<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Ide &#187; portal</title>
	<atom:link href="http://media-ide.bajingloncat.com/tag/portal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://media-ide.bajingloncat.com</link>
	<description>Where Indonesia's online branding, social media, and creativity is talked about</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 14:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menyambut Sparx Up Awards 2010</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/08/28/menyambut-sparxup-awards-2010/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/08/28/menyambut-sparxup-awards-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 09:27:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[local game]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[sparxup]]></category>
		<category><![CDATA[stratup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=3609</guid>
		<description><![CDATA[Para pengembang dotcomer di ranah daring generasi sekarang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang memulai bisnis dotcomer di era 2000-an. Di era itu banyak yang terlalu optimis dan berpikir pendek bahwa <em>hype </em>bisnis dotcomer itu akan cepat menghasilkan uang melalui IPO. Kenyataannya, ekspektasi pasar berbeda. Saat itu penetrasi internet pun belum tinggi. Orang juga masih sangat khawatir akan keterbukaan identitasnya di ranah daring, apalagi kalau mereka diminta untuk bertransaksi di ranah daring.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2010/08/sparxup.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Para pengembang dotcomer di ranah daring generasi sekarang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang memulai bisnis dotcomer di era 2000-an. Di era itu banyak yang terlalu optimis dan berpikir pendek bahwa <em>hype </em>bisnis dotcomer itu akan cepat menghasilkan uang melalui IPO. Kenyataannya, ekspektasi pasar berbeda. Saat itu penetrasi internet pun belum tinggi. Orang juga masih sangat khawatir akan keterbukaan identitasnya di ranah daring, apalagi kalau mereka diminta untuk bertransaksi di ranah daring.</p>
<p>Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Lebih dari 10% masyarakat Indonesia mengakses internet. Jejaring sosial seperti Facebook dan pendahulunya Friendster, membuat orang lebih berani terbuka di ranah daring. Transaksi uang sudah banyak yang berani melakukan, meski masih sebatas transfer rekening dalam pembayarannya. Kebiasaan pengguna internet Indonesia dalam menggunakan kartu kredit sudah bisa terlihat saat mereka bertransaksi membayar <em>hosting</em>, beli <em>template</em>, beli gambar, hingga belanja buku di Amazon.</p>
<p>Mungkin karena beragam kondisi itu, banyak â€œorang gilaâ€ yang memanfaatkan momentum ini untuk membangun bisnis berbasis dotcom. Kita sempat mengenal para anak muda yang berjibaku membangun situs <em>microblog </em>berbasis lokasi <a href="http://koprol.com" target="_blank">Koprol.com</a>, yang berujung pada diakuisisinya situs ini oleh Yahoo! Cukup banyak pula situs jejaring sosial yang bermunculan dan masih bertahan, dari <a href="http://fupei.com" target="_blank">Fupei.com</a>, <a href="http://akucintasekolah.com" target="_blank">AkuCintaSekolah.com</a>, dan kini ada B<a href="http://bundagaul.com" target="_blank">undaGaul.com</a>. Nggak sedikit pula yang pernah terdengar lalu tenggelam seperti <a href="http://moodmill.com" target="_blank">Moodmill.com</a>, <a href="http://kafebalita.com" target="_blank">Kafebalita.com</a>, dll. Kini ada pula <a href="http://gantibaju.com" target="_blank">Gantibaju.com</a> dan <a href="http://urbanesia.com" target="_blank">Urbanesia.com</a> yang sepertinya mulai naik daun di kalangan pengguna di ranah daring.</p>
<p>Sebenarnya masih banyak lagi situs-situs lokal (yang jujur saja, nggak semuanya pernah kedengeran) yang ikut meramaikan dunia dotcomer masa kini. Mereka kini dikenal dengan istilah para<em> startup lokal</em>. Baca saja liputan blog Dailysocial.net yang bikin terheran-heran, â€œEh, ini situs apa lagi ya? Kok baru tau saya?â€ Bahkan pernah ada kejadian dalam 1 bulan muncul 3 situs dalam kategori sama, <em><a href="http://dailysocial.net/2010/08/19/3-situs-serupa-diluncurkan-dalam-seminggu/ " target="_blank">social commerce</a></em>. Seakan-akan semua pengembang punya semangat baru untuk membuat sesuatu yang baru.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/08/sparxup.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3610" title="sparxup" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2010/08/sparxup.jpg" alt="" width="530" /></a></p>
<p>Terlepas dari apakah benar situs-situs baru ini punya pangsa pasar yang jelas, keberadaan mereka semua diakui membangkitkan semangat baru di ranah dotcomer Indonesia. Seorang mahasiswa atau murid SMU-pun terpancing untuk ikut membangun bisnis di dunia dotcom baru ini. Biarkan persaingan sehat yang menentukan siapa yang akhirnya menjadi pemenang.</p>
<p>Para <em>startup lokal </em>pun kini lebih beruntung. Pertama, diakuisisinya Koprol oleh Yahoo membuat Indonesia menjadi semakin dilirik oleh investor kelas dunia. Kedua, ada gerakan dari bawah yang ikut mendukung perkembangannya. Sebut saja pertemuan bulanan para <em>startup lokal </em>yang digagas oleh Natali Ardianto, Nuniek, dan Sanny Gaddafi (Sagad). Lalu yang lebih heboh adalah keberadaan <a href="http://sparxup.com/ " target="_blank">SparXup Award</a> yang digagas oleh Semut Api dan <a href="http://dailysocial.net" target="_blank">Dailysocial.net</a>.</p>
<p>Melalui SparXup Award, para <em>startup lokal </em>bisa berkompetisi memperebutkan hadiah 200 juta untuk 2 pemenang dan <em>coaching </em>selama 6 bulan oleh tim SparXup. Syaratnya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Perusahaan digital StartUp yang tidak berada di bawah <em>brand </em>besar.</li>
<li>Beroperasi di bawah 3 tahun.</li>
<li>Memiliki staf dan pekerja di bawah 20 orang.</li>
<li>Penghasilan di bawah Rp 1 Miliar setahun.</li>
</ol>
<p>Ada 8 kategori penghargaan yang akan diberikan untuk acara SparxUp Award 2010 ini:</p>
<ol>
<li><em>Best social network site</em>.</li>
<li><em>Games</em>.</li>
<li><em>E-commerce</em>.</li>
<li><em>Mobile apps.</em></li>
<li>WAP.</li>
<li>Portal.</li>
<li><em>User generated content.</em></li>
<li><em>Use of technology</em>.</li>
</ol>
<p>Bagi para dotcomer muda yang tertarik, silakan kunjungi saja situs resminya dan daftarkan situs kalian. Registrasi akan ditutup pada tanggal 15 Oktober 2010. Siapa tahu karya Anda dinilai paling kreatif dan kompetitif dalam hal bisnis. Silakan coba saja, nggak ada ruginya kan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2010/08/28/menyambut-sparxup-awards-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Blog Indonesia Tahun 2009</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/12/29/dunia-blog-indonesia-tahun-2009/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/12/29/dunia-blog-indonesia-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 13:19:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Living]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[prediction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=2175</guid>
		<description><![CDATA[Setelah membaca tulisan di <a href="http://www.navinot.com/2008/12/29/dimana-posisi-blogging-saat-ini" target="_blank">NavinoT</a> kok ya jadi ingin mencoba memprediksi perkembangan blog di tahun 2009. Berikut ini poin-poin prediksinya:

<strong>Semakin banyak jumlah blog.</strong>

Semua tahu kalau jumlah blog dan blogger Indonesia terus bertambah banyak. Namun bukan berarti pertumbuhan itu akan diikuti oleh pertumbuhan konten positif. Perhatikan deh, semakin hari semakin banyak saja buku terbit yang bertemakan â€œmenjadi kaya dengan blog.â€ Buku-buku itu mengesampingkan hakikat blog sebenarnya, yakni sebagai media penyaji informasi dan komunikasi antara penulis dan pembacanya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/12/crystal_ball.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2008/12/crystal_ball.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2008/12/crystal_ball.jpg" alt="" title="crystal_ball" class="alignleft size-medium wp-image-2176" width="250" /></a>Setelah membaca tulisan di <a href="http://www.navinot.com/2008/12/29/dimana-posisi-blogging-saat-ini" target="_blank">NavinoT</a> kok ya jadi ingin mencoba memprediksi perkembangan blog di tahun 2009. Berikut ini poin-poin prediksinya:</p>
<p><strong>Semakin banyak jumlah blog.</strong></p>
<p>Semua tahu kalau jumlah blog dan blogger Indonesia terus bertambah banyak. Namun bukan berarti pertumbuhan itu akan diikuti oleh pertumbuhan konten positif. Perhatikan deh, semakin hari semakin banyak saja buku terbit yang bertemakan â€œmenjadi kaya dengan blog.â€ Buku-buku itu mengesampingkan hakikat blog sebenarnya, yakni sebagai media penyaji informasi dan komunikasi antara penulis dan pembacanya. </p>
