image-3100" /></a><font color="#ff0000"><strong>Halo Linda, boleh ceritakan singkat tentang diri Anda? </strong></font></p>
<p>Saya Linda, usia saya 25 tahun. Saat ini saya sedang mengambil kuliah profesi akutansi di Universitas Gadjah Mada. Hobi utama saya adalah segala hal yang berkaitan sama batik. Selain itu, saya juga senang<em> shopping</em> dan <em>window shopping</em> untuk melepaskan stres. Tapi terus terang, berbelanja buat saya bukan hal yang mudah. Pernah suatu ketika saya beli kemeja dengan detail yang minimalis, harapannya bakal unik. Lain waktu saya jalan ke pusat perbelanjaan, dan ternyata kemeja minimalis yang saya beli tempo hari itu dipajang berderet-deret. Setelah itu jadi <em>ilfil </em>deh (malah curhat) sama <em>mass product</em> gitu. </p>
<p>Kalo keinginan, suatu saat saya pengen kerja sebagai akuntan tapi juga punya butik sendiri dan tentu saja, punya koleksi batik yang banyak. <img src='http://media-ide.bajingloncat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Boleh juga dong cerita tentang bisnis yang kini Anda geluti? Bisnisnya di dunia <em>fashion</em> ya?</strong></font></p>
<p>Saya memulai bisnis <em>fashion </em>ini awalnya di Multiply, sudah sejak Juli 2008. Akhir tahun 2008 saya mulai beraktivitas di Facebook. Dari awal usaha saya namakan <a href="http://facebook.com/leenkshop" target="_blank">Leenkshop</a>. Pembeli saya cukup beragam, dari teman-teman sendiri sampai orang yang baru kenal. Usia mereka berkisar antara 20-35 tahun. Awalnya saya menjual baju-baju <em>mass production</em> yang diambil dari satu tempat kemudian dijual via <em>online</em>. Hampir tidak ada proses kreatif di situ, saya pun juga hanya bisa mengambil margin keuntungan yang cukup tipis. Mulai tahun 2009, saya melakukan inovasi dengan membuat baju <em>customized</em>. Pembeli bisa memilih sendiri model baju, ukuran, motif dan jenis kain. Dengan cara seperti ini setidaknya saya pun bisa mengekplorasi kesukaan saya terhadap batik, pembeli bisa memilih model kain, dan tentu saja saya bisa memberdayakan beberapa penjahit-penjahit rumahan.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop1.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop1.jpg" alt="leenkshop1" title="leenkshop1" width="500" height="498" class="alignnone size-full wp-image-3101" /></a></p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Saat ini apakah Linda punya toko fisik sendiri? Ataukah Linda murni berjualan via online?</strong></font></p>
<p>Saat ini saya belum memiliki toko fisik, semua stok kain dan baju (barang) saya simpan di kamar saya. Sementara ini memang saya memfokuskan diri untuk berjualan secara <em>online</em>, dengan Facebook, dan blog. Saya sudah menyiapkan toko <em>online</em> sendiri dengan platform Joomla, insya Allah awal tahun 2010 mulai beroperasi. Tapi saya juga tetap akan menggunakan Facebook dan media sosial lainnya untuk mendukung aktivitas pemasaran produk saya. </p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Bagaimana Linda memanfaatkan media online untuk memaksimalkan penjualan?</strong></font></p>
<p>Ibaratnya kalau di dunia <em>offline</em>, pasar itu tempatnya orang berdagang dan banyak pembeli berdatangan. Nah, kalau <em>social media</em> (misal facebook) itu tempat banyaknya pembeli (pengguna internet) berkumpul. </p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Sepertinya Facebook berperan penting untuk membantu penjualan ya? Cara-cara seperti apa yang Linda buat untuk menarik perhatian calon pembeli di Facebook?</strong></font></p>
<p>Facebook harus diakui telah menjadi media yang cukup efektif untuk memaksimalkan penjualan. Kita bisa menampilkan katalog produk dan memberikan informasi ke calon <em>customer </em>(melalui fasilitas <em>tagging</em>). Namun ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu soal kenyamanan. Bisa jadi lho, ada teman yang merasa terganggu dengan aktivitas kita berjualan. Untuk hal ini saya berusaha untuk tidak men-<em>tag </em>orang yang tidak berkepentingan. Misalnya saya memiliki koleksi batik berwarna ungu, ini akan saya <em>tag </em>ke teman saya yang memesan batik ungu atau kebetulan dia menyukai warna ungu. Setelah foto dilihat, saya juga mempersilakan untuk menghapus <em>tag</em>. </p>
