Arsip Artikel dengan Tag “social media”
Online Branding »
Tepat hari Sabtu kemarin, situs Facebook diserbu lebih banyak orang pada saat bersamaan. Mereka dulu-duluan memilih username sesuai nama favorit mereka masing-masing. Katanya dalam 60 jam sejak proses registrasi username dilakukan, terjadi pembuatan 100.000 username per jamnya. Sejumlah 500.000 registrasi username terjadi dalam masa 15 menit, dan 3 juta registrasi username dalam 14 jam pertama.
Online Branding »
Sebelumnya, topik blog ini bukan untuk membahas kejadian di tahun 2012 yang katanya akan kiamat itu. Topik kali ini akan menceritakan bagaimana film 2012 garapan Roland Emmerich yang masih akan ditayangkan bulan November sudah digaungkan di ranah internet sejak setahun sebelumnya. Cara yang dilakukan mirip dengan kampanye daring yang sempat dilakukan film Watchmen, yakni dengan menyebar sedikit banyak info di banyak microsite dan situs social media.
Online Branding »
Sepertinya maskapai penerbangan yang satu ini nggak berhenti terus berinovasi. Kalau dulu Air Asia berhasil mengukuhkan dirinya sebagai low-cost airline pertama di Asia, kini Air Asia bahkan mendapat penghargaan sebagai “the world’s best low-cost airline.” Air Asia juga menjadi maskapai penerbangan pertama di Asia yang menjual tiketnya secara daring. Sekarang, mengikuti tren penggunaan internet yang semakin personal dan erat dengan jaringan sosial, Air Asia pun kini memfokuskan kampanye daring mereka melalui blog, Facebook, dan Twitter.
Online Living »
Beberapa bulan lalu, di perhelatan FreSh ke-2, si penulis blog ini sempat cerita tentang narsisme digital, dimana seseorang bisa menunjukkan eksistensi dirinya di ranah daring. Seseorang yang hidup dan aktif di dunia digital wajib hukumnya memamerkan kompetensi dirinya melalui blog, galeri gambar, foto, video, salindia (slide), dll, agar dirinya semakin dikenal penghuni ranah daring lainnya. Kalau ahli di bidang puisi, tunjukkan karya puisi Anda melalui blog. Kalau ahli foto, pajang koleksi foto terbaik Anda di Fotografer.net, Flickr, atau Facebook. Kalau ahli bertutur kata tentang politik, seringlah membuat tulisan di Politikana. Percaya deh, semakin aktif Anda, semakin Anda akan terlihat kompeten.
Online Branding »
Contoh kampanye online melalui social media kali ini adalah contoh dari luar. Idenya bagus banget, jadi sayang kalau nggak dibahas. Brand yang berkampanye adalah Compare the Market, sebuah perusahaan asuransi Inggris yang menjadi mediator beragam produk asuransi jiwa, kendaraan, dan rumah. Kampanyenya dimulai 3 bulan lalu dengan membuat situs parodi Compare the Meerkat. Saat masuk situs ini, kita akan disambut oleh sang maskot, Aleksandr Orlov yang mengingatkan kalau ini adalah situs yang berbeda, dan jangan sampai kita merasa salah masuk.
Experiential »
Dua hari ini kebetulan dapat pembagian tiket gratis dari Axis Java Jazz. Seperti telah disebutkan di tulisan sebelumnya, hampir semua acara Java Jazz tahun ini disponsori oleh Axis. Hanya sedikit konser yang dikenakan biaya tambahan untuk menontonnya. Bahkan, konser Matt Bianco yang berlangsung di 2 hari pertama pun ditanggung tiketnya oleh Axis. Citra Axis yang sempat buruk karena kebatalan konser Rihanna beberapa minggu lalu, bisa tertutup dengan suksesnya Jason Mraz konser 2 hari berturut-turut di Java Jazz ini.
Online Communities »
Masih ingat Friendster kan? Masih ingat tidak kenapa kalian mulai meninggalkan Friendster dan beralih ke Facebook? Richard baru saja membahas kegundahannya di blognya Friendster mencoba mengejar popularitasnya kembali dengan membuat fitur-fitur yang mirip dengan Facebook, meski tidak lantas membuat para anggota yang meninggalkannya untuk kembali lagi ke Friendster.
Online Branding »
Hampir semua pakar pemasar baik di luar maupun Indonesia bilang kalau pemasaran vertikal sudah tidak cocok lagi di era internet ini. Bukan masanya lagi konsumen dicekokin pesan-pesan dari pemasar (brand). Yang ada, para konsumen mencoba cari tahu sendiri, menanyakan ke teman-temannya, apakah yang dikatakan si pemasar ini benar. Bahkan bisa jadi, pesan yang disampaikan oleh pemasar melalui televisi, radio, majalah, malah tidak sama dengan pesan yang ditangkap oleh konsumen melalui percakapannya dengan teman-temannya. Konsumen bisa jadi menyusun pesannya sendiri, mengungkapkan versinya sendiri tentang brand tersebut.