<p>Mengkhawatirkan sekali bila ternyata banyak orang membuat blog karena didorong oleh motivasi mencari uang. Di bulan Januari mendatang saja, ada satu kampus di Jakarta yang mengundang penulis blog Media Ide ini untuk menjadi pembicara. Mereka pun berpikiran serupa, karena mereka meminta penulis untuk bercerita tentang mendapatkan uang melalui blog. Namun akhirnya setelah berdiskusi, tema pun akhirnya diganti. Fokusnya kini adalah membuat konten yang bermanfaat menggunakan blog. </p>
<p><strong>Blog menjadi media komunitas.</strong></p>
<p>Di akhir 2008 kemarin muncul <a href="http://developers.facebook.com/connect.php"  target="_blank">Facebook Connect</a>, dimana Facebook kini memungkinkan setiap situs memanfaatkan <em>database</em> anggota Facebook. Setiap situs dimungkinkan untuk membuat komunitasnya sendiri dengan mengkoneksikannya dengan API Facebook. Blog berbasis WordPress kini sudah menyediakan <em>plugin</em>-nya, dan contohnya bisa dilihat di <em>sidebar</em> kanan blog ini. </p>
<p>Dengan <em>plugin</em> ini, pengunjung bisa berkomentar menggunakan <em>login</em> Facebook, dan setiap komentarnya di blog ini bisa muncul pula di profil dirinya di Facebook. Ini baru awal. Di tahun 2009, pengembangan yang muncul pasti bisa beraneka ragam. Bisa jadi, beragam <em>game</em> dan aplikasi Facebook lainnya nanti bisa ikut pula terintegrasi dalam blog. Bisa jadi pula, kita nanti bisa memanfaatkan fitur-fitur <em>wall</em>, <em>discussion board</em>, <em>video player</em>, yang terintegrasi dengan blog yang kita miliki. Lama-kelamaan, blog yang tadinya adalah ranah pribadi, semakin berkembang menjadi ranah komunitas para pembacanya.</p>
<p>Selain itu juga ada <a href="http://www.google.com/friendconnect/"  target="_blank">Google Friend Connect</a>, yang punya konsep serupa. Contohnya juga bisa dilihat di <em>sidebar</em> kanan blog ini. Sekarang aplikasi yang dikembangkan untuk Google Friend Conncet ini memang masih sedikit, seperti <em>shoutbox</em> (dulu pernah dipasang pula di blog ini). Yang bisa mengirimkan komentar di <em>shoutbox</em> hanyalah mereka yang sudah tergabung dalam Google Friend Connect. Di tahun 2009, aplikasi yang muncul pasti akan semakin banyak. Bisa jadi akan pula terintegrasi dengan <a href="http://www.google.com/ig/directory?synd=open"  target="_blank">Google Gadget</a>, sehingga kita bisa melihat horoskop/bermain <em>game</em>/membaca berita yang difavoritkan oleh anggota lainnya.</p>
<p><strong>Batasan blog dan media <em>mainstream</em> semakin kabur.</strong></p>
<p>Di Indonesia tren membangun portal berita kembali menanjak. Setiap media elektronik ingin punya versi portalnya sendiri. Bahkan isunya <a href="http://www.vivanews.com"  target="_blank">Vivanews</a> saja mengeluarkan dana hingga 15 milyar hanya untuk portal tersebut, dan berharap bisa <em>break even point</em> dalam 3 tahun. Berhasil atau nggak, tergantung pelaksana Vivanews yang punya rencana. Jelas kalau hanya mengandalkan penjualan spot iklan akan susah mengejarnya. Belum lagi, ada yang memprediksi belanja iklan para pemasar produk di tahun 2009 menurun, yang tentunya akan berimbas pada persaingan sengit dengan portal-portal berita yang lebih dulu ada.</p>
<p>Buat mereka yang tidak punya bujet sebesar itu, namun ingin terjun di dunia <em>online</em>, bisa jadi akan melirik alternatif lain dengan bujet yang lebih masuk akal. Di luar, banyak media memanfaatkan format blog sebagai model penyampaian berita. Skala blog yang awalnya hanya ditulis individual dan hanya membahas satu tipe topik akan membesar. Blog diisi oleh banyak penulis dengan topik yang lebih melebar pula, layaknya sebuah majalah yang biasa kita baca. Pola-pola penyampaian berita seperti yang dilakukan oleh <a href="http://gawker.com/"  target="_blank">Gawker</a>, <a href="http://www.inquisitr.com/"  target="_blank">Inquisitr</a>, <a href="http://www.huffingtonpost.com/"  target="_blank">Huffington Post</a>, atau <a href="http://www.techcrunch.com"  target="_blank">Techcrunch</a> menjadi alternatif dibandingkan memikirkan pengelolaan portal berita yang mahal.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2008/12/gawker.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2008/12/gawker.jpg" alt="" title="gawker" width="450" height="289" class="alignnone size-full wp-image-2177" title="Gawker" /></a></p>
<p><strong>Semakin banyak politisi ngeblog.</strong></p>
<p>Semua sudah tahu cerita Obama yang memanfaatkan media sosial untuk membantu kampanye politiknya. Politisi pun mungkin banyak yang sudah tahu. Mereka juga tahu kalau 10% penduduk Indonesia ini doyan internet. Melakukan pendekatan kepada para pengguna internet Indonesia sudah menjadi kewajiban kalau mereka ingin bisa sukses di Pemilu mendatang. Bahasan tentang ini bisa dibaca di ulasannya Heriyadi <a href="http://h3li.wordpress.com/2008/11/15/politikus-indonesia-di-internet/"  target="_blank">di sini</a>. </p>
<p>Blog menjadi media yang paling mudah dipakai untuk mereka bercerita tentang program mereka. Namun akan sangat disayangkan bila tujuan mereka ngeblog adalah untuk mencari dukungan suara belaka saja. Hal ini tidak berbeda dengan mereka yang ngeblog hanya untuk mencari uang belaka. Harapannya sih, mereka ngeblog dengan tujuan yang lebih mulia, yakni memberikan pendidikan politik bagi warga internet. Jadi, tidak peduli apakah mereka nanti dipilih atau tidak, kegiatan ngeblog harus terus mereka jalankan.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2008/12/rm09.jpg"><img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2008/12/rm09.jpg" alt="" title="rm09" width="450" height="293" class="alignnone size-full wp-image-2178" title="RM09" /></a></p>
<p><strong>Semakin banyak ulasan produk dilakukan oleh para blogger.</strong></p>
<p>Tahun 2008 saja sudah ada beberapa produk yang melakukan advertorial di beberapa blog. Mereka memilih blog tertentu yang target pembacanya sesuai dengan target produk mereka. Memang tahun 2008 masih banyak yang sifatnya sebagai coba-coba. Advertorial bisa berupa pesanan tulisan dari pemilik produk. Untuk rangkaian kata-katanya blogger dibebaskan untuk menulisnya. Blogger bebas pula memberikan opini dan kritikan seputar produk tersebut. Atau, bisa juga blogger diundang untuk menghadiri suatu acara khusus, lalu penyelenggara acara berharap blogger mau menuliskan pengalamannya di blognya. Memang belum ada yang membuktikan efektifitas keberhasilan cara ini. Namun karena biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar, pasti akan semakin banyak pemilik produk yang ikut mencoba. </p>
<p>Cukuplah lima prediksi saja yang diungkapkan, biar tulisannya nggak terlalu panjang. Kalau Anda punya prediksi lain, silakan juga loh berbagi di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/12/29/dunia-blog-indonesia-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengkomersialkan Dotcom di Indonesia, Sampai Seberapa Jauh?</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/07/16/mengkomersialkan-dotcom-di-indonesia-sampai-seberapa-jauh/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/07/16/mengkomersialkan-dotcom-di-indonesia-sampai-seberapa-jauh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 07:36:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[banner]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[monetize]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2008/07/16/mengkomersialkan-dotcom-di-indonesia-sampai-seberapa-jauh/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ini sebetulnya pertanyaan ya, dan bukan pemberitahuan. Namun, setidaknya tulisan awal di bawah ini mungkin bisa membantu memberi gambaran kondisi yang sudah ada. Yang jelas Indonesia bukan US atau Eropa yang punya banyak dermawan teknologi. Di negeri-negeri itu, para pengembang portal atau aplikasi web bisa lebih mudah mendapatkan pendanaan dari banyak yayasan. Di Indonesia, walah, bisa menemukan 1 orang saja sudah bersyukur...</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/blogiklanlogo.gif" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><img class="floatright" title="Komersialisasi Dotcom" alt="Komersialisasi Dotcom" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/blogiklanlogo.gif" border="0" />Ini sebetulnya pertanyaan ya, dan bukan pemberitahuan. Namun, setidaknya tulisan awal di bawah ini mungkin bisa membantu memberi gambaran kondisi yang sudah ada. Yang jelas Indonesia bukan US atau Eropa yang punya banyak dermawan teknologi. Di negeri-negeri itu, para pengembang portal atau aplikasi web bisa lebih mudah mendapatkan pendanaan dari banyak yayasan. Di Indonesia, walah, bisa menemukan 1 orang saja sudah bersyukur&#8230;</p>