<p>Selain itu, hal yang saya rasa mampu membuat usaha saya terus berkembang adalah pertemanan. Saya tidak memposisikan mereka sebagai <em>buyer </em>saja, tapi mereka saya anggap teman. Kami berdiskusi tentang memadukan warna, kostum, dan lain-lain. </p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop2.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop2.jpg" alt="leenkshop2" title="leenkshop2" width="500" height="489" class="alignnone size-full wp-image-3102" /></a></p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Apakah blog dan Facebook benar-benar membantu meningkatkan omset penjualan Linda?</strong></font></p>
<p>Sampai sejauh ini iya. Saya akui blog dan Facebook membuka kesempatan yang luas bagi penjualan produk saya. Satu dari yang terpenting dalam aktivitas di blog dan Facebook bagi <em>seller </em>seperti saya adalah bagaimana mengendalikan opini publik mengenai citra diri saya sebagai <em>seller </em>yang memahami <em>fashion </em>dan bisa memberi solusi bagi teman-teman akan kebutuhan <em>fashion</em>. </p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Punya pengalaman menarik melakukan pemasaran dan penjualan melalui blog dan Facebook?</strong></font></p>
<p>Pengalaman menarik bagi saya adalah saya bisa menjadi sangat dekat dengan temen-teman maya yang kebetulan menjadi <em>buyer </em>produk saya. Waktu itu kami sempat kopdar di Jakarta dengan beberapa <em>buyer </em>setia, dan bener-bener rasanya senang punya temen sekaligus <em>buyer </em>yang baik seperti mereka. Kedekatan ini muncul dari intensifnya proses komunikasi mengenai produk yang akan mereka beli. Salah satu keuntungan dari hubungan ini bagi usaha saya adalah saya harus selalu berusaha menjaga hubungan baik, tidak berjualan produk yang berkualitas rendah karena konsumen saya adalah teman-teman sendiri, saya tidak ingin mengecewakan mereka.</p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Menurut Linda, apakah blog dan Facebook akan/bisa menjadi alat pemasaran yang direkomendasikan di tahun 2010? </strong></font></p>
<p>Saat ini sudah banyak sekali toko <em>online</em> yang memanfaatkan berbagai media <em>online </em>untuk alat pemasaran. Kini dengan menjamurnya penjual di Facebook, tentu saja langkah selanjutnya adalah bagaimana menjadikan diri sebagai seller yang dapat dipercaya dan mampu memberikan solusi kebutuhan bagi konsumen.</p>
<p><font color="#ff0000"><strong>Terima kasih banyak, Linda. Mudah-mudahan cerita ini bisa menginspirasi para pebisnis <em>online </em>lainnya di Indonesia.</strong></font></p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop3.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/leenkshop3.jpg" alt="leenkshop3" title="leenkshop3" width="500" height="262" class="alignnone size-full wp-image-3103" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/10/linda-mahasiswi-yang-berbisnis-butik-batik-di-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook untuk Pemasaran</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/05/facebook-untuk-pemasaran/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/05/facebook-untuk-pemasaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 14:13:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[telemarketer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3071</guid>
		<description><![CDATA[Setelah bulan Juni lalu menerbitkan buku <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/06/20/f-marketing-optimalkan-personal-image-product-branding-anda/" target="_blank">F-Marketing</a>, ada dampak akibat menarik dari buku tersebut. Selama 2 hari kemarin malah diminta untuk memberikan pelatihan kepada para telemarketer di sebuah perusahaan ritel terkemuka. Saat ini penjualan mereka sangat mengandalkan penayangan iklan di televisi dan majalah. Namun manajemen mulai menyadari kalau di masa datang, perusahaan tidak bisa mengandalkan sepenuhnya dari iklan. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2009/12/marketingfacebook.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/marketingfacebook.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/12/marketingfacebook-300x225.jpg" alt="marketingfacebook" title="marketingfacebook" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-3072" /></a>Setelah bulan Juni lalu menerbitkan buku <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/06/20/f-marketing-optimalkan-personal-image-product-branding-anda/" target="_blank">F-Marketing</a>, ada dampak akibat menarik dari buku tersebut. Selama 2 hari kemarin malah diminta untuk memberikan pelatihan kepada para telemarketer di sebuah perusahaan ritel terkemuka. Saat ini penjualan mereka sangat mengandalkan penayangan iklan di televisi dan majalah. Namun manajemen mulai menyadari kalau di masa datang, perusahaan tidak bisa mengandalkan sepenuhnya dari iklan. </p>