<p>Oleh karena itu model bisnis bangun web, kembangkan, dan jual, belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia. Meski suatu situs memiliki <em>traffic </em>yang tinggi, kalau tujuan dari awal membangun situs itu adalah untuk dijual lagi, pertanyaannya: mau dijual ke siapa? </p>
<p>Di era tahun 2000-an dulu, banyak orang euforia membangun portal dotcom untuk dijual kembali melalui IPO (<em>initial public offering</em>). Ekspektasi mereka terlalu tinggi. Model bisnis &#8216;mimpi&#8217; seperti ini tidak ada yang berhasil. Nama-nama seperti kopitime.com, kitakita.com, yang sempat heboh bereksibisi dimana-mana sekarang tidak ada yang membekas. Beberapa portal seperti <a href="http://www.rileks.com/" target="_blank">rileks.com</a> dan <a href="http://www.kafegaul.com/" target="_blank">kafegaul.com</a> sempat mengecilkan skup situs, sambil merumuskan pola bisnis mereka berikutnya.</p>
<p>Sekarang, dengan semakin banyaknya CMS (<em>content management system</em>) yang <em>open source </em>semakin memudahkan seorang mahasiswa sekalipun membangun sebuah dotcom. Makanya, kalau dulu jumlah dotcom terbatas namun banyak yang kenal, kini jumlahnya sangat banyak, namun terbatas diketahui oleh segmennya masing-masing. Sekarang pun nggak sulit untuk membangun situs komunitas ala Friendster atau situs <em>social bookmark </em>ala del.ico.us. Pertanyaannya, setelah dibuat, lalu mau diapakan? Mungkin nggak dikomersialkan?</p>
<p><strong>Situs Berbasis Konten</strong></p>
<p>Iklan dengan <em>revenue </em>tinggi berbanding lurus dengan tingginya <em>traffic </em>di dalam situs. Untuk situs berbasis konten perlu celah yang jeli. Ingat, setiap orang kini bisa membuat situs dengan mudah. Konten situslah yang membedakan kualitasnya. Untuk membangun <em>traffic </em>yang tinggi perlu konten berkualitas, yang di-<em>update </em>secara rutin, yang akhirnya akan mempertinggi <em>returning visitor</em>. </p>
<p><span id="more-446"></span>
<p>Membuat konten bukan hal yang mudah, apalagi kalau bukan ahli di bidangnya. Biasanya, situs-situs portal seperti yang digarap <a href="http://www.virtual.co.id/" target="_blank">Virtual</a> selalu bekerja sama dengan pihak lain. Konten diserahkan kepada instansi/individu lain yang berharap bisa mendapatkan nama (eksistensi diri) dengan terpublikasinya artikel di portal itu. Pihak pengembang portal lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sistem, pemasaran, dan eksposur situs. Bisa jadi, pada saat nanti mendapatkan iklan, ada <em>sharing revenue </em>antara kedua belah pihak.</p>
<p>Untuk situs-situs dotcom berskala lebih kecil, seperti yang berbasis blog, memang belum ada pilihan lain selain mengandalkan pendapatan dari iklan kontekstual, seperti AdSense. Nilainya pun juga nggak besar. Blog ini saja rata-rata cuma dapat $30 per bulan, untuk 25.300 <em>absolute unique visitor-</em>nya. Jadi berhitung saja, kalau ingin dapat $1.000 per bulan, berapa target <em>absolute unique visitor </em>yang harus diraih. Tentu saja, saat bisa mendapatkan target tersebut, <em>revenue </em>dari AdSense menjadi minor bila dibandingkan dengan menjual spotnya ke <em>brand </em>ternama.</p>
<p><strong>Situs Berbasis Aplikasi</strong></p>
<p>Di luar sana, situs berbasis aplikasi sepert <a href="http://www.twitter.com/" target="_blank">Twitter</a>, <a href="http://plurk.com/redeemByURL?from_uid=1051650&#038;check=721012698&#038;s=1" target="_blank">Plurk</a>, <a href="http://www.widgetbox.com/" target="_blank">Widgetbox</a>, dll mempunyai model bisnis yang sulit bisa dijumpai di Indonesia. Seperti disebutkan di atas, donator/dermawan teknologi yang mau investasi mengembangkan suatu aplikasi web sangat banyak. Di sini, pola bisnis seperti ini masih banyak memberi keraguan bagi penyandang dana. </p>
<p>Seandainya, ada seorang pengembang di Indonesia yang berhasil membuat aplikasi web canggih bak Plurk (dan yakin deh, pasti ada yang bisa), dari sisi komersialnya ia akan kebingungan. Bagaimana mendapatkan <em>revenue </em>dari situ? Adakah yang lebih elegan dari sekedar menyediakan spot iklan? Apakah cocok diterapkan model premium di Indonesia, dimana seorang yang membayar mendapatkan fitur lebih daripada yang menggunakannya gratis? Atau adakah cara-cara lainnya?</p>
<p><strong>Situs Berjualan</strong></p>
<p>Model bisnis seperti ini yang terlihat paling banyak di Indonesia, terutama dari rekan-rekan komunitas <a href="http://www.tangandiatas.com/" target="_blank">Tangan di Atas</a>. Situs dijadikan sebagai <em>showroom</em>, sementara di balik layar, para pemilik situs pun sudah siap dengan stok fisik barangnya. Situs menjadi <em>tools</em> jualan, sementara transaksi yang terjadi sebenarnya dilakukan secara <em>offline</em>. <em>Revenue </em>yang didapat memang bukan dari situsnya langsung, tapi dari hasil penjualan barang akibat &#8216;dipamerkan&#8217; di situs. </p>
<p>Lalu, apakah model komersialisasi seperti ini bisa terjadi pada produk maya (non fisik)? Misalnya, berjualan <em>icon</em>, <em>template</em>, <em>ebook</em> dan <em>ringtone</em>. Mungkin ada yang rekan-rekan yang bisa memberikan contoh model bisnis yang sudah berjalan untuk produk maya? </p>
<p>Salah satu kelemahan produk maya ini adalah dari sisi pembajakan. Situs-situs dewasa (dan agak dewasa) seperti <a href="http://www.popular-maj.com/" target="_blank">Popular</a> dan <a href="http://www.nonamanis.com/" target="_blank">Nonamanis</a> menyediakan fasilitas berbayar untuk melihat galeri foto di dalamnya. Namun, ujung-ujungnya, beberapa foto ini pun tersebar pula ke banyak blog dan dinikmati secara gratis, sehingga membuat anggota yang tadinya merasa mendapatkan <em>privilege </em>lebih menjadi kecewa.</p>
<p><strong>Situs Komunitas</strong></p>
<p>Sempat ngobrol dulu dengan pemilik <a href="http://www.liveconnector.com/" target="_blank">LC</a>. Si pemilik dulu hanya mengandalkan <em>revenue </em>dari Google AdSense. Penghasilannya lumayan besar, yang hanya bisa didapat bila <em>traffic</em>-nya tinggi. Situs LC ini pada bulan Juni kemarin memiliki 746.000 <em>visitor </em>dan 353.000 <em>absolute unique visitor</em>. </p>
<p>Sekarang setiaporang dengan mudah bisa membuat situs komunitas, baik itu berupa forum ataupun jejaring sosial. Yang sebetulnya susah adalah mengembangkan komunitasnya, hingga bisa menghidupi sendiri situsnya. Membuat para anggotanya lebih membutuhkan keberadaan situs daripada kebalikannya (yang punya situs butuh anggota), jelas bukan hal mudah. </p>
<p>Kumpul-kumpul komunitas di Indonesia identik dengan kopdar. Kalau nggak kopdar (rutin) berarti komunitasnya belum muncul. Makanya, beberapa situs yang berbasis komunitas mencoba menyelenggarakan kegiatan rutin <em>offline </em>setiap bulannya. Di awalnya, bisa jadi si pemilik situs yang &#8216;terpaksa&#8217; mensponsori kegiatan.</p>
<p>Karena identik pula dengan kegiatan <em>offline</em>, bisa jadi bentuk komersialisasi dotcom-nya tidak melulu di dalam situs. Bisa jadi seperti pola yang dilakukan dagdigdug, dengan mengumpulkan &#8216;massa&#8217; sebanyak mungkin. Lalu melakukan kegiatan <em>offline </em>berupa <em>roadshow </em>pelatihan blog di beberapa daerah. &#8216;Massa&#8217; yang banyak ini yang lalu ditawarkan ke pengelola <em>brand</em> untuk lalu mensponsori kegiatan <em>roadshow</em>. Lagi-lagi pola seperti ini mirip dengan situs berjualan. <em>Revenue </em>langsungnya ada di kegiatan <em>offline</em>, dan bukan langsung pada situsnya.</p>
<p>Nah pertanyaannya:</p>
<ul>
<li>Ada nggak komersialisasi dotcom yang murni mendapatkan <em>revenue </em>secara <em>online </em>(selain dalam bentuk <em>banner </em>atau iklan kontekstual, tentunya)? </li>
<li>Ada yang tahu bagaimana mengkomersialkan situs berbasis aplikasi, untuk pasar Indonesia? </li>
</ul>
<p>Ada masukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/07/16/mengkomersialkan-dotcom-di-indonesia-sampai-seberapa-jauh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanjung: Salah Satu Pengelola Blog Teknologi Disitu.com</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/14/tanjung-salah-satu-pengelola-blog-teknologi-disitucom/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/14/tanjung-salah-satu-pengelola-blog-teknologi-disitucom/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 02:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interview]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/14/tanjung-salah-satu-pengelola-blog-teknologi-disitucom/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pasti sudah pernah baca kumpulan tulisan teknologi <a href="http://www.disitu.com/" target="_blank">Disitu.com</a> dong. Media ini berawal dari kumpulan tulisan blog yang dikerjakan beberapa kontributor yang membahas tema teknologi terkini. Namun kini, semakin beragamnya tulisan, dan rutinnya di-<em>update</em> membuat Disitu.com bertransformasi menjadi sebuah media <em>online</em> baru. Yah, mirip <a href="http://www.engadget.com/" target="_blank">Engadget.com</a> gitu lah. Bahkan kini Disitu.com sudah memiliki versi bahasa Inggris, dan versi yang bisa dibaca secara <em>mobile</em>.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/microphone.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Pasti sudah pernah baca kumpulan tulisan teknologi <a href="http://www.disitu.com/" target="_blank">Disitu.com</a> dong. Media ini berawal dari kumpulan tulisan blog yang dikerjakan beberapa kontributor yang membahas tema teknologi terkini. Namun kini, semakin beragamnya tulisan, dan rutinnya di-<em>update</em> membuat Disitu.com bertransformasi menjadi sebuah media <em>online</em> baru. Yah, mirip <a href="http://www.engadget.com/" target="_blank">Engadget.com</a> gitu lah. Bahkan kini Disitu.com sudah memiliki versi bahasa Inggris, dan versi yang bisa dibaca secara <em>mobile</em>.</p>
<p>Berikut ini adalah wawancara dengan salah satu kontributor dan pengelola Disitu.com, Mas Tanjung. Untuk jelasnya, simak saja tulisan berikut ya.</p>
<p>(Wawancara dituliskan apa adanya seperti aslinya, kecuali koreksi yang bersifat editorial)</p>
<p><strong><font color="#ff0000">Cerita-cerita dikit dulu, dong. Disitu.com itu apa sih? Kita bisa baca apa saja di situ?</font></strong> </p>
<p>Disitu.com itu adalah sebuah blog teknologi yang makin lama lebih bisa dikatakan sebagai media <em>online</em> yang berbau teknologi, dan berita itu rutin terus di-<em>update</em> tiap harinya. Jadi disitu kita bisa mendapatkan informasi terbaru yang paling aktual, hingga berita-berita lucu dan aneh di seluruh penghujung dunia yang berhubungan dengan teknologi.</p>
<p><strong><font color="#ff0000">Meski umur blognya bisa dikatakan masih muda, tapi kontennya sudah banyak ya? Ada berapa banyak artikel saat ini dan berapa banyak penulisnya? Mereka ini dari mana saja?</font></strong></p>
<p>Artikelnya kurang lebih sudah 3.000-an, penulisnya sendiri ada 8 orang dengan bantuan juga dari para kontributor yang ingin menyumbang artikel. Mereka nggak cuma di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Selain itu kita juga dibantu oleh teman-teman yang ada di Singapura, Malaysia, dan China.</p>
<p><span id="more-419"></span>
<p align="center"><img title="Disitu.com" alt="Disitu.com" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/int-disitu.jpg" border="0" /></p>
<p><strong><font color="#ff0000">Siapa sebetulnya pemilik Disitu.com? Dimiliki oleh suatu perusahaan ataukah ini milik bersama seluruh para penulisnya?</font></strong></p>
<p>Disitu.com secara resmi dimiliki dan dikelola oleh MAX yang merupakan divisi dari PT Adicipta Inovasi Teknologi. Jadi terjawab sudah, yang memiliki adalah perusahaan.</p>
<p><strong><font color="#ff0000">Upaya promo apa yang sudah dilakukan untuk mengenalkan Disitu.com?</font></strong></p>
<p>Kita hanya melakukan <em>online marketing</em> dan<em> viral marketing</em> alias dari mulut ke mulut saja. Selain itu kita juga membagikan stiker dan brosur. Untuk pembaca kita adakan <em>quiz</em> dan pembagian <em>merchandise</em> untuk para pemenang. </p>
<p><strong><font color="#ff0000">Adakah niat menggali keuntungan dari blog keroyokan ini? Bentuknya seperti apa?</font></strong></p>
<p>Untuk sementara kita mengharapkan keuntungan yang dari <em>banner</em> sponsor sehingga menutupi ongkos hosting dan operasional.</p>
<p><strong><font color="#ff0000">Boleh diceritakan tentang statistik traffic Disitu.com hingga bulan Maret 2008 ini?</font></strong> </p>
<p>Perkembangan Disitu.com hingga saat ini relatif cukup pesat dimana pada awal pendirian kami berada pada <em>ranking</em> 6 jutaan-an sekarang kami sudah di posisi 61.000-an berdasarkan situs Alexa. Sedangkan untuk trafik rata-rata tiap harinya Disitu.com dikunjungi sekitar 2.000 <em>unique</em> IP berdasarkan situs sitemeter.com.</p>
<p><strong><font color="#ff0000">Selain penulisan konten rutin, rencana-rencana seperti apa yang akan dikembangkan tim Disitu.com di ke depannya?</font></strong> </p>
<p>Saat ini rencananya adalah berusaha menjadi salah satu media informasi teknologi yang dapat diandalkan. Untuk ke depannya kami akan lebih menyempurnakan tampilan agar lebih menarik dan lebih mudah diakses.</p>
<p><strong><font color="#ff0000">Nah, terakhir. Ini pertanyaan imajinasi. Dalam 10 tahun mendatang, Disitu.com sudah akan seperti apa?</font></strong> </p>
<p>Kami ingin sesukses pendahulu kami di tanah air seperti Detik.com yang fenomenal.</p>
<p><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2008/02/14/rangkaian-interview-di-media-ide/" target="_self"><font color="#ff0000"><strong>Untuk pebisnis dotcomers lain yang tertarik untuk diinterview, silakan cek artikel ini ya!</strong></font></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2008/03/14/tanjung-salah-satu-pengelola-blog-teknologi-disitucom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringkat Desain Wallpaper Anda di Rank My Wall</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/12/10/peringkat-desain-wallpaper-anda-di-rank-my-wall/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/12/10/peringkat-desain-wallpaper-anda-di-rank-my-wall/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 01:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[wallpaper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2007/12/10/peringkat-desain-wallpaper-anda-di-rank-my-wall/</guid>
		<description><![CDATA[Sejak hampir sebulan lalu, pasti Anda sempat mengklik <em>banner </em>kotak berwarna biru di sebelah kanan. <em>Website <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/www.rankmywall.com" target="_blank">Rank My Wall</a></em> ini adalah eksperimen pribadi, yang dikerjakan hanya di waktu senggang (meski senggang ya kok ternyata butuh lebih dari 2 jam sehari ya).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/rankmywall.gif" alt="This image has no alt text" />
	</p><p><img class="floatright" title="Rank My Wall" alt="Rank My Wall" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/rankmywall.gif" border="0" />Sejak hampir sebulan lalu, pasti Anda sempat mengklik <em>banner </em>kotak berwarna biru di sebelah kanan. <em>Website <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/www.rankmywall.com" target="_blank">Rank My Wall</a></em> ini adalah eksperimen pribadi, yang dikerjakan hanya di waktu senggang (meski senggang ya kok ternyata butuh lebih dari 2 jam sehari ya).</p>
<p>Tujuan utama membuat <em>website </em>ini bukan sekedar proyek <em>me too</em> yang memanfaatkan aplikasi CMS <a href="http://www.pligg.com/" target="_blank">Pligg</a>, aplikasi yang juga dipakai oleh <em>website </em><a href="http://www.lintasberita.com/" target="_blank">Lintas Berita</a> atau <a href="http://www.blog-m.com/" target="_blank">Blog-M</a>. Aplikasi Pligg sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga yang dijadikan <em>ranking </em>adalah gambar, bukan berita. </p>
<p>Pembuatan <em>website </em>ini juga sebagai eksperimen optimasi AdSense. Terus terang, meski secara teori penerapan optimasi <em>keyword </em>dalam sebuah <em>website</em> cukup dimengerti, praktiknya belum pernah dicoba secara serius. Di <em>Rank My Wall </em>ini, yang dijadikan <em>keyword </em>adalah <em>wallpaper </em>dan <em>desktop background</em>. Memang sudah ratusan <em>website </em>yang mengidentifikasikan dirinya dengan <em>keyword </em>ini. Tapi ya itu, semakin sulit, tentu semakin menarik tantangannya. Yang juga menjadi <em>unique selling</em>-nya adalah tidak banyak <em>website </em>lain yang menyajikan desain <em>wallpaper </em>beresolusi tinggi.</p>
<p>Lalu bagaimana pengembangan <em>website </em>ini selanjutnya? Rencananya, akan dibangun banyak mini <em>website</em> baru yang merupakan <em>subdomain </em>dari <em>Rank My Wall</em>. Semua mini <em>website </em>ini akan mendukung <em>keyword </em>website utama. Selama hampir sebulan ini, berdasarkan <a href="http://www.google.com/webmasters/" target="_blank">Google Webmaster Tools</a>, yang menjadi <em>top search queries </em>dan <em>top clicked queries </em>sudah mendekati keinginan, yaitu <em>keyword </em>itu sendiri: <em>wallpaper</em>.</p>