<p>Perusahaan butuh mencoba kanal-kanal yang bisa memberikan peluang penjualan baru. Bermain di kanal digital adalah salah satunya. Itulah mengapa sejak setahun belakangan ini, perusahaan ini merapihkan situs penjualannya setahap demi setahap.</p>
<p>Terkait dengan kanal digital, diakui hampir semua telemarketer mereka punya akun Facebook. Seperti kebanyakan orang, tidak semua sadar kalau Facebook bisa dipakai lebih dari sekedar jejaring pertemanan dan bermain <em>game</em>. Para telemarketer ini tak menyadari kalau Facebook pun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pemasaran sebuah produk (tentunya dengan cara etis, bukan dengan men-<em>spam inbox</em> atau <em>wall</em> temannya). Bukan tak mungkin kalau dilakukan dengan benar, dari sini bisa terkonversi menjadi penjualan.</p>
<p>Beberapa hal menarik yang bisa disimpulkan dari pelatihan ini:</p>
<ul>
<li>Setiap telemarketer sebaiknya menampilkan <em>personal branding</em>-nya sebagai seorang profesional di Facebook. Saat ini kebanyakan dari mereka masih asal pasang foto dan asal menulis deskripsi diri. Kalau ingin dianggap serius oleh calon pelanggan, mereka mesti membenahi â€œkamarâ€ Facebook mereka terlebih dahulu.</li>
<li>Penampilan profesional juga bisa ditunjukkan melalui <em>status update</em> yang bisa memberikan manfaat/inspirasi bagi temannya. Yang tidak disarankan adalah menampilkan <em>status update</em> yang berupa keluhan tentang pekerjaan atau yang tak berbunyi sama sekali (misal: â€œkok jam pulang lama banget ya?â€ atau â€œhmmm, enaaak&#8230; nyam.. nyam.. nyam..â€).</li>
<li>Berikan sesuatu yang bermanfaat secara konsisten dan niscaya dalam waktu yang tak lama, akan mendapat manfaatnya, misal: sering menulis tips dan artikel, yang relevan dengan produk yang ditawarkan.</li>
<li>Membangun kepercayaan butuh perjuangan panjang, namun bisa rusak hanya karena melakukan satu kesalahan. Hindari melakukan hal-hal yang melanggar <em>privacy</em> orang lain dan membuatnya tidak nyaman. Misal: asal men-<em>tag</em> tulisan atau gambar dengan nama orang, padahal belum tentu ia tertarik dengan tulisan tersebut.</li>
<li>Teman baru memang bisa menjadi potensi pasar baru, tapi tentunya tidak bisa asal sembarang memilih teman. Minimal telemarketer perlu membaca karakteristik orang tersebut (misal: deskripsi dirinya, tergabung di Facebook Groups atau ikut di Facebook Page apa, hingga <em>status update</em>-nya belakangan ini).</li>
<li>Penekanan kalau Facebook bukanlah alat untuk berjualan, tapi alat untuk melakukan percakapan. Memancing diskusi tentang suatu topik melalui <em>status update</em> atau foto produk tanpa berkesan berjualan, lalu menanggapi semua respon komentar yang muncul. Bila menemukan komentar yang menjelekkan suatu produk atau nama perusahaan, sebaiknya didiskusikan dengan pihak manajemen, sebelum memberikan respon lebih lanjut.</li>
<li>Tetap jaga keseimbangan antara kepentingan profesional dan kepentingan pribadi. Setiap orang punya kehidupan pribadi. Tunjukkan pula sisi personal melalui <em>status update</em>, foto-foto, dan hal lainnya. Meski tetap tampilkan hal-hal yang jelas punya manfaat bagi audiens.</li>
</ul>
<p>Menyenangkan juga melakukan pelatihan seperti ini. Membantu membuka pikiran kalau mereka bisa berbuat lebih melalui Facebook. Tak melulu untuk kebutuhan hiburan saja. </p>
<p>Seorang <a href="http://leenkshop.blogspot.com/" target="_blank">teman dari Jogja</a> (yang sempat dijadikan contoh kasus dalam pelatihan ini) kini memanfaatkan <a href="http://www.facebook.com/lindaleenk" target="_blank">Facebook</a> untuk serius membangun citranya. Ia mulai membangun <em>personal branding</em>-nya sebagai seseorang yang paham akan dunia fesyen. Ia secara rutin menampilkan galeri butiknya melalui profilnya di Facebook. Secara perlahan, ia mulai membangun relasi dengan para teman (yang juga konsumennya). </p>
<p>Nah, mungkin ada teman-teman lainnya yang kini memanfaatkan Facebook untuk pemasaran produk? Boleh loh cerita-cerita pengalamannya di sini&#8230;</p>