<p>Apakah proyek eksperimen ini akan berhasil? Hihi, lihat saja tahun depan. Yang penting kan dicoba dulu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/12/10/peringkat-desain-wallpaper-anda-di-rank-my-wall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Web 2.0 untuk Orang Indonesia</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/24/aplikasi-web-20-untuk-orang-indonesia/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/24/aplikasi-web-20-untuk-orang-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Sep 2007 21:05:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/24/aplikasi-web-20-untuk-orang-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Menyambung tulisan sebelumnya, sekarang coba kita lihat ranah negeri kita sendiri. <em>Website </em>mana saja yang kira-kira masuk kategori Web 2.0? Seperti yang sudah disebutkan, kriteria utama <em>website </em>adalah adanya konten yang bisa dibagi atau dikolaborasikan. Konten utama <em>website </em>adalah dari pengunjung <em>website</em>, dan bukan dari pemilik/penyelenggara <em>website</em>. Tapi ini bukan patokan utama ya, dan terbuka untuk sanggahan dan masukan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/web20logo.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Menyambung tulisan sebelumnya, sekarang coba kita lihat ranah negeri kita sendiri. <em>Website </em>mana saja yang kira-kira masuk kategori Web 2.0? Seperti yang sudah disebutkan, kriteria utama <em>website </em>adalah adanya konten yang bisa dibagi atau dikolaborasikan. Konten utama <em>website </em>adalah dari pengunjung <em>website</em>, dan bukan dari pemilik/penyelenggara <em>website</em>. Tapi ini bukan patokan utama ya, dan terbuka untuk sanggahan dan masukan.</p>
<ul>
<li>
<p><a href="http://www.fupei.com/" target="_blank">Fupei</a>, ini <em>website</em> jaringan sosialnya Indonesia, ala Friendster atau MySpace. Anggota Fupei kini sudah merambah, hingga orang Filipina pun ikutan. Fiturnya pun mencoba menyaingi Friendster dan MySpace. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.akucintasekolah.com/" target="_blank">Aku Cinta Sekolah</a>, nggak jauh berbeda dengan Fupei, hanya lebih berfokus pada komunitas sekolah. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.layartancap.com/" target="_blank">Layar Tancap</a>, ini <em>website</em> berbagi videonya Indonesia, ala YouTube.</p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.videokita.net/" target="_blank">Video Kita</a>, nggak jauh berbeda dengan Layar Tancap, hanya saja ini untuk kalian yang sudah bukan anak kecil lagi. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://blog.m3-access.com/" target="_blank">M3 Blog</a>, meski disponsori oleh IM3, aplikasi <em>blog</em> gratis yang disediakan di <em>website </em>ini sudah hampir menyaingi fitur <em>blog</em> yang disediakan oleh Blogspot. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.carimuka.com/" target="_blank">Cari Muka</a>, ini<em> website </em>untuk kalian yang narsis. Cukup unggah foto kalian, dan biarkan pengunjung yang menilainya. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.sharingfoto.com/" target="_blank">Sharing Foto</a>, dimana kalian bisa menggunggah galeri foto. Melalui <em>website </em>ini kalian bisa memesan dan mencetak foto favorit di atas <em>mug </em>dan mengirimkannya ke rekan kalian. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.sendokgarpu.com/" target="_blank">Sendok Garpu,</a> tempat kalian berbagi informasi tentang tempat makan, khususnya untuk makan malam.</p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.makanmulu.com/" target="_blank">Makan Mulu</a>, mirip dengan SendokGarpu, <em>website </em>ini berisikan ulasan beragam tempat makan. Anggota juga bisa berbagi resep masakan favoritnya. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.moodmill.com/" target="_blank">MoodMill</a>, dimana anggota bisa menampilkan kadar <em>mood-</em>nya hari ini. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.kronologger.com/" target="_blank">Kronologger</a>, ini Twitter-nya Indonesia, dimana anggota bisa menyampaikan pesan singkat (<em>microblogging</em>) melalui <em>website </em>atau SMS. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.republikblog.com/" target="_blank">Republik Blog</a>, tempat kalian mengirim dan memberi peringkat tulisan <em>blog </em>yang menurut kalian menarik.</p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.blog-m.com/" target="_blank">Blog-M</a>, sama persis seperti Republik Blog, dengan fitur serupa pula. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.kilasan.com/" target="_blank">Kilasan</a>, serupa dengan Republik Blog dan Blog-M, hanya saja kalian bebas untuk mengirimkan tautan berita tanpa batasan itu <em>blog </em>atau bukan.</p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.wikimu.com/" target="_blank">Wikimu</a>, dimana kalian bisa mengirim berita dengan bebas dan berbaginya dengan pembaca lainnya.</p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.gudangupload.com/" target="_blank">Gudang Upload</a>, ini <em>website </em>Rapidshare atau Megaupload-nya Indonesia, tempat kalian berbagi <em>file </em>berukuran besar. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.indoupload.net/" target="_blank">Indo Upload</a>, serupa dengan Gudang Upload, dan juga cukup banyak dipakai oleh pengguna forum di Indonesia. </p>
</li>
<li>
<p><a href="http://www.17tahun2.com/" target="_blank">17 Tahun 2</a>, dimana setiap anggota bebas mengirim cerita dan gambar dewasa. Cerita yang ditayangkan bisa dinilai oleh pengunjung. </p>
</li>
</ul>
<p align="center"><img title="Web 2.0 untuk Orang Indonesia" alt="Web 2.0 untuk Orang Indonesia" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-indonesia.jpg" border="0" /></p>
<p>Oh ya&#8230; Ini ada fitur tambahan <em>blog</em> Media Ide. Untuk kalian yang suka akan tulisan ini tinggal klik ikon <a href="http://republikblog.com/submit.php?url=http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/24/aplikasi-web-20-untuk-orang-indonesia/" target="_blank">RB</a> persis di akhir tulisan ini, untuk menyimpannya di Republik Blog.</p>
<p>Artikel lalu yang relevan:</p>
<ul>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/20/aplikasi-web-20-yang-bikin-geleng-geleng-kepala/" target="_self">Aplikasi Web 2.0 yang Bikin Geleng-geleng Kepala</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2007/06/01/peringkat-situs-porno-indonesia/" target="_self">Peringkat Situs Porno Indonesia</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2006/12/08/berkelana-di-dunia-bawah-tanah/" target="_self">Berkelana di Dunia Bawah Tanah</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2006/11/26/bisnis-web-di-era-web-20/" target="_self">Bisnis Web di Era Web 2.0</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2006/09/08/bagaimana-brand-berpartisipasi-di-era-web-20/" target="_self">Bagaimana <em>Brand</em> Berpartisipasi di Era Web 2.0</a> </li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/24/aplikasi-web-20-untuk-orang-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Web 2.0 yang Bikin Geleng-geleng Kepala</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/20/aplikasi-web-20-yang-bikin-geleng-geleng-kepala/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/20/aplikasi-web-20-yang-bikin-geleng-geleng-kepala/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 07:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Communities]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[social network]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/20/aplikasi-web-20-yang-bikin-geleng-geleng-kepala/</guid>
		<description><![CDATA[Tentu banyak yang sudah familiar dengan istilah Web 2.0, jadi nggak akan dibahas lagi di sini. Intinya adalah, sebuah <em>website </em>yang menyediakan sarana untuk orang berhubungan, berkolaborasi, hingga saling berbagi. Yang kini sudah familiar adalah jaringan sosial, seperti Friendster, MySpace, atau Facebook (yang makin populer). Atau versi Indonesia-nya, Fupei dan Aku Cinta Sekolah. Bahkan ada <em>website </em>yang namanya <a href="http://www.ning.com/" target="_blank">Ning</a> yang memfasilitasi Anda untuk membuat jaringan sosial sendiri. Jadi, seperti Friendster dalam Friendster.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/web20logo.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Tentu banyak yang sudah familiar dengan istilah Web 2.0, jadi nggak akan dibahas lagi di sini. Intinya adalah, sebuah <em>website </em>yang menyediakan sarana untuk orang berhubungan, berkolaborasi, hingga saling berbagi. Yang kini sudah familiar adalah jaringan sosial, seperti Friendster, MySpace, atau Facebook (yang makin populer). Atau versi Indonesia-nya, Fupei dan Aku Cinta Sekolah. Bahkan ada <em>website </em>yang namanya <a href="http://www.ning.com/" target="_blank">Ning</a> yang memfasilitasi Anda untuk membuat jaringan sosial sendiri. Jadi, seperti Friendster dalam Friendster. </p>
<p>Sebenarnya, Web 2.0 lebih luas daripada sekedar jaringan sosial. Masih ada<em> </em>aplikasi berbagi gambar, video, hingga <em>slide </em>presentasi, seperti <a href="http://www.youtube.com/" target="_blank">YouTube</a>,&nbsp;<a href="http://www.metacafe.com/" target="_blank">Metacafe</a>, <a href="http://www.flickr.com/" target="_blank">Flickr</a>, <a href="http://photobucket.com/" target="_blank">Photobucket</a>, atau <a href="http://www.slideshare.net/" target="_blank">SlideShare</a>. Belum lagi aplikasi yang memungkinkan setiap anggotanya berbagi <em>bookmark</em> dan memberikannya peringkat, seperti <a href="http://www.digg.com/" target="_blank">Digg</a> atau <a href="http://del.icio.us/" target="_blank">del.ico.us</a>. </p>
<p>Dalam daftar berikut, tertulis beberapa aplikasi Web 2.0 yang baik dari segi konsep hingga eksekusinya, bikin geleng-geleng kepala (karena nggak kebayang kok bisa ya buat hal seperti ini). Daftar ini mungkin tidak lengkap, karena sebegitu banyaknya aplikasi Web 2.0 di luar sana. Tapi siapa tahu bisa jadi ide untuk mengembangkan konsep serupa di Indonesia.</p>
<p><strong><a href="http://www.thebroth.com/" target="_blank">The Broth</a></strong> </p>
<p>The Broth memberikan aspek yang lebih luas daripada sekedar jaringan sosial. Di sini, setiap anggota bisa membuat gambarnya sendiri secara <em>online</em>, bahkan kalau perlu berkolaborasi dengan para anggota lainnya. Mirip dengan IMVironment Yahoo! Messenger yang berjudul Doodle, hanya dalam konteks yang lebih besar. Setiap anggota bisa membuat <em>room</em>-nya sendiri-sendiri dimana sembari <em>chat </em>mereka bisa menggambar bersama.<em> </em>Kini The Broth punya fitur baru, dimana anggota bisa menyusun kepingan-kepingan <em>puzzle </em>kecil menjadi sebuah gambar. Hal ini bisa dilakukan pula secara kolaborasi dengan anggota lainnya. Jika Anda ingin tahu bagaimana karya itu dibuat, Anda bisa melihat video rekamannya saat anggota tersebut menggambar. Anda bahkan juga bisa melihat secara <em>live </em>aktivitas menggambar yang sekarang sedang dilakukan oleh anggota lain.</p>
<p align="center"><img title="The Broth" alt="The Broth" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-thebroth.jpg" border="0" /></p>
<p><strong><a href="http://ww.toondoo.com/" target="_blank">ToonDoo</a></strong></p>
<p>Nggak bisa gambar kartun, tapi ingin buat komik? Coba datang ke ToonDoo dimana setiap anggota bisa membuat komiknya sendiri. Gambar bisa diambil dari koleksi ToonDoo atau Anda unggah dan atur peletakannya di sana. Setiap karya komik bisa langsung Anda <em>embed </em>di <em>blog</em> atau <em>website </em>Anda. </p>
<p align="center"><img title="ToonDoo" alt="ToonDoo" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-toondoo.jpg" border="0" /></p>
<p><span id="more-362"></span></p>
<p style="clear:both"><a href="http://www.wetpaint.com/" target="_blank"><strong>Wetpaint</strong></a></p>
<p><img class="floatleft" title="Wetpaint" alt="Wetpaint" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-wetpaint.jpg" border="0" />Di era Web 1.0 dulu kala, kalau mau membuat <em>website </em>gratis, pasti larinya ke Geocities. Itu pun orang harus paham apa itu HTML sehingga agak sulit bagi orang awam untuk memiliki <em>website </em>sendiri. Sekarang, ada beberapa penyedia jasa layanan desain <em>website </em>dengan mudah, tanpa harus mengerti teknis sama sekali. Salah satunya yang menonjol adalah Wetpaint. Aplikasi yang berbasis wiki ini memungkinkan anggotanya mendesain <em>website </em>dengan mudah. Setiap <em>website </em>yang tergabung dalam Wetpaint bisa terdiri dari banyak kontributor konten. <em>Website</em> serupa lainnya seperti ini adalah <a href="http://www.freewebs.com/" target="_blank">FreeWebs</a> dan <a href="http://www.spruz.net/" target="_blank">Spruz</a>. </p>
<p style="clear:both"><strong><a href="http://www.meebo.com/" target="_blank">Meebo</a></strong></p>
<p><img class="floatleft" title="Meebo" alt="Meebo" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-meebo.jpg" border="0" />Bila Anda mendapatkan aplikasi Yahoo! Messenger atau MSN Anda diblok oleh kantor, namun Anda masih bisa menjelajah <em>online </em>secara leluasa, maka Anda tetap masih bisa melakukan <em>chat </em>dengan rekan di Yahoo! Messenger atau MSN Anda. Gunakan Meebo. Melalui <em>website </em>ini, Anda bahkan bisa saling berhubungan dengan 4 <em>messenger </em>yang berbeda <em>platform</em>: Yahoo! Messenger, MSN, AIM, dan Google Talk. Kini Meebo juga sudah&nbsp;menyediakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya.</p>
<p style="clear:both"><strong><a href="http://www.schmedley.com/" target="_blank">Schmedley</a></strong></p>
<p>Ingin punya aplikasi <em>operating system </em>sendiri namun dalam versi <em>web</em>? Meski tidak secanggih Windows atau Mac, ternyata dengan Schmedley, Anda bisa mengumpulkan hampir segala kebutuhan <em>desktop </em>Anda dalam satu halaman. Anda bisa mencari gambar di Flickr, bisa mencari jadwal film terakhir berdasarkan kode pos tertentu, bisa menampilkan data RSS, bisa melihat kondisi cuaca, hingga bahkan meninggalkan catatan kecil ala <em>post-it</em>. Aplikasi serupa seperti ini bisa dilihat pula di <a href="http://jooce.com/" target="_blank">Jooce</a><em> </em>dan <a href="http://www.mygoya.com/" target="_blank">MyGoya</a>. </p>
<p align="center"><img title="Schmedley" alt="Schmedley" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-schmedley.jpg" border="0" /></p>
<p style="clear:both"><strong><a href="http://maps.google.com/" target="_blank">Google Maps</a></strong></p>
<p><img class="floatleft" title="Google Maps" alt="Google Maps" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-googlemaps.jpg" border="0" />Semua orang juga pasti sudah kenal dengan Google Maps dan sudah banyak yang memanfaatkannya (meski sayang di Indonesia, yang ada baru peta bumi, belum sampai peta jalan raya). Tapi yang mungkin orang belum familiar adalah API (<em>application programming interface</em>) yang terbuka dari Google Maps. Artinya, setiap orang bebas mengembangkan aplikasi baru dengan memanfaatkan fitur Google Maps. Banyak contohnya, seperti: permainan <a href="http://www.thomasscott.net/realworldracer/" target="_blank">Real World Racer</a>, <a href="http://www.brewsterjennings.com/" target="_blank">Brewster Jennings</a>, <a href="http://www.virtualvideomap.com/" target="_blank">Virtual Video Map</a>, atau <a href="http://www.frappr.com/" target="_blank">Frappr</a>.</p>
<p style="clear:both"><strong><a href="http://www.eyespot.com/" target="_blank">Eyespot</a></strong></p>
<p><img class="floatleft" title="Eyespot" alt="Eyespot" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-eyespot.jpg" border="0" />Kalau sekedar berbagi video tentu banyak yang sudah familiar dengan YouTube. Tapi, bila video itu ingin Anda <em>mix</em> dengan video, musik, atau gambar, ternyata hal ini bisa pula dilakukan secara <em>online</em> melalui Eyespot. Selanjutnya, seperti YouTube, hasil video bisa anda pamerkan di <em>blog </em>atau <em>website</em> Anda. Hal serupa lainnya juga bisa Anda temukan di <a href="http://www.muveemix.com/" target="_blank">MuveeMix</a>.</p>
<p style="clear:both"><strong><a href="http://www.meez.com/" target="_blank">Meez</a></strong></p>
<p><img class="floatleft" title="Meez" alt="Meez" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-meez.jpg" border="0" />Ingin membuat ikon <em>avatar </em>yang berbeda dengan yang lain? Bagaimana kalau dibuat dalam versi 3D? Coba saja Meez. Di <em>website </em>ini, Anda bisa mendesain karakter 3D. Anda bisa memilih koleksi rambut, pakaian, aksesoris, animasi, hingga latar belakang. Hasil desain karakter ini bisa Anda pakai untuk profil MySpace Anda. Untuk bisa memasuki <em>website </em>ini, terlebih dahulu Anda harus menginstalasi Java pada <em>browser </em>Anda terlebih dahulu. Hal serupa juga Anda bisa temukan di <em>website </em><a href="http://www2.frenzoo.com/" target="_blank">Frenzoo</a>. </p>
<p style="clear:both"><strong><a href="http://www.emergencyporn.com/" target="_blank">Emergency Porn</a></strong></p>
<p><img class="floatleft" title="Emergency Porn" alt="Emergency Porn" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/web20-emergencyporn.jpg" border="0" />Bahkan ada pula yang menyediakan <em>website</em> Web 2.0 khusus untuk konten pornografi. Untuk Anda yang suka menjelajah situs-situs dewasa, hal yang pasti membuat Anda sebal antara lain: iklan <em>popup</em>, tautan yang tiba-tiba masuk ke <em>website </em>lain yang nggak ada hubungannya, atau gambar berkualitas rendah. Emergency Porn bertujuan untuk mengeliminasi itu. Di <em>website </em>ini Anda bisa mem-<em>filter</em> gambar berdasarkan <em>headshot</em>, <em>bodyshot</em>, atau apapun. </p>
<p style="clear:both">Sebenarnya, masih banyak lagi yang bisa disebutkan. Mungkin untuk tulisan mendatang, akan diulas lebih banyak lagi <em>website </em>Web 2.0 yang tambah bikin geleng-geleng kepala, dan menantang dari sisi desain konsep dan desain aplikasinya.</p>
<p>Artikel lalu yang relevan:</p>