<p>Kredit foto: <a href="http://www.flickr.com/photos/marionenkevin/2862702745/" target="_blank">havankevin</a> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/12/05/facebook-untuk-pemasaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Branding Melalui Pengalaman Interaktif</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/11/25/branding-melalui-pengalaman-interaktif/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/11/25/branding-melalui-pengalaman-interaktif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Experiential]]></category>
		<category><![CDATA[animation]]></category>
		<category><![CDATA[iims]]></category>
		<category><![CDATA[interactive]]></category>
		<category><![CDATA[new wave marketing]]></category>
		<category><![CDATA[nutricia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3041</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda perhatikan sejak 3 tahun belakangan ini, kegiatan <em>brand activation</em> yang merambah ke area mal, sekolah, hingga pagelaran <em>event</em> besar seperti Indonesia International Motor Show, Bobo Fair, Indocomtech, dll pasti tak lepas dari keinginan <em>brand</em> untuk lebih banyak berinteraksi dengan pengunjung melalui sebuah pengalaman tak terlupakan. Bentuknya bisa beragam, dari kolam mandi bola untuk anak-anak, kuis berhadiah, pagelaran musik dan dansa, hingga penyediaan aplikasi interaktif <em>state-of-the-art</em> yang spesifik disesuaikan dengan tema kampanye brand tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2009/11/iims0.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Kalau Anda perhatikan sejak 3 tahun belakangan ini, kegiatan <em>brand activation</em> yang merambah ke area mal, sekolah, hingga pagelaran <em>event</em> besar seperti Indonesia International Motor Show, Bobo Fair, Indocomtech, dll pasti tak lepas dari keinginan <em>brand</em> untuk lebih banyak berinteraksi dengan pengunjung melalui sebuah pengalaman tak terlupakan. Bentuknya bisa beragam, dari kolam mandi bola untuk anak-anak, kuis berhadiah, pagelaran musik dan dansa, hingga penyediaan aplikasi interaktif <em>state-of-the-art</em> yang spesifik disesuaikan dengan tema kampanye brand tersebut.</p>
<p><em>Experiential</em> (pengalaman) melalui beragam aplikasi interaktif biasanya terlihat menonjol pada pekan <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/07/27/indonesia-international-motor-show-2009/" target="_blank">Indonesia International Motor Show (IIMS)</a> setiap tahunnya. Meskipun tahun 2009 tidak banyak <em>brand</em> otomotif yang melibatkan diri dalam <em>event</em> ini karena resesi, tidak menyurutkan dua <em>brand</em> otomotif terbesar, Toyota dan Honda, untuk saling beradu hebat-hebatan seperti tahun-tahun sebelumnya. Toyota masih terlihat jor-joran, meski dalam keterbatasan dana, dalam <em>event</em> yang diadakan di awal Agustus kemarin ini.</p>
<p>Toyota memberikan pengalaman kepada seluruh audiensnya dari anak kecil hingga dewasa. Penyediaan ruang khusus untuk anak-anak bermain <em>game</em> interaktif (yang tentunya ber-<em>branding</em> Toyota), hingga aplikasi-aplikasi <em>state-of-the-art</em> seperti <em>interactive floor</em>, <em>holographic video</em>, hingga <em>multi-touch screen</em>. Saat memasuki area Toyota, pengunjung akan melihat kupu-kupu di lantai, yang akan menjauh saat pengunjung menginjak kupu-kupu itu. Saat pengunjung melangkahkan kaki, jejak rumput juga muncul mengikuti langkah kaki tersebut. Sementara itu di sampingnya, pengunjung bisa pula melihat video transparan <em>holographic</em> yang menceritakan tentang Toyota. Videonya sih biasa, tapi tampilannya yang tidak biasa.</p>
<p><object width="425" height="320" ><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://www.facebook.com/v/211140727811" /><embed src="http://www.facebook.com/v/211140727811" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425 height="320"></embed></object></p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Hh9_nIZHGig&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Hh9_nIZHGig&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object> </p>
<p><object width="560" height="340"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/ZkJmOE3Y7S0&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/ZkJmOE3Y7S0&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="560" height="340"></embed></object> </p>