<ul>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2007/05/05/fupei-dan-aku-cinta-sekolah/" target="_self">Fupei dan Aku Cinta Sekolah</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2006/12/08/berkelana-di-dunia-bawah-tanah/" target="_self">Berkelana di Dunia Bawah Tanah</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2006/11/26/bisnis-web-di-era-web-20/" target="_self">Bisnis Web di Era Web 2.0</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2006/09/08/bagaimana-brand-berpartisipasi-di-era-web-20/" target="_self">Bagaimana <em>Brand</em> Berpartisipasi di Era Web 2.0</a> </li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2007/09/20/aplikasi-web-20-yang-bikin-geleng-geleng-kepala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis Web di Era Web 2.0</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/11/26/bisnis-web-di-era-web-20/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/11/26/bisnis-web-di-era-web-20/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Nov 2006 07:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Hari Kamis lalu, pihak Intimedia sempat mengundang beberapa pelaku bisnis web untuk mengikuti Seminar Bisnis Web di Era Web 2.0. Pada kesempatan ini, <a href="http://adriantogani.blogspot.com/" target="_blank">Mas Adri</a> memberikan penjelasan tentang perbedaan penting antara Web 1.0 dan Web 2.0.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/web20logo.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Hari Kamis lalu, pihak Intimedia sempat mengundang beberapa pelaku bisnis web untuk mengikuti Seminar Bisnis Web di Era Web 2.0. Pada kesempatan ini, <a href="http://adriantogani.blogspot.com/" target="_blank">Mas Adri</a> memberikan penjelasan tentang perbedaan penting antara Web 1.0 dan Web 2.0. </p>
<p>Kalau di era 1995-1997 dulu, saat era Web 1.0, semua portal dot com menyediakan konten, dan pengunjung portal hanya menerima suguhannya saja, dengan interaksi yang cenderung pasif. Semua portal sibuk memberikan konten berita, liputan, artikel, tak berbeda jauh dengan surat kabar cetak. Nah, di era Web 2.0 ini, tren bisnis mulai berubah. Sekarang adalah eranya partisipasi dari konsumen. Pengelola dot com lebih bersifat sebagai fasilitator atau agregator saja. </p>
<p>Salah satu contoh peninggalan Web 1.0 adalah <a href="http://www.britannica.com/" target="_blank">Britannica Online</a>, salah satu <em>website</em> ensiklopedia terlengkap di jagad maya. Seluruh konten redaksi dipegang oleh pihak Britannica sendiri. Bandingkan dengan ensiklopedia ala Web 2.0 yang kini sudah banyak dikenal dan menjadi referensi banyak murid dan mahasiswa, <a href="http://www.wikipedia.org/" target="_blank">Wikipedia</a>. Di Wikipedia, seluruh pengunjung <em>website</em> ini bisa memberikan sumbangan, mengkoreksi, dan melengkapi seluruh konten pengetahuannya. Aplikasi pendukung Wikipedia yang gratis ini bahkan bisa dijadikan alat pembelajaran yang baik untuk lingkungan internal kampus. </p>
<p>Partisipasi dari pengunjung <em>website</em> juga terlihat pada <em>website</em> <a href="http://ww.myspace.com/" target="_blank">MySpace</a> dan <a href="http://www.youtube.com/" target="_blank">YouTube</a>. Kedua <em>website</em> ini yang masing-masing dibangun oleh sepasang remaja ini dihargai gila-gilaan oleh konglomerasi besar. <em>website</em> MySpace yang menjadi pionir <em>website</em> komunitas pertemanan (seperti Friendster) dibeli oleh Rupert Murdoch, salah satu raja media. <em>Website</em> YouTube, yang konsepnya diadaptasi dari acara televisi <em>America&#8217;s Funniest Home Videos</em>, dimana setiap anggota bebas memamerkan videonya, kini sudah menjadi milik Google. </p>
<p>Konsep partisipasi seperti inilah yang seharusnya dipertimbangkan oleh para pengelola bisnis dot com di masa mendatang. Mungkin saja teman-teman dot com yang datang pada seminar itu, seperti: <a href="http://www.bulutangkis.com/" target="_blank">Bulutangkis.com</a>, <a href="http://www.eventku.com/" target="_blank">Eventku.com</a>, <a href="http://www.rumah-ku.com/" target="_blank">Rumah-ku.com</a>, <a href="http://www.waralaba.com/" target="_blank">Waralaba.com</a>, bisa menerapkan konsep serupa di portal masing-masing.</p>
<p>Tambahan, bagi para <em>dotcomers</em> lain yang mau berdiskusi lebih lanjut, boleh tuh bergabung di milis baru: <a href="mailto:dotcomers-subscribe@yahoogroups.com" target="_blank">dotcomersATyahoogroupsDOTcom</a>. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/11/26/bisnis-web-di-era-web-20/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meredesain Website Korporat</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/07/20/meredesain-website-korporat/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/07/20/meredesain-website-korporat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 01:12:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[corporate]]></category>
		<category><![CDATA[hotel]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Meredesain sebuah <em>website</em> perusahaan (korporat) susah-susah gampang, karena tergantung dari tujuannya. Beberapa alasan yang menyebabkan sebuah <em>website</em> perusahaan mengalami redesain, biasanya antara lain:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/sheraton.jpg" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Meredesain sebuah <em>website</em> perusahaan (korporat) susah-susah gampang, karena tergantung dari tujuannya. Beberapa alasan yang menyebabkan sebuah <em>website</em> perusahaan mengalami redesain, biasanya antara lain: </p>
<ul>
<li>Perusahaan tersebut melakukan <em>repositioning</em> dan <em>rebranding</em>. <em>Rebranding</em> umumnya akan diikuti dengan perubahan identitas korporat secara keseluruhan. Akibatnya, tampilan <em>website</em> bisa jadi berubah sama sekali, mengikuti tampilan identitas korporat yang baru. </li>
<li>Perusahaan mengalami pergantian manajemen, yang umumnya selalu diikuti dengan perubahan strategi dan program kerja. Berbagai fitur <em>website</em> disesuaikan dengan arahan strategi perusahaan, namun biasanya tetap menampilkan identitas korporat yang sama seperti sebelumnya. </li>
<li>Perusahaan mengimplementasikan strategi baru yang melengkapi strategi kerja sebelumnya. Redesain ini bisa jadi hanya perubahan minor, karena sifatnya hanya menambahkan fitur-fitur baru saja, namun tetap dalam panduan identitas korporat yang sama seperti sebelumnya. </li>
</ul>
<p><img class="floatright" alt="Sheraton" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/sheraton.jpg"/>Redesain sebuah <em>website</em> korporat umumnya selalu terjadi setiap tahun. Biasanya, ada keinginan dari perusahaan untuk menampilkan sesuatu yang lebih segar dan baru di setiap tahunnya. Keinginan itu umumnya selalu dilengkapi dengan penambahan fitur baru yang memanfaatkan tren dan teknologi terakhir aplikasi penjelajah di internet. Grup <a href="http://www.sheraton.com/" target="_blank">Hotel Sheraton</a>, misalnya, meredesain <em>website</em>-nya dengan menambahkan fitur komentar dan cerita yang bisa dikirimkan langsung oleh pengunjung yang telah mengunjungi salah satu hotel cabang dari Sheraton. </p>
<p><img class="floatleft" height="151" alt="Farmindo (versi awal)" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/farmindolama.jpg" width="215"/>Sebuah perusahaan B2B bernama <a href="http://www.farmindo.com/" target="_blank">Farmindo</a> juga melakukan hal serupa. Skup bisnis usaha yang makin meluas membuat perusahaan ini meredesain <em>website</em>-nya dengan tampilan yang lebih segar, canggih, dan lepas dari batasan produk farmasi yang pernah menjadi ciri khas desain <em>website</em> perusahaan ini sebelumnya. Redesain keseluruhan tampilan&nbsp;<em>website</em> Farmindo ini dikerjakan oleh <a href="http://www.smartshell.net/" target="_blank">SmartShell</a>. </p>
<p align="center"><img alt="Farmindo (versi baru)" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/files/image/farmindo.jpg"/></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2006/07/20/meredesain-website-korporat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media-media Pemasaran Online</title>
		<link>http://media-ide.bajingloncat.com/2005/11/15/media-media-pemasaran-online/</link>
		<comments>http://media-ide.bajingloncat.com/2005/11/15/media-media-pemasaran-online/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2005 15:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra Satvika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Online Branding]]></category>
		<category><![CDATA[banner]]></category>
		<category><![CDATA[email]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[portal]]></category>
		<category><![CDATA[research]]></category>