<p>Kalau sekarang Windows 7 sudah mengenal teknologi <em>multi-touch</em>, Toyota sudah mendahuluinya melalui aplikasi interaktif tentang produk mobil iQ. Melalui tampilan berukuran 42 inci ini (bahkan Windows 7 belum mendukung ukuran ini), pengunjung bisa berinteraksi dengan layar <em>multi-touch</em>, menggerakkan kedua tangannya di atas layar.  </p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/11/iims.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/11/iims.jpg" alt="iims" title="iims" width="500" height="374" class="alignnone size-full wp-image-3045" /></a></p>
<p>Pemanfaatan aplikasi interaktif seperti ini tak melulu dilakukan oleh industri otomotif. Nutricia, produk susu untuk bayi dan balita, sudah 4 tahun ini melakukannya melalui kegiatan <em>road show</em> tahunan ke berbagai kota di Indonesia. Setiap tahun digulir satu tema unik, yang menjadi perekat semua aktivitas yang terjadi di area <em>activation</em> Nutricia. </p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/11/nutricia1.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/11/nutricia1.jpg" alt="nutricia1" title="nutricia1" width="500" height="344" class="alignnone size-full wp-image-3044" /></a></p>
<p>Tahun 2009 ini saja misalnya, Nutricia mengangkat tema Nutricia Immunospace, dengan menghadirkan pesawat berukuran raksasa di tengah area <em>activation</em>. Di dalam pesawat ini disajikan video animasi tentang seorang Kapten berkostum Nutricia yang meminta bantuan para prajurit (maksudnya anak-anak) untuk mengalahkan para bakteri jahat. Setiap anak yang masuk pesawat ini diminta untuk memakai kostum dan helm tersebih dahulu. Mereka juga diberikan senjata sinar. Pengalaman â€œnyataâ€ diberikan saat bakteri jahat muncul di layar. Kapten meminta anak-anak untuk membantu menyerang bakteri jahat dengan senjatanya. Saat itu pula interior pesawat berkerlap-kerlip dengan cahaya dan bulir-bulir busa bermunculan, memberikan pengalaman unik yang tak terlupakan.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/11/nutricia2.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/11/nutricia2.jpg" alt="nutricia2" title="nutricia2" width="500" height="420" class="alignnone size-full wp-image-3043" /></a></p>
<p>Sementara itu di luar pesawat juga terdapat beberapa <em>booth</em> kecil untuk permainan. Salah satunya adalah <em>interactive floor</em>, dimana anak-anak di sini bisa melanjutkan menghancurkan bakteri-bakteri jahat yang muncul di lantai. Desain bakteri dibuat sama dengan yang di dalam pesawat, sehingga anak-anak masih merasakan kelanjutan ceritanya di sini.</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/HzMcbmDduC0&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/HzMcbmDduC0&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object> </p>
<p>Alat serupa juga pernah dipakai Nutricia untuk <em>event</em> yang berbeda, yakni <em>event</em> seminar nasional kedokteran, dimana Nutricia menjadi salah satu sponsornya. Kali ini medianya diubah menjadi <em>interactive wall</em>. Para dokter terlihat asyik bermain di sini, dengan berupaya menghancurkan bakteri-bakteri jahat di dinding. Meskipun <em>booth</em> Nutricia tak terlalu besar, upaya membangun pengalaman dan penanaman pesan produk tetap bisa dilakukan dengan menarik melalui aktivitas seperti ini.</p>
<p><object width="425" height="238" ><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="movie" value="http://www.facebook.com/v/205542692811" /><embed src="http://www.facebook.com/v/205542692811" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="238"></embed></object></p>
<p>Pada akhirnya semua aplikasi <em>state-of-the-art</em> tidak akan ada artinya tanpa konsep dan tema matang di baliknya. Di sinilah setiap <em>brand</em> dituntut untuk lebih kreatif menyajikan pengalaman unik dan baru, yang relevan dengan pesan, namun tetap bisa diaplikasikan nyata di lapangan. </p>
<p>Tulisan ini sekaligus untuk menambah contoh lokal kasus <em>experiential</em> yang terjadi pada <em>brand</em>, seperti contoh Nike yang telah dibahas sebelumnya di <a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/11/23/08022648/cerita.nike.sebagai.konektor.eksperiensial" target="_blank">artikel New Wave Marketing ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2009/11/25/branding-melalui-pengalaman-interaktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