		<category><![CDATA[vespa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://media-ide.bajingloncat.com/2005/11/15/media-media-pemasaran-online/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Internet di Indonesia sudah hadir lebih dari satu dekade, dan hingga kini beragam jenis konten internet semakin bervariasi. Teknologi juga berkembang, jauh lebih sempurna dan lebih <em>user friendly</em>. Terkait dengan pemasaran, bentuknya pun juga mulai bergeser. Hampir satu dekade lalu, masa ilusi jayanya <em>dot com</em>, semua investor membangun portal, tanpa mengerti manfaat media portal ini bagi konsumen. Namun pada saat itu jugalah mulai dikenal aktivitas pemasaran di dunia maya. Bentuknya masih &#8220;tradisional,&#8221; berupa <em>banner</em>, yang merupakan adaptasi dari iklan di media cetak. </p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
	<img src="wp-content/uploads/2008/11/online-advertising.png" alt="This image has no alt text" />
	</p><p>Internet di Indonesia sudah hadir lebih dari satu dekade, dan hingga kini beragam jenis konten internet semakin bervariasi. Teknologi juga berkembang, jauh lebih sempurna dan lebih <em>user friendly</em>. Terkait dengan pemasaran, bentuknya pun juga mulai bergeser. Hampir satu dekade lalu, masa ilusi jayanya <em>dot com</em>, semua investor membangun portal, tanpa mengerti manfaat media portal ini bagi konsumen. Namun pada saat itu jugalah mulai dikenal aktivitas pemasaran di dunia maya. Bentuknya masih &ldquo;tradisional,&rdquo; berupa <em>banner</em>, yang merupakan adaptasi dari iklan di media cetak. </p>
<p>Kini, <em>banner</em> pun mengalami perubahan. Dari awal yang dulunya hanya statis, lalu mulai berbentuk animasi, dengan menggunakan format <em>animated GIF</em>. Tak lama berubah ke format Macromedia Flash, yang memungkinkan animasi dan interaktif yang jauh lebih dinamis. Sekarang, lebih dikenal dengan istilah <em>rich media</em>, dimana <em>banner</em> bukan hanya sekedar iklan, tapi <em>banner</em> bisa berinteraksi dengan pengunjung. Informasi lebih lengkap tentang evolusi <em>rich media</em> bisa dibaca di <a href="http://www.imediaconnection.com/content/2618.asp" target="_blank">sini</a>. Untuk contoh-contoh aplikasi <em>rich media</em> bisa dibaca di <a href="http://www.adverblog.com/archives/cat_rich_media.htm" target="_blank">Adverblog</a>. </p>
<p>Pengukuran keberhasilan sebuah <em>website</em>-pun semakin berkembang. Kalau dahulu penilaian sebuah <em>website</em> hanya didasarkan oleh jumlah pengunjung dan jumlah <em>hit</em>, kini juga dikenal sistem <em>referral</em>, dimana penilaian sebuah <em>website</em> juga bisa dilihat dari seberapa banyak <em>website</em> lain atau <em>banner</em> yang mereferensikannya. Berbagai riset pengukuran mulai dikembangkan. Bahkan perusahaan riset <a href="http://www.dynamiclogic.com" target="_blank">Dynamic Logic</a> kini juga sudah bisa melakukan pengukuran <em>brand awareness</em> untuk media internet. </p>
<p>Model pemasaran lainnya adalah dengan memanfaatkan <em>search engine</em>. Di sini, seorang pemasar <em>online</em> harus memikirkan cara agar <em>website</em>-nya bisa muncul di halaman pertama (kalau bisa di urutan 5 besar), dalam kategori tertentu. Coba masuk search engine <a href="http://www.google.com" target="_blank">Google</a> atau <a href="http://www.yahoo.com" target="_blank">Yahoo!</a> dan masukkan kata kunci &ldquo;rumah sakit,&rdquo; dan lihat <em>website</em> apa yang akan muncul di peringkat pertamanya. Alamat <em>website</em> yang keluar di halaman pertamalah yang cenderung ditelusuri lebih lanjut oleh pengunjung. Artikel lebih lanjut tentang pemasaran via <em>search engine</em> bisa dibaca di artikel <a href="http://www.adverblog.com/archives/cat_search_engine_advertising.htm " target="_blank">ini</a>. </p>
<p><span id="more-51"></span></p>
<p>Pemasaran yang lebih dahulu ada sebenarnya adalah <em>e-mail</em>. Namun, penyajiannya harus berhati-hati, jangan sampai upaya pemasaran yang dilakukan via <em>e-mail</em> malah dianggap sebagai <em>spam</em>. Biasanya, promosi dalam bentuk ini dilakukan dengan lebih halus. Misalnya, melalui <em>mailing list</em> yang relevan, sehingga masih bisa ditolerir oleh anggota <em>mailing list</em> tersebut. Alternatif lainnya, dengan mengirimkan <em>e-mail</em> langsung ke target yang bersangkutan. Hal ini bisa dilakukan jika pengirim memiliki <em>database</em> konsumen yang kuat. Upaya&nbsp;mengumpulkan <em>database</em>&nbsp;bisa dilakukan dengan memancing konsumen ke <em>website</em> bersangkutan. Bila konsumen merasa ia bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari <em>website</em> tersebut, ia tidak akan keberatan untuk menerima info via <em>e-mail</em> lebih jauh seputar jasa/produk yang ditawarkan <em>website</em> tersebut. Tips menyusun <em>e-mail</em> pemasaran yang baik bisa dibaca di rubrik E-mail Insider di <a href="http://www.mediapost.com" target="_blank">MediaPost</a>.&nbsp;Contoh-contoh pemanfaatan<em> e-mail</em> sebagai alat pemasaran juga bisa dibaca di <a href="http://www.adverblog.com/archives/cat_email_marketing.htm" target="_blank">Adverblog</a>.&nbsp; </p>
<p>Sering diketahui pula kalau di dunia pemasaran tradisional, efek pemasaran dari mulut ke mulut ternyata lebih ampuh daripada memasang iklan di majalah atau TV. Sebagai analoginya, di dunia pemasaran <em>online</em>, dikenal pula pemasaran <em>viral</em>. Konsepnya sama, seseorang yang menerima info, terdorong untuk menyebarkan info tersebut ke rekan-rekannya. Bentuknya di internet bervariasi, tapi biasanya selalu berlandaskan pada <em>e-mail</em>. Misalnya, seseorang melihat informasi menarik dan menghibur di salah satu <em>website</em>. Ia berpikir, bagus juga kalau informasi ini dibagi dengan rekan-rekannya. Melalui <em>form</em> yang sudah disiapkan, ia lalu menuliskan alamat <em>e-mail</em> rekan-rekannya. Rekan-rekannya yang tertarik akan ikut melihat <em>website</em>, dan akan menyebarkannya ke rekan-rekan lainnya pula. Biasanya, untuk mempercepat pemasaran <em>viral</em>, pengunjung bisa diiming-imingi dengan hadiah. Misalnya, dengan ia mengisi data rekan-rekannya, ia berkesempatan untuk mendapatkan undian berhadiah setiap periodenya. Pemasaran dari mulut ke mulut di internet kini sudah ada standar acuannya. <a href="http://www.womma.org" target="_blank">WOMMA</a> (<em>Word of Mouth Marketing Association</em>) telah menyusun acuan yang bisa dijadikan standar pengukuran. </p>
<p>Dunia portal <em>dot com</em> sudah berlalu. Masa-masa dimana informasi berita didapatkan dari sumber berita ternama seperti <a href="http://www.kompas.com" target="_blank">Kompas</a> atau <a href="http://www.detik.com" target="_blank">Detik</a>, kini mulai bergeser. Berkembangnya <em>blog</em> memungkinkan setiap orang, termasuk yang bodoh internet sekalipun, bisa menulis berita. Beda dengan berita jurnalistik dimana harus selalu disertai dengan bukti akurat, melalui <em>blog</em>, ekspresi pribadi seseorang terhadap suatu berita lebih diutamakan. Jutaan <em>blog</em> kini telah muncul. Diperkirakan jumlah <em>blog</em> di Indonesia kini mencapai puluhan ribu, baik yang dibangun sendiri, yang memakai penyedia jasa layanan <em>blog</em> (<a href="http://www.typepad.com" target="_blank">Typepad</a>, <a href="http://www.blogspot.com" target="_blank">Blogspot</a>, <a href="http://www.blogsome.com" target="_blank">Blogsome</a>, dll), hingga yang merupakan bagian dari suatu komunitas (<a href="http://www.friendster.com" target="_blank">Friendster</a>, <a href="http://360.yahoo.com" target="_blank">Yahoo! 360&ordm;</a>, <a href="http://www.bolt.com" target="_blank">Bolt</a>, dll). Setiap berita dalam <em>blog</em> bisa di-<em>feed</em> hingga muncul di <em>website</em> lain, yang memungkinkan artikel yang kita tulis lebih cepat tersebar. Berbagai <em>brand</em> di luar mulai memikirkan pemasaran melalui <em>blog</em>. <em>Blog</em>&nbsp;<a href="http://www.vespaway.com/" target="_blank">Vespa</a>&nbsp;digunakan&nbsp;untuk mendekatkan&nbsp;Vespa dengan komunitasnya.&nbsp;</p>
<p>Perkembangan teknologi di dunia maya akan terus berkembang, yang tentunya akan selalu diikuti dengan munculnya inovasi media-media baru. Contoh di atas hanya sepintas ulasan mengenai pemanfaatan media baru di internet. <a href="http://www.ebizzasia.com/0220-2004/itc,0220,01.htm" target="_blank">Riset Telkom</a>&nbsp;di akhir tahun 2003 menunjukkan lebih dari 70% pengguna internet adalah masyarakat berusia 17-30 tahun, dan umumnya minimal berpendidikan SLTA. Mereka adalah orang-orang pecinta teknologi yang haus akan informasi baru. Tentunya ini merupakan hal menarik untuk dieksplorasi lebih jauh oleh para <em>brand</em> yang dekat dengan remaja dan mahasiswa. Media internet adalah media yang sangat potensial, dan jauh lebih efisien dan murah, bila dibandingkan dengan memasarkan <em>brand</em> melalui TV dimana kini sudah semakin <em>cluttered</em>. Dengan internet, <em>brand</em> bisa menjadi pengalaman (<em>experience</em>), dan bukan sekedar menjadi tontonan pasif belaka. </p>
<p>Jadi, kapan mau kita mulai?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://media-ide.bajingloncat.com/2005/11/15/media-media-pemasaran-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

